Beranda/Tumbal pernikahan/
Masa Lalu
Pertemuan hari itu adalah awal kebahagiaan Amanda yang kembali, dia bisa bercanda dan bergurau lagi dengan Fara seperti dulu.
"Mami mau ke mana? keluar sama papa ya?" tanya bocah itu saat memasuki kamar ibunya dan melihat Amandasedang bersiap.
"Shadam mau ikut mami nggak, mau mami kenalin sama sahabatnya mami." Amanda yang sedang merias menoleh dan menatap Shadam dengan senyuman.
Shadam berpikir sebentar sebelum akhirnya mengangguk dengan senyuman lebar. "Temannya Mami laki-laki atau perempuan?"
"Perempuan, Sayang. Jadi Shadam mau ikut apa enggak?" tanya Amanda lagi sambil meraih tas tangan yang dia letakkan di atas ranjang.
"Mau, Mi. Shadam mau ganti baju dulu ya."
Amanda mengangguk dan memilih menunggu Shadam di ruang tamu sambil berbalas pesan dengan Fara yang sudah menunggunya di tempat sementara wanita itu.
Perjalanan yang penuh dengan suka cita, senyuman lebar tak pernah berhenti menghiasi bibir Amanda, ya, dia memang sangat bahagia karena akhirnya bisa bertemu dengan Fara dan nantinya bisa bercerita banyak hal dengan sahabatnya tersebut. Amanda juga sangat penasaran dengan hubungan Fara dan Yuda, dia juga berharap kalau hubungan kedua sahabatnya itu akan selalu baik-baik saja, Amanda juga selalu berdoa semoga apa yang dia rasakan tidak akan pernah Fara rasakan.
Shadam menatap Amanda dengan ckup serius yang disertai kerutan di kening bocah laki-laki itu. Amanda hanya mengangguk sebagai jawaban atas ekspresi yang ditunjukkan oleh sang anak membuat senyuman lebar langsung mengembang di bibir mungil bocah tersebut. Setelah beberapa kali mengetuk pintu akhirnya si empunya muncul juga dan langsung menyambut Amanda dengan dekapan.
"Maaf ya kalau aku buka pintunya terlalu lama," ucap Fara sungguh tak enak hati. Pandangannya langsung beralih ke arah Shadam yang berdiri persis di samping Amanda. Fara berjongkok supaya mensejajarkan tubuhnya dengan putra tunggal sahabatnya tersebut.
"Hallo, nama kamu siapa? aku Fara, sahabatnya Mami kamu." Fara langsung memperkenalkan diri tanpa bertanya lebih dulu Shadam itu siapa karena dia sudah sangat yakin kalau bocah lucu itu adalah anak dari sahabatnya.
"Namaku Shadam Syazwan Tante. Biasanya dipanggil Shadam."
Keduanya seketika langsung akrab, saat mendengar suara tangisan bayi tanpa bertanya lebih banyak Shadam langsung meminta izin untuk menjga bayi tersebut.
"Sayang ... hati-hati ya. Jangan sampai adik kecilnya terluka," Pesan Amanda karena sejujurnya dia sangat takut kalau sampai anak dari Fara terluka karena Shadam apalagi selama ini bocah itu taidak memiliki pengalaman menjaga seorang bayi.
"Tenang saja, Mi. Shadam kan bertanggungjawab jadi sudah sepantasnya menjaga adik bayi dengan sangat baik," celetuk Shadam sambil keluar dari ruang tengah dan membawa stroller yang di dalamnya ada anaknya Fara berada.
Fara dan Amanda langsung dibuat takjub dengan jawaban bocah kecil itu, sungguh Amanda tidak pernah mengajarkan apa pun soal tanggungjawab kepada Shadam.
"Shadam pinter banget ya, Nda. Kamu pinter banget didik anak itu," puji Fara dengan tatapan takjub ke arah Shadam yang sedang berusaha membuat bayi dalam stroller itu untuk tertawa.
"Shadam, perasaan mami nggak pernah bicara soal tanggungjawab ke kamu. Siapa yang ngajarin, Sayang? pasti papa ya?" tanya Amanda dengan senyuman mengembang dan dalam hati dia merasa bangga kepada Daejung karena sudah menjelaskan tentang arti tanggungjawab kepada Shadam sedini mungkin.
Amanda masih membanggakan kekasihnya itu di dalam hati sementara Fara sudah dibuat bingung dengan kata 'papa' yang Amanda lontarkan. Ingatan wanita itu melayang pada kejadian saat Angga memohon-mohon supaya Fara bercerita yang sebenarnya soal kehamilan Amanda.
"Apa mungkin kalau mereka sudah akur dan Shadam sudah tahu siapa papanya? tapi apa semudah itu Amanda menerima Angga lagi setelah penghianatan yang dia berikan." Fara hanya diam tetapi melontarkan banyak pertanyaan di dalam hati dan kepada dirinya sendiri.
"Salah, Mi. Bukan papa kok yang ngasih tahu Shadam tapi ... cup-cup ya, adik manis jangan nangis ada kakak di sini." Shadam menghentikan penjelasannya karena anaknya Fara tiba-tiba menangis karena kehausan dan dengan telaten juga Shadam menyodorkan dot berisi susu formula itu untuk diminum si adik bayi.
"Tapi apa, Nak. Siapa yang udah kasih tahu Shadam soal tanggungjawab itu?" Amanda masih sangat penasaran sehingga memaksa Shadam untuk bercerita padahal bocah itu masih sibuk dengan si adik bayi.
"Oom Angga, Mi. Oom baik itu yang udah ngajarin Shadam soal tanggugjawab. Kalau Shadam harus jadi orang yang jujur dan selalu memegang ucapannya. Oom Angga juga bilang kalau Shadam besar nanti jangan sampai membuat Mami atau perempuan mana pun terluka." Shadam menjelaskan semuanya apa yang sudah dia pelajari dari Angga yang notabenenya adalah papa biologisnya.
Fara langsung terbelalak saat Shadam memanggil Angga dengan panggilan Oom, dia juga menjadi bingung karena kalau bukan Angga yang dipanggil papa lalu siapa yang bocah itu panggil papa sebenarnya. Amanda menoleh dan menemukan ekspresi bingung yang nampak nyata di wajah Fara membuat Amanda mau tak mau harus menceritakan semuanya saat ini juga.
"Kamu hutang banyak penjelasan sama aku, Amanda. Aku juga terlalu melewatkan banyak hal," desis Fara yang langsung dibalas anggukan kepala oleh Amanda.
Amanda mendesah dengan berat, bayangan membanggakan Daejung langsung menghilang begitu saja saat dia tahu ternyata Anggalah yang mengajari Shadam banyak hal bukannya Daejung yang sudah menjadi papa Shadam selama hampir delapan tahun ini. Amanda meminta Shadam untuk menjaga anaknya Fara di tempat lain sementara wanita itu akan menjelaskan banyak hal kepada Fara tentang masa lalunya.
"Jadi ... apa saja yang sudah aku lewatkan," sindir Fara sambil menatap Amanda dengan cukup tajam.
Helaan napas panjang terus Amanda embuskan, rasanya sangat sulit bila harus menceritakan semuanya dari awal, tetapi mungkin dengan bercerita kepada Fara begini rasa sakitnya nanti akan berkurang meski hanya sedikit.
***
Langkah kaki lemahnya membawa wanita yang berbadan dua dan patah hati itu tak tentu arah. Dia terus melangkah hingga akhirnya tanpa sadar telah sampai di bandara internasional. Amanda menghentikan langkahnya dengan ragu-ragu, tetapi akhirnya dia memantapkan hati dan diri untuk bisa segera pergi dari negara tersebut meski dia belum terlalu yakin akan ke mana setelah ini.
"Maafin mama ya, Nak kalau harus memisahkan kamu dari papa. Mama melakukan ini semua demi kebaikan papamu sendiri. Mama juga tidak mau terlalu membatasi hubungan mereka, tapi kamu tenang saja karena mulai saat ini juga mama yang akan jadi mama sekaligus papa buat kamu." Amanda menunduk untuk menatap perutnya yang mulai membesar seiring bertambahnya hari. Amanda juga mencoba tersenyum meski rasanya hatinya teramat sakit saat mengingat kenyataan tersebut. Dia harus kuat dan tegar demi anak yang saat ini sedang berkembang di dalam rahimnya.
Amanda menghela napasnya cukup berat saat akhirnya dia tiba di tempat tujuan, tiba di sebuah negeri yang biasa disebut dengan negeri gingseng. Ya, Amanda telah memutuskan untuk memulai masa depannya dengan sang anak di negeri tersebut. Dia juga sudah merencanakan tentang usaha yang akan dia kelola untuk bisa bertahan hidup. Awalnya semua berjalan dengan sangat baik seperti yang sudah Amanda rencanakan sebelumnya, tetapi nyatanya perlahan tapi pasti semua rencana itu menjadi melenceng dan dengan perlahna pula menguras sebagian banyak tenga dan juga dana milik Amanda. Sehingga akhirnya dia malah tersadar berada di sebuah kamar inap di rumah sakit ternama di kota itu.
"Astaga! aku harus segera pulang, mana cukup uangku kalau harus rawat inap di tempat ini." Amanda menatap sekeliling kamar itu yang terlihat sangat mewah dari kamar inap yang biasa dia ketahui selama di Indonesia dulu.
Namun, pergerakan yang akan Amanda lakukan langsung terhenti saat ada suster yang datang dan melarangnya untuk banyak bergerak dengan berbicara bahasa inggris membuat Amanda mengurungkan niatnya dan kembali tiduran.
"Kamu sudah sadar, sebaiknya istirahat dulu karena kondisi kamu masih buruk."
Amanda hanya diam dan berusaha untuk mengingat dokter tampan yang saat ini berbicara dengannya. Dia merasa kalau sebelum hari ini mereka telah bertemu sebelumnya.
"Kenapa menatapku seperti itu?"Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (120)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
bagus
27/06
0bagus
27/06
0saya sangat suka novel ini
13/05
0Lihat Semua