Beranda/Aku Miskin, Tapi Bohong!/
Sebuah Ide
Byur.
Aku megap-megap saat satu ember air menyiramku yang tengah tertidur. Ku rasakan seluruh tubuhku basah di pagi yang dingin ini.
“Bangun juga kamu,” ku lihat Bang Dirga tengah memegang satu buah ember di tangannya.
“Ada apa ini, Bang?” Tanyaku dengan menahan emosi. Sungguh emosi aku di buatnya. Gara-gara dia aku harus kehilangan pangeran berkuda putih dalam mimpiku.
“Udah mulai ngelunjak kamu y, berani membantah perintah ibuku.”
Apa maksudnya. Perintah mana yang aku bantah. Enak saja mengataiku seperti itu. Selama ini juga aku sudah menuruti semua keinginan dia dan keluarganya. Sekarang malah makin seenak jidat keluarga ini memperlakukanku.
Sabar, jika bukan karena mengingat kesehatan Mamah sudah ku tendang mereka-mereka semua. Dasar keluarga penuh kepalsuan. Di depan Mamahku saja sikapnya lembut sampai Mamah dahulu termakan omong kosongnya sehingga memintaku menerima cintanya. Ternyata seperti ini aslinya.
“Apa sih maksudmu, Bang aku gak ngerti,” ujarku.
“Gak ngerti ya? Heh Babu gak inget semalem aku nyuruh kamu apa?” Sambar ibu.
Aku mencoba mengingat-ingat apa yang ibu perintahkan kepadaku semalam. Oh iya lupa aku semalam baru merendam cucian dan belum mengepel rumah ini. Aku memang berniat menyelesaikannya pagi-pagi sekali sebelum yang lain bangun dan ternyata telat.
“Sudah ingat kan sekarang? Kenapa kamu tidur sebelum menyelesaikan tugas kamu hah?” Teriak ibu sampai membuat kupingku memanas.
Jujur aku sudah muak dengan keluarga ini. Rasanya ingin ku runtuhkan kerajaan ibu dan meluluh lantakan tahta ibu mertua kejam ini. Tapi apa daya jika Mama sampai tahu ini semua pasti beliau akan drop lagi. Tinggal selangkah lagi, sekarang tinggal tahap pemulihan dan Mama akan sehat seperti sedia kala dan aku akan keluar dari rumah ini.
“Maaf semalam aku sudah sangat capek jadi ku putuskan untuk mencucinya pagi ini tapi ternyata kesiangan,” jawabku di sertai cengiran.
“Seharusnya kamu tau diri ya, Maya. Kamu di rumah ini itu numpang kepadaku dan ibu dan semua tanggung jawab kebersihan rumah ini adalah tugasmu. Seenggaknya tau balas budi sama aku. Udah numpang makan dan tidur masih mau malas-malasan. Sudah untung tidak ku pungut uang sewa untuk tinggal di rumah ini,” ocehan Bang Dirga panjang lebar.
Apa Bang Dirga mencoba berkelakar terhadapku? Memang tidak secara terang-terangan mereka meminta uang sewa tinggal di rumah ini terhadapku tapi secara tidak langsung uangku mereka rampas. Sama saja bukan! Lama-lama ku jadikan bergedel juga itu mulut deh. Kesel deh maimunah!
Bergegas ku bereskan rumah ini kembali. Menyelesaikan pekerjaan semalam yang sempat tertunda dan selanjutnya pergi ke rumah Mamah. Mau numpang makan enak dari pada di sini makan nasi garam plus pedesnya omongan mertua yang ngalahin cabe sekilo. Btw cabe lagi mahal loh. Di tempatku seratus dua puluh ribu sekilo!
¤¤¤¤¤
“Assalamualaikum, Mah,” ucapku memberi salam pada Mamah yang sedang menyiram bunga di taman bunga milik Mamah.
“Waalaikumsalam, eh anak cantik Mamah sudah datang. Datang sama siapa, Sayang?”
“Sama ojol, Mah.”
“Loh kok gak pernah sama mantu Mamah. Suami kamu kemana kok gak pernah di ajakin kesini, Sayang? Mamah kangen sama mantu Mamah.”
Selalu saja seperti itu. Andai Mamah tau bagaimana sifat asli Bang Dirga mungkin Mamah sudah menendang pantatnya sampai merah. Dulu memang Mamah yang paling merestui hubunganku dengan Bang Dirga. Bahkan Mamahlah yang memintaku menerima cinta Bang Dirga kala Bang Dirga masih berjuang mengemis cintaku.
Ah Mamah jadi mengingatkanku pada kenangan yang seharusnya aku lupakan. Seandainya dulu aku tidak menuruti keinginan Mamah untuk menikah dengan Bang Dirga. Seandanya Mamah tidak di cuci otaknya oleh Bang Dirga dan seandainya-seandainya lainnya.
“Kamu baik-baik saja sama Dirga kan, Nak?” Tanya Mamah mengagetkanku yang tengah melamun.
“Eh baik, Mah. Baik kok gak pernah ada masalah. Aku dan Bang Dirga baik-baik saja. Memangnya kenapa?” Tanyaku heran karena tiba-tiba Mamah menanyakan hubunganku.
“Oh gak apa-apa, Sayang. Berarti Mamah kemarin Cuma salah lihat,” ujar Mamah.
“Salah lihat bagaimana, Mah?” Tanyaku bingung.
“Kemarin Mamah waktu ke restoran kita seperti melihat Dirga sedang makan dengan perempuan lain. Mamah kira kalian sedang tidak baik-baik saja ternyata Mamah salah. Maafin Mamah ya, Nak sudah berfikir yang tidak-tidak terhadap suamimu,” terang Mamah.
Restoran milik keluargakunitu bukan restoran biasa. Di sana kami memiliki menu dengan harga yang lumayan harus merogoh kantong jika untuk orang sekelas Bang Dirga. Dan siapa wanita yang bersama Bang Dirga di restoran kemarin? Apa Bang Dirga ada main dengan perempuan lain. Aku harus mencari tahu ini. Ini bisa jadi alat untuk aku minta berpisah dari Bang Dirga kelak jika Mamah sudah benar-benar sembuh.
“Mungkin klien, Mah. Lagian mana mungkin Bang Dirga makan di restoran kita tidak memberitahu, Maya.”
“Ah benar juga ya yang kamu katakan,” Mamah tersenyum hangat kepadaku.
Aku kembali memikirkan perkataan yang Mamah lontarkan barusan. Satu ide muncul begitu saja dalam otak cantiku. Ide brilian yang akan memberikan keuwuan.
Aku membuka gawai yang kondisinya semakin miris untuk mencari kontak seseorang. Untuk saat ini aku memerlukan bantuanmu teman semoga mulutmu tidak seperti para tetangga. Sekali ini saja, ku mohon.
“Kirimkan aku mata-mata untuk mengawasi gerak-gerik Bang Dirga selama bekerja,” dan kirim. Selesai.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (236)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
Bagus banget alur ceritanya
26d
0Bagus
11/11
0baguss
06/07/2025
0Lihat Semua