Et, dah, cahaya yang tadi kulihat rupanya dari cermin yang ditaruh oleh sopir truk di balik kaca depan sehingga mematulkan sinar matahari jam sembilan. Saking silaunya aku tadi memilih banting setir ke kiri takut nabrak. Ternyata truknya masih jauh. "Ada apa, Mas?" tanya Mas Abraham padaku, suaranya beradu dengan suara truk yang melintas. Truk yang kumaksud melewati kami melaju dengan kecepatan tinggi. "Tadi kupikir nyaris ketabrak truk itu gara-gara silau liat pantulan sinar matahari di depan kacanya," jawabku "Harusnya tadi melaju saja. Kemarin waktu tubuh kita tertukar aku melaju saja waktu liat cahaya dari kejauhan. Kayaknya cahaya itu penyebabnya kecelakaan." Ia berkata seolah menyesal atas tindakanku menghindari tadi. Hal ini membuatku marah. Menurutku dia egois. Terlalu yakin tanpa memikirkan resiko lain. "Ngawur, iya kalau kejadiannya kayak kemarin kalau ternyata dilindas truk? Apa tak masalah?" "Paling juga mati." Ia menjawab seenaknya. "Itu pikiranmu. Bagaimana kalau cacat seumur hidup dan tidak mati-mati? Susah!" bantahku. Sepertinya ia terdiam karena bantahanku. Apa seperti itu lelaki jika punya tujuan? Paling cuma Mas Abraham. Aneh banget masak nyawa kami bertiga mau dipertaruhkan untuk hal semacam ini. "Ayo!" ajakku masih dengan nada marah. Setelah memastikan Mas Abraham dan Maryam naik kembali motor kupacu menuju rumah Pak Lana. Rumah yang kami datangi kali ini termasuk golongan orang kaya di sini. Aku tak begitu tau apa pekerjaan Pak Lana tapi entah Mas Abraham. Kuketuk pintu rumahnya sambil mengucapkan salam lalu menunggu beberapa saat. Namun, pintu tak kunjung dibuka. Bahkan sampai tiga kali ketukan tetap saja tak dibuka. "Apa orangnya tak ada di rumah?" tanyaku pada Mas Abraham. "Tidak tahulah, Fa." Kembali kuketuk pintu, tapi sampai tiga kali kami mengucapkan salam, pintu tak kunjung dibuka. "Sudahlah kita harus pulang. Sebab sudah tiga kali salam tak kunjung dibukakan pintu," kataku. Kurasa Pak Lana ada di rumah tapi ia enggan untuk menerima kami sebagai tamu. "Pak Lana memang seperti itu orangnya. Tidak peduli pada orang lain dan tak suka menerima tamu," ucap Mas Abraham. "Kalau tahu kenapa tak bilang dari awal. Sia-sia kita kemari. Buang-buang waktu." Heran aku dengannya. "Apa salahnya mencoba, ya 'kan?" "Salah, sangat salah. Bikin penat saja." "Sudahlah dari pada marah-marah kita lanjut ke rumah Pak Konang saja," katanya cuek sambil menggaruk-garuk dadanya lalu beralih ke perut, persis kayak orang kena ulat bulu. "Ayolah, kalau begitu." Ketika akan menaiki motor, Mas Abraham menjawil pundakku. "Badanku gatal semua rasanya, dikasih salep gatal saja kali, ya?" "Nanti kalau ketemu toko obat beli salicil saja." "Obat apaan itu?" "Bedak untuk gatal." "Oo," jawabnya. Aku melajukan motor ke arah toko obat di pinggir jalan. Hanya toko ini yang jual jika jalan menuju ke arah rumah Pak Konang. "Pak, ada bedak salicil?"tanyaku pada penjual toko. "Ada," jawabnya lalu ia beralih mengambilkan bedak yang dimaksud. "Pak, ada CTM?" tanya Mas Abraham, seketika aku menoleh. "Kok, CTM buat apa?" tanyaku. "Biasanya orang gatal dikasih obat CTM," jawabnya. "Heh, jangan sembarangan minum obat kalau sedang hamil!" kataku mengingatkannya. "Kenapa memangnya?" "Kalau ada apa-apa dengan janin bagaimana?" "Ribet," keluhnya. "Memang ribet. Siapa bilang enak," kataku dengan gusar. "Ini CTM, jadi tidak, Pak?" tanya penjual toko obat. "Tidak, Pak." Aku menjawab tegas. Penjual toko segera memeberitahu harga bedak salicil sehingga aku segera membayarnya dan segera melanjutkan perjalanan. Sampai rumah Pak Konang, Mas Abraham masih saja menggaruk perut dan dadanya. Aku hanya bisa geleng-geleng. Dia mana malu seperti itu, kalau aku mungkin kutahan dulu gatalnya. Ketika Tuan rumah keluar membukakan pintu dan mempersilakan masuk, Mas Abraham langsung menanyakan toilet sambil meminta izin menggunakannya. "Masuk saja, Bu Carik. Ada dekat dapur toiletnya." Pak Konang memberitahu. Ia segera berlari ke motor menyambar bedak yang tadi kucantolkan pada stang motor untuk dibawa ke toilet. Seperti biasa aku hanya geleng kepala, heran dengan tabiatnya yang gak ada feminimnya. "Pak Carik kenapa, ya saya kok lihat antara Pak Carik dan Nyonya Carik kayak ada yang tidak pada tempatnya," ujar Pak Konang dengan dahi yang berkerut seolah sedang berpikir keras. Hmm, apa dia bisa merasakan bahwa kami tidak berada di tubuh yang semestinya. Entahlah. "Bagaimana maksudnya, Pak Konang? Kok, saya kurang paham?" tanyaku pura-pura. Tak berapa lama, Mas Abraham sudah kembali dari toilet. "Sudah ditaburi?" tanyaku. "Sudah." "Kenapa masih garuk-garuk?" tanyaku. "Entahlah, kayak tak berpengaruh bedaknya." Aku berpikir beberapa saat. Sesuai ingatanku, Mas Abraham tidak memakan sesuatu yang membuatnya alergi. Juga tak mungkin kena ulat bulu karena setauku dia tidak ke kebun belakang. Tiba-tiba aku teringat salah satu gangguan yang dialami oleh wanita hamil adalah gatal sekujur tubuh. Hmm, sepertinya itu penyababnya. Jika memang karena hal itu tentu saja aku tak tahu obatnya. "Dek, jangan digaruk terlalu parah. Dielus-elus saja bagian yang gatal agar tidak membekas dan jadi stretch mark," kataku melarangnya. "Apa itu strech mark?" tanya Mas Abraham. "Itu, emm. Guratan seperti luka parut pada tubuh akibat kulit yang mekar. Salah satu efek kehamilan," kataku menjelaskan. Tanpa sengaja aku melihat ke arah Pak Konang yang tampaknya memperhatikan kami berdua. "Aku tak tahan, Mas. Gatal sekali." Mas Abraham bukannya berhenti menggaruk malah makin menjadi. Tanpa menunggu lama, kutangkap tangannya yang akan menggaruk perut lagi. "Tubuh itu bukan milikmu, jadi jangan membuat bekas luka di situ!" Aku berusaha mengingatkannya. Ia bersungut-sungut ketika kularang. Akhirnya duduk juga Mas Abraham, walau tak tenang. Sebentar bergerak ke kanan lalu ke kiri sambil tangannya mengelus bagian yang gatal. "Pak Abraham, hamil berapa bulan?" tanya Pak Konang. Anehnya dia memanggilku tapi matanya ke arah ragaku. Seolah dia tahu bahwa yang ada dalam raga itu Mas Abraham. Demi menjaga keseimbangan alam aku harus menjawabnya. Anggap saja dia bertanya padaku dan anggap ia tidak tahu pertukaran tubuh kami. "Istri saya mengandung tiga bulan setengah," jawabku. Pak Konang semakin menampakkan wajah heran. "Saya merasa aura kalian kok terbalik. Bagaimana ya mengatakannya. Seperti aneh begitu. Masak Pak Carik lebih ngerti kehamilan istrinya dari pada yang sedang mengandung. Seolah yang hamil itu sebenarnya, ya Pak Carik." Wah, tajam juga insting beliau. "Pak Konang, kok, bisa nebak begitu?" tanyaku. "Ya, itu kelebihan saya. Mau tahu asal muasal saya diberi nama Konangan? Itu ada kaitannya dengan insting saya yang cukup sensitif." Wah, aku jadi ingin tahu. "Cerita saja, Pak Konang. Siapa tahu Bapak juga tahu cara mengembalikan hal yang tak semestinya ke jalan yang lurus," kata Mas Abraham dengan sangat antusias. "Heh! Jalan lurus apaan?"
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus
04/10
0bom
29/06/2025
0seru
20/04/2025
0Lihat Semua