permulaan

"Mana Managernya, aku harus laporkan kamu karena berusaha memerasku, mana Managernya biar aku ketemu Manager restaurant ini!" Ucap Bang Dirga mulai murka.
"Untuk apa Abang ketemu Manager restaurant ini?" Tanyaku sinis.
"Aku akan melaporkanmu karena berusaha memerasku agar kamu di pecat. Aku pastikan kamu akan di pecat setelah ini!" Teriaknya hingga pandangan orang-orang mengarah ke arah kami. Sungguh memalukan!
"Dasar perempuan miskin! Berani-beraninya ingin memeras kami. Kamu pikir kami bodoh. Kami sudah sering makan di sini dan harganya tidak setinggi ini." Resti angkat suara.
"Baiklah, tunggu sebentar!"
Aku berjalan kearah ruangan Manager di restaurant ini. Memang di sini bukan aku yang menjadi managernya karena aku selalu menunjuk satu orang untuk menjadi manager di tiap-tiap restaurant yang aku miliki agar mempermudahkanku menjalankan semua bisnis milik keluargaku.
"Permisi, ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang yang telah menjabat sebagai manager di restaurant ini cukup lama. Pak Dipto namanya.
"Begini, Pak. Pelayan Bapak yang satu ini telah berusaha memeras saya!" Ucap Bang Dirga menggebu-gebu.
"Maksud Bapak bagaimana ya?" Pak Dipto terlihat bingung.
"Pelayan Bapak ini si Maya sudah lancang ingin memeras saya. Dia sengaja menaikkan harga-harga makanan yang saya pesan di sini agar saya membayar sebegitu mahalnya untuk dia korupsi." Terang Bang Dirga.
"Dan lebih baik Bapak pecat saja pelayan tidak becus Bapak ini!" Resti mulai buka suara setelah sekian lama hanya bungkam.
"Tapi," jawab Pak Dipto.
"Halah pelayan seperti ini banyak yang lebih baik, Pak. Dari pada nanti juga berusaha memeras pelanggan lain mending di pecat saja. Bisa bangkrut nanti restaurant ini jika dia kerja di sini. Dulu kerja di majikannya saja dia berani mencuri apalagi di sini yang rame." Kompor Bang Dirga.
"Sembarangan kamu, Bang. Boro-boro mencuri. Merebut hak milik orang lain saja aku tidak berani." Jawabku sambil menyindir Bang Dirga yang selalu saja merampas hak milikku.
"Halah ngaku saja. Ini buktinya kamu berusaha memerasku jadi tidak mungkin tidak jika kamu berani mencuri di sini!"
"Ini buktinya dia berani memeras kami dengan dalih tagihan ini." Imbuh Resti dengan menunjukan tagihan mereka.
"Apa benar, Bu?" Tanya Pak Dipto kepadaku.
"Coba Bapak cek pesanan mereka dan samakan dengan daftar harga di menu." Jawabku dengan senyum tipis.
Ku ambil daftar menu medium di restaurant ini. Membuka halaman tempat dimana terdapat foto dan keterangan serta harga untuk menu yang mereka pesan. Lalu mengambil tagihan yang harus mereka bayarkan.
"Lihat! Harganya sama bukan? Bahkan aku hanya memesankan kalian makanan yang medium bukan yang premium kalian sudah seperti kebakaran jenggot. Bagaimana jika aku benar-benar memesankan kalian makanan paling mahal dan mewah di restaurant ini yang tergolong ke makanan premium. Bisa pingsan kalian melihat tagihan kalian." Kelasku dengan sedikit mengejek untuk menaikan emosi mereka.
Ku lihat wajah Bang Dirga dan Resti mulai memerah. Terlihat jelas kilatan kemarahan di mata Bang Dirga. Aku tahu pasti mereka marah karena aku telah mempermalukan mereka dengan tagiha yang pasti di luar dugaan mereka.
"Lihat, Pak! Bahkan pelayan kurang ajar Bapak berani mengejek pelanggan Bapak. Saya ini pelanggan, Pak dan saya bukan hanya sekali dua kali makan di restaurant ini tapi sering. Rugi lih jika Bapak kehilangan pelanggan seperti saya. Mending Bapak pecat saja pelayan kurang ajar ini, Pak!" Ujar Bang Dirga dengan emosi.
"Maaf tapi saya tidak bisa memecatnya, Pak." Jawab Pak Dipto.
"Pokoknya saya gak mau tahu pokoknya Maya harus di pecat saat ini juga atau kami tidak akan mau membayar ini semua!" Ancam Resti.
Pak Dipto hanya diam di ancam oleh Resti. Aku tahu pak Dipto pasti bingung apa yang harus ia lakukan karena pekerjaannya menuntutnya untuk selalu mengutamakan oelanggan sedangkan aku dalah bosnya. Aku yakin Pak Dipto takut ku marahi karena dua pilihan ini.
"Pecat saja saya, Pak." Ujarku enteng.
"Maaf, Bu saya tidak bisa karena di sini Ibu bukan karyawan dan akan sangat lancang bagi saya bersikap tidak sopan kepada pemilik restaurant ini." Jawab Pak Dipto sopan kepadaku.
"Apa maksudnya semua ini?" Tanya Bang Dirga bingung.
"Bu Aya ini sebenarnya pemilik restaurant ini jadi saya tidak bisa memecatnya apapun alasannya." Ujar Pak Dipto.
"Apa?" Teriak Bang Dirga dan Resti berbarengan.
"Tidak mungkin!" Sambung Bang Dirga tidak percaya dengan semua yang Pak Dipto ucapkan tentangku.
"Dia itu orang miskin, Pak jadi mana bisa dia memiliki restaurant sebesar dan sebagus ini. Bapak kalau mau becanda yang masuk akal sikit dong, Pak!" Resti sewot mendengar ucapan Pak Dipto tentangku. Terlihat jelas raut ketidak trimaan di wajahnya jika aku berhasil lebih unggul dari dia.
"Kenapa tidak mungkin. Toh roda kehidupan bisa berputar. Mungkin kemarin aku miskin tapi hari ini bisa saja aku kaya dan kalian. Mungkin kalian kemarin kaya tapi kita tidak tau besok. Bisa saja kalian jatuh miskin!" Ucapku dengan senyum mengejek kearah mereka.
"Kurang ajar kamu, Maya! Apa ini balasannya karena perlakuanku padamu, Hah sehingga kamu menyumpahiku untuk jadi melarat seperti dirimu. Dasar wanita tidak tahu terimakasih!" Maki Bang Dirga murka.
"Sudahlah, Bang mendingan cepat bayar tagihan ini dan cepat enyah dari hadapanku!" Sambungku
"Kurang ajar kamu, Maya!" Makinya dan berjalan meninggalkan aku dan pak Dipto menuju meja kasir
Masih ku pandangi mereka yang sedang membayar di meja kasir. Terlihat ada sedikit perdebatan antara Bang Dirga dengan pelayan di meja kasir membuatku ragu apakah Bang Dirga mau membayar semua total tagihan mengingat angka tersebut mencapai delapan digit angka. Tapi bodo amat lah kan mereka yang makan jadi mereka harus bayar jika tidak mau bayar ya bisa di perkarakan. Lumayan kan penghasilanku di restaurant ini.
Bab 30. Harta gono gini
Satu minggu berlalu sejak kejadian Bang Dirga mengetahui bahwa aku memiliki restaurant yang membuat hidupku kembali kisruh. Puluhan bahkan ratusan pesan yang di kirimkan Bang Dirga kepada aplikasi berwarna hijau pada ponselku meminta agar aku memberinya harta gono gini atas restaurant yang aku miliki seolah bagai peneror yang berusaha menghubungiku pagi, siang, sore bahkan malam.
Bahkan tetangga di rumah pedesaanku mengabari bahwa beberapa hari yang lalu Bang Dirga beserta Ibunya mencariku kesana namun rumah itu telah lama kosong. Bahkan Bang Dirga sempat menanyakan keberadaan keluargaku kepada para tetangga dekat rumahku yang dulu. Untung saja tak ada seorangpun dari mereka yang memberitahu dimana keberadaanku saat ini. Hanya pindah kekotalah jawaban yang mereka tau tentang keluargaku. Tetanggaku yang merupakan teman baik selama aku di sana telah menceritakan semuanya padaku.
Aku tahu apa tujuan Bang Dirga mau melakukan itu semua. Semua itu tak lain dan tak ayal adalah demi bisa menuntut harta gono gini dari restaurant ku itu. Sungguh matre dan serakah mereka. Setelah merampas hakku sekarang masih ingin mengambil yang sudah jelas-jelas milikku.
Enak saja meminta harta gono gini atas restaurant yang aku miliki. Itu restaurant milik keluargaku dan aku kelola jauh sebelum aku mengenal Bang Dirga jadi tidak bisa di katakan harta milik bersama, sedangkan harta gono gini adalah pembagian harta milik bersama selama menikah jadi tidak ada harta gono gini di antara kami karena sepeserpun tidak ada uang Bang Dirga yang pernah di berikannya padaku untuk memulai sebuah usaha maupun untuk menabung. Justru uangkulah yang di gunakannya untuk memperbanyak tabungannya dan memenuhi kebutuhan ibu serta kakaknya. Di sini tentu saja aku yang di rugikan!
Tring tring.
Sudah ku yakini bahwa lagi-lagi itu panggilan yang berasal dari Bang Dirga. Hari ini dia telah menelponku lebih dari seratus kali namun tak pernah ku angkat. Biarkan saja manusia tidak tahu malu itu.
Bunyi ponsel terus berdering bersahutan. Membuat aku yang tengah bersantai lama-lama menjadi muak dengannya.
"Ada apa?" Sentakku saat menerima panggilan dari Bang Dirga tersebut.
"Apa pesanku tidak kau baca, hah sehingga sampai sekarang hakku masih kau halangi?" Tanyanya dengan suara meninggi. Sungguh kurasa gendang telingaku hampir pecah mendengar teriakannya.
"Hak yang mana?" Tanyaku santai.
"Heh perempuan miskin, jangan pura-pura bodoh ya kamu. Di dalam restaurant itu ada hakku sebagai mantan suamimu. Kamu harus memberiku harta gono gini atas restaurant yang kamu miliki saat ini!" Ucapnya diiringi deru nafas yang terdengar berat. Ku yakin saat ini Bang Dirga tengah emosi.
"Kamu gila, Bang! Bagaimana mungkin kamu meminta harta gono gini atas restaurant itu sedangkan nafkahku saja tidak kamu penuhi." Jawabku lantang.
"Halah sok-sokan bicara nafkah. Memangnya kamu sudah becus menjadi istri sehingga mengungkit nafkah dariku. Kamu itu selama menjadi istriku tidak pernah becus meunaikan kewajibanmu. Kerjaanmu hanya menyuahkanku saja!"
"Halah bilang saja kamu pelit!" Geramku.
Aku yakin saat ini emosi Bang Dirga pasti sudah sampai ubun-ubun karena aku menyebutnya pelit. Tapi bukankah itu kenyataannya. Bahkan untuk makan saja aku di jatah hanya untuk tiga kali makan dengan porsi sedikit bahkan lebih sering untuk dua kali makan sengan sayur bening setiap hari. Ngirit katanya padahal makanan di rumahnya banyak bahkan lauknyapun berlimpah. Dasar pelit memang.
"Pokoknya aku tidak mau tahu, kamu harus memberiku harta gono gini atas restaurant yang kamu miliki saat ini!"
"Tidak bisa gitu dong! Itu miliku. Enak saja kamu meminta bagian padaku. Kalau mau uang ya kerja lah bukan minta padaku. Kamu pikir cari uang itu gampang!" Jawabku membalikan kalimat yang selama ini Bang Dirga lontarkan untukku.
"Kamu pikir cari uang itu gampang!" Itu ucapan Bang Dirga tiap kali aku mengutarakan keinginanku untuk sekedar membeli kebutuhanku, atau untuk sekedar sepotong lauk yang berakhir pertengkaran.
"Cepat berikan harta gono gini itu kalau tidak aku akan menuntutnya di pengadilan. Itu hakku dan kamu menghalangi hakku. Dasar serakah!"
"Heh jaga mulutmu itu! Seenak jidatmu bilang aku serakah. Jangan samakan aku denganmu yang tamak itu. Aku tidak seburuk itu. Mengerti!" Teriaku tidak terima dia mengatakan aku serakah.
Sudah mulai habis kesabaranku menghadapi sikap Bang Dirga. Pandai sekali dia memutar balikkan fakta. Dia yang serakah kenapa aku yang kena semprot. Memang benar-benar mulut dan perilakunya butuh di sekolahkan agar dapat memilah dan membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
"Halah paling itu restaurant kamu miliki dari hasil menguntit uangku selama ini. Jika tidak mana mungkin kamu mampu memiliki restaurant sebesar dan semewah itu."
Enak sekali dia bilang seperti itu. Memangnya sebesar apa gajinya sampai aku bisa membuat restaurant dengan menguntit uangnya. Butuh waktu bertahun-tahun untuk mewujudkan perkataannya menjadi nyata. Itupun harus menggunakan seluruh gajinya bukan sebagian.
"Memangnya seberapa besar gajimu sampai bisa menuduhku seperti itu, butuh bertahun-tahun membuat restaurant seperti itu dengan gajimu yang kecil itu." Hinaku
"Beraninya kamu menghinaku. Lihat saja apa yang akan aku lakukan kepadamu nanti. Kamu akan menangis memohon kepadaku. Lihat saja nanti!" Ancam Bang Dirga dari seberang telepon
"Lihit siji ninti!" Jawabku menirukan bahasa yang sedang tren itu
Tit
Panggilan kumatikan secara sepihak. Malas bicara terlalu lama dengan orang berkepala batu seperti Bang Dirga
Bunyi ponsel kembali terdengar namun malas rasanya untuk kembali menanggapi panggilannya. Kuputuskan untuk mengheningkan suara pada ponselku dan menyimpan ponselku pada laci kamarku
"Birininyi kimi minghiniki. Lihit siji ipi ying ikin ki likikin pidimi ninti." Ucapku sambil menirukan gaya intonasi yang di gunakan Bang Dirga saat mengancamku.
"Heleh, sok ngancam. Nanti ku beri pelajaran nangis!" Sambungku dengan tertawa geli membayangkan raut wajah Bang Dirga di ujung telepon.

Komentar Buku (236)

  • avatar
    MaisarohShofiyyatul

    Bagus banget alur ceritanya

    16d

      0
  • avatar
    kurniaiwan kurnia

    Bagus

    11/11

      0
  • avatar
    FunnissaAltha

    baguss

    06/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru