Tiba di kantor perusahaan Demino, David bergegas masuk ke dalam lift, naik ke lantai atas menuju ruang kerjanya. Ketika lift sudah sampai di lantai atas, ia segera keluar, berjalan menuju ruang kerjanya. Langkah demi langka ia berjalan di lantai yang sangat luas, banyak pandangan mata yang menatap aneh ke arahnya. Walau mereka menyapa saat bertemu dengannya, namun tatapan mata mereka terasa janggal. David menghiraukan itu, ia terus berjalan menuju ruang kerjanya tanpa memikirkan apapun. Ketika sudah sampai di depan ruang kerjanya, David segera memegang pegangan pintu lalu mendorongnya dengan kuat. Ketika pintu sudah terbuka, David melihat ayahnya duduk di kursi kebanggaan miliknya sambil melipat kedua tangan di depan, tatapan ayahnya tajam melihat dirinya yang baru masuk. "Bagus ... Allan David Ivander!" ucap Darwis dengan penuh cibiran ketika melihat putranya ada di depan mata. Darwis segera membuyarkan lipatan tangannya, lalu bangkit berdiri, berjalan menghampiri David sambil berbicara, "Sudah jam berapa ini, kau baru datang? Mengapa tidak sekalian saja mengundurkan diri dari perusahaan ini! Tidak ada gunanya kau menjadi pemimpin jika kerjamu hanya libur dan libur saja!" Ucapannya terdengar sangat kejam, membuat David terkejut. "Ayah!" "Besok, Danial akan kembali. Dia yang akan menggantikan posisimu di kantor!" potongnya, tidak membiarkan putranya berbicara. Darwis berdiri di depan David, menatap putranya dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Jadi sekarang, kemas semua barang-barangmu. Dan besok, kau tidak perlu lagi datang ke kantor." "Apa saat ini Ayah sedang mengusirku?" "Hah, mengusir?" cibir Darwis masih dengan menatap putranya. "Aku bukan sedang mengusirmu, tapi sedang memecatmu, karena kau ... tidak becus dalam bekerja, dan tidak becus dalam memimpin perusahaan ini." "Apa kau tahu, masalah apa yang sedang kita hadapi sekarang?" tanya Darwis dengan sinis. "Hah, bahkan, seorang pemimpinnya saja tidak tahu, ada masalah besar apa di perusahaan ini." "Sudahlah! Biarkan Danial yang membereskan masalah ini. Kemasi saja semua barangmu dan pergilah dari sini!" Darwis mengusirnya. Ia masih teramat kesal dengan tingkah putranya yang masih berhubungan dengan pelayan itu. Bahkan ... ancamannya tadi pagi, tidak dipedulikannya. Jadi sekarang, Darwis hanya menjalankan ancaman yang sudah diucapkannya pada David. "Ayah! Sebenarnya ada apa, ini, hingga kau mengusirku?" tanya David masih belum mengerti. "Apa selama ini aku begitu buruk, hingga tidak bisa memajukan perusahaan ini?" "Selama aku memimpin perusahaan ini, sudah berapa kasus yang aku tangani? Berapa puluh persen saham yang naik hingga perusahaan ini menjadi perusahaan terbesar di negeri ini? Dan sekarang, hanya satu masalah saja, Ayah tega membuangku!" ucapnya lagi, tidak terima. Ia menatap tajam ke arah ayahnya, lanjut berkata, "Apa demi anak haram itu, Ayah tega menendangku dari perusahaan, hah?" "Jaga bicaramu!" teriak Darwis dengan mengangkat satu tangan. Detik berikutnya, tangan besar itu melayang dan mendarat di wajah putranya hingga David hampir tersungkur ke lantai. Plak! "Semakin kau bergaul dengan orang miskin itu, semakin kau berani kepada ayahmu sendiri!" sergah Darwis dengan napas terengah karena marah. "Walau Danial terlahir bukan dari pernikahan resmi, namun, setelah ibumu meninggal, aku segera menikahi ibunya. Dan istri keduaku itu ... sangat menyayangimu melebihi anak kandungnya sendiri. Apa kau lupa dengan hal itu?" Darwis mengingatkan David tentang kebaikan istri keduanya. Berharap, putra sulungnya itu mau menerima Danial dan tidak lagi mengatainya "Anak haram". Jika sampai didengar oleh orang luar bahwa pemimpin baru perusahaan Demino adalah seorang anak di luar pernikahan, hancurlah nama baik Darwis dan nama baik perusahaan Demino. "Lantas sekarang, apa alasan Ayah hingga tega mengusirku dari perusahaan?" tanya David dengan menahan sakit di wajahnya. "Tidak mungkin karena sekarang aku datang terlambat, kan?" Pasti ada hal lain yang membuat ayahnya seperti ini. Tidak mungkin karena hal sepele. "Itu karena ...." "Sudahlah! Kemasi saja semua barangmu." Darwis enggan untuk mengatakan alasannya. "Besok, Danial akan menggantikanmu memimpin perusahaan ini. Berita ini sudah aku umumkan pada semua karyawan." "Apa???" Tanpa menunggu reaksi lain dari David, Darwis segera pergi meninggalkan ruangan itu. Meninggalkan putranya yang masih kebingungan di sana. David hanya terdiam, mematung di sana melihat ayahnya yang mulai menghilang di balik pintu. Ia terkejut dengan apa yang ayahnya katakan barusan. 'Apa Ayah sungguh memecatku?' David segera menghubungi asisten pribadinya, meminta Edwin untuk segera datang dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Sepuluh menit kemudian, Edwin datang dengan membawa beberapa berkas yang sudah dimasukan ke dalam kota berwarna hitam. Ia menyimpan itu di atas meja kerja David. "Ini Tuan! Bawalah! Nanti, Anda akan memerlukannya," ucap Edwin sambil mendorong kota itu di meja David. David hanya menatap sekilas kotak itu, lalu bangkit dari duduknya. Ia berdiri di depan Edwin, berbicara sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana, "Sebenarnya, ada masalah apa di kantor, hingga ayahku turun tangan dan memanggil Danial kemari?" "Dan kau ... mengapa tidak memberitahuku lewat telepon—ada masalah serius di kantor?" tambah David dengan sedikit mengalahkan. Membuat Edwin cukup tertekan. "Maaf Tuan, kami pun mendapat berita ini dari Tuan Besar. Beliau mengatakan, bahwa ada beberapa perusahaan yang menghubungi beliau dan meminta klarifikasi tentang beberapa hal, termasuk kasus yang menyeret pembalap kita yang saat ini tersandung masalah video porno." "Hah .... Pembalap? Video porno? Apa maksudmu?" David sama sekali tidak mengerti. "Perusahaan kita menjadi sponsor terbesar di ajang balap mobil tahun ini, dan kemarin, salah satu pembalap kita terjerat kasus video porno yang membuat saham perusahaan anjlok. Dan banyak yang membatalkan kerjasama dengan kita. Itulah salah satu masalah yang sedang kita hadapi, Tuan!" Edwin menjelaskan secara singkat apa yang sebenarnya terjadi. Berharap tuannya mengerti. "Selain itu, kerugian kita, apa lagi?" tanya David terlihat cemas mendengar hal itu. "Banyak Tuan, termasuk dibatalkannya peluncuran mobil terbaru kita di bulan depan. Itu sangat merugikan kita dan nama baik perusahaan Demino!" jelas Edwin, membuat David terdiam. "Tapi, Tuan ... ayah Anda sudah mengumumkan bahwa besok Tuan Muda Danial akan menggantikan posisi Anda di kantor ini. Jadi, menurut saya, Anda tidak perlu lagi memikirkan tentang masalah di perusahaan ini," ucap Edwin sambil menyentuh kotak besar di depannya. "Dan ini, bawalah ini ke rumah, Tuan! Simpan baik-baik. Nanti, Anda akan sangat membutuhkannya." David kembali menatap kotak itu, lalu menatap Edwin. "Selain masalah itu, apa lagi yang membuat ayahku marah?" tanya David tanpa mempedulikan kotak itu. Ia yakin, ada hal lain lagi yang memuat Darwis marah kepada dirinya. "Itu .. itu, karena ...." Edwin ragu untuk menjawabnya. Karena hal ini tidak ada sangkut-paut dengan dirinya. "Karena apa? Cepat katakan!" desak David dengan sedikit memaksa. Ia sudah tidak sabar ingin mendengar alasan ayahnya mengusir dirinya dari perusahaan. Darwis ingin membuatnya jatuh miskin! "Itu karena, Tuan Besar sudah tahu bahwa Nona Elyana ada di rumah." "Apa?" David terkejut mendengarnya. "Dari mana dia tahu tentang keberadaan Elyana? Apa kau yang memberitahu Ayah tentang keberadaannya?" "Tentu saja bukan saya, Tuan!" jawab Edwin dengan segera. Ia takut tuannya akan salah paham. "Pelayan di rumah Anda lah yang memberitahu tuan Besar, Tuan!" "Hah ... pelayan? Apa Nike yang mengatakan hal itu pada Ayah?" tebak David dengan mengerutkan kening. "Maaf, Tuan! Saya kurang tahu tentang hal itu!" Edwin menunduk, sama sekali tidak ingin ikut campur dalam masalah pribadi Tuannya. "Baiklah!" David pun tidak bertanya lagi. "Tolong bawa semua barangku ke mobil." David menunjuk dua kotak besar di lantai, lalu berjalan keluar dari ruangan itu. 'Bagus, kalian para pelayan di rumah! Kemarin, aku mengizinkan kalian untuk pergi dari rumahku jika kalian sudah bosan bekerja, tapi sekarang, kalian malah membuatku keluar dari perusahaan ini.' "Awas saja, nanti!"
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus sekali
02/12
0Jalan cerita yang menarik
06/11
0bagusss
10/08/2025
0Lihat Semua