Amanda tersipu saat Daejung terus menatapnya tanpa berkedip dengan senyuman lebar di bibir pria itu. Saat ini keduanya sedang berada di butik ternama, Daejung telah meminta Amanda untuk mengikuti sebuah acara penting dengannya. Awalnya Amanda menolak karena dia bisa memilih pakaian di butiknya sendiri. Namun, Daejung menolak dan malah membawa wanita beranak satu itu untuk memilih pakaian di butik lain, tetapi nyatanya bukan Amanda yang memilih pakaian itu tapi Daejunglah pemilihnya. "Ganti aja, ya. Kayaknya pakaian ini nggak pantes buat aku." Amanda insecure dan mulai berbalik berniat untuk melepas Lace dress di tubuhnya. "Ngapain, kamu cocok kok pakai baju itu." Daejung menolak dan masih memperhatikan Amanda yang terlihat muda dengan dress itu. "Jangan yang ini, Jung. Ini terlihat terlalu muda kalau aku pakai," mohon Amanda membuat Daejung menghela napasnya dengan pelan. Daejung juga tidak bisa memaksa Amanda supaya bersedia mengenakan pakaian pilihannya. Wanita itu bersedia ikut saja Daejung sudah sangat bersyukur. Akhirnya Amanda memilih sendiri dress yang menurutnya pantas di usianya yang tak lagi muda. Amanda berputar di depan cermin di dalam kamar pas. Dia meneliti setiap desain dress model mermaid dengan bahu terbuka di tubuhnya. Seketika ingatannya kembali pada saat dia mencari gaun dengan Angga dan dia sendiri yang memilih modelnya. Amanda langsung menghela napas dan mengembuskannya dengan cukup berat, dia benci bila harus terus mengingat Angga. Dia juga benci bila kehidupan barunya selalu dibayang-bayangi oleh pria dari masa lalu, tetapi dia juga tidak bisa berbuat lebih karena sejujurnya perasaan itu masih ada untuk Angga meski tidak penuh seperti dahulu. Sama seperti Angga dulu yang menyukai pilihan Amanda, Daejung pun demikian. Namun, nyatanya mereka berdua adalah orang yang sangat jauh berbeda. Selama hampir delapan tahun bersama Daejung, Amanda sedikit banyak tahu tentang sifat pria dewasa itu. Daejung termasuk pria yang lembut dan penyayang. Bahkan, pria itu yang selalu menemani Amanda selama wanita tersebut mengandung Shadam yang seharusnya dilakukan oleh Angga malah dilakukan oleh pria lain. Setelah selesai dengan acara berbelanja, Daejung mengajak Amanda untuk ke rumah sakit karena ada kepentingan yang belum pria itu selesaikan. Tanpa banyak bertanya, Amanda pun setuju meski jauh dalam hatinya ada sebuah perasaan was-was. "Lee Daejung." Daejung menoleh ke arah pintu saat namanya disebut. Hanya sebatas menoleh dan tak menyahuti ucapan wanita cantik di ambang pintu. Wanita itu masuk ke ruangan Daejung tanpa meminta izin dan memaki pria yang hampir berkepala empat tersebut. "Aku mau bicara," ujar wanita bertubuh ideal itu sambil melangkah ke arah Daejung yang malah memalingkan muka. "Silakan, aku lagi sibuk jadi tidak bisa terlalu lama mendengarkan." Daejung berkata dengan malas. Pria berumur itu merasa malas bila harus meladeni ucapan wanita di depannya tersebut. "Kenapa kamu berubah, Lee." "Maksud kamu apa? Tidak ada yang berubah dari aku," jawab Daejung tanpa mau menatap wajah wanita yang berdiri di depannya. "Kamu mulai menjauh sejak ketemu sama dia dan sekarang kamu semakin jauh dari aku itu semua gara-gara janda itu. Kenapa, Lee? Apa yang salah dari aku sampai kamu lebih peduli sama dia," kritik wanita itu dan mulai mengeluarkan semua unek-uneknya. "Maksud kamu apa bilang seperti itu, Yuki." Daejung tetap bersikap dingin meski dia sebenarnya tahu ke mana arah ucapan wanita yang bernama Yuki itu. "Kamu anggap aku apa selama ini, Lee?" "Just friend," jawab Daejung dengan sangat santainya. "Apa kamu bilang? Hanya teman. Jangan bercanda, Lee. Tujuh belas tahun kita bersama dan kamu anggap aku hanya itu." Yuki memekik tak percaya dengan jawaban Pria tampan di depannya itu. "Ya, memang itu yang sebenarnya. Kita hanya berteman bahkan bukan teman dekat. Kita hanya sebatas saling mengenal saja, Yuki." "ENGGAK, LEE. Aku nggak mau hanya sebatas teman. Aku mau hubungan kita lebih dari dua kata itu," jeda Yuki sambil menatap wajah Daejung yang masih tidak mau menatap wajahnya. "Asalkan kamu tahu, selama tujuh belas tahun aku mencintai kamu Lee dan kamu ... hanya anggap aku sebagai teman jauh saja." "Ya, memang itulah kebenarannya. Dari dulu sampai sekarang perasaanku buat kamu tetap sama. Kita hanya berteman, bahkan bukan teman dekat." Yuki menggeleng dengan perlahan, lalu maju beberapa langkah supaya tidak terlalu jauh dari tempat Daejung berada. "Apa yang kurang dari aku sampai kamu lebih memilih dia daripada aku, Lee. Dari segi manapun aku jauh lebih unggul dari dia, tapi kenapa kamu lebih milih dia yang nyatanya cuma orang asing dan seorang janda beranak satu." "Dia yang kamu maksud itu punya nama, Yuki. Jadi sebut namanya dengan benar." Yuki tersenyum dengan sangat lebar sambil bersedekap dada. "Andai aja kamu milih wanita lain bukannya dia aku pasti akan terima, Lee. Tapi kenapa harus dia, kenapa harus janda beranak satu itu. Kenapa harus yang sudah memiliki anak?" Daejung tetap diam seribu bahasa dan hanya akan mendengarkan semua unek-unek yang akan Yuki katakan kepadanya. Dia juga akan bersuara bila memang harus melakukan itu. "Aku cinta sama kamu, Lee. Bahkan, sejak awal kita mulai dekat dan sampai saat ini. Aku tetap bahagia meski kita cuma dekat tanpa ikatan, aku juga sempat berpikir kalau suatu saat nanti kamu pasti akan mencintaiku setelah semua perjuanganku yang tidak sedikit. Tapi kenyataannya kamu malah lebih milih janda itu dan semakin jauh dari aku." "Kita memang tidak pernah dekat, Yuki. Kamu harus ingat itu dan berhenti menyalahkan Amanda. Dia punya nama jadi sebut namanya dengan benar," geram Daejung dan kini menatap wajah Yuki dengan pias. "Harusnya kamu jangan pilih dia, Lee. Aku tidak suka dengan janda beranak itu. Kamu juga belum kenal dekat sama dia seharusnya kamu berpikir lagi. Dia tidak mungkin wanita baik-baik ...." "Aku tidak butuh pendapat kamu soal Amanda, yang menjalin hubungan dengan dia juga bukan kamu." Daejung melengos dan tak lagi menatap wajah Yuki. "Kalau dia wanita baik-baik mana mungkin suaminya pergi begitu saja dan aku ingatkan kalau seandainya kamu lupa, Lee. Dia datang ke kamu saat hamil dan aku yakin suaminya itu pergi gara-gara tabiat dia yang buruk. Dia gak pantas buat kamu, Lee. Dia juga gak berhak dapatkan kamu. Seharusnya ...." "Cukup, Yuki. Bisa kamu keluar dari ruanganku sekarang juga!" geram Daejung dan mulai beranjak dari tempatnya. "Aku belum selesai bicaranya, Lee. Kamu juga tidak perlu menjawab semua pertanyaanku. Aku hanya ingin supaya kamu berpikir sekali lagi untuk menjalin hubungan yang lebih dengan dia." Yuki abai dan kini melangkah mendekati Daejung yang tetap berdiri di samping meja kerjanya. Wanita yang selisih usia tiga tahun dari Daejung itu terus mendekat hingga jaraknya dengan Daejung terkikis secara perlahan. "Seharusnya kamu itu pilih aku, Lee bukannya dia," lirih Yuki dengan tatapan sendu membuat Daejung tertegun untuk beberapa detik. Namun, tak lama dia langsung terbelalak saat Yuki dengan lancangnya mencium dirinya. Daejung masih mematung karena ciuman mendadak itu, tapi dia langsung tersadar saat Yuki dengan perlahan mulai menggerakkan bibirnya dan dengan sekuat tenaga dia langsung mendorong tubuh wanita itu membuat sentuhan fisik mereka langsung terlepas. "GILA KAMU, YUKI!" teriak Daejung sangat marah dan tetap di tempatnya. "Kenapa, Lee? Kenapa kamu harus marah. Aku tidak melakukan kesalahan, kok," ucap Yuki dengan entengnya dan mulai bangun dari terjatuh gara-gara dorongan Daejung yang sangat kuat. Wanita itu bahkan masih bisa tersenyum dengan sangat lebar seolah tidak merasa terluka dengan perlakuan Daejung yang baru saja diterimanya. "Keluar dari ruanganku sekarang!" usir Daejung setelah kembali menormalkan amarahnya. "Kenapa kamu harus marah aku melakukan itu, atau ... apa karena bukan janda itu yang melakukannya jadi kamu marah, iya?" sinis Yuki dan menatap Daejung dengan wajah santai. Namun, dalam hati dia sekuat tenaga menahan emosinya. "Sudah sejauh apa hubungan kamu sama dia, Lee? Aku jadi penasaran bagaimana rasanya bila menjalin hubungan dengan seorang JANDA, dengan orang yang sebelumnya sudah pernah memiliki ikatan dengan orang lain?" tanya Yuki sambil menekan dengan kuat kata 'Janda' dan itu membuat Daejung berulangkali mengembuskan napasnya dengan berat. "Apa yang sudah kalian lakukan selama hampir delapan tahun ini Lee? Sudah sejauh mana hubungan kalian. Apa aku boleh tahu," canda Yuki disertai dengan senyuman mengintimidasi. "Menurut kamu bagaimana?" tantang Daejung dan membuat senyuman Yuki menjadi semakin lebar. "Oh ... aku yakin. Pasti kalian sudah melakukan lebih dari sekadar ciuman, ya ... atau malah lebih jauh lagi. Sudah berapa kali kalian tidur ber ...." "Sudah selesai? Bisa kan keluar dari sini sekarang?!" "Kenapa kamu harus memilih JANDA itu, kenapa kamu harus memilih BEKAS orang lain. Kenapa kamu tidak memilihku, Lee. Kenapa harus JANDA dan BEKAS orang lain," kelakar Yuki sambil menahan rasa sesak yang mulai menyergap dadanya. "KELUAR DARI RUANGANKU SEKARANG JUGA, YUKI!!" murka Daejung dan menunjuk wanita bergaun maroon itu dengan tajam. Sorot matanya memancarkan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun. Bukannya takut Yuki malah tetap tersenyum dan kembali melangkah untuk mendekati Lee Daejung lagi. "Aku tidak peduli perasaan kamu untuk dia seperti apa. Satu hal yang harus kamu ketahui, Lee. Bahwa seorang Yuki tidak akan semudah itu melepaskan apa yang ingin dia dapatkan. Kamu boleh bahagia sekarang sama dia, tapi aku yakinkan sekali lagi kalau kamu tidak akan selamanya bahagia sama janda yang berhati busuk itu." Daejung diam dan hanya menatap wajah Yuki dengan ekspresi dinginnya. Tak lama setelah mengatakan itu Yuki langsung keluar dari ruangan Daejung dengan sangat santai seolah tak terjadi perdebatan antara mereka berdua.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus
27/06
0bagus
27/06
0saya sangat suka novel ini
13/05
0Lihat Semua