"Angga," panggil Amanda, lalu mendekati Angga yang sedang mencuci tangannya di westafel karena baru saja selesai makan. "Kenapa, Yang?" "Aku mau bicara, penting!" Angga mengeringkan tangannya, lalu menarik pinggang Amanda mendekat menghilangkan jarak di antara mereka. "Kamu mau bicara apa? Heum." "Lepasin tangannya dulu," pinta Amanda mulai merasa risih dengan sikap Angga yang kini berubah agresif. "Bicara apa, Yang, kamu mau anak?" Amanda terbelalak, meringis tipis dan memukul pelan lengan Angga yang melingkari pinggangnya. Dia pun mulai mengatakan bila sejak hubungan mereka terbongkar, para karyawan yang lain selalu segan kepadanya dan itu membuat Amanda risih. Angga merasa bingung dengan permintaan Amanda, seharusnya wanita itu bahagia banyak yang bersikap demikian. Namun, nyatanya tidak. Amanda bersikeras supaya Angga memberitahu kepada semua, untuk kembali bersikap biasa bukan lagi segan seperti sekarang. "Ok, besok aku bilang sama mereka supaya nggak bersikap seperti itu." Amanda tersenyum ke arah suaminya karena telah menuruti permintaannya. Hatinya menjadi sangat lega karena para karyawan yang lain akan kembali bersikap seperti biasanya. "Yang, buat penerus yuk," pinta Angga sambil melepaskan rengkuhannya dan menggiring Amanda menuju ruang tengah. "Penerus, maksudnya apa, Angga?" "Penerus ketampananku maksudnya." "Kamu bicara apa, sih," gerutu Amanda karena masih tak mengerti arah pembicaraan suaminya. "Astaga! Buat dedek, yuk, Yang. Aku sudah nggak sabar ingin gendong bayi." Amanda menggeleng cepat, jujur saja dia belum siap secara mental untuk hamil meski dalam hati kecilnya menginginkan hal tersebut. "Ayolah, Yang! Aku yakin anak kita nanti pasti sangat tampan," bujuk Angga sambil memasang wajah melas andalannya. Namun, Amanda masih saja menggeleng sebagai jawaban. "Jangan sekarang, Ga. Aku masih belum siap jadi mama." "Tapi ...." "Please." Akhirnya Angga menurut. Toh, mereka juga masih harus bersenang-senang dulu sebagai pengantin baru. *** Amanda mendesah pelan sambil mengayun langkah menuju ruangan Dirut. Sejak orang kantor mengetahui hubungan mereka, Angga tanpa sungkan selalu meminta Amanda datang ke ruangannya dengan alasan yang tak masuk di akal dan sekarang dia tak tahu alasan apalagi yang lelaki itu buat untuk memanggilnya ke sana. Angga menoleh ke arah pintu ketika mendengar suara pintu terbuka. Dia tersenyum menyambut kedatangan sang istri yang sudah ditunggu-tunggunya selama beberapa menit. "Ada apa, Angga?" tanya Amanda yang sudah berdiri di hadapan Angga yang masih duduk di atas kursinya. "Ngak pa-pa," jawab Angga sambil menatap Amanda dengan senyuman. "Yang benar Angga. Ada apa panggil aku?" geram Amanda karena lelaki itu tak langsung menyatakan niatnya. Angga tersenyum tipis dan mengatakan bila ingin Amanda membuatkannya kopi membuat wanita itu terbelalak tak percaya. Ini kali kedua lelaki itu meminta kopi buatannya di kantor, sedangkan sudah ada OB yang pasti akan membuatkan bila Angga suruh. Malas berdebat akhirnya Amanda menurut, melangkah menuju mesin barista di dalam ruangan itu yang telah Angga siapkan, entah sejak kapan. Namun, menit berikutnya dia terkesiap ketika lelaki itu kembali mendekapnya dari belakang cukup erat. "Angga, lepas! Aku lagi buat kopi," suruh Amanda, tetapi Angga abai. Dia mengeratkan pelukannya dan meletakkan kepalanya di bahu Amanda, menghirup kuat aroma manis stroberi yang melekat pada tubuh wanita itu, aroma favorit Angga. "Angga, jangan mulai kamu," desisnya ketika Angga mengecup tengkuknya pelan membuat dadanya berdebar kuat. "Angga jangan gini! Takut ada yang lihat. ini masih di kantor," protes Amanda karena Angga masih saja mengecupi tengkuknya. Amanda semakin gelisah karena Angga tak mau menjauh darinya, lelaki itu bahkan bersikap lebih bukan hanya mengecup dan malah meninggalkan beberapa tanda kepemilikan di sana. "Yang," rengek Angga karena Amanda sengaja melangkah maju, membuat jarak antara mereka. "Angga! Ini di kantor, kopinya sudah selesai jadi aku mau kembali ke ruanganku." Angga tersenyum, menerima secangkir kopi hitam yang masih panas dan meletakkannya ke atas meja dan kembali fokus pada Amanda. Amanda menegakkan punggungnya ketika Angga merengkuh pinggangnya dengan posesif. Dia benar-benar tak ingin wanita itu pergi dari sisinya. Angga tersenyum lebar sambil menyatukan kening mereka membuat Amanda langsung menunduk karena malu dengan tatapan tajam lelaki itu. "Amanda Frisela Pranaja, maukah kamu menjadi ibu dari anak-anakku, menjaga setiap penerus yang akan menjaga kita nantinya di masa tua, apakah kamu mau?" Amanda mendongak lalu menatap netra indah nan tajam milik Angga untuk beberapa saat, keduanya hanya saling menatap dengan bibir yang terus tersenyum. tatapan penuh cinta yang tiada habisnya. "Aku ...." "Ya Tuhan, maaf! Aku nggak lihat apa-apa, kok. lanjutkan saja nggak pa-pa!" Amanda mendorong tubuh Angga membuat jarak di antara mereka, lalu menatap ke arah pintu yang sudah terbuka dengan seseorang yang sedang mengalihkan wajahnya. "Aku kembali dulu." Amanda menunduk karena malu telah kepergok seseorang, melangkah keluar supaya rasa malunya segera menguap. "Maaf Angga, Amanda. di luar sekretarisnya nggak ada jadi aku pikir kalau kamu lagi sendirian," ucapnya bersalah karena datang di waktu yang tak tepat. *** Sesampainya di ruangannya, Amanda kembali mendapat banyak lontaran pertanyaan dari kedua wanita single yang berstatus sebagai temannya itu. Mereka sangat antusias karena Amanda baru keluar dari ruangan Dirut. Namun, kecewa setelah mengatakan bila lelaki itu hanya ingin dibuatkan kopi olehnya. "jadi, kalian. Ah! Maksudku, kamu sama pak Dirut ngapain saja?" tanya Ifa tak percaya bila Amanda hanya membuatkan kopi. "Nggak ngapa-ngapain, Ifa," jawab Amanda. Namun, Ifa masih saja tak percaya. "Seriusan nggak ngapa-ngapain? Kecup-kecup mesra gitu?" kata If a lagi, tak percaya dengan jawaban Amanda. Amanda mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Ifa. 'kecuali peluk-peluk sayang.' "Masa, sih. Aku nggak percaya kalau kalian nggak ngelakuin apa-apa." "Ifa suudah deh, teliti penampilan Amanda. ada yang berantakan apa nggak? Liat tuh lehernya nggak ada apa-apa, 'kan," kata Lina membela Amanda. Ifa meneliti wajah Amanda dengan seksama. 'Lipstiknya masih rapi, berarti nggak ada ciuman erotis seperti yang aku bayangkan. Lehernya juga bersih, berarti Pak Dirut bukan drakula.' Amanda mengernyit menatap Ifa yang berbeda, wanita itu sedikit aneh sekarang. Lina pun mengatakan bila Amanda harus memaklumi itu. Mungkin saja karena terlalu lama menjomlo jadi Ifa bersikap demikian. Hinggs akhirnya wanita berwajah imut itu menjadi ejekan Amanda dan Lina yang tak sendiri lagi. "Cariin jodoh, dong! Bosen, nih, sendiri terus," gerutu Ifa. Namun, Amanda dan Lina hanya tertawa. *** "Ketuk pintu dulu nggak bisa memangnya? Kamu itu ganggu tahu," omel Angga pada seseorang yang telah memergokinya dengan Amanda beberapa menit yang lalu. "Apa'an, sih. Kok jadi nyalahin aku, harusnya pintu di kunci biar nggak ada yang masuk begitu saja," ketusnya tak terima akan omelan yang Angga lontarkan untuknya. "Lagipula kalau mau mesra-mesraan, tuh, di rumah jangan di kantor, untung aku yang mergokin coba kalau orang lain, gimana ?" tanyanya tak mau kalah. "Kalau orang lain nggak akan langsung masuk begitu saja ke ruangan Dirut. pasti ketuk pintu dulu." "Tapi 'kan pengecualian buat aku." "Ada apa? mau ngapain ke sini?" tanya Angga dengan sinis. "Astaga, jahatnya dirimu!" ucap wanita itu mendramatisir. "Udah, deh. Cepetan bilang! Mau apa kamu ke sini, anaknya Pak Heri?!" Seffina cemberut dan menatap wajah Angga dengan kesal. Sebenarnya dia juga merasa tidak enak karena telah menganggu waktu berduaannya Amanda dengan Angga. Namun, dia juga tidak bersalah karena tak tahu bila mereka sedang dalam keadaan yang tak ingin diganggu. *** "Ada acara apa? Tiba-tiba ajak aku beli gaun dadakan kayak gini." Amanda terus mengekor, mengikuti Angga ke manapun lelaki itu melangkah. "Acara penting." "Acara penting apa?" "Ini bagus nggak?" Bukannya menjawab. Angga malah menempelkan gaun di tubuh Amanda, memeriksa apakah gaun itu cocok untuk sang istri atau bukan. Amanda berdecak lalu cemberut, Angga sibuk mencari gaun dan mengabaikan pertanyaannya. "Ish Angga, ada acara apa?" "Cari gaun dulu, Yang. Terus ke salon lalu kita berangkat," jelas Angga masih terus memilih gaun. "Acaranya hari ini?" tanya Amanda bingung dan dibalas anggukan kepala oleh Angga karena lelaki itu masih saja sibuk mencari gaun yang pas untuk dirinya. Amanda mendengkus kasar, yang tadinya hanya mengekor kini memilih melakukan hal yang sama. Sejak setengah jam lalu Angga terus memilih, tetapi tak mendapat satu pun gaun yang diinginkan. Dia tersenyum melihat gaun yang sepertinya cocok untuknya. Tanpa bertanya pada Angga, Amanda segera menuju ruang pas dan mencoba gaun itu. Amanda : "Aku di ruang ganti, kamu ke sini sekarang!" Angga mengernyit membaca deretan pesan dari sang istri, dia bahkan baru sadar bila Amanda sudah tak berada di dekatnya lagi. Angga : "Aku masih cari gaun buat kamu, Yang." "Cepat, Angga!" "Mau apa, sih?" "Nunjukin sesuatu ke kamu." "Astaga, Sayang. Kalau mau nunjukin sesuatu nanti saja di rumah, jangan di sini." "Fiktor! Cepat ke sini!" Angga terkekeh sambil mengayun langkah menuju ruang pas. Tak lama kemudian pintu salah satu ruangan itu terbuka membuat lelaki itu terbelalak takjub dengan mulut yang sedikit terbuka. "Cantik," gumam Angga sambil menikmati keindahan malaikat cantik di depan matanya. "Bagus nggak?" tanya Amanda, lalu memutar tubuhnya supaya Angga melihat lebih detail gaun yang sedang dia coba. Namun, lelaki itu hanya diam karena terlalu terpesona dengan penampilan Amanda yang bahkan belum sempurna itu. "Angga, bagus nggak?" ulang Amanda dan langsung dibalas anggukan kepala oleh Angga. "Oke, kita beli yang ini aja." Amanda berbalik untuk kembali lagi ke ruang pas. Namun, langkahnya terhenti saat Angga mencekal tangannya. Lelaki itu juga menatap Amanda supaya wanita itu tak menjauh darinya. "Apa sih, aku mau ganti baju dulu." Angga menggeleng sebagai respons penolakannya, rasanya dia ingin terus menatap Amanda dengan gaun cantik itu. "Jangan aneh-aneh kamu, ya. Katanya ada acara, aku belum siap-siap loh, Ga." Angga bergeming dan malah menarik Amanda dan menghilangkan jarak antara keduanya. Lelaki itu terus saja melihat Amanda dengan lama, membuat wanita berambut panjang itu menjadi salah tingkah. "Nggak usah ganti baju, kita langsung pulang aja, ya," bisik Angga membuat Amanda langsung merinding. Tanpa berkata apa pun Amanda segera mendorong tubuh Angga menjauh, mempercepat langkahnya dan segera melepaskan gaun yang dikenakan membuat Angga langsung mendengkus kaar dengan wajah masam. *** Wanita adalah makhluk Tuhan yang lama bila bersiap, Angga sudah rapi dengan kemeja biru navy-nya, warna yang sama dengan gaun pilihan Amanda. Sementara Amanda, wanita itu masih merias diri di depan cermin. Dia ingin terlihat sempurna bila bersandingan dengan Angga meskipun dia tidak tahu acara apa yang dimaksud oleh lelaki itu dan bersama siapa. Acara formal atau bukan. Setelah merasa puas dengan riasannya. Amanda berdiri dan menatap seluruh tubuh, meneliti penampilannya apakah kurang atau tidak. Angga mendongakkan kepala ketika mendengar suara ketukan heels milik Amanda. Dia terbelalak untuk kesekian kalinya, dibuat takjub dengan ciptaan Tuhan di depan matanya. Amanda begitu cantik dan anggun dengan gaun biru navy sepanjang mata kaki, gaun dengan kombinasi brukat, dengan lengan sepanjang siku. Rambut yang di sanggul bawah begitu rapi dan hanya menyisakan beberapa helai sebagai poni. Jangan lupakan riasannya yang natural. Namun memancarkan kecantikan yang begitu besar. Lip tint merah segar bak buah stroberi membuat riasannya makin sempurna. Amanda tersipu lalu menunduk ketika Angga melihatnya begitu lekat, membuat dia rasanya ingin bersembunyi saja. Angga melangkah mendekati Amanda yang masih berdiri di depan kamar mereka, merengkuh pinggangnya posesif membuat wanita itu harus mendongak. "Kamu cantik banget, sih," madah Angga, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Amanda. "Makasih," jawab Amanda lirih karena malu. "Kalau cantik begini, aku nggak rela kamu di lihat orang banyak. Kita batalin aja, yuk. Aku mau kurung kamu saja di kamar!" seru Angga membuat Amanda terbelalak lalu mendongakkan kepala. Menatap lelaki itu tak suka karena sudah tahu arah ucapannya. "Angga," geram Amanda. "Iya, Sayang." Angga terus menatap wajah Amanda, lebih tepatnya ke bibir wanita itu yang begitu menggoda imannya. "Sejak kapan kamu jadi mesum begini?" "Sejak kapan? Aku juga nggak tahu, Yang. Sepertinya sejak kita melakukannya yang pertamakali atau sejak aku dengar de ...." "Berangkat sekarang atau kamu nggak dapat jatah," ancam Amanda sebelum Angga melanjutkan kalimatnya. Dia sudah tahu apa yang lelaki itu akan katakan. Angga memberenggut kecewa, menyalahkan Amanda karena begitu cantik malam ini hingga tak ingin lelaki lain menikmati kecantikan wanita itu. "Setiap pergi sama kamu aku juga selalu cantik. Kamunya saja yang nggak perhatiin," kata Amanda kesal karena Angga menyalahkannya. "Ok, mulai besok kalau keluar sama aku jangan cantik-cantik, ya. Kalau cantiknya di kamar baru nggak pa-pa." Amanda memukul dada Angga pelan sambil menahan senyum. "Dasar mesum!" *** "Santai, Yang. Jangan gugup." Angga mengusap tangan Amanda yang mulai berkeringat, menenangkan wanita itu supaya bersikap biasa. "Gimana nggak gugup, kamu nggak bilang kita ketemu sama siapa? Aku takutnya ini orang penting," ujar Amanda mencoba menghilangkan kegugupannya. "Mereka memang orang penting." Amanda menoleh, melotot marah ke arah Angga. "Tuh, 'kan. Dandanan aku nggak pa-pa 'kan. Ada yang berantakan nggak?" Angga mengacungkan dua ibu jarinya sebagai jawaban bahwa penampilan Amanda sangatlah sempurna. Sambil menunggu orang yang dimaksud Angga, keduanya sama-sama sibuk dengan gawai masing-masing. Amanda sibuk membahas soal foto dirinya yang dicuri diam-diam oleh Angga dan di sebar di akun sosial lelaki itu membuat para teman-temannya mengirimi banyak pesan kepada dia. "Aduh! Maaf telat. Biasa macet," kata Seffi sambil memeluk Angga sekilas sebagai isyarat sapaan. "Nggak pa-pa, Fi. Kamu telat aku yang untung." Angga melirik Amanda yang duduk di sampingnya dan dibalas lirikan tajam oleh Amanda. Seffi tersenyum. Mengalihkan fokusnya pada Amanda yang amat cantik malam itu. "Ya Tuhan, ratunya Angga. Cantik banget malam ini," puji Seffi sambil memeluk Amanda cukup lama. "Berlebihan Mbak eh Seffi." "Enggak, kok. Seriusan kamu cantik banget." Amanda tersenyum malu dan mengucapkan terima kasih. "Ngobrolin apa, sih, kayaknya seru banget. Sampe lupa kalau aku belum gabung." Ketiga orang yang awalnya sedang bersenda gurau itu menghentikan tawanya ketika ada pria yang bersuara. Angga dan Seffi pun kompak langsung menoleh ke arah suara itu. "Kamu sih kelamaan, parkir di mana?" tanya Seffi pada pria tampan yang berdiri di belakang Amanda. "Maaf, Sayang, ada masalah tadi waktu parkir," ucapnya merasa bersalah sambil tersenyum ke arah Seffi. "Sini Mas! Kenalan sama sahabatku." Pria itu berjalan ke arah Seffi yang duduk di depan Amanda dan Angga. Senyuman yang sudah Amanda siapkan perlahan menghilang dan berganti dengan wajah terkejut saat dia melihat pria itu. Namun, masih mampu menyembunyikannya. Pria tampan bernama Abimanyu itu tersenyum manis kepada Angga. Namun, senyuman terpaksa terukir ketika melihat Amanda. Suasana yang tadinya hangat tiba-tiba berubah jadi canggung apalagi saat Seffi dan Angga beranjak dari tempat mereka, meninggalkan Abimanyu dan Amanda hanya berdua saja. Amanda fokus pada gawai di tangannya karena ketiga teman ingin tahunya sedang memberi dia banyak pertanyaan soal dandanan Amanda yang begitu berbeda dari malam-malam biasanya. Lina : "Mau kencan ya sama Pak Angga, kok cantik banget." Radisty : "Pasti mau kencan hanya berdua ini, kok cantik gitu dandanannya." Ifa : "Pasti Pak Dirut pas ambil fotonya asal jepret ya. Tapi Amanda tetep cantik, jadi makin iri." Amanda tersenyum tipis membaca tiap pesan dari ketiga teman jomlonya itu, setidaknya berkat pesan dari mereka dia sedikit lupa akan kehadiran Abimanyu. "Apa kabar?" tanya Abimanyu memulai percakapan, menghilangkan suasana canggung di antara mereka berdua. Amanda mendongak, menatap Abimanyu yang tengah menatapnya dengan senyuman. "Baik, kamu apa kabar?" Senyuman Abimanyu semakin melebar, mencoba menunjukkan bila fia baik-baik saja. Namun, jawaban lelaki itu malah sebaliknya. "Sepertinya kamu sangat bahagia?" "Aku sangat bahagia karena suamiku mencintaiku," jujur Amanda karena itulah kenyataannya. Abimanyu tersenyum lebar. "Selamat Amanda! Kamu berhasil bahagia tanpa aku." Amanda terdiam, rasa itu makin membesar dalam dada. Kenangan-kenangan di masa lalu menerobos masuk ke dalam kepalanya. Mengingatkan Amanda siapa Abimanyu Candra itu. "Ma ...." "Maaf ninggalin kalian berdua." Mulut Amanda tertutup kembali ketika Seffi bersuara dan duduk kembali di tempatnya. "Kamu dari mana?" tanya Abimanyu pada calon tunangannya. "Ada telepon barusan. Makanya aku pergi. Maaf ya, Mas." "Iya nggak pa-pa." Suasana menghangat kembali ketika Angga dan Seffi bercerita banyak hal. Abimanyu dan Amanda hanya menjadi pendengar karena keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. "Kapan rencana mau tunangan?" tanya Angga pada Abimanyu. "Dua bulan lagi." Abimanyu menjawab dengan singkat. "Persiapan sudah matang, dong pastinya?" "Ya, sudah pasti, Ga. Mas Abi sendiri yang nyiapin semuanya, ya 'kan Mas?" tanya Seffi memeluk lengan Abimanyu dengan mesra. "Iya, aku anak tunggal dan seorang diri jadi wajar kalau semuanya aku siapin sendiri." Abimanyu menjelaskan sambil menatap Amanda yang terus menatap Angga. Seffi tersenyum sendu, mengusap pelan lengan calon tunangannya. "Mamanya Mas Abi sudah meninggal dua tahun yang lalu." Amanda mengalihkan pandangannya kepada Abimanyu. Seolah tak percaya dengan ucapan Seffi, lelaki itu seorang diri sekarang. "Oh, maaf Abi, saya tidak bermaksud menyinggung," kata Angga tidak enak hati. "Nggak pa-pa, saya juga sudah mengikhlaskan kepergian beliau." Abimanyu tersenyum meski dipaksakan. Rasanya dia masih belum rela dengan kepergian sang Mama. Apalagi kini dia malah dipertemukan kembali Dengan Amanda. *** "Yang, aku berangkat ke kantor dulu," pamit Angga kepada istrinya yang sedang sibuk membereskan bekas sarapan mereka. "Aku kerja lagi, ya. Nggak enak di rumah terus," rengek Amanda berharap Angga mengizinkan. Angga mengangkat sebelah alisnya seolah tidak mengerti apa yang barusan dikatakan sang istri membuat Amanda berdecak lidah dan memberenggut kesal. "Nggak usah pura-pura nggak ngerti, Mas," omel Amanda. "Sini duduk dulu." Angga menepuk pelan kursi kosong di sampingnya, memberi isyarat supaya Amanda mendekat padanya. Wanita itu menurut, meletakkan kembali piring yang dia pegang ke atas meja dan fokus pada sang suami. "Berapa hari, sih, kamu nggak kerja?" Amanda berdecak kembali, mengejek pertanyaan Angga yang kini menjadi orang pelupa. Angga terkekeh pelan, seseorang yang sudah terbiasa menghabiskan waktunya di kantor kini malah berada di rumah seorang diri. Pasti sangat membosankan dan Amanda sedang mengalami itu. "Aku nggak lupa, Yang. Cuma nggak ingat saja," dalih Angga tak mau dikatakan pelupa. Amanda mendengkus mendengar ucapan Angga. Dia pun mengatakan niatnya yang ingin kembali bekerja karena merasa rindu dengan teman-temannya di kantor dan bicara banyak hal dengan mereka, tetapi lelaki itu selalu menolak. "Besok 'kan akhir pekan, kamu bisa main sama mereka," usul Angga membuat binar bahagia muncul di wajah Amanda. "Memang nggak pa-pa. Mas izinin?" tanya Amanda memastikan dan dibalas anggukan kepala oleh Angga. "Makasih, Mas," katanya bahagia lalu memeluk Angga begitu erat. Menenggelamkan kepalanya ke dalam dada sang suami. "Sama-sama, Sayang. Asal kamu bahagia." Amanda mendongak masih memeluk Angga, tersenyum semanis mungkin kepada lelaki itu. "Makasih, Mas, selalu buat aku bahagia, jadi makin cinta." Angga tersenyum lebar, menundukkan kepalanya dan menyatukan bibir keduanya. Melumatnya lembut penuh cinta. "Sama-sama, Yang. Terimakasih juga buat kamu, selalu jadi istri yang terbaik buat aku. Selalu mencintaiku sampai detik ini." Amanda hanya mengulas senyum terindahnya. Senyum terindah yang hanya untuk Angga, suaminya. "Sama-sama suamiku." Angga tersenyum malu, rasanya begitu bahagia bisa mendengar kalimat yang ucapkan oleh wanita yang dicintai. Amanda masih sangat mencintainya sampai detik ini dan sampai kapanpun. Lagi dan lagi Angga menunduk. Namun, Amanda dengan cepat menenggelamkan kembali wajahnya ke dalam dada lelaki itu. Mengeratkan pelukannya dan menahan senyum di sana. Angga tersenyum antara malu dan gemas. Namun, detik berikutnya dia melayangkan berkali-kali kecupan hangat di pucuk kepala Amanda. "Jangan pernah pergi Amanda, tetaplah menjadi istriku dan tetaplah di sampingku." "Aku akan selalu di sini, Mas, karena aku sudah janji nggak akan pernah ninggalin kamu." "Aku mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu," ungkap Angga begitu tulus. "Aku juga, Mas." Keduanya saling berpelukan makin erat. Seolah lupa bila waktu terus berjalan. Dekapan Amanda membuat Angga selalu terbuai dan makin mencintai istrinya itu. Rasa benci yang dulu di rasakan kini berubah menjadi rasa cinta yang tiada habisnya. Amanda tersenyum dalam dekapan Angga, dalam hati mengucap syukur berulang-kali karena kini hati suaminya hanya untuknya. 'Terimakasih ya Allah. Atas semua rahmat ini, terimakasih karena telah mengirimkan imam yang begitu sempurna untuk hamba. Terimakasih karena engkau telah membukakan hatinya hanya untuk hamba.' Do'a Amanda dalam hatinya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus
27/06
0bagus
27/06
0saya sangat suka novel ini
13/05
0Lihat Semua