“Gimana udah dapet kerjaannya?” Tanya ibu mertua sinis. “Pasti belum. Jadi tukang cuci keliling aja deh. Cocok sama tampangmu yang kayak gembel.” Aku yang di hina mereka hanya bisa diam. Malas meladeni mertua dan ipar yang kerjaannya Cuma ngajak ribut. “Eh Dirga udah ngomong apa belum. Mulai sekarang kamu urusi sendiri makanmu. Jadi kalau gak kerja kamu gak bisa makan,” ibu tertawa menyampaikan hal demikian. “Sudah, Bu,” jawabku. “Nah mulai sekarang kamu harus kerja dong jangan diam saja di rumah. Hush sana cari kerja,” Mbak Sinta mendorongku seolah mengusirku. “Iya, iya bawel. Aku cari kerja nih.” “Heh apa katamu tadi?” Mbak Sinta melotot kepadaku. Heran dengan ibu dan anak ini. Suka banget jika harus melototin aku. Aku tau aku cantik tapi ya gak usah sambil melotot juga dong ngomongngnya. Ih gak suka aku gelay. “Iya, iya Mbak Sinta yang cantik jelita.” “Nah gitu dong.” Ku putuskan untuk berganti baju dengan baju yang lebih pantas dari pada daster kebesaran yang sudah bolong di beberapa sisi bahkan sudah memiliki jendela tersendiri di bagian ketiak. Ku langkahkan kaki meninggalkan rumah Bang Dirga. Berjalan kaki ke tempat yang lebih aman untuk menelfon salah satu sopir yang ada di rumahku untuk menjemputku pulang. Hari ini aku ingin pulang. Aku rindu dengan suasana rumahku. Rindu dengan Papah dan Mamah. ¤¤¤¤¤ Assalamualaikum. “Papah, Mamah,” panggilku saat baru saja memasuki sebuah rumah yang tidak lumayan besar namun terlihat mewah. Ku dengar baru satu minggu rumah ini kembali di tempati setelah kurang lebih satu tahun Papah dan Mamah menempati rumah di desa tempat Bang Dirga dulu melamarku. Rumah sederhana peninggalan kakek dan neneku. Kami pindah ke rumah tersebut karena lebih asri karena letaknya di pedesaan juga agar memudahkan Mamah untuk menjalani pengobatan alternatif untuk penyakit stroke nya. “Sayang!” panggil Mamah sambil perlahan menuruni tangga. Sungguh aku sangat terharu saat mengetahui Mamahku telah banyak memiliki perubahan. Beliau sekarang sudah mulai bisa berjalan meskipun dengan bantuan tongkat dan masih lamban. Tak terasa air mataku menetes. “Pelan-pelan, Mah, sini Maya bantu,” aku berlari untuk membantu Mamah turun dari lantai dua. “Mamah ngapain dari atas. Kalo mamah jatuh gimana. Mamah kan baru sembuh,” cerocosku. “Mamah sedang latihan naik turun tangga, Nak. Supaya perkembangan otot kaki Mamah cepat pulih. Kemarin tabib menyarankan Mamah untuk belajar naik turun tangga.” “Tapi gak sampai atas, Mah.” “Iya Mamah minta maaf,” ujar Mamah memeluku. Aku rindu sekali pelukan ini. Pelukan yang sudah tiga tahun hilang dari kehidupanku karena penyakit stroke mamah yang membuat beliau tidak mampu menggerakan anggota tubuhnya. “Bagaimana kabarmu, Sayang, Mamah kangen,” ucap Mamahku. “Baik, Mah.” “Oh iya. Suami kamu mana kenapa tidak ikut kesini?” “Hmm Bang Dirga, Bang Dirga kerja, Mah. Oh iya Papah mana Mah?” Tanyaku mengalihkan perhatian. Bagaimana mungkin aku menyampaikan kabar pada Mamah jika Bang Dirga tidak tahu siapa aku sebenarnya. Tidak mungkin ku ajak Bang Dirga ke rumah ini. Bisa syok nanti Banb Dirga melihat rumahku yang sesungguhnya. Aku tidak ingin dia terkena serangan jantung sekarang. Tidak sebelum aku bisa lepas dari status istrinya. Tapi untuk berpisah sekarang pun aku tidak berani karena Mamah baru saja sembuh. Papah di kantor, kan kamu sendiri yang memilih untuk sementara resign jadi Papah yang menggantikanmu sementara di kantor.” Sungguh aku merasa bersalah. Papah yang sudah tua harusnya saat ini hanya berdiam diri di rumah sedangkan kantor adalah urusanku sebagai anak satu-satunya di keluarga ini malah saat ini aku masih merepotkan Papah untuk hal mengurus kantor. Maafkan anakmu ini, Pah, Mah. “Ya sudah mulai besok, Maya janji Maya bakal tiap hari datang kesini untuk merawat Mama, tapi Maya harus pulang sore tidak bisa menginap.” “Kenapa tidak menginap dan tinggal saja di rumah ini, Sayang. Kan rumah ini masih cukup luas jika di tambah kamu dan suamimu.” “Tidak, Mah. Maya oulang pergi saja gak apa-apa. Sekarang Maya pulang dulu ya, Mah,” pamitku. “Loh kok sebentar banget mainnya.” “Ada janji sama Bang Dirga,” dustaku. Bagaimana mungkin aku ada janji dengan Bang Dirga. Mengajaku jalan saja tidak pernah. Bang Dirga selalu beralasan malu mengajaku keluar karena penampilanku yang lusuh dan kucel. “Ya sudah hati-hati ya, Sayang,” ucap Mamah mencium puncak kepalaku sebelum aku pergi meninggalkan beliau. Syukurlah sekarang keadaan Mamah membaik. Jadi tidak ada lagi alasan keluarga Bang Dirga menghina Mamaku lagi karena keadaannya yang sekarang lebih membaik. Inilah alasanku mengapa meskipun aku telah mengetahui sikap Bang Dirga dan keluarganya yang sebenarnya terhadapku, aku masih mau bertahan dengan pernikahan ini adalah Mamahku. Karena aku takut jika beliau tahu yang sebenarnya kesehatan beliau akan kembali drop sedangkan untuk saat ini beliau sedang menjalani pengobatan herbal dan terapi untuk kesembuhannya. ¤¤¤¤¤ Aku kembali saat matahari telah tergelincir jatuh pada ufuk barat. Meninggalkan rumah dengan segudang pekerjaan yang sudah ku tebak tidak ada satupun yang sudi mengerjakannya. “Ngapain kamu pulang?” Teriak ibu saat aku baru saja masuk ke dalam rumah. “Dari mana saja kamu seharian ini?” Tanya Bang Dirga. “Cari kerja, Bang,” jawabku. “Gimana, dapet?” Tanya Ibu mertuaku. “Alhamdulillah, Bu.” “Kerja apa?” Tanya Mbak Sinta. “Bersih-bersih rumah dan jagain Ibu-ibu yang sedang sakit.” “Kasian banget nasib kamu, May,” terdengar tawa ibu mertuaku meledak sampai mengeluarkan air mata dari ujung matanya. “Dulu di kampung ngerawat orang setruk sekarang harus ngurus orang sakit. Emang hidup kamu itu pantesnya jadi babu,” ucap Mbak Sinta sambil menekankan kata babu. Memang kenapa kalo aku ngurus orang sakit. Toh yang akuburus Mamaku sendiri kok. Ini bukti aku berbakti kepada Mamaku. Kalian saja yang belum tahu aku kerja sama siapa. “Nih liat dong Sinta anak ibu. Hari ini Sinta di terima kerja kantoran. Gak kaya kamu yang Cuma jadi babu,” tukas Ibu membanggakan Mbak Sinta di depanku. “Lihat kan hasil didikan Ibu. Semuanya kerja kantoran dengan gaji yang besar. Tidak sepertimu yang hanya jadi babu dengan gaji tak seberapa. Pasti didikan orang tua kamu yang tidak berkelas jadi kamu tetap jadi miskin seperti mereka.” “Untuk apa sukses jika kelakuannya hobrok. Untuk apa sukses jika hanya untuk merendahkan orang lain. Untuk apa sukses jika hanya untuk menghina yang lebih lemah. Percuma, Bu. Percuma.” Ingin sekali aku berkata demikian di depan mertua serta iparku hanya saja kata-kata itu hanya mampu sampai di tenggorokan. Bisa cilaka lima belas jika aku benar-benar mengatakan itu langsung pada ibu.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Bagus banget alur ceritanya
24d
0Bagus
11/11
0baguss
06/07/2025
0Lihat Semua