logo text

Bab 26 Masalah di Masa Lalu

“Sabar, Mas. Kenapa bisa tiba-tiba kamu ambil keputusan begitu? Lagipula selama ini Cinta selalu berkelakuan baik. Dia juga siswi yang berprestasi. Nilainya selalu bagus.”
“Apa kamu bisa jamin kehidupannya di luar sekolah, Res?”
“Enggak, sih. Tapi ... enggak etis saja mengeluarkan dia tanpa alasan yang jelas.”
“Dia hampir membunuh Radit tempo hari, Res.”
Restu terperanjat, tetapi dia berusaha tenang menghadapi Rendi yang telah dikuasai amarah. “Maksud kamu apa, Mas? Mana mungkin gadis itu berbuat begitu?”
“Aku punya buktinya, Res.”
“Kamu sedang emosi, Mas. Enggak baik ambil keputusan di saat raga dikuasai amarah. Kita pikirkan dulu baik-baik.”
“Terserah kamulah! Aku hanya mengusulkan saja. Tapi gadis itu yang membuat Radit mulai membangkang padaku.”
Rendi gegas keluar ruangan Restu. Dewa yang sejak tadi menguping langsung saja bersembunyi. Dia menatap nanar punggung sang paman yang menjauh sampai hilang dibalik pintu mobilnya.
“Ada apa ini sebenarnya? Bagaimana jika Cinta benar-benar dikeluarkan?”
“Dewa, ngapain di sini?” tanya Restu begitu melihat laki-laki itu berdiri di depan pintu ruangan.
“Ehm, itu ... anu ... kenapa Om Rendi ke sini, Om? Ada perlu?”
“Ada sedikit masalah. Tapi Om masih mau selidiki dulu.”
Restu menepuk bahu Dewa sekilas lalu hendak beranjak sampai suara laki-laki itu menginterupsi langkahnya. “Apa ada hubungannya dengan Cinta Paramita?”
“Jangan bilang kamu nguping tadi, ya?”
“Dikit, Om. Lagian Om Restu ngomong kenceng banget auto dengerlah.”
“Sebanyak apa pun yang kamu dengar rahasiakan dulu, Wa. Om enggak mau ambil keputusan karena dengar dari satu pihak aja.”
“Siap. Dewa percaya Om Restu pasti ngambil keputusan terbaik.”
“Balik sana ke kelas. Jangan sampai bolos satu mata pelajaran pun atau Om suruh kamu lari keliling lapangan sampai seratus kali.”
“Gempor yang ada, Om.”
Dewa cengengesan lalu pamit ke kelas. Namun, pikirannya tak tenang sejak kedatangan Rendi ke sekolahan. Bukan tidak mungkin pria itu akan berbuat apa pun untuk menyingkirkan segala hal yang bisa menghalangi tujuannya.
“Kenapa gue jadi khawatir begini sama Cinta, ya? Ah, hati bersikaplah biasa aja.”
Di sisi lain, Rendi yang masih kesal segera menghubungi orang kepercayaannya. “Awasi gadis itu. Jika sampai Radit melangkah lebih jauh dengannya segera hubungi aku.”
Telepon terputus dan Rendi meremas kuat ponselnya. “Siapa sebenarnya gadis itu? Bisa-bisanya dia mengubah pikiran Radit hanya dalam waktu yang singkat.”
Mobil yang ditumpangi Rendi terus melaju membelah jalanan sampai tiba di sebuah rumah besar, berpagar kayu nan tinggi dan kokoh serta berdinding putih. Bangunan bergaya Skandinavia itu tampak lengang saat Rendi menjejakkan kakinya di ambang pintu.
“Tuan Rendi, apa kabar?” tanya wanita sepuh itu seraya menunduk.
“Baik, Bi Nani. Papa ke mana?”
“Tuan besar sedang istirahat.”
Rendi langsung menuju salah satu kamar di lantai dua. Dia melempar berkas yang dibawanya ke ranjang lalu berjalan menuju balkon. “Rumah sebesar ini, tapi selalu sepi.”
“Tuan, ini minumannya,” sapa Bi Nani setelah mengetuk pintu.
“Masuk aja, Bi.”
Bi Nani meletakkan nampan berisi teh chamomile serta beberapa potong buah segar ke meja kecil di dekat pintu yang mengarah ke balkon.
“Silakan, Tuan.”
“Bi, apa Radit pernah main ke sini?”
“Semenjak kejadian waktu itu. Den Radit belum pernah ke sini lagi, Tuan.”
Rendi menghela napas berat lalu mengangguk kala Bi Nani meminta izin keluar kamar. Pria itu lantas mengambil minumannya dan duduk di kursi. Rendi menyesap pelan teh hangat itu.
“Entah sampai kapan akan begini terus.”
Pria itu menghabiskan minumannya sebelum beranjak ke ranjang untuk memejamkan mata. Sore harinya, dia terbangun dan gegas membersihkan diri. Rasa lapar yang menyergap membuatnya turun ke meja makan.
“Rendi, kapan kamu datang?” tanya Chandra Karyodiningrat, sang ayah.
“Tadi siang, Pa. Kata Bi Nani Papa lagi tidur makanya aku enggak bangunin.”
“Tumben. Ada urusan apa kamu ke sini?”
“Mau minta kepastian Radit tentang keputusannya setelah lulus.”
“Biarkan dia kuliah di sini, Ren. Biarkan dia temenin Papa di sini.”
“Selama masih ada pengacau itu di rumah ini lebih baik Rendi sama Radit pergi.”
“Rendi, dia itu ipar kamu. Jangan bersikap seperti anak kecil begitu.”
“Dia yang mulai duluan, Pa.”
“Sudah, Ren. Cukup.” Chandra mulai terengah-engah karena menahan amarah yang ada di dada. “Papa enggak mau kita debat kusir tentang masalah ini. Lebih baik kita makan dulu.”
Mereka berdua lantas makan dalam diam. Usai makan, Regina—adik perempuan Rendi—baru datang dan langsung duduk di meja makan.
“Kapan datang, Kak?”
“Tadi siang.”
“Mau nginep?”
Rendi menggeleng. “Habis ini mau ke apartemen. Enak tidur di sana.”
Regina hanya mengangguk lemah lalu meraih sebuah pisang dan memakannya perlahan. Tak lama kemudian deru motor memasuki halaman lalu seraut wajah penuh tawa muncul di ambang pintu.
“Wa, ada Om Rendi, nih.” Regina berkata sambil menghampiri sang anak lalu menggamit lengannya dan mendekati Rendi. “Salim dulu, dong.”
Dewa menuruti perintah sang ibu untuk mencium punggung tangan sang paman takzim. “Apa kabar, Om? Tadi Dewa lihat Om ke sekolahan, ya? Nyariin Raditkah?”
“Ada urusan sedikit sama Restu. Apa kamu tahu di sekolah Radit dekat dengan siapa aja?”
“Ehm, setahu Dewa dia dekat sama kelima teman main basketnya.”
“Bukan, tapi temen cewek.”
“Setahu Dewa Maura yang dekat sama Radit.”
“Bukan. Tadi Restu bilang namanya ... Cinta. Iya, Cinta Paramita. Kamu kenal, Wa?”
“Oh ... ehm, anu ... itu apa, ya? Iya, sebatas kenal aja gitu, Om.”
“Benarkah? Tapi mereka kayak dekat banget. Tolong awasi gadis itu, Om takut dia membawa pengaruh buruk buat Radit.”
“Beres, Om.”
Dewa lantas pamit ke kamar. Rendi pun bersiap hendak kembali ke apartemen kala Ramdan muncul. Mereka berserobok sesaat sebelum akhirnya membuang muka. Rendi buru-buru pamit karena suasana hatinya sedang kacau. Dia tak ingin membuat keributan di rumah yang bisa memicu kambuhnya sakit sang ayah.
“Mas Rendi ngapain ke sini, Ma?” tanya Ramdan sambil berjalan bersisian dengan sang istri menuju kamar.
“Kangenlah sama Papa apalagi emang.”
“Kirain bahas masalah yang lain.”
“Iya, sih. Tadi dia bahas masalah Radit sama temen ceweknya di sekolahan sama Dewa.”
“Anak udah gede masih aja dilarang pacaran. Emang teman ceweknya siapa?”
“Siapa tadi namanya ... ehm, Cinta Paramita kalau enggak salah namanya, Mas.”
Ramdan tergemap. Dia geming sesaat sampai menjatuhkan jas yang hendak digantungnya di hanger. Pria itu menelan ludah dengan susah payah. ‘Cinta Paramita. Cinta Paramita. Cinta Paramita.’
Nama itu terus bergaung di telinga Ramdan. Dia mendadak lemas dan segera menumpukan lengan di pintu lemari. Melihat sikap sang suami, Regina langsung mendekat dan mengusap pelan punggung pria itu.
“Kenapa, Mas? Ada sesuatu yang terjadi?”
“Eng-enggak, Ma. Hanya mendadak pusing dikit. Aku ke kamar mandi dulu, ya.”
Regina mengangguk lantas Ramdan buru-buru menutup pintu kamar mandi. Dia membasuh muka, menatap kaca, dan mencengkeram erat tepi wastafel dengan perasaan berkecamuk.
“Cinta Paramita? Jangan-jangan dia ....”

Komentar Buku (166)

  • avatar
    ghaliya22roro

    sangat bagus

    02/03

      0
  • avatar
    Diana Kholidah

    sippp dah

    18/09/2025

      0
  • avatar
    AniseptiSeptiani

    bgus

    13/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru