Angga mendesah, mengambil tas itu dan mulai memeriksa isinya. Jauh dalam lubuk hati dia berharap kalau bisa menemukan titik terang di mana Amanda berada karena Angga tahu benar bahwa tas yang selalu Amanda gunakan untuk pergi hanyalah itu. Kening Angga mengernyit saat tangannya menemukan sebuah amplop bertuliskan nama rumah sakit. Dia semakin bingung dan mulai menerka yang tidak-tidak. "Jangan-jangan Amanda ...." Angga menggeleng beberapa kali untuk menghilangkan prasangka buruknya itu. Demi menghilangkan prsangka tersebut dia pun membuka amplopnya dan sangat terkejut saat mengetahui laporan medis itu. Angga mematung antara perasaan bahagia dan juga sedih. Lagi ... Angga membacanya, meneliti laporan itu dan memeriksa tanggalnya. Angga dibuat semakin terkejut saat tahu alamat rumah sakit itu. "Jadi benar kalau Amanda sendiri yang tahu semuanya. Jadi ... selama ini dia juga ...." Angga menghentikan kalimatnya karena tak mampu berkata apa-apa lagi. Penyesalan itu semakin membesar setelah tahu kenyataan yang telah Amanda alami delapan tahun silam. Dengan segera Angga langsung meraih gawainya dan mencoba menghubungi seseorang untuk memastikannya. Amanda memang tidak jujur padanya, tetapi dia juga tidak mungkin berbohong kepada semua orang terdekatnya. Tubuh Angga luruh di atas lantai dengan penyesalan yang semakin menumpuk, dia bukan hanya menjadi suami yang keji. Namun, juga orang tua yang lalai. "Ya, Amanda hamil dan Anda ... Anda hanya sibuk dengan Nessa ... wanita yang sudah sangat jelas tidak menginginkan Anda dalam hidupnya. Tapi Anda ... dengan mudahnya Anda berpaling dari sahabat saya demi wanita itu yang bahkan bukan saudara sedarah dari Amanda sendiri." Ucapan menohok yang terlontar dari Fara membuat Angga semakin merasa bersalah. "Percuma juga kalau Anda menyesal sekarang. Seharusnya Amanda melakukan itu sejak dulu, saat Anda menolaknya sebagai istri. Setelah semua perjuangannya Anda malah berpaling begitu saja. Selamat Pak Angga karena lagi dan lagi Anda menyakiti sahabat saya." "Yang ... aku benar-benar minta maaf sama kamu. Andai aja waktu bisa terulang mungkin saja sekarang kita udah bahagia." Angga mendesah lagi dan ingatannya melayang pada saat hubungan mereka masih sangat harmonis. Saat Angga belum bertemu dengan Nessa dan masalahnya dengan Abimanyu telah usai. "Mas kalau seandainya aku hamil anak perempuan mau kamu kasih nama apa?" tanya Amanda antusias yang saat itu sedang terduduk di atas pangkuan Angga dan melingkarkan kedua tangan di leher pria itu. "Alsava," jawab Angga langsung seolah sudah menyiapkan nama itu dari jauh hari. "Kenapa nama itu?" "Alsava artinya ketenangan dan aku berharap anak kita nanti punya pribadi yang tenang kayak kamu," jawab Angga sambil melayangkan satu kecupan di bibir Amanda yang polos tanpa gincu. Amanda tersenyum dan ingatannya mengawang, membayangkan mereka memiliki bayi perempuan yang sangat lucu. "Alsava Putri Pranaja," seru Amanda masih dengan senyuman dan membalas tatapan hangat dari Angga yang dibalas dengan senyuman hangat juga oleh pria itu. Angga mendesah lagi seiring rasa penyesalan itu yang kian membesar. Semua impian yang pernah mereka bayangkan kini tinggallah angan yang tidak akan pernah terwujud. Namun, menit berikutnya dia tersenyum lebar saat mengingat bahwa Amanda pergi dalam keadaan mengandung calon anaknya. "Aku harus cari kamu bagaimanapun caranya dan memastikan soal anak kita. Aku janji kalau kita bertemu nanti aku nggak akan pernah ngelepasin kamu, Yang!" seru Angga sambil meraih potret pernikahan mereka yang masih dia simpan dengan sangat rapih. *** "Tumben ... lo udah rapih dan bersih gini. Mau ke mana lo?" tanya Althan dengan bingung saat melihat penampilan Angga yang kembali menawan seperti dulu. Pria itu telah membersihkan wajahnya dari bulu-bulu halus yang menghiasi wajahnya, rambutnya yang mulai gondrong dia pangkas serapih mungkin. Angga yang dulu kini telah kembali. "Gue mau cari Amanda, Bang. Gue harus temuin dia gimana pun caranya," ungkap Angga dengan sangat yakin. Althan terbahak sebentar sebelum menyindir ungkapan Angga yang baru pria itu dengar setelah delapan tahun berlalu. "Lo habis mimpi apa, Ga. Setelah delapan tahun lo baru bertekad buat nyari dia. Lo lagi mabuk, hah!" goda Althan masih dengan senyuman mengejek. "Gue serius, Bang. Gue mau cari Amanda dan gue juga berharap dia mau kembali ke gue karena gue yakin perasaan cinta dia cuma buat gue," cetus Angga penuh percaya diri. Althan kembali tertawa dan kini malah terbahak-bahak. Dia masih ingat benar saat Amanda mengungkapkan kalau dirinya sudah bahagia dengan jeluarga barunya. Apakah bila Angga datang Amanda bersedia kembali, pasti itu tidak mungkin apalagi diantara nereka sudah ada bocah lucu. "Angga, Angga. Sebaiknya lo batalin niat lo itu. Coba lo pikir sekali lagi ... kalau misalnya Amanda udah bahagia sama keluarga barunya gimana? Kalau ternyata dia udah lupain lo gimana? Lo mau buat dia tersakiti lagi." Angga diam dan mulai berpikir. Sungguh, dia tidak berpikir sampai sejauh itu karena yang Angga pikirkan hanya satu. Dia ingin membuktikan soal surat diagnosis dari dokter tersebut dan bagaimana dengan nasib calon anaknya tersebut. "Lupain Amanda, Ga. Biarin dia bahagia meski lo nggak tahu dia berada di mana. Anggap aja kalau ini sebagai penebusan dosa lo selama ini ke dia. Biarin dia bahagia meski sama orang lain." Althan menepuk punda Angga seolah menyalurkan kekuatan lewat tepukan lembut itu. Angga mendesah dengan sangat berat. Membayangkan Amanda bahagia dengan orang lain membuat dadanya terasa sesak dan juga sakit. Namun, lagi-lagi dia ditampar karena ini semua adalah ulahnya sendiri. Apa yang kini dia rasakan sudah pernah Amanda rasakan sebelumnya. "Gue tahu lo masih mencintai dia dan masih ngerasa bersalah sama dia, tapi lo juga harus sadar kalau ini memang jalan yang terbaik. Mungkin, Amanda sengaja nggak pernah muncul karena dia memang mau melupakan masa lalu dan tugas lo hanya satu ... biarin dia bahagia sama pilihannya. Gue yakin, suatu saat lo juga pasti akan bahagia kalau lihat Amanda bahagia." Althan mencoba menasehati karena dia tidak ingin Angga semakin terluka saat tahu kenyataan bahwa Amanda telah bahagia dengan keluarga barunya. Althan juga ingin kalau saudaranya itu bisa bahagia meski bukan dengan Amanda lagi. "Kalau ternyata dia udah bahagia gue gak akan usik kebahagiaan dia lagi, Bang. Cuma ... gue juga butuh jawaban atas semua pertanyaan dalam kepala gue." Angga menarik napasnya dalam-dalam sebelum kembali melanjutkan ucapannya. "Dia hamil, Bang. Amanda hamil waktu dia pergi. Dia pergi bawa anak gue dan gue bahkan nggak tahu soal itu ... gue cuma mau mastiin apa benar gue udah jadi papa. Kalau iya, kenapa Amanda tega sembunyiin anak itu dari gue," lanjut Angga yang tanpa sadar sudah menitikkan air matanya. Dia terharu, sedih dan menyesal karena kenyataannya dia bukanlah papa yang baik. Althan terdiam dan membeku, dugaannya soal Shadam kini semakin kuat bahwa bocah itu adalah anaknya Angga. Namun, dia masih memilih untuk bungkam dan membiarkan Angga yang mencari tahu tentang itu semua. "Gue tahu kalau gue emang brengsek, tapi nggak seharusnya juga dia sembunyiin soal kehamilannya, Bang. Gue udah nunggu lama kehadiran anak itu. Saat udah hafir kenapa Amanda harus sembunyiin semuanya dari gue. Gue papanya, Bang. Seharusnya dia bilang sama gue!!" kelakar Angga karena merasa kecewa akan sikap Amanda yang telah menyembunyikan kabar kehamilannya itu. "Apa gue memang nggak pantas jadi papa sampai dia kayak gitu ke gue. Gue emang jahat, Bang tapi Amanda jauh lebih jahat dari gue," gumam Angga sambil mengusap ujung matanya yang sudah penuh dengan air mata yang siap tumpah. Althan hanya diam dan sesekali mendekap tubuh Angga untuk menguatkan pria itu. Angga memang bersalah, tetapi dia juga tahu kalau oria itu sedang sangat rapuh. "Gue cinta sama dia, Bang. Dia juga udah janji nggak akan pernah ninggalin gue apa pun alasannya. Dia selalu bilang kalau cinta dia cuma buat gue dan hanya gue. Tapi nyatanya apa ... dia sendiri yang malah pergi." Althan tetap diam dan mendengarkan semua kata yang Angga racaukan. Sementara di tempat lain, Seffina terus memperhatikan dua pria bersaudara itu. Jauh dalam lubuk hatinya dia merasa iba kepada Angga. Namun, Seffina juga tidak tahu apakah kehamilan Amanda berjalan dengan baik atau tidak. Seffina juga tidak tahu apakah Amanda kini memiliki seorang anak atau tidak. Meski dia sudah berkomunikasi dengan wanita itu tetap saja Amanda masih menjaga jarak darinya dan enggan bercerita tentang masa lalu.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus
27/06
0bagus
27/06
0saya sangat suka novel ini
13/05
0Lihat Semua