logo text

Keputusan Besar Amanda

Senyuman lebar terus mengiasi bibir berwarna soft pink itu, dia terus bersikap biasa meski jauh di dalam dirinya sedang menjerit karena terluka. Sejujurnya Amanda enggan keluar dari rumah, bahkan dia lebih ingin berada di dalam kamar saja dan meratapi nasib pernikahannya yang benar-benar telah berada di ujung tanduk. Dia terpaksa datang ke acara itu seorang diri, acara pernikahan Seffina dengan Althan—kakak sepupu Angga—yang digelar sangat mewah di hotel berbintang. Sebenarnya dia bisa menghubungi Angga untuk mengingatkan pria itu. Namun, rasa sakitnya telah melarang dirinya untuk berbuat demikian.
"Selamat ya, Kak. Semoga pernikahan kalian langgeng sampai nanti-nanti." Amanda menyalami Althan, tetapi pria itu malah menarik tubuhnya dan memeluk sebentar adik iparnya itu.
"Makasih ya, Amanda. Angga mana, kamu ke sini sendirian?" tanya Althan sambil mengedarkan pandangannya. Setelah tidak menemukan Angga dia malah menatap Amanda dengan tatapan menyelidik. "Kalian lagi berantem."
"Apaan sih, Bang. Gue masih ke toilet. Lagian mana mungkin gue sama Amanda berantem. Hubungan kita baik-baik aja, kok. Iya kan, Yang." Angga tiba-tiba muncul dan langsung memeluk Amanda dari samping. Berpura-pura di depan kakak sepupunya itu.
Althan tersenyum saat melihat senyuman di bibir Amanda. Dia sedikit percaya bahwa hubungan Angga dan Amanda baik-baik saja. Keduanya pun turun dari pelaminan dan memilih duduk menjauh dari tempat pengantin. Amanda memilih duduk menjauh dari Angga, rasanya dia mulai muak dengan sikap lelaki itu yang begitu pandai berpura-pura. Angga menyodorkan segelas minuman berwarna kepada Amanda yang malah dibalas gelengan kepala oleh wanita itu membuat lelaki yang sedang mengenakan setelan navy itu menghela napasnya dengan berat.
"Kenapa kamu nggak bilang kalau hari ini resepsinya Bang Althan?"
Amanda hanya diam, ingatannya melayang pada kejadian hari itu. Saat untuk pertama kalinya dia marah kepada Angga setelah beberapa bulan hanya bersikap diam dan sikap Angga yang benar-benar sudah tak perduli lagi dengan dirinya.
"Yang." Angga meletakkan tangannya di atas tangan Amanda. Namun, wanita itu malah menarik tangannya membuat Angga menjadi semakin merasa bersalah.
"Aku tahu aku udah banyak salah sama kamu, Yang. Tapi aku mohon jangan seperti ini."
"Harusnya meskipun aku nggak bilang, Mas Angga pasti udah tahu. Kak Althan saudara kamu, hanya karena perempuan itu masa kamu mau ngelupain saudara juga."
Angga diam dan menunduk. Amanda sudah sangat marah kepadanya, tetapi dia juga tak mampu berbuat apa-apa. Setelah acara selesai keduanya langsung memutuskan untuk segera pulang. Namun, keributan kembali terjadi saat Angga menerima panggilan telepon dari tempat Nessa.
"Kenapa? Nessa lagi," tebak Amanda. Namun, Angga hanya diam dan kediaman lelaki itu sudah membuat Amanda tahu jawabannya apa.
"Berhenti di sini. Mas bisa langsung ke sana tanpa harus nganter aku." Amanda langsung memalingkan wajahnya dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis.
"Enggak, Yang. Aku harus anter kamu pulang dulu. Aku nggak bisa biarin kamu pulang sendiri."
Amanda menoleh dan menatap Angga dengan wajah tak suka. "Berhenti, Mas!"
Angga diam tak menyahut dan tetap melajukan mobilnya.
"Berhenti atau aku lompat sekarang!" ancam Amanda yang langsung membuat Angga menghentikan laju mobilnya. Amanda pun langsung keluar tanpa berkata-kata lagi dan menyuruh Angga untuk segera pergi. Awalnya lelaki itu menolak, tetapi akhirnya melajukan mobilnya juga saat panggilan telepon kembali masuk. Amanda menjatuhkan bobot tubuhnya ke atas kursi besi yang ada di belakangnya. Dia menunduk seiring dengan deru napasnya yang tidak teratur. Amanda menangis dan menumpahkan semua perasaan sakitnya, dia pun berharap bahwa dengan tangisan ini rasa sakit itu akan segera menguap. Namun, dia langsung mendongak ketika melihat sebuah sapu tangan terulur di hadapannya.
"Kamu." Amanda sangat terkejut saat melihat Abimanyu berdiri di depannya, dengan segera pula dia kembali menunduk dan enggan menunjukkan bahwa dirinya sedang terluka.
"Aku udah pernah bilang kan. Dia nggak akan bisa bahagiain kamu, tapi kamu malah nggak percaya dan lihat sekarang. Dia bahkan ninggalin kamu di sini sendirian." Abimanyu menatap Amanda yang masih menundukkan wajahnya. "Ayo, aku antar kamu pulang sekarang." Abimanyu beranjak dari duduknya sambil menarik tangan Amanda namun, wanita itu menolak.
"Aku punya niat baik, Amanda. Aku juga nggak akan tega biarin kamu yang lagi hamil sendirian malam-malam kayak gini."
Amanda langsung mendongak saat Abimanyu berkata seperti itu. Ya, pria dari masa lalunya telah tahu bahwa dia sedang mengandung. Sedang Angga, suaminya sendiri malah tidak tahu apa-apa.
"Kalau dia ninggalin kamu aku rela jadi papa anak itu. Aku juga janji akan selalu mencintai dan menyayangi anak kamu itu, Amanda." Abimanyu berjongkok di depan Amanda dengan penuh harap. Dia juga tak perduli dengan darah daging Angga yang berada di perut Amanda. Bagi Abimanyu hanya satu, dia ingin bisa bersama dengan wanita itu seperti dahulu.
Amanda masih tetap menunduk dan terus menolak permintaan Abimanyu, membuat pria berkulit putih itu menjadi sangat kesal.
"Mas Bima bisa pergi nggak. Aku lagi mau sendirian." Amanda bersuara dan enggan menatap wajah Abimanyu. Wanita itu juga masih menundukkan kepalanya.
"Oke, aku akan pergi. Tapi ingat, Sela. Setelah kejadian ini aku nggak akan pernah ngelepasin kamu. Aku juga nggak perduli soal anak itu, aku akan ambil kamu dari dia dan nggak akan pernah ngelepasin kalian berdua," pesan Abimanyu dan langsung pergi dari hadapan Amanda membuat wanita yang sedang mengandung itu menghela napasnya dengan berat.
Tak jauh dari tempat Amanda duduk, ada sepasang mata yang memperhatikan. Jauh dalam lubuk hatinya ia ingin sekali menghibur wanita itu, tetapi ia urungkan saat melihat Abimanyu datang. Pria berkemeja biru pastel itu juga tak pergi dan masih memperhatikan Amanda dari kejauhan, ia sangat iba dengan keadaan Amanda yang buruk apalagi wanita itu dalam keadaan mengandung.
***
Hubungan mereka masih tak ada perubahan setelah pertengkaran hari itu. Namun, Angga sedikit berubah dari yang biasanya lebih lama di luar rumah kini tidak lagi. Lelaki itu mulai sadar setelah Amanda tak lagi memperhatikannya seperti dulu, wanita yang selama ini begitu mencintainya dengan tulus kini telah mengabaikan dia.
"Hari ini aku lagi free. Kita jalan-jalan, ya?" ajak Angga kepada Amanda yang sedang duduk di hadapannya.
"Nggak perlu, Mas. Aku lagi ingin di rumah terus hari ini." Amanda beranjak dari tempatnya, lalu membereskan piring bekasnya karena tiba-tiba nafsu makannya menghilang. Namun, langkahnya terhenti saat Angga mencekal lengan wanita itu dengan tatapan memohon.
"Aku mohon! Izinin aku perbaiki hubungan kita," pinta Angga yang kini sudah berdiri di hadapan Amanda.
Namun, wanita berpakaian santai itu malah diam dan mengembuskan napasnya dengan pelan berkali-kali. Amanda tetap menolak dan beralasan bila dia tak ingin keluar rumah sama sekali.
"Aku bener-bener minta maaf soal waktu itu, Yang. Sumpah, nggak bermaksud bentak kamu kayak gitu."
Amanda tetap diam dan hanya mendengarkan semua permintaan maaf sang suami, jujur saja dia tak yakin bahwa lelaki itu akan menepati janjinya. Namun, akhirnya bersedia setelah Angga merayunya dengan cukup lama.
Amanda menatap pantulan dirinya di dalam cermin, gaun bentuk a sudah terpasang indah di tubuh. Dia menatap ke bawah dan melihat perutnya yang masih rata meski kehamilan itu sudah menginjak usia ke-tiga. Amanda menoleh ketika mendengar suara pintu dibuka.
Amanda hendak membuka mulut untuk meminta supaya Angga menunggunya di luar saja, tetapi dia merasa kecewa setelah lelaki itu mengabaikan ucapannya dan malah memanggil namanya.
"Kenapa, Mas?" Amanda berbalik, dia menangkap raut bingung di wajah sang suami dan seketika itu Amanda sadar akan sesuatu. "Nggak jadi pergi," tebaknya, lalu melemparkan tas tangan yang tadi digenggamnya ke atas ranjang.
Angga menunduk, sungguh dia merasa begitu bersalah kepada Amanda. Dialah yang memaksa wanita itu untuk pergi dan kini dia sendiri yang membatalkan.
"Ngapain masih di sini? Silakan Mas pergi. Kasihan Nessa dia pasti udah kangen sama mantan calon suaminya," lontar Amanda membuat Angga merasa geram. Namun, tetap diam.
Amanda tersenyum setelah menyadari raut kesal sang suami. Apa yang salah. Ucapannya memanglah benar.
"Mas Angga tenang aja, aku nggak marah kalau kita batal pergi. Aku tadi bilang nggak mau tapi kamu yang maksa dan sekarang ... lihat! Siapa yang ingkar."
"Bukan gitu, Yang. Nessa lagi ...."
"Nessa, Nessa, Nessa dan Nessa. Kamu bahkan lebih peduli sama wanita itu dari pada aku. Kalau gitu buat apa kamu pulang. Lebih baik tinggal sekalian sama dia!" seru Amanda karena tak mampu lagi menahan rasa kesalnya.
"Amanda, jaga bicara kamu!!" Lagi dan lagi Angga membentaknya. Bahkan, panggilan sayang lelaki itu sudah tiada.
"Apa?! Mau marah sama aku. Kamu pikir aku diem aja karena nggak peduli. Kamu salah! Udah cukup kamu nyakitin aku, Mas dan sekarang aku capek." Amanda melangkah menuju ranjang dan langsung duduk di pinggiran ranjang sambil menunduk.
"Terus mau kamu apa? Pisah gitu? Enggak. Aku nggak akan setuju. Asal kamu tahu, Nessa itu ...." Kalimat Angga terhenti saat gawainya berdering. Dia mengangkat panggilan itu dan perlahan melangkah untuk meninggalkan Amanda yang menangis.
Amanda tersenyum lebar dengan rinai yang terus mengalir. Dia sudah menduga akan semua ini, Nessa lebih berarti bagi Angga. Amanda telah lelah dan kini wanita itu benar-benar menyerah. Wanita berambut panjang itu berdiri di depan cermin, lalu menatap serta mengusap perutnya dari balik gaun yang di kenakan.
"Maafin mama, Nak. Mulai sekarang kita hanya akan hidup berdua, mama-lah yang akan menjadi orang tua kamu satu-satunya."
Setelah merasa lega, Amanda memperbaiki setiap riasannya. Mengemasi semua barang-barangnya. Dia juga tak lupa meninggalkan sesuatu untuk Angga di dalam almari kosong itu, berkas perceraian yang selama ini dia urus secara diam-diam serta sepucuk surat perpisahan untuk sang suami.
Amanda menangis seiring langkahnya meninggalkan kediaman ibunda. Dia pasti akan rindu dengan rumah masa kecilnya, tetapi dia juga telah lelah disakiti. Amanda ingin bahagia hanya berdua dengan sang calon anaknya kelak.
"Selamat tinggal, Mas Angga. Semoga kamu bahagia sama Nessa dan semoga kamu juga lupa sama semua janji yang udah kamu berikan dulu padaku."
Amanda terus melangkah, meski sesekali menoleh untuk melihat rumah sang ibunda yang terakhir kalinya. Sekarang dia harus mencari tempat tinggal supaya tak lagi bisa bertemu dengan Angga. Amanda hanya ingin memulai hidup yang baru dengan calon anaknya, hanya berdua tanpa pria mana pun. Dia juga sudah mulai merancang masa depannya nanti supaya bisa menghidupi sang anak dengan sangat baik.
***
Nessa terus saja cemberut saat dia tahu bahwa Angga semalaman telah menjaganya, pria itu bahkan abai dengan larangan yang pernah dia katakan tempo hari.
"Kenapa kamu masih ke sini? Aku kan udah bilang ...."
"Saya yang sudah menelepon Pak Angga supaya dia bisa menjaga kamu. Kesehatan kamu semakin menirun beberapa Minggu ini, Nessa." Dokter perempuan itu tiba-tiba datang dan memotong kalimat Nessa membuat perempuan yang terus tiduran di atas brankar itu mendesah dengan berat.
"Dokter bisa tinggalkan kami sebentar."
Dokter itu menoleh dan menatap Angga, setelah mendapat persetujuan dia pun keluar dari ruangan VIP tersebut.
"Nggak seharusnya kamu dateng ke sini, Ga. Kak Amanda jauh lebih butuhin kamu daripada aku."
"Kamu lagi sakit, Ssa dan Amanda nggak kenapa-kenapa." Angga mencoba tersenyum, meski rasa kesal karena pertengkaran yang baru saja terjadi itu masih begitu terasa.
"Harusnya kamu bilang lebih awal ke kakak soal semua ini. Awalnya aku memang meminta untuk merahasiakan, tapi sekarang kakak udah tahu dan harusnya kamu bilang itu semua. Seenggaknya aku bisa pergi dengan damai kalau udah ketemu sama kakak." Nessa menghela napasnya dengan berat. "Tapi mau gimana lagi, mungkin kakak juga udah benci karena aku rebut semua perhatian kamu."
"Ssa."
"Harusnya kita nggak perlu ketemu lagi kayak gini, Ga. Aku tahu kamu udah bahagia kan sama kakak tapi sekarang aku malah nyakitin dia lagi. Dari awal aku udah buat kakak menderita dengan pernikahan itu dan sekarang juga gitu. Harusnya kamu nggak perduli sama keadaanku ini karena aku bukan siapa-siapamu lagi, tapi kamu bersikeras mau ngerawat aku dan lagi-lagi ... aku nyakitin hati kakak. Gimana aku bisa pergi dengan tenang kalau kalian ...."
"Dia hanya salah paham, Ssa. Setelah beberapa hari mungkin semuanya akan kembali membaik." Angga memegang tangan Nessa. Namun, ditepis oleh perempuan itu.
"Aku udah rela kalian menikah karena aku hanya percaya sama kakak kalau dia akan bisa jaga laki-laki yang aku cintai. Bahkan, aku nggak tahu kalau selama ini kakak punya perasaan sama kamu. Selama hampir dua tahun dia terus bertahan jadi istri meski kamu nggak mau nerima dia." Nessa menatap Angga dan lelaki itu langsung menunduk. Hatinya terasa nyeri saat mengingat semua perlakuan buruknya kepada Amanda.
"Kalau aku jadi kakak, aku akan pergi saat itu juga, tapi nyatanya kak Amanda nggak ngelakuin itu. Jujur, aku ngerasa iri, karena ternyata cinta kakak ke kamu jauh lebih besar daripada rasa cintaku sendiri buat kamu. Tapi aku juga ngerasa lega seenggaknya aku bisa percaya kalau kakak nggak akan pernah nyakitin orang yang aku cintai."
Nessa menunduk, genangan yang sedari tadi dia tahan akhirnya telah tumpah. "Tapi justru aku yang malah nyakitin kakak dengan ngelakuin itu. Aku bener-bener adik yang nggak berguna."
Angga diam, jauh dalam lubuk hati dia jadi merindukan Amandanya. Dia juga merasa sangat bersalah karena telah menyakiti wanita itu.
"Kamu harus sembuh dulu, Ssa. Nanti aku akan jelasin semuanya ke Amanda tanpa terkecuali."
Nessa hanya diam, tetapi menyumpahi dirinya sendiri karena terlalu sering menyakiti Amanda. Padahal wanita itu sudah mau menjadi kakaknya dan menyayangi dirinya layaknya adik sendiri. Namun, dia malah lebih sering menyakiti sang kakak bukannya membuat kakaknya itu bahagia.
"Aku memang orang yang nggak tahu diri. Seharusnya aku nggak buat Kakak menderita kayak gini, Kak Amanda udah mau nerima aku jadi adiknya tapi aku malah sering buat dia kecewa." Nessa menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan mulai menangis.

Komentar Buku (120)

  • avatar
    Romlah Purba

    bagus

    27/06

      0
  • avatar
    Mana Muda

    bagus

    27/06

      0
  • avatar
    ViVi Febriaalzahra

    saya sangat suka novel ini

    13/05

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru