“Wandi, lo kagak apel ke rumah Tina?” ucap Adrian sambil mengunyah roti jawa rasa singkong di teras rumah. Semenjak kejadian hilangnya Adrian, Wandi semakin dekat dengan Tina. Gadis yang awalnya menyukai Adrian kini berbalik arah, nengok ke temannya karean merasa diabaikan oleh Adrian. Meskipun wajah Wandi pas-pasan, tetapi Tina nyaman jalan bersama dengan Wandi. Keduanya sangat kompak dan sering jalan bersama, hingga melupakan Adrian yang belum punya pasangan. “Lo tadi kayaknya bilang mo pergi ama Emak. Emang mau ke mana? Udah punya gebetan baru, kayaknya?” tanya Wandi mengunyah roti yang rasa singkong dengan lahap. “Suntuk di rumah, apa-apa diawasin terus. Udah kayak satpam 24 jam tuh Emak sama Bapak. Yuk kita ke mana gitu? Ada pasar malem kagak? Mumpung malam minggu, sepi di rumah. Emak ama Bapak, lagi sibuk di kamar.” Wandi tertawa,”Lo makanya cari cewek! Jangan inget demit itu lagi. Yuk, cabut!” Sementara di rumah Adrian terlihat sangat tenang. Kedua orang tuanya membiarkan anak semata wayangnya pergi bersama dengan teman-teman. Secara perlahan kepercayaan kembali seperti semula setelah 6 bulan lamanya. Adrian dan Wandi sudah tidak pernah membicarakan pohon beringin seperti awal menerima pengobatan. Adrian dan Wandi bersepeda menuju alaun-alun kota. Di mana teman-teman mereka sudah menunggu dan nonton pasar malem meski cuaca mendung. Mereka berlima nongkrong di pinggir pintu masuk sambil melihat lalu lalang orang-orang yang membali camilan dan naik ke arena pertunjukkan. Pengunjung pasar malam datang membawa pasangan, keluarga hingga teman sejawat, menuju wahana permainan yang tersebar di seluruh penjuru alun-alun. Ada juga yang datang ke stan-stan yang menjajakan makanan atau permainan. Meskipun baru resmi dibuka, masih tampak stan Pasar Malam yang belum terisi atau pun wahana permainan yang belum terpasang. Namun, wahana permainan seperti bombom car, trampolin hingga tong setan sudah siap dan menjadi wahana yang paling ramai dikunjungi oleh masyarakat. Terdapat panggung hiburan dengan musik menggelegar dan menghibur penonton, Orkes Melayu (OM) Sagita menjadi pembuka di panggung hiburan. Penyelenggara menyiapkan sederet artis lokal maupun nasional untuk mengisi panggung hiburan Pasar Malam Sekaten. Di antaranya ada Farel Prayoga, Denny Caknan, Happy Asmara, Dara The Virgin, Abah Lala, dan lain-lain. “Ramai sekali, setelah copid mereka pada keluar rumah. Pasti kangen pengen nubar bareng. Lo kagak ke sono, Wandi?” tanya Andrian yang sejak tadi gerah lihat Tina dan Wandi nempel terus. “Bentar lah! Tanggung abisin es krim, ya kan, Tin?” ucap Wandi tanpa memerdulikan ke tiga temannya yang sudah muak melihat dua sejoli yang dimabuk cinta. "Cinta monyet itu ibarat paket internet. Ngakunya unlimited, baru jalan bentar udah putus," ucap Adrian mengusik ketenangan keduanya. “Lo jangan bikin kompor! Siap meledak, Nih! Bilang aja Lo iri ama kita. Makanya jangan kelamaan jomblo, noh banyak gadis di sono! Kalian samperin,” ucap Wandi menarik tangan Tina menjauh dari ketiga temannya menuju ke arena kuda yang ada di tengah alun-alun. Tidak lama ditinggal Wandi ketiga pemuda masih asyik duduk di atas sepeda motor. Mereka menikamati pemandangan orang yang keluar masuk, sesekali memberikan siulan pada cewek cantik yang melintas di depan mereka. Malam yang agak gerimis tidak membuat mereka berajak dari tempat duduknya. Hati Adrian sangat berbunga seakan terbebas dari belenggu pengawasan kedua orang tuanya selama berbulan-bulan. Menjelang pukul 21.00 terlihat Adrian dan ketiga temannya mulai goyah dengan memegang perut, lapar. Terdengar bunyi kriuk, dari salah satu pemuda dan membuat mereka tertawa bareng dengan rasa yang sama. “Ke mana tuh Si Keriting? Lama amat kencannya, kagak tahu kita lapar,” kara Adrian kepada kedua temannya. “Mojok kali, emang rejeki Wandi dapet cewek kayak Tina. Lo. Kagak nyesel menolak Tina?” tanya Ardi kepada Adrian yang tahu betul jika Tina kesengsem dengan Adrian awal mulanya. “Enggak lah. Dia bukan cewek tipe gue. Lagian lebai amat manjain cewek. Mending bebas kayak gini, kitab bisa godain cewek mana aja,” sanggah Andrian turun dari sepeda motornya. Kedua temannya tersenyum dan mengikuti Adrian yang mendai bos dari kelompok mereka. Bertiga masuk ke dalam warung soto yang tidak jauh dari tempatnya. Warung sangat ramai oleh pengunjung, mungkin rasa sotonya enak. Hampir tidak ada kursi kosong, beruntung ketiganya dapat tempat lesehan yang berada di pojok. Sementara udara dingin menyergap kulit dan perlahan rintik hujan pun turun. “Lo kasih tahu Wandi, kita ada di sini!” perintah Adrian kepada Ardi yang sedang sibuk bermain ponsel. Tidak lama pesanan mereka datang diantar oleh gadis manis berkepang dua. Memakai baju kebaya puth dengan menggunakan celana jeans ketat. Adrian melongo memperhatikan wajah gadis yang beru mengantar makanan, sampai kedua temannya menepuk bahu menyadarkan dia segera makan soto karena keburu dingin. Rasa tidak tenang saat makan soto, sesekali melikat ke arah gadis yang sedang melayani pembeli yang penuh berdesakan karena hujan mulai mengguyur tanah di situ. Kedua teman Adrian saling meanatap curiga, mereka teringat dengan cerita masa lalu Adrian yang pernah kalap di hutan gara-gara seorang gadis. “Lo ingat! Dia pernah ilang, buruan kita pergi dari sini! Kita nggak tahu siapa gadis itu, jangan-jangan dia juga dimasuki roh halus seperti penyamaran demit cewek itu dulu,” bisik Ardi kepada temannya. Keduanya menepuk bahu Adrian untuk segera menghabiskan soto ayam yang tinggal separo. Senyum terbit di bibir pemuda itu, ketahuan melirik cewek pelayan warung yang mengingatkan pada Hesta, makhluk tak kasat mata yang baru dilupakan. Benarkah durinya melupakan Hesta, yang merupakan cinta pertamanya? Baru keluar dari Warung mereka berpapasan dengan dua pemuda yang aneh dengan memakai pakaian model kuno masuk ke dalam warung. Pandangan mata Andrian bertabrakan dengan salah satu pemuda berpakaian kuno. Sesaat mereka berhenti tepat di pintu masuk. Tetapi langsug ditarik oleh kedua temannya agar menjauh dari warung yang semakin malam semakin ramai. Sedangkan pemuda yang baru saja masuk, duduk dan memesan soto sambil berbincang, “Lo merasa ada yang aneh nggak dengan cowok tadi?” tanya pemuda itu yang ternyata adalah Paijo dan Parmin yang baru keluar dari alam kasat mata. “Iya, gue merasa dia ada bau-bau alam kita. Jangan-jangan dia pernah nyasar ke alam kita!” ujar Parmin sambil menyendok soto yang baru saja datang. “Bisa jadi. Lo tahu misi kita, cari Adrian! Apa udah tahu gimana sosok dia? Lebih gantengan mana ama gue?” tanya Paijo melihat temannya lahap makan soto. Mereka sudah lama tidak merasakan makanan manusia. Hanya sesekali ingin berbaur dengan bangsa manusia jika menginginkannya. “Mungkinkah itu dia?” ucap Parmin hampir tersedak.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
mbgmmggvtvtg
4d
0keren
12/09
0lumayan bagus
10/09
1Lihat Semua