logo text

Bab 69 Selanjutnya tidak Peduli Lagi

Jam delapan malam, David pulang ke rumahnya dengan penampilan yang sangat kacau. Pakaiannya terlihat berantakan dengan tiga kancing kemeja sudah dibuka. Jas yang tadi siang dipakai, kini sudah dilepaskan.
Ketika sudah masuk ke dalam rumah, David melihat Elyana menuruni tangga lalu berjalan menghampirinya dengan ceria. Terlihat bahwa wanita itu sadari tadi menunggunya pulang.
"Kau sudah pulang?" sapanya dengan ramah, tidak seacuh biasanya karena sekarang mereka sudah baikan.
"Sini!" Wanita itu segera mengambil jas dari tangan David. Dengan khawatir ia bertanya, "Apa masalah di kantor sudah bisa diselesaikan?"
Mendengar kalimat yang diucapkan olehnya, tiba-tiba langkah David terhenti. Ia menoleh ke samping dengan kening yang mengkerut.
"Besok, aku akan mengantarmu kembali ke kota Lyon. Sekalian mengembalikan mobil Rosyana!" ucap David tanpa menjawab pertanyaan wanita itu.
"Jangan dulu kembali ke rumah ini, sebelum keadaanku stabil!" Tiba-tiba ucapannya terdengar pelan dan semakin pelan hingga Elyana tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Ekspresi wajahnya terlihat sangat buruk.
Detik berikutnya David segera membenarkan emosinya. Ia mengangkat wajah, menegakkan punggung seolah tidak ada yang terjadi pada dirinya.
"Sekarang berkemas lah! Bawa semua barang yang aku belikan waktu itu. Bawa juga semua barang-barangmu yang ada di rumah ini," ucap David dengan lantang, lalu melangkah pelan berjalan masuk ke ruang keluarga.
Elyana mengikutinya dari belakang. Merasa heran dengan apa yang pria itu ucapkan.
"Ada apa?" tanya Elyana dengan heran. "Mengapa sekarang kau ingin mengantarku pulang ke kota Lyon?"
"Bukankah Asisten Edwin yang akan mengembalikan mobil Ros?"
"Mengapa kau ingin mengembalikan aku ke keluargaku, setelah apa yang kau lakukan padaku tadi di kamar mandi?" tanya Elyana masih belum puas.
Sebelum Elyana berbicara lagi, terlihat David menatapnya sambil memintanya untuk pergi.
"Kembalilah dulu ke dalam kamar. Ada sesuatu hal yang ingin aku bicarakan dengan para pelayan! Nanti, kita bicarakan lagi masalah ini."
"Hah???"
Melihat sikap aneh pria itu, Elyana tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Ia segera berbalik badan, kembali berjalan menuju lantai dua sambil membawa jas David di tangannya.
Walau sedikit kecewa dengan sikap David sekarang, namun Elyana mencoba untuk berprasangka baik. Tidak ingin, momen tadi pagi kembali hancur hanya dalam hitungan jam.
Setelah memastikan Elyana kembali ke kamarnya, David segera memanggil para pelayan dan meminta mereka untuk berkumpul.
***
Di meja makan yang sangat besar, semua pelayan sudah duduk melingkar di meja makan bersama dengan sang majikan.
David membuka suara dan mulai mengutarakan maksud dan tujuannya mengumpulkan mereka semua di meja makan ini.
"Siapa diantara kalian yang dengan lancang memberitahu Ayah bahwa Elyana ada di rumah ini?" tanya David dengan tatapan tajam menatap semua orang.
"Bukankah sebelumnya sudah kukatakan, bahwa kalian, harus menjadi buta dan tuli jika ingin bekerja di rumah ini, apalagi menyangkut Elyana? Tidak boleh mengatakan apapun walau itu pada Ayah. Mengapa sekarang kalian mengingkari?" tanya David lagi dengan menaikan nada suaranya. Terlihat bahwa dia sekarang sedang marah.
Semuanya terdiam sambil menunduk. Sesekali saling lirik seolah bertanya tentang apa yang tuan mereka tanyakan.
"Kemarin ... aku sudah mempersilahkan kalian untuk pergi jika kalian sudah bosan bekerja di rumah ini!"
"Tapi sekarang ... malah aku yang disuruh pergi dari perusahaan karena kejujuran kalian mengatakan keberadaan Elyana di rumah ini."
"Maaf, Tuan!" Tiba-tiba Nike menyela ucapan tuannya. "Ta-tadi pagi, sebelum Tuan Besar pergi, beliau mengumpulkan kami dan bertanya tentang Nona! Kami pun diancam akan dipecat jika tidak berkata terus terang tentang Nona Elyana. Jadi ...."
Nike menatap satu persatu para pelayan yang ada di sana, lanjut berkata, "Kami terpaksa mengatakan keberadaan Nona pada Tuan Besar. Jika tidak, kami semua akan dipecat oleh Tuan Besar!"
Itulah alasan Nike menjawab pertanyaan Darwis tentang keberadaan Elyana di rumah ini.
Tapi sekarang, karena alasan itu pula, David dikeluarkan dari perusahaan.
"Lalu ... sekarang, apa kalian tidak takut dipecat juga olehku?" tanya David dengan melipat kedua tangan di depan. Punggungnya bersandar dengan santai sambil menatap mereka satu persatu.
"Ka-kami, kami masih ingin bekerja rumah ini, Tuan!" jawab Nike dengan takut.
Walau ia bukan pelayan paling tua di rumah ini, bukan pula pelayan yang berwenang, namun, ia berani berbicara pada David sekarang karena tadi dirinyalah yang memberitahu Tuan Darwis tentang keberadaan Elyana.
Nike merasa bersalah dengan hal itu. Ia tidak ingin orang lain terlibat dan dipecat gara-gara kesalahannya.
"Siapa yang memberitahu Ayah bahwa Elyana ada di rumah ini?" tanya David dengan keras, membuat tubuh Nike bergetar karena takut.
"Sa-saya, Tuan! Maaf!" jawabnya dengan jujur, membuat para pelayan lain terkejut.
"Baik!" David bangkit berdiri. Ia menatap Nike, lalu berkata, "Kemasi semua barangmu, sekarang. Dan kau tidak perlu lagi bekerja di rumah ini! Upahmu akan segera Edwin siapkan!"
"Ma-maaf, Tuan! Saya sungguh minta maaf! Saya masih ingin bekerja di sini, Tuan! Jangan pecat saya!" lirih Nike dengan tatapan penuh permohonan menatap tuannya.
Tapi, David tidak mempedulikan, ia terus melangkah pergi meninggalkan meja makan tanpa berkata apa-apa lagi.
Para pelayan segera menghampiri Nike, memberi dukungan dan semangat untuknya.
***
Setelah masuk ke dalam kamar, David segera ke kamar mandi tanpa berbicara sedikitpun. Langkahnya sangat cepat tanpa menoleh ke kiri atau pun ke kanan, juga menghiraukan Elyana yang ada di sana.
Padahal, wanita itu sudah menunggunya cukup lama di sofa yang ada di sebelah kanan ruangan itu. Jangankan berbicara, menoleh pun dia tidak.
"Ada masalah apa dengannya? Mengapa sikapnya seperti itu?" gumam Elyana sambil melihat pintu kamar mandi yang sudah tertutup.
"Setelah apa yang dia lakukan padaku tadi pagi, sekarang, sikapnya begitu acuh. Apakah semua pria seperti itu? Setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan, selanjutnya tidak peduli lagi."
"Aisshh, dasar brengsek!" maki Elyana di akhir gumamannya. Ia sangat kesal dengan sikap acuh David padanya malam ini. Walau sudah berusaha berprasangka baik pada pria itu, namun, melihat sikapnya semakin acuh, Elyana pun tidak tahan.
"Tadi siang mengatakan 'Sampai jumpa nanti malam'. Tapi setelah jumpa, sikapnya tidak lebih baik dari seekor anjing!" makinya lagi sambil bangkit berdiri.
Sebelum beranjak pergi, matanya menoleh ke samping, melihat jas milik David yang tadi dibawanya ada di atas sofa, Elyana jadi teringat sesuatu. Ia segera mengambil jas tersebut lalu menatapnya dengan teliti.
Tadi pagi, David memasukkan kunci mobil Rosyana ke dalam saku jas ini, mungkin saja sekarang masih ada.
Ketika tangannya baru masuk ke dalam saku jas, jarinya menyentuh sebuah kunci mobil. Dengan cepat ia mengambil kunci itu lalu melempar jasnya ke sofa.
"Kau bisa bersikap seenaknya setelah mendapatkan apa yang kau inginkan. Aku pun bisa bersikap semauku!" gerutunya dengan menatap tajam pintu kamar mandi itu. Tangannya terkepal erat sambil meremas kunci mobil yang terasa keras.

Komentar Buku (214)

  • avatar
    PucukTeh

    bagus sekali

    02/12

      0
  • avatar
    Nurul Hidayah Binti Azha

    Jalan cerita yang menarik

    06/11

      0
  • avatar
    Cidut Cidut

    bagusss

    10/08/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru