"Aku bener-bener minta maaf sama kamu, aku hampir aja bongkar rahasia itu." Althan menghentikan langkahnya tepat di bibir pintu saat mendengar kalimat ambigu yang keluar dari mulut Seffina. Wanita itu sedang berbicang dengan seseorang yang Althan tidak tahu itu siapa, Seffina terlihat begitu serius dalam berbicara meski Althan hanya menatap punggung sang istri. "Maksud kamu apa? Aku nggak ngerti." "Maaf, ya. Aku hampir aja bilang semuanya, tapi kamu jangan takut karena aku belum ngomong kok ke Angga soal kehamilan kamu waktu itu." Degh! Althan membeku di tempatnya mendengar kalimat terakhir yang Seffina lontarkan. Otaknya seolah penuh dengan pertanyaan membuatnya menjadi semakin bingung. Namun, dia sudah menangkap siapa lawan bicara istrinya itu, tetapi Althan masih tetap di bibir pintu dan menanti apakah ada rahasia lain selain kehamilan itu. "Aku minta maaf kalau udah nyuruh kamu tutupi itu semua dari awal." "Aku nggak masalah, Amanda. Aku seneng bisa bantu kamu. Semoga kamu sekarang bahagia, ya." "Terima kasih atas semua bantuan kamu, Seffina. Aku selalu berharap kalau kamu nggak akan pernah cerita ke siapapun soal kehamilanku delapan tahun yang lalu itu." "Aku sudah berjanji dari awal kan kalau kehamilan kamu akan aku sembunyikan dari siapapun termasuk Angga sendiri dan aku masih menepati janji itu, Amanda." Amanda bernapas lega di ujung telepon, setidaknya Althan tidak akan tahu kalau Shadam adalah anak kandungnya Angga. Biarlah hanya Seffina yang mengetahui itu, Amanda juga berharap kalau selamanya Angga tidak akan pernah tahu. "Maaf kalau selama ini aku menghilang dan menutup semua akses. Kamu pasti tahu sendiri kenapa aku ngelakuin itu." Amanda mendesar, suaranya pun mulai berubah seiring dengan dada yang mulai terasa sesak. "Aku nggak masalah, aku juga ngerti akan semua tindakan kamu itu. Semoga kamu bisa melangkah maju, Amanda. Masa lalu biarlah di belakang dan kini kamu harus menatap masa depan. Aku yakin kamu pasti akan bahagia walau dengan orang yang berbeda." Althan masih di sana dan terus mendengarkan nasehat-nasehat yang Seffina berikan untuk Amanda. Nasib keduanya bisa dikatakan sama, berakhir dengan seseorang karena lebih memprioritaskan masa lalu. Althan mendesah dengan kasar mendengar setiap ucapan yang Seffina lontarkan tentang keputusan terbaik Amanda. Jauh dalam lubuk hatinya dia terluka bila melihat keadaan Angga yang buruk seperti ini, Althan berpikir bahwa hukuman atas kesalahan Angga sudah bisa dikatakan impas dan ini adalah saatnya untuk pria itu memperbaiki dirinya. Setelah mengobrol hampir satu jam akhirnya Seffina memutuskan panggilan internasional itu dan melihat jam digital yang berada di ponselnya. Dia terbelalak karena sudah menunjukkan hampir tengah malam, tetapi suaminya belum juga kembali ke kamar. Seffina berbalik dan dia terkejut karena mendapati Althan sudah berdiri dengan santai dengan bersedekap dada dan bersender di pintu sambil menatap tajam ke arah sang istri. Seffina dibuat membeku sekaligus berdebar, dalam kepalanya banyak pertanyaan termasuk apakah Althan mendengar yang sudah dia bincangkan dengan Amanda. "Loh, Mas. Kamu ngapain berdiri di situ? Ini udah malem, kok kamu baru naik ke atas." Seffina mencoba bersikap biasa meski rasanya itu mustahil. Tatapan Althan tetap saja membuat dia semakin gugup. "Udah sana ke kamar mandi dulu, aku siapin baju tidurnya!" suruh Seffina dan mulai berjalan menuju walk in untuk mengambil satu setel baju tidur untuk Althan. Althan tetap diam, tetapi kakinya melangkah mendekati Seffina. Membalik tubuh wanita itu supaya menatapnya dan mengukungnya dengan kedua tangan. "Kamu kenapa? Kok gugup gitu. Kenapa, kamu buat salah ya?" cecar Althan dengan tatapan yang masih mengarah ke netra Seffina. "Mas Althan apaan sih. Jangan gini deh, ini udah malem. Besok itu kita kerja dan harus bangun pagi." Seffina memberontak karena pria itu masih saja mengurung tubuhnya. Althan tetap mengurung tubuh Seffina sampai wanita itu bersedia mengakui semua kenyataan yang telah dia ketahui. Tentang kehamilan Amanda dan semua penderitaan yang telah wanitabitu alami. Seffina bimbang, dia harus bercerita atau tetap menutup mulut. Namun, dia juga tidak bisa lagi berbohong karena Althan sudah mengetahui itu semua. "Jadi ... anak kecil itu benar-benar anaknya Angga. Bukan anaknya dokter itu," celetuk Althan membuat Seffina menjadi semakin bingung. "Shadam, namanya Shadam, Sayang. Dia anaknya Amanda dan Amanda bilang kalau itu anak dia sama Daejung ... dokter muda yang selama ini menjaga Amanda selama berada di sana. Awalnya aku percaya dan enggak. Aku sempat ketemu sama Shadam dan wajahnya ... mirip kayak Angga waktu kecil." "Jadi ... Amanda udah nikah lagi, Mas?" "Dia bilangnya seperti itu." Seffina mengangguk dan menyimak semua yang Althan ceritakan tentang pertemuannya dengan Amanda dan perbincangan mereka waktu itu. Saat Amanda menolak untuk mengetahui kabar tentang Angga. Saat Amanda mengatakan kalau dia sudah bahagia dengan kehidupan barunya. "Menurut kamu, apa benar kalau Amanda sudah bahagia?" tanya Althan dengan tiba-tiba membuat Seffina berpikir dengan keras. "Entahlah, Mas. Aku nggak tahu soal itu." *** Embusan napas berat Angga keluarkan saat membuka kembali barang-barang milik Amanda yang tertinggal. Hanya satu kardus berukuran sedang, tetapi itu semua adalah barang milik Amanda yang akan selalu mengingatkan Angga tentang mantan istrinya tersebut. Beberapa potret juga ada dalam kardus itu, ketika dia dan Amanda memutuskan berlibur naik kapal pribadi dan dengan sengaja Amanda memotret dirinya. "Mas ngadep sini bentar!" "Apa sih, Yang?" "Mau aku foto bentaran." "Ogah ah aku malu." "Dih, gaya banget sok malu segala, biasanya juga kamu yang bikin aku malu." Akhirnya mereka tertawa sebentar sebelum Angga menyembunyikan setengah wajahnya dan Amanda mengambil fotonya dengan sengaja dan kini semua itu tinggallah kenangan yang akan membuat rasa penyesalan di hati Angga kian bertambah. Angga mendesah lagi lalu mengusap ujung mata kanannya yang sudah meneteskan air sejak kenangan lama itu muncul. Dia ambil satu persatu barang dalam kardus itu dan mulai teringat akan semua kenangannya bersama dengan Amanda. "Lingerie lagi ... Mas, aku udah punya banyak loh, kenapa masih beli lagi." Amanda protes melihat lingerie merah marun yang baru saja diberikan oleh Angga. "Modelnya bagus, Yang dan kamu juga belum punya model itu. Aku suka jadi aku beli aja." "Kan bisa buat yang lain uangnya, kenapa juga harus beli lingerie lagi." Semua kenangan-kenangan indah selama dengan Amanda muncul secara bergantian ketika Angga mengambil satu persatu barang peninggalan wanita itu. Bukan hanya kenangan indah saja yang hadir, kenangan saat mereka bertengkar hebat pun Angga masih mengingatnya. Pertengkaran terakhir yang telah merubah status hubungan mereka yang dari pasangan kini menjadi mantan. Tangannya mengambang di udara saat melihat barang terakhir yang Amanda tinggalkan. Sebuah tas selempang yang dia belikan saat acara anniversary pernikahan mereka yang kedua, sebelum Angga bertemu kembali dengan Nessa dan merubah sikap pria itu terhadap Amanda. "Kamu benar-benar benci ya sama aku. Dulu ... tas ini segalanya buat kamu, tapi sekarang ...." Angga mendesah, mengambil tas itu dan mulai memeriksa isinya. Jauh dalam lubuk hati dia berharap kalau bisa menemukan titik terang di mana Amanda berada karena Angga tahu benar bahwa tas yang selalu Amanda gunakan untuk pergi hanyalah itu. Kening Angga mengernyit saat tangannya menemukan sebuah amplop bertuliskan nama rumah sakit. Dia semakin bingung dan mulai menerka yang tidak-tidak. "Jangan-jangan Amanda ...."
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus
27/06
0bagus
27/06
0saya sangat suka novel ini
13/05
0Lihat Semua