surat dari kantor

“Loh, Bang kok jam segini belum berangkat?” tegurku saat ku lihat Bang Dirga masih asyik duduk di sofa ruang tamu sambil memainkan permainan di gawainya.
“Berisik kamu. Lagi males kerja aku ini,” jawabnya santai dengan pandangan yang tak lepas dari gawainya.
“Kok malah nyantai sih, Bang. Abang ‘kan harus kerja, nanti kalo terlambat terus Abang ditegur loh. ‘Kan kemarin abis terlambat sampai gak masuk kantor,” ujarku mengingatkannya yang kemarin tidak masuk kantor gara-gara tidak diijinkan masuk oleh satpam.
“Halah paling Cuma teguran. Lagian kalo aku dipecat kan masih ada kamu yang kerja. Ngapain aku susah-susah kerja. ‘Kan ada kamu,” jawabnya enteng.
“Loh, aku kan Cuma istri, Bang. Tugasku hanya membantu bukan harus jadi yang utama jadi tulang punggung!” geramku karena Bang Dirga tak kunjung beranjak dari posisinya.
“Bawel banget jadi bini. Aku ceraikan baru tau rasa kamu!” ancamnya mendelik ke arahku.
“Ceraikan saja, Bang!” jawabku sambil berlalu keluar rumah karena hari sudah semakin siang untuk berangkat ke kantor.
Pagi yang sangat menyebalkan dan suami yang tidak kalah menyebalkannya. Memangnya dia lupa tugas seorang suami itu seperti apa. Masa harus aku yang jadi tulang punggung keluarganya. Mana cukup dengan gaji yang selama ini ditransfer ke rekeningku jika Bang Dirga menganggur. Untuk makan saja pas-pasan apalagi utuk memenuhi gaya hidup Ibu dan Kakaknya yang selalu ingin terlihat wah.
Dengan wajah bersungut-sungut aku melangkah meninggalkan rumah. Ku sumpahi hidup kalian tidak akan bahagia, Bang. Rutuku secara tidak sadah. Eh jangan ding, jangan sekarang. Aku masih ingin membuat mereka tertawa sebelum mereka mengetahui kebenarannya.
“Mari, Bu kita ke kantor,” ucap Pak-Pak. Aduh Pak siapa sih ini. Aku tau dia salah satu supir yang aku pekerjakan tapi aku lupa namanya.
“Eh iya nama Bapak siapa ya, Pak?” tanyaku saat bapak tersebut telah duduk di belakang kemudi.
“Parman, Bu,” jawabnya sopan.
“Oh iya Pak Parman, sebelum ke kantor kita mampir ke restoran dulu ya saya belum sarapan. Bapak sudah sarapan apa belum kalo belum kita barengan,” tawarku dengan sopan.
Ya beginilah aku. Hidupku tidak ku jadikan ribet. Jika ada orang yang baik terhadapku akan aku perlakukan dengan baik. Tapi jika ada yang menyakitiku akan aku tunjukan rasa sakit itu sendiri. Toh bagiku aku dan semua karyawanku itu sama yang beda hanya muka dan tempat tinggal. Nggak juga deng maksudnya yang beda hanya amal ibadah. Begitu.
¤¤¤
Di kantor aku terus memikirkan bagaimana kelanjutannya hidupku. Lama-lama aku sudah mulai bosan dengan drama ini. Ingin ku akhiri namun belum saatnya ingin ku lanjutkan aku kelaparan. Ah bodo amat lah aku lanjutkan saja drama ini. Biarkan aku makan enak selama di kantor saja dulu di rumah harus rela jadi gembel.
Tringtring.
Gawaiku berbunyi. Itu gawai jeleku yang biasa aku gunakan saat di rumah mertua. Gawai dengan harga murah yang kacanya sudah retak sana sini. Pemberian dari Bang Dirga saat baru menikah dulu. Jangan mengira dia membelikanku gawai secara Cuma-Cuma ya. Aku harus merelakan gawaiku yang lebih mendingan dari ini untuk di jual dan di gantikan oleh gawai yang mungkin sudah seribu kali berciuman dengan lantai bahkan mungkin naspal jalanan. Miris sekali.
“Halo assalamualaikum, ada apa, Bang?” ucapku dengan malas.
“Heh Maya. Tadi ku lihat kamu naik mobil bagus. Itu mobil siapa?” tanya Bang Dirga to the point.
“Mobil kantor, Bang aku numpang,” jawabku berbohong. Tidak mungkin kan aku bilang itu mobilku. Bisa-bisa dijual Bang Dirga nanti.
“Owh ya sudah.” Bang Dirga langsung memutuskan sambungan begitu saja.
Apa-apaan ini. Buat apa Bang Dirga menelfonku hanyauntuk menanyakan hal yang tidak penting semacam ini, hanya membuang-buang waktuku saja.
Jika di pikir-pikir, Bang Dirga seperti mencurigakan. Bagaimana mungkin Bang Dirga tau aku baru saja naik mobil sedangkan saat aku berangkat pun aku masih menyaksikan Bang Dirga yang sedang memainkan permainan di dalam gawainya. Aku merasa ada yang tidak beres.
Saat aku tengah melamun tiba-tiba satu ide terlintas di isi kepalaku. Ternyata isi kepala yang sudah semrawut ini masih bisa untuk berfikir. Aku tertawa dalam hati mendapati bedapa bodohnya diri ini.
“Akan aku buat kalian kelabakan. Apa yang bisa kalian lakukan tanpa bantuan gajiku,” tawaku membahana di ruangan.
Ceklek.
“Kamu kenapa, May?” tiba-tiba Ilham datang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan memandangku penuh heran.
“Heh kutu kupret. Kalo masuk itu pintunya di ketok dulu bisa gak sih?” sungutku.
Ilham ini temanku dari masa kanak-kanak dan dialah yang paling menentang rencana pernikahanku dengan Bang Dirga dulu. Ilham mengatakan Bang Dirga itu tidak sesuai dengan aslinya. Memang perkataannya semua benar. Ternyata selama pacaran sikap Bang Dirga jauh berbeda dengan setelah menikah. Aku menyesal!
“Santai aja, Non. Ini aku bawa berkas yang harus kamu periksa!” Ilham menyodorkan sebuah map merah kepadaku.
“Berkas apa itu?” tanyaku mengangkat sebelah alis.
“Biasa, berkas pengajuan kerja sama. Ini antara Bank Surya Dana dengan perusahaan kita,” jawabnya santai sambil berjalan lalu duduk pada sofa ruang kerjaku tanpa ku persilahkan duduk. Sekali lagi ku pertegas ya. Tanpa ku persilahkan duduk.
Songong banget kan itu karyawan satu. Seenak jidatnya masuk ke ruangan atasan lalu duduk tanpa permisi dan sekarang coba kita lihat dia sedang mengacak-acak isi kulkas pribadi yang sengaja aku taruh di samping sofa untuk menyimpan berbagai macam minuman dingin dan berbagai camilan.
“Tunggu-tunggu. Bank apa tadi katamu?” tanyaku dengan sedikit keterjutanku.
“Bank Surya Dana,” jawabnya sambil memakan buah apel yang baru saja di dapatkannya dari dalam kulkasku.
Bang Surya Dana. Menarik juga, Bank itu adalah Bank tempat dimana Bang Dirga bekerja menjadi salah satu staf berpengaruh di sana. Aku tidak tau posisinya apa, hanya tau tempat kerjanya dan Bang Dirga sudah mewanti-wantiku untuk jangan sampai datang ke tempat kerjanya untuk mencarinya, aneh.
“Iya aku terima. Ini sudah aku tanda tangani. Silahkan keluar dari ruanganku!” dengan cepat ku tanda tangani proposal pengajuan kerja sama tersebut. “Pintu keluar ada di sebelah sana,” imbuhku menunjuk sebah pintu yang masih terbuka lebar.
Uhukuhuk.
“Kamu serius, Ya?” Ya dia memanggilku Aya. Seperti panggilanku selama ini di rumah maupun di kantor. Tapi tanpa embel-embel Bu seperti bawahan ke atasannya. Cukup sopan bukan untuk bawahan kurang ajar seperti Ilham.
“Serius dong. Sekarang silahkan kamu pergi dari ruanganku. Pintu keluar ada di sebelah sana Bapak Ilham,” ku perkataanku agar Ilham sadar bahwa aku ingin dia cepat-cepat keluar dari ruanganku.
¤¤¤
“Assalamualaikum,” ucapku sambil membuka pintu rumah. Seperti yang selama ini ku dapatkan. Pemandangan pertama yang tersaji setelah aku pulang bekerja adalah rumah yang berantakan sekali. Kapal pecah pun lewat!
“Tumben masih sore udah pulang?” tanya Bang Dirga yang sedang menonton tv.
“Iya, Bang. Ini ada surat dari kantor,” ku serahkan sebuah amplop yang tadi siang ku cetak “Aku masuk dulu ya mau ganti baju,” imbuhku berlalu ke arah kamarku.
Ku lirik Bang Dirga mulai membuka amplop tersebut dan membacanya. Ku amati perlahan ekpresinya mulai berubah menjadi keruh.
“APA?” Teriaknya menggema di seluruh penjuru ruangan, bahkan aku yakin jikalau ada kucing tidurpun akan kaget di buatnya.
Aku hanya terkikik geli di dalam kamar. Pasti Bang Dirga telah selesai membaca surat itu. Rasakan kamu, Bang.

Komentar Buku (236)

  • avatar
    MaisarohShofiyyatul

    Bagus banget alur ceritanya

    17d

      0
  • avatar
    kurniaiwan kurnia

    Bagus

    11/11

      0
  • avatar
    FunnissaAltha

    baguss

    06/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru