Beranda/Aku Miskin, Tapi Bohong!/
Reaksi Ibu mertua
"Paket untuk siapa sih sebenarnya?" Tanya Ibu mulai sewot karena kurir paketnya menjeda kalimatnya cukup lama.
"Paket atas nama Ibu Aya." Terang kurir paket merasa tak yakin atas tulisan yang di bacanya.
Astaga itu paket untukku. Perasaan aku sama sekali tidak memesan barang apapun melalui online. Aku hanya sedang menanti kedatangan motorku saja sekarang. Masa iya ada paket untuku. Tapi namanya Aya. Siapa yang mengirim paket dengan nama panggilanku di rumah?
"Tidak ada yang namanya Aya di sini!" Terang Ibu mengibaskan tangan.
"Paketan dari siapa ya, Pak?" Tanyaku penasaran
"Sepertinya gamis, Bu. Di sini tertera satu buah gamis dari aplikasi belanja online terkenal." Terang bapak Itu.
Gamis? Siapa yang memesan gamis untukku. Aku sama sekali tidak memesan apapun apalagi ini baju gamis. Lebaran saja masih lama
"Apa Ibu yang namanya Bu Aya?" Tanya kurir itu padaku.
"Dia itu Maya bukan Aya. M-A-Y-A!" Tegas Ibu sambil mengeja namaku dengan emosi.
"Maaf, Bu saya hanya bertanya."
"Coba saya lihat, Pak siapa tau saya tau orangnya," ucapku sambil menengadahkan tangan.
Ya siapa tau kan benar itu paket untukku meski bukan nama Maya yang tertera di penerimanya setidaknya kan ada nama belakangku.
"Aya lailatul?" Ujarku bertanya pada Pak kurir.
"Iya, Bu benar." Ujar sang Kurir.
Ku lihat Ibu seperti sedang berfikir keras. Memang di usianya yang sudah tidak muda lagi. Ibu sering kali lupa untuk mengingat wajah dan nama seseorang.
"Oalah. Itu anak Bu Rohaya RT sebelah." Ujar Ibu sambil tertawa cekikikan.
"Ya sudah ya, Bu maaf mengganggu waktunya ternyata salah paket. Permisi saya mohon pamit." Pamit pak kurir kepadaku.
"Kurir paket kok sampai gak tau alamat sih."
"Karyawan baru mungkin, Bu." Sahutku.
"Apa dia gak paham sih, May. Mana mungkin kamu bisa beli gamis baru dari online shop. Paling juga gamis dari pasar loak. Iya kan, May?"
Astagfirullah banget ini ibu-ibu kalo ngomong, sukanya nyakitin hati mulu. Dia pikir aku tak bisa membeli baju baru. Aku bisa beli baju baru beserta tokonya kalo perlu.
"Ibu mau aku beliin baju, Bu?"
"Gak mau lah, paling juga baju di pasar loak.
Kalo mau beliin Ibu baju mending kamu kasih uangnya saja nanti Ibu beli sendiri. Lagian selera kamu kan kampungan." Cibir Ibu menolak tawaranku.
Sungguh keterlaluan ini mertua memang. Bisanya hanya menghina dan menyakiti hati mantu saja.
"Eh, Bu. Ibu udah di kasih apa aja sama Resti?" Tanyaku kembali menyinggung tentang calon mantu impian Ibu.
"Banyak. Tas brended dan baju keluaran terbaru. Tidak sepertimu yang sama sekali tidak pernah membelikan Ibu apa-apa." Jawab Ibu.
Sabar.
"Memangnya hubungan Resti dan Bang Dirga itu apa sih, Bu?"
"Dirga bilang sih mereka dekat tapi sampai mana kedekatan mereka Ibu tidak paham cuma jika Dirga akan menjadikan Resti istrinya maka Ibu mendukung itu seratus persen. Ibu kepengen punya mantu yang kaya dan loyal seperti Resti. Tidak sepertimu yang miskin dan pelit." Ibu tersenyum lebar membanggakan calon menantu impiannya itu.
"Memangnya Bang Dirga tidak pernah bercerita bahwa Bang Dirga akan meminang Resti, Bu?" Tanyaku ingin menyelidik semakin dalam hubungan mereka.
"Hmm setau Ibu..." Ibu menjeda kalimatnya dan terlihat sedang berfikir.
"Permisi." Ucap seorang pria yang mengagetkanku dengan Ibu.
"Ada apa?" Tanya Ibu sewot.
"Apa ini rumahnya Ibu Maya?" Tanya pria tersebut sambil membawa secarik kertas di tangannya.
"Enak saja kamu. Ini rumahku. Kalo cari rumah Maya ya sana ke kampung. Rumah yang buluk bukan rumah seperti ini!" Sewot Ibu sekali lagi.
"Maaf, Pak. Ada apa ya?" Tanyaku mencoba ramah meskipun kedatangannya cukup mengganggu usahaku mengorek informasi dari Ibu.
"Ini, Bu saya di suruh mengantar pesanan untuk Bu Maya." Jawab pria itu ramah.
"Pesanan apa ya, Pak? Kebetulan saya Bu Maya."
"Ini saya di suruh mengantar sepeda motor yang Ibu pesan." Terang pria tersebut yang ternyata salah satu pegawai dealer motor yang tadi pagi ku datangi.
Ku lihat Ibu berdiam diri sambil mematung dan melongo setelah mendengar penuturan pegawai dealer motor tersebut. Ada raut kaget dan tidak suka dengan apa yang baru saja di dengarnya.
"Ha ha ha tidak mungkin, Pak. Tidak mungkin!" Tawa ibu menggelegar sampai Ibu menyeka sudut matanya yang berair.
"Ada apa, Bu?" Tanya pegawai dealer tersebut bingung.
"Mana mungkin motor itu milik Maya. Asal Bapak tau saja ya, Pak. Maya itu di sini hanya numpang jadi mana mungkin dia mampu membeli motor." Terang Ibu dengan masih saja terus tertawa.
"Tapi ini benar untuk Bu Maya, Bu." Jawab karyawan dealer dengan sopan sembari menunjukan secarik kertas yang sejak tadi di pegangnya.
"Berapa tahun setorannya, Pak. Paling sebentar lahi setorannya nunggak dan motor itu di cabut. Mending gak usah deh, Pak. Buang-buang waktu Bapak saja nanti kalau di suruh cabut motornya karena kredit macet." Ujar Ibu dengan sisa-sisa tawanya.
"Tapi motor ini di bayar cash, Bu. Tidak ada kredit. Bahkan baru hari ini motor ini di bayar. Ini ada salinan kwitansi pembayarannya, Bu." Karyawan dealer itupun menunjukan sebuah bukti salinan kwitansi yang aku miliki.
Seketika wajah Ibu mulai memerah. Ku lihat raut ketidaksukaan serta adanya aura permusuhan yang Ibu pancarkan kearahku.
"Maaf, Bu Maya apa bisa motornya kami turunkan sekarang soalnya saya juga harus mengantarkan pesanan yang lainnya."
"Oh silahkan, Pak."
Ku lihat ada sebuah mobil bak yang mengangkut beberapa motor mulai mendekat ke arah pekarangan rumah Ibu. Rupanya dari tadi mobil itu terparkir di salah satu rumah tetangga Ibu sampai aku tidak menyadari jika Bapak ini adalah orang yang akan mengantarkan motor yang akan membuat Ibu kelimpungan nantinya.
Motor berwarna merah dengan keluaran terbarupun mendarat dengan sempurna di halaman rumah Ibu. Nanti akan ku buat rumah untuk motor ini di depan kamarku sekaligus untuk menghubungkan antara kamarku dengan kamar mandi agar aku tak perlu lagi kehujanan jika hari sedang hujan.
"Terimakasih atas orderannya dan saya pamit untuk melanjutkan mengirim beberapa motor selanjutnya. Permisi Bu Maya, Bu," karyawan dealer itupun berpamitan kepadaku dan Ibu serta tak lupa pula menunduk hormat padaku dan Ibu.
Ku lihat muka ibu yang masam dan di tekuk melihat motor dengan warna merah menyala yang sekarang sedang aku pegang. Sungguh ingin rasanya aku memotret Ibu dengan ekspresi saat ini.
"Halah baru motor saja sudah belagu. Pakai di antar-antar pula lagi!" Ibu berujar sinis kepadaku.
"Prosesnya lama, Bu harus menunggu karyawan mereka memproses data-dataku terlebih dahulu untuk mengeluarkan motor ini agar sampai di tanganku."
"Ingat ya kamu, Maya. Jangan gara-gara motor baru ini kamu jadi sombong ya. Gak perlu kamu jelaskan pada Ibu pun Ibu sudah tahu prosesnya. Gini-gini meskipun Ibu sekarang tidak memiliki motor. Dahulu motor Ibu itu banyak dan semuanya keluaran terbaru. Jangan sombong ya kamu!" Ujar Ibu dengan bersungut-sungut.
"Timbang motor jelek kayak gini aja gayanya udah selangit. Anaku itu sukses. Jangankan beli motor. Beli mobil saja mampu!"
"Paling ini juga kamu duit hasil nyolong majikan kamu. Mana mungkin pembantu kerja belum ada dua bulan sudah bisa beli motor baru. Itu gak akan mungkin. Lihat saja nanti anaku akan beli yang lebih bagus dari milikmu!" Ibu berujar dengan melangkahkan kaki menjauhiku.
Memang jika hanya pembantu rasanya mustahil jika baru bekerja satu setengah bulan sudah mampu membeli motir apa lagi dengan keluaran terbaru seperti ini. Tapi tidak ada yang mustahil untukku. Aku menganggur saja mampu beli mobil apa lagi aku kerja. Motor ini belum ada seberapanya dengan penghasilanku.
Brak.
aku terlonjak saat Ibu menutup pintu utama dengan bantingan keras.
Aku cukup puas melihat reaksi ibu hari ini. Ini baru permulaan setelah ini akan ku buat keluarga ini memohon kepadaku!Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (236)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
Bagus banget alur ceritanya
20d
0Bagus
11/11
0baguss
06/07/2025
0Lihat Semua