logo text

Bab 12 Kakek Misterius

Pagi hari kedua orang tua Adrian terbangun, heran melihat kamar anaknya masih tertutup. Harusnya dia pergi ke sekolah pagi ini. Ayah Adrian yang bernama Jumari itu menggedor pintu kamar anaknya dengan sangat keras. Waktu sudah menunjukkan pukul 06.00, dan kedua anak itu belum juga bangun. Jamilah akhirnya tidak tahan, akhirnya menyuruh Jumari suaminya mendobrak pintu kamar.
Brak ....
Pintu terbuka, nampak dua anak masih terlentang seperti mayat dengan muka pucat. Sontak kedua orang tua Adrian gugup dan tergopoh menghampiri kedua anak itu. Setelah memastikan tubuh mereka masih hangat, Jumari lantas menelpon tetangga minta bantuan untuk memanggilkan bidan. Hanya bidan, petugas medis yang terdekat di desa itu. Rasa khawatir menyelimuti hati kedua orang tua yang masih muda itu. Anak mereka satu-satunya tertimpa masalah. Sedikit saja tidak pernah sampai melakukan hal yang buruk pada anaknya.
“Ini gimana bisa jadi ceperti ini Dik? Tadi malam gue denger juga berisik. Ada apa an?” tanya Jumari lirih kepada istrinya. Jumari mendekati ranjang yang ada di depannya. Tangan meraba dahi
“Ada yang aneh Bang, gue denger suara kucing, tapi tidak terlihat binatang itu,” jawab Jamilah. Akhirnya dia menceritakan kejadian semalam kepada suaminya hingga tuntas. Mereka berbicara tentang binatang yang masuk ke dalam rumahnya. Selama ini tidak pernah ada kejadian aneh seperti ini. Jamilah yang tidak menyukai kucing, apalagi. Hingga petugas datang, mereka belum menemukan sesuatu yang aneh di kamar Adrian. Putus asa, apa yang sebenarnya terjadi dengan kedua anak itu
Bidan desa segera memastikan kondisi pada kedua pemuda yang masih tertidur dengan lelap. Dia bersama dengan anak buahnya dengan cekatan. Mengeluarkan alat-alat kesehatan, dan meriksa suhu Adrian dan Wandi.
“Sepertinya sudah terjadi sesuatu dengan anak bapak. Apakah ada kejadian yang membuat mereka syok?” Tanya bidan kepada Jumari.
“Kurang tahu Bu, tadi malam mereka baik-baik saja kata Emaknya. Ya kan Dik?”
Jamilah akhirnya bercerita ulang peristiwa yang terjadi tadi malam. Sepertinya petugas medis paham apa yang sedang terjadi.
“Saya mengerti Pak, bukannya Bapak dan Ibu tahu, jika daerah kita masih banyak menyimpan misteri. Sebaiknya nanti jika mereka sudah terbangun, nasehati saja. Supaya tidak sembarangan bermain-main dengan yang idak kasat mata.”
“Memangnya mereka dalam bahaya? Kog jadi takut ini Bu.” Kata Ayah Adrian mentapa istrinya yang nampak terkejut mendengar kalimat dari petugas medis itu
Bidan yang memeriksa memastikan jika keduanya tidak ada masalah dengan kesehatan. Membuat kedua orang tua ini bingung dan menghubungi orang tua Wandi. Hari ini juga mereka tidak dapat ke sekolah, dan Jamilah tidak bekerja. Demikian juga dengan ibu Wandi yang bernama Siti. Mereka berdua menjaga anak-anak yang belum juga terbangun.
Hingga menjelang senja, mereka berdua terbagun. Wajah masih terlihat pucat, maklum seharian jtidak makan dan minum. Pelahan Adrian bangkit duduk di ranjangnya. Demikian juga Wandi, tetapi dia merebahkan diri lagi dan memejamkan mata. Siti yang melihat anaknya sontak teriak, “Wandi, bangun ‘Nak! Jangan tidur lagi!”
Siti membangunkan anaknya dengan terpaksa, memaksanya supaya membuka mata. Demikian juga dengan Jamilah, meskipun Adrian duduk tetapi mata berulang kali menutup. Kedua ibu ini akhirnya sibuk dengan caranya masing-masing menyadarkan anak-anak mereka. Hingga waktu sudah menunjukkan pukul 19.00, suami mereka datang melihat kondisi anak mereka.
“Bagaimana anak-anak? Masih belum bicara juga?” tanya Jumari kepada istrinya yang sedang menyuapi Adrian.
“Belum Bang, ini juga sulit di suruh buka mulut untuk makan. Wandi juga, gimana ini? Apa perlu cari orang pintar?” bisik Jamilah.
“Kita lihat saja nanti. Kalo nggak ada perkembangan sampe besuk gue cari kiyai,” sahut Jumari.
Badrun, ayah Wandi yang mendengar bisik-bisik pasangan suami istri itu, lantas mendekat. Mereka kemudian berjalan ke ruang tamu dan berdiskusi soal anak-anak mereka. Berencana mencarikan orang pintar, untuk menyembuhkan dua anak yang hingga saat ini belum bisa diajak bicara. Baru saja Jamilah menyediakan kopi untuk keduanya, pintu rumah ada yang mengetuk pelan.
Tok tok tok ....
Mereka bertiga saling berpandangan, tak lama Jumari berdiri dan membuka pintu.
“Selamat malam.” Terdengar suara kakek dengan nada serak. Jumari agak kaget, melihat sosok kakek yang sudah tua dengan pakaian rapi rambut klimis berwarna putih tersisir rapi ke belakang.
“Ma-malam,” jawab Jumari gugup. Melihat ke arah kakek yang berdiri sempurna di hadapanya dengan sorot mata tajam. Jumari mempersilahkan kakek yang tidak mau membertahukan namany itu masuk ke dalam rumah. Entah apa yang ada di pikiran Jumari saat ini, tidak merasa curiga sedikitpun kepada kakek meski hawa dingin menyelinap saat ini. Berbeda dengan Badrun, dai heran dengan berubahnya sikap ayah Adrian.
“Ini siapa? Kog belum pernah kenal. Kakek rumahnya mana?” cecar Badrun mengamati kakek mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Kakek tidak mengindahkan pertanyaan dari Badrun, dia langsung dibawa Jumari masuk ke dalam kamar Adrian. Sempat bersitegang dengan ayah Wandi yang berusaha mencegah agar tidak masuk ke kamar. Namun apa daya, dia bukan tuan rumah. Apalagi Jamilah istrinya juga mengijinkan. Mereka bersama-sama masuk ke dalam degan beribu pertanyaan yang ada di benak Badrun.
“Ini kenapa jadi seperti ini? Gue mesti gimana? Masa anak sama bapak kena makhluk halus semua? Nggak bisa dibiarin ini.” Gumam Badrun yang berdiri di belakang jamilah, menyaksikan kakek misterius mendekat ke arah Wandi dan Adrian.
Kakek duduk dengan posisi menghadap kedua anak itu. Sedangkan yang lainnya melihat tanpa kedip ke arah mereka. Tidak banyak hal yang dilakukan sang kakek, dia hanya memegang kedua tangan bocah itu dan mengusapnya pelan. Tidak ada suara yang keluar dari bibirnya. Hanya sorot mata tajam menatap Adrian dan Wandi yang masih terlihat sangat mengantuk.
Tangan kakek mengusap wajah, kedua bocah itu agak lama. Aneh, semua yang melihat kedijian itu tidak ada yang berani bicara. Seakan terkunci mulut mereka rapat tidak ingin mengganggu ritual yang dilakukan sang kakek. Tiba-tiba kedua bocah itu ambruk dan tertidur, kakek segera berdiri dan berjalan keluar kamar diikuti kedua orang tua Adrian dan Wandi.
Tidak ada kalimat yang keluar dari bibirmya, bahkan Jamilah dan Jumari seperti orang yang linglung hanya menatap kepergian kakek tanpa berucap salam. Hingga beberapa saat lamanya, mereka berempat baru tersadar saat suara pak RT datang membagikan undangan, dan menegurnya.
Mereka kembali ke kamar Adrian, tanpa menyadari ada makhuk lain berada di balik pintu ruang dapur. Kucing besar yang berwarna hitam, yang menghantui Wandi selama ini. Sinar mata tajam menatap dua bocah yang sedang terbaring. Kain yang ada bercak darah berada di mulutnya.

Komentar Buku (497)

  • avatar
    Ramadhan

    mbgmmggvtvtg

    5d

      0
  • avatar
    Fyoraa Vellvetaa

    keren

    12/09

      0
  • avatar
    ANadif

    lumayan bagus

    10/09

      1
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru