Gelap, aku bahkan tak bisa mengingat aku ini apa. Sampai kudengar suara-suara di sekeliling. "Ibu." Sebuah panggilan disertai rengekan yang kukenal. Itu suara Maryam. Aku merindukannya sampai bermimpi mendengarnya memanggil dan menangisiku. "Cup ... cup ... cup, ibumu tidak apa-apa. Kata Bu bidan ibumu sehat. Udah jangan nangis lagi." Mbok Darsih? Iya itu suara Mbok Darsih. Apa aku tidak sedang bermimpi? Bukankah dia sudah tidak berada di Walang Sangit. Perlahan mataku terbuka. Kucubit pahaku, sakit. Ini bukan mimpi sepertinya juga bukan halusinasi. Tempat ini sama sekali tak pernah kudatangi sebelumnya. Apa yang terjadi pada kami? Terakhir yang kuingat kepalaku pusing dan ponselku terjatuh sebelum semua menjadi gelap. Kalau benar dugaanku Mas Abraham juga kembali ke raganya. Di rumah kami Walang Sangit sana. Mataku mencari sosok Mbok Darsih. Ia di sana dekat pintu bersama Maryam yang menangis sambil terduduk. "Mbok," panggilku lirih. Wanita setengah tua itu menghampir ranjang pasien yang kutempati. "Bu Ulfa sudah sadar. Alhamdulillah!" serunya dengan senyum penuh kelegaan. "Mbok sejak kapan saya pingsan?" Wanita itu tampak berpikir, matanya memandang ke atas sementara jari jarinya bergerak seolah sedang menghitung. "Dari jam enam sore sampai barusan siuman pukul sebelas siang berarti sekitar tujuh belas jam," katanya setelah jarinya selesai menghitung. Ya, aku kembali ke jasadku setelah beberapa hari lamanya kesasar di raga Mas Abraham. "Maryam!" panggilku, walau berusaha keras memanggilnya tetap saja suara yang keluar tak terlalu kuat. Gadis kecilku menyeka air matanya dengan kedua telapak tangan, lalu dengan wajah manja ia menghambur menghampiri sambil memanggil "Ibu" padaku. "Ayo, naiklah," suruhku padanya untuk menaiki ranjang pasien. Ia menurut segera kudekap kepala dan bahu mungil Maryam dalam pelukan posisiku yang masih terbaring. "Ibu sangat merindukanmu, Nak," bisikku halus di telinganya. Ia merengek manja dan kembali memanggilku, "Ibu." "Ah, sayangku." Kukecup kening, juga pipi gadis mungil ini. Perasaan haru menyelimuti kami berdua. Mbok Darsih duduk di kursi yang memang tersedia di dekatku. "Mbok, apa yang terjadi padaku sampai dibawa kemari?" tanyaku pada wanita paruh baya ini. Sementara Maryam duduk di tepi ranjang. "Saya kurang tahu pasti, Bu Ulfa. Kemarin itu Maryam berlari ke rumah saya sambil menangis sambil bilang 'tolong Ibu!' Karena itulah saya terburu-buru datang dan menemukan Bu Ulfa tergeletak dekat kursi meja makan. Saya sendiri belum sempat menanyakan pada Maryam mengapa Bu Ulfa bisa pingsan." Aku mengangguk-angguk mendengar penjelasan beliau. Kini ganti kupandang Maryam. "Mbak Maryam kemarin ingat tidak kenapa Ibu jatuh dan pingsan?" tanyaku dengan lemah lembut ciri seorang Ibu. "Ibu tepeyecet, Mayam main ail" ucapnya cedal. Jadi kemarin terpeleset gara-gara Maryam main air. "Oh, pantas kemarin ada genangan air di sekitar Bu Ulfa jatuh. Awalnya saya kira itu ketuban pecah. Alhamdulillah kata bidan kondisi bayi aman." Syukurlah, janin ini begitu kuat, hingga dua kali mengalami goncangan hebat, ia tetap erat dalam rahimku. Semoga nanti ia jadi anak soleh yang kuat. Seperti kakeknya. Aamiiin. "Bu bidan sudah tahu saya siuman?" tanyaku pada Mbok Darsih. "Belum, Bu. Bidannya sedang makan siang. Tak lama pasti kemari," ujar Mbok Darsih. "Saya bawa Maryam keluar dulu ya, Bu Ulfa. Kasihan dia belum makan. Sejak tadi menolak tiap ditawari jajan karena terus saja merengek menangisi ibunya. Saya ajak makan katanya nunggu ibunya makan." "Iya, Mbok. Terima kasih banyak. Nah, Mbak Maryam sana makan dulu sama Mbok Darsih, ya." Gadis kecilku mengangguk. Ia segera turun dari tempat tidurku. Selagi Mbok Darsih dan Maryam keluar, saatnya untuk merenung dan menganalisa kejadian kami tentang pertukaran raga. Dari kejadian yang kami alami ini, ada satu kesimpulan bahwa kami akan kembali jika salah satu diantara kami pingsan. Di sini jelas ragaku penyebab awal sehingga raga Mas Abraham ikut serta kehilangan kesadaran karena jiwanya lepas dari ragaku. Jadi kami ini seperti satu kesatuan. Satu pingsan yang lain akan segera menyusul. Ini perkiraan dariku sementara karena masih terlalu untuk menyimpulkan dari dua kejadian saja. Jika suatu kali terjadi lagi dan ternyata berbeda tentu beda pula garis kesimpulan yang seharusnya. Bagaimana kabar Mas Abraham yang terbangun di sana? Apakah dia senang telah kembali ke raganya? Pasti sangat senang. Aku jadi teringat ucapan Pak Konang bahwa kami akan kembali ke raga masing-masing tatkala tak ada lagi rahasia antara kami. Jika itu benar berarti semua rahasia Mas Abraham sudah kuketahui. Artinya ia benar-benar penyebab kematian Ayah. Kalau begitu kuharap ia tak kembali ke rumah baru kami. Tak sudi kumelihatnya. Sakit hati ini tak akan sembuh andai ia meminta maaf ribuan kali. Kini kutahu mengapa dalam Islam ada hukum qisas. Itu karena memang sulit bagi manusia menerima kematian keluarganya sampai si pembunuh dimatikan. Semua demi kebaikan manusia agar tak ada lagi dendam sehingga balasan yang seimbang memang pantas dilaksanakan. Allah yang menciptakan manusia tahu betul sifat dalam diri mereka. Jadi wajar jika aku dendam terhadap Mas Abraham. Ia pantas mati. Oh, iya. Pasti dia terkejut melihat bekas lebam di sekujur tubuhnya ditambah dengan pesan teror dari orang yang mengaku rekannya itu. Semoga ia menuai apa yang telah ditanamnya. Mungkin hubungan ia dan temannya bagai musuh dalam selimut. Mereka berdua saling menghianati satu sama lain. Temannya pasti menganggapnya telah menggunakan uang sepuluh milyar untuk dirinya sendiri. Apalagi yang kuingat sebelum pingsan. Oh, ada lagi. Tentang kado dari Muzakka. Ah sayang sekali, aku belum sempat melihat isinya. Salahku sendiri tidak segera membukanya. Malah sibuk bikin teh. Kira-kira apakah Mas Abraham akan membukanya? Tiba-tiba pintu klinik di buka. Seorang wanita berbaju putih masuk. Mungkin dia bidan atau bisa juga perawat. Entah mana yang benar. Yang jelas bukan Bidan Wuri yang dulu ada di Walang Sangit. "Sudah siuman, Bu? Apa yang dirasakan sekarang?" "Tak ada, Bu." Aku menjawab apa adanya. "Pusing mungkin?" tanyanya lagi. "Tidak juga." "Kalau begitu saya tensi dulu, barangkali pingsannya karena tekanan darah rendah." "Silakan. Tapi sebenarnya saya pingsan karena terpeleset di lantai dan kepala terbentur meja gara-gara anak saya main air dan berceceran di lantai." Aku berusaha menjelaskan sekenanya agar bidan tersebut tak mendiagnosis yang bukan-bukan. "Oh, begitu. Tapi beneran kepalanya tidak apa-apa? Habis benturan begitu?" "Insyaallah tak apa, Bu," jawabku. Lalu Bidan tersebut mengukur tekanan darahku. "Normal. Tapi pingsannya kok lama. Ini saya khawatir bagian kepala terkena gegar otak." Bu bidan berkata sambil dahi mengernyit . Tentu saja aneh karena aku pingsan selama tujuh belas jam. Harusnya ada sesuatu yang tidak beres padaku.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus
04/10
0bom
29/06/2025
0seru
20/04/2025
0Lihat Semua