Beranda/Tumbal pernikahan/
Part 10 – Larangan-larangan Angga
Semakin hari sikap Angga kian jelas terlihat perubahannya, dari yang dingin dan kasar kini begitu perduli. Bahkan, tanpa pikir panjang pria itu telah melarang Amanda berdekatan terlalu lama dengan Yuda. Ia juga telah lancang menggunakan gawai wanita itu untuk mengirim pesan supaya Yuda berhenti mengantar-jemput sang istri.
Amanda yang telah mengetahui kelancangan Angga sangat kesal, tetapi tak mampu marah berlebihan karena pria itu suaminya. Apalagi Angga sudah terang-terangan melarangnya berdekatan dengan Yuda meski tanpa alasan yang jelas.
'Intinya aku nggak suka kalau kamu terlalu deket sama dia. Ingat status kamu, Amanda. Kita itu masih suami-istri di mata hukum dan agama. Jadi tugas kamu cuma satu ... nurut sama aku.'
"Sibuk, Nda?" tanya Yuda sambil menghampiri kubikel milik Amanda dan berdiri di hadapan wanita itu membuat Amanda langsung tersadar dari lamunan singkatnya yang saat itu sedang memikirkan Angga.
"Lumayan sibuk, ada apa?" Amanda balik bertanya dengan fokus ke komputer di depannya. Dia harus berpura-pura sibuk, apalagi Angga sudah terang-terangan melarang kedekatannya dengan Yuda.
Yuda mulai mengutarakan pertanyaan dalam kepala, ia pernah memergoki Amanda keluar dari mobil Angga bukan hanya sekali, tetapi berulangkali. Ia sempat berpikir apakah mereka ada hubungan? Atau mungkin alasan Amanda menolaknya karena Pak Dirut itu?
"Aku sering lihat kamu sama pak Angga jalan. Apa kalian...."
Amanda terpaksa berbohong, mengatakan bila ia tak sengaja bertemu di jalan dan Angga menawarinya tumpangan. Yuda mengangguk antara percaya dan tidak. Keduanya sedikit berbincang di sela pekerjaan Amanda yang masih berkutat dengan komputer hingga suara deheman cukup keras menghentikan obrolan mereka.
Yuda menoleh ke arah pintu, di sana sudah berdiri Pak Dirut dengan gaya angkuhnya—kedua tangan yang bersembunyi di balik punggung—dan tatapan tak bersahabat kepada pegawai keuangan itu.
"Bisa ke ruangan saya sebentar?" ucapnya datar, lalu melihat Amanda yang tengah melihat ke arahnya.
"Saya, Pak?" Yuda menunjuk diri sendiri berpikir bila Angga sedang berbicara dengannya.
"Bukan kamu tapi Amanda, saya tunggu di ruangan!" perintahnya dan berlalu begitu saja.
Yuda mengernyit bingung, apakah yang ia pikirkan memang benar? Mereka memiliki hubungan khusus, tetapi sejak kapan? Angga menjadi Direktur Utama di perusahaan baru empat bulan yang lalu. Apalagi kalau mengingat penolakan Amanda akan lamarannya hari itu, menguatkan ia bahwa pria yang Amanda cintai tak lain adalah atasannya sendiri. Bos besar di perusahaan tempat mereka bekerja.
***
"Buatkan saya kopi!" Tiga kata perintah dari Angga membuat Amanda melebarkan mata, ia dipanggil ke ruangan Dirut hanya untuk membuatkan kopi. Jika berada di rumah itu wajar karena ia seorang istri, tetapi sekarang ....
"Apa, Pak?" tanya Amanda seolah ucapan Angga tadi tak didengarnya.
"Buatkan saya kopi." Angga mengulangi perintahnya dengan tatapan ke layar komputer di depannya.
"Iya, Pak. Saya akan meminta OB untuk membuatkannya," jawab Amanda ramah.
Angga mendesah pelan, lalu mendongak dan menatap Amanda yang berdiri di depannya. "Saya maunya kamu yang buat, Nona Amanda ... Frisela ... Pranaja," ucap Angga mengeja nama lengkap sang istri dengan tatapan lembut bukan dinginnya.
Amanda mengangguk sekali dan yakin bahwa pendengarannya tadi tidak salah. Namun, ia kembali dibuat berpikir setelah Angga mengeja nama lengkapnya.
"Ada apa lagi?" Angga berpura-pura bodoh seolah tadi mengucapkan kata yang benar. Memperhatikan ekspresi terkejut dan bingung di wajah sang istri karena ucapannya tadi.
"Bapak bilang apa tadi?" Amanda mencoba memastikan. Jika ejaan nama yang ia dengar pasti keliru.
"Saya hanya mengeja nama kamu, Amanda Frisela." Angga masih berpura-pura. Sudah jelas tadi ia menyelipkan nama belakangnya di nama lengkap Amanda, tetapi sekarang malah mengelak.
"Tapi tadi saya mendengar yang lain," ucap Amanda pelan.
"Apa yang kamu dengar?"
"Amanda Frisela Pranaja." Akhirnya Amanda mengulangi, mengeja nama lengkapnya seperti yang Angga ucapkan, ada nama Pranaja di dalam namanya dan tanggapan pria itu malah biasa saja. Salahnya di mana? Toh mereka juga sudah menikah dan wajar kalau marga Pranaja berada dalam nama sang istri.
"Ada yang aneh? Enggak, kan, kamu itu istriku jadi nggak masalah kalau nama belakang kamu bertambah." Angga menjelaskan sambil menikmati ekspresi aneh di wajah Amanda setelah ia menambahkan nama belakangnya di nama wanita itu. Secara tak langsung ia sudah mengakuinya sebagai istri dan itu membuat Amanda tak percaya, ia hanya takut, semua perubahan Angga karena kasihan kepadanya yang kini hidup sebatang kara.
"Amanda," panggil Angga membuat wanita itu tersadar dari lamunan singkatnya.
"Ah, iya, Pak. Akan saya buatkan." Amanda Ingat akan tugas yang telah diberikan sang atasan hingga membuatnya langsung berbalik tanya banyak bertanya lagi.
"Ada yang salah sama ucapanku? Perasaan nggak ada, aku suaminya jadi wajar ada namaku di belakang namanya. Lalu kenapa ekspresinya kayak itu?" gumam Angga setelah tubuh Amanda menghilang dari balik pintu. Angga memang seperti itu, inginnya diakui, tetapi tak mau mengakui. Ia bahkan tak sadar telah bersikap egois pada hubungan mereka.
***
Angga hanya diam mengawasi Amanda dan Yuda dari jarak jauh. Beberapa menit yang lalu Amanda meminta izin untuk bertemu dengan Yuda di sebuah kafe, awalnya tak diizinkan. Namun, akhirnya ia setuju. Memutuskan mengikuti dan mengawasi dari kejauhan mencoba memastikan ucapan Reni tempo lalu.
'Rumor itu sepertinya benar, Pak. Mereka juga semakin hari semakin dekat. Saya juga sudah beberapa kali melihat mereka jalan berdua.'
Yuda meraih tangan Amanda dan mengenggamnya, mengutarakan keinginan yang masih menggebu dalam dada tak perduli dengan pengakuan Amanda hari itu. Satu yang ia harap, menjadikan dia miliknya dan menjaga wanita itu dari segala bahaya.
"Aku masih sangat berharap kamu menerimanya, Amanda," tutur Yuda penuh harap, menatap Amanda yang hanya terdiam.
Amanda menghela napas pelan, mendongak dan melirik meja yang di duduki Angga. Ia terbelalak dengan perasaan takut, pria itu telah tiada di tempatnya. Ia menarik tangannya dari genggaman Yuda, menjelaskan jika sampai kapan pun hubungan mereka akan tetap jadi sahabat tak akan lebih. Perasaannya akan tetap sama tak akan pernah berubah.
"Perasaan aku ke kamu nggak akan pernah berubah, Yud. Dari awal sampai saat ini aku hanya anggap kamu sebagai teman."
"Apa dia memiliki perasaan yang sama buat kamu, kamu tahu perasaannya seperti apa?" lontar Yuda dengan tatapan mengintimidasi.
"Aku nggak tahu, satu hal yang kutahu aku hanya mencintai dia." Amanda berkata jujur karena itulah kenyataannya.
"Untuk apa kamu menunggu sesuatu yang nggak pasti? Lupakan dia, Amanda. Ada aku yang hanya mencintai kamu dan yang pasti akan buat kamu menjadi wanita paling bahagia." Yuda meraih tangan Amanda lagi dan mengenggamnya erat.
Amanda mendesah berat tak tahu lagi harus meyakinkan Yuda seperti apa, ia telah menikah mana mungkin menerima pinangan pria lain. Fokus keduanya teralihkan ketika gawai milik Amanda berdenting. Yuda melepaskan genggaman dan membiarkan Amanda memeriksa benda pribadinya itu.
[Ayo pulang! Aku tunggu di mobil, sekarang!]
Amanda menggigit bibir dalamnya cukup kuat, entah mengapa ia merasa bahwa sang suami sedang kesal, sejak Yuda menggenggam tangannya Angga sudah tiada di tempat.
'Apa mungkin Angga ....'
"Maaf, Yud, aku nggak bisa jadi bagian dari hidup kamu. Selamanya aku hanya anggap kamu sebagai sahabat, lupain aku! Cari wanita lain yang lebih pantas mendapatkan semua itu," pesan Amanda sebelum meninggalkan Yuda di kafe. Ia harus tegas tak ingin pria itu terus berharap kepadanya.
Sepanjang perjalanan pulang hanya sepi yang menemani, Angga terus fokus dengan kemudi sedangkan Amanda dengan praduganya. Angga yang baik-baik saja ketika mengantarkannya berangkat berubah jadi dingin ketika mereka pulang, ia merasa Angga tak menyukai pertemuannya dengan Yuda.
"Maaf, Angga," ucap Amanda sambil menunduk, ia sudah siap menerima perkataan tajam yang beberapa hari ini tak pernah pria itu ucapkan.
Angga bergeming, ingatan akan perbincangan Amanda dan Yuda membuatnya kembali kesal. Sekarang ia sangat yakin bahwa pegawai keuangan itu menginginkan istrinya lebih dari seorang teman. Ucapan Reni tempo lalu yang katanya hanya rumor ternyata fakta hingga tanpa sadar jarinya mengirim pesan meminta Amanda untuk segera pulang.
"Maaf, Angga, tadi itu ...."
"Dia punya perasaan lebih ke kamu, 'kan?" tanya Angga langsung tanpa mau menunggu Amanda melanjutkan kalimatnya.
Amanda diam, ia kembali dihinggapi rasa takut ketika nada suara Angga sudah berubah, bukan lagi lembut dan ramah seperti hari-hari lalu. Keduanya kembali terdiam hingga sampai di depan rumah Rania. Angga dan Amanda masih enggan keluar dari mobil.
"Bicara apa aja, kenapa pakai genggam tangan segala?" Pertanyaan yang tadi tertahan akhirnya keluar. Angga memiringkan tubuh dan menatap Amanda yang masih menunduk.
"Itu, dia ...."
"Dia cinta sama kamu?" tebak Angga masih memperhatikan Amanda yang terus menunduk.
Amanda mengangguk pelan masih dengan menunduk membuat Angga mengembuskan napasnya dengan kasar. Ia tak suka bila ada pria lain yang menginginkan Amanda.
"Dan dia ingin supaya lebih menjadi seorang teman?" tebak Angga lagi dan lagi-lagi Amanda hanya mengangguk sebagai jawabannya.
"Kamu cinta sama dia?" tanya Angga mencoba memastikan, apakah pernyataan Amanda malam itu benar atau tidak.
Amanda mendongak dan menggeleng sebagai jawaban. Detik itu juga Angga melarang keras Amanda berdekatan dengan Yuda, tak akan mengizinkan ia menemui pria itu. Bahkan, hanya sekadar makan siang pun ia melarang.
"Aku itu suami kamu dan aku nggak suka kalau istriku terlalu dekat dengan pria lain!" tegas Angga supaya Amanda cepat menghindari pegawai keuangan tersebut. Amanda membeku, Angga menganggapnya seorang istri. Apakah ia telah diterima sekarang?
"Aku minta maaf." Amanda mengucap maaf, karena tanpa sadar membuatnya kesal.
'Aku juga janji akan jauhi dia demi kamu, Angga. Jika benar kamu udah terima aku sebagai pendamping hidup.' Amanda juga berjanji akan lebih menjaga perasaan sang suami meski harus menjauhi sahabat sendiri.
***
"Kita mau ke mana? Seharusnya makan di kantor aja."
Amanda dibuat bingung ketika Angga membawanya makan di luar kantor, setelah mendapat peringatan keras dari sang suami dia jadi lebih sering makan siang dengan pria itu.
"Kita ke restoran seafood bagaimana?" Angga mengabaikan pertanyaan Amanda dan malah menanyakan hal itu. Namun, Amanda malah berbinar dan tanpa sadar mengangguk semangat, dia lupa kapan terakhir kali makan makanan tersebut.
Angga melengkungkan bibirnya lebar, mengusap pucuk kepala Amanda tanpa segan. Dia senang bisa melihat sang istri sebahagia ini bersamanya. Perlakuan manis pria itu membuat Amanda tertegun, Angga telah berubah menjadi pria hangat dan tak dingin lagi.
'Aku seneng akhirnya kamu bisa bahagia selama sama aku. Semoga aja setelah ini kamu akan selalu bahagia, Amanda.'
***
Kebersamaan keduanya ketika jam makan siang kerap kali terlihat oleh Yuda membuat pria itu semakin yakin bahwa mereka memiliki hubungan khusus. Terlebih wajah Amanda yang selalu berseri usai pergi dengan atasannya itu.
"Lagi nungguin Metromini, ya?" tanya Yuda kepada Amanda yang berdiri di halte dekat perusahaan.
Amanda tersenyum dan mengangguk sebagai alasan, dia bukan sedang menunggu angkutan umum melainkan menunggu sang suami. Namun, dia juga tak mungkin mengatakan yang sebenarnya.
"Aku antar bagaimana? Sudah hampir petang, Amanda," tawar Yuda berharap Amanda bersedia.
"A ... ku ...." Amanda sudah membuka mulut hendak menjawab, tetapi urung ketika mobil Angga berhenti di depan mobil Yuda. Tanpa banyak kata dia segera meminta Amanda untuk masuk ke dalam mobilnya dengan alasan mereka satu arah. Lagi-lagi Pak Dirut lebih unggul darinya, Amanda lebih memilih Angga daripada dia.
"Lagi dan lagi kamu lebih pilih dia daripada aku. Apa karena dia juga kamu tolak lamaranku waktu itu," gumam Yuda dengan hati dongkol
'Aku nggak mau cuma jadi sahabat, Amanda. Aku mau kita jadi pasangan. Kamu mau, ya, jadi istriku.'
'Ah, maaf, Yud. Aku nggak bisa.'
***
"Dia masih deketin kamu?" Angga melontarkan pertanyaan ketika Amanda sudah duduk di sampingnya.
"Iya, maaf kalau itu buat kamu nggak suka," jawab Amanda sambil menatap Angga yang fokus dengan kemudi.
"Oke, nggak pa-pa. Setelah ini jauhi dia!" titah Angga tak ingin dibantah.
"Kenapa?"
"Kamu itu istriku."
Amanda diam meski ingin bertanya lebih, dia hanya ingin memastikan apakah Angga sudah menerima kehadirannya atau tidak. "Aku butuh alasan, Angga?" tuntut Amanda.
"Cukup turuti ucapanku, Amanda!" ucap Angga final.
"Iya." Akhirnya Amanda mengalah daripada memicu keributan lagi. Dia cukup tenang saat sikap Angga berubah menjadi hangat meski jauh dalam lubuk hati dia masih merasa ragu.
***
Hubungan keduanya kian membaik, Angga yang dingin dengan mulut tajam telah menghilang membuat Amanda merasa bahwa pria itu telah menerimanya dengan penuh. Meski tak pernah terucap rasa suka, tetapi Amanda merasa bila Angga mulai menyukainya. Jelas terlihat dari sikapnya yang tak menyukai kalau dia berdekatan dengan Yuda serta semua perhatian yang telah pria itu berikan selama mereka tinggal di rumah Rania—bundanya Amanda.
"Aku serius, Amanda. Kamu beneran lagi deket sama pak Dirut?" tanya Lina sambil menatap wanita itu dengan saksama.
"Iya, jujur Amanda. Kita, kan, temen," lanjut Radisti supaya Amanda mau bercerita.
"Kalian ini apa-apaan, sih! Aku sama pak Angga nggak ada hubungan. Titik."
Rumor kedekatan mereka pun mulai menyebar membuat Amanda jadi bahan interogasi teman satu ruangannya. Ini belum waktunya menceritakan semua itu membuat Amanda terpaksa berbohong dan menghindar adalah jalan aman supaya teman-temannya tak lagi banyak bertanya.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (120)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
bagus
27/06
0bagus
27/06
0saya sangat suka novel ini
13/05
0Lihat Semua