Bab 58 Lima Menit Saja

"Di perut ini sekarang ada bayi kecil," lirihnya dengan pelan. Mau menyesal pun sudah tidak ada gunanya lagi. Dirinya harus menerima bayi ini dengan hati gembira, tidak boleh menyesal ataupun marah.
Ketika Elyana sedang melamun, terdengar suara ketukan pintu diiringi suara Arani, "El, cepatlah, Daniel sudah menunggumu di bawah."
"Eh, ya!" Elyana menjawab panggilan Arani.
Ia segera bergegas pergi keluar kamar, memasukkan kartu pipih itu ke dalam tasnya.
Setelah berpamitan pada Arani, Arvan dan Elyana segera turun ke bawah untuk menemui Daniel di pintu masuk gedung apartemen.
Ketika Elyana berjalan menghampiri Daniel yang saat ini sedang berdiri sambil bersandar di pintu mobil, tiba-tiba langkahnya terhenti.
Ia mendengar Daniel sedang berbicara dengan seseorang di telepon. "Ya, sekarang, penerbangan jam satu siang. Masih ada waktu!"
Teg!
Tiba-tiba Elyana merasakan perasaan tidak enak. 'Apa Daniel yang menjadi mata-mata di sekitarku?'
Tadi, ia mendengar Daniel mengatakan jadwal penerbangannya pada orang yang ada di seberang telepon.
'Siapa yang sedang berbicara dengan Daniel di telepon?'
Elyana akan sangat kecewa jika benar Daniel yang menjadi mata-mata di sekitarnya, selalu memberitahu apa yang dirinya lakukan pada orang lain.
"Eh, El!" Daniel melihat Elyana datang. Ia segera menutup teleponnya.
"Sudah siap? Ayo!" ucapnya pada Elyana. Lalu ia membuka pintu mobil untuk wanita itu.
Tanpa berkata apapun, Elyana segera masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi samping pengemudi, diikuti Arvan dari belakang, masuk juga ke dalam mobil dan duduk di kursi baris kedua.
Setelah semuanya siap, Daniel segera melajukan mobilnya menuju bandara kota itu.
Daniel baru melajukan mobilnya beberapa menit, tiba-tiba Elyana meminta untuk diturunkan di depan sebuah rumah makan yang menyajikan hidangan laut.
"Berhenti di depan saja!"
Mendengar permintaan Elyana, Daniel segera menoleh ke samping, menatap wanita itu dengan heran, tapi segera menepikan mobilnya dengan pelan.
"Kenapa? Bukankah kita akan pergi ke bandara?" tanyanya dengan heran.
"Tidak! Aku ingin makan seafood dulu. Nanti saja pesan tiket lagi penerbangan sore hari," jawab Elyana dengan datar. Sama sekali tidak ada ekspresi apapun.
Daniel merasa heran dengan perubahan sikap wanita ini. 'Ada apa dengan Elyana?'
Apalagi ketika mendengar kata "Seafood", Daniel semakin heran.
"Bukankah kau punya alergi parah jika makan makanan laut? Kau bisa masuk rumah sakit lagi, El!" ucap Daniel penuh kekhawatiran.
Elyana membuka sabuk pengamannya.
"Tidak, alergiku sudah sembuh karena waktu itu aku makan banyak sampai masuk rumah sakit. Sekarang, aku sangat menyukai hidangan laut," jawabnya dengan jujur. Lalu ia membuka pintu mobil dan turun dari sana.
"Ayo, Kak!" ajaknya pada Arvan.
"Daniel, terima kasih sudah mengantarku. Sekarang, kau pulanglah." Elyana memintanya untuk pulang. dia tidak ingin, pria itu ikut makan dan melapor keberadaannya pada orang lain.
'Lebih baik, sekarang, suruh Daniel pergi saja.'
Setelah Arvan ikut turun, Daniel tidak punya pilihan lain, ia segera berpamitan, pergi meninggalkan Elyana dan Arvan di sana.
Setelah Daniel pergi, Elyana merasa lega.
"Ayo!" Elyana menarik tangan Arvan. Tapi bukan mengajaknya untuk masuk ke rumah makan itu, Elyana menarik pria itu untuk menghentikan taksi di jalan.
"Eh, kita mau pergi ke mana lagi? bukankah kau ingin makan itu?" Arvan menunjuk rumah makan yang ada di belakangnya. Tidak mengerti dengan tindakan Elyana sekarang.
"Tidak jadi, aku tidak lapar!" jawab Elyana dengan santai. "Sekarang, kita pergi ke bandara, jika membuang waktu lagi, kita bisa terlambat," ucapnya. Lalu Elyana menghentikan taksi.
Walau bingung dengan tindakan Elyana, tapi Arvan mengikutnya masuk ke dalam taksi. Mereka segera pergi ke bandara dan tetap memakai tiket itu untuk pulang ke kota Lyon dengan jadwal penerbangan jam satu siang.
***
Di kantor perusahaan Demino, semua orang duduk dengan tegang di sebuah ruangan yang sangat luas, sambil mendengarkan sang pemimpin rapat berbicara.
"Saya tegaskan sekali lagi, jika masih ada yang tidak serius menangani proyek ini, sebaiknya segera mengundurkan diri, jika tidak ... saya yang akan mengeluarkannya sendiri!"
"Paham?" terikanya dengan keras, membuat semua orang yang ada di sana merasa terkejut.
"Baik! Kami mengerti!" jawab kompak semua orang.
"Jika minggu depan masih belum ada perkembangan yang bagus, saya akan mengganti semua anggota untuk menangani ini. Siap tidak siap, kalian harus bersedia dikeluarkan dari proyek."
"Ba-baik, kami mengerti!" jawab mereka lagi dengan tegang.
"Bagus!"
David segera melihat jam di dinding, ia terlihat gelisah.
"Untuk pembahasan selanjutnya, saya serahkan pada Asisten Edwin." Lalu David berdiri, merapikan setelan jasnya, dan bersiap untuk pergi.
Semua orang di sana merasa lega, melihat David akan segera meninggalkan ruang rapat ini. Mereka terlihat ramah dan mengangguk pada atasannya itu.
Asisten Edwin segera duduk di samping kursi yang tadi diduduki oleh David. Ia mulai melanjutkan rapatnya.
David keluar dari ruang rapat itu dengan cepat. Ia tergesa-gesa masuk ke dalam lift, dan tidak sabar menekan tombol angka satu untuk segera turun ke lantai dasar.
David melihat ponselnya, ada beberapa panggilan tidak terjawab dari Daniel, dan satu pesan singkat.
Ia membuka pesan itu dan segera membacanya, ["Elyana mengundur kepulangannya. Tidak jadi siang ini. Sekarang, dia sedang makan seafood di rumah makan yang tidak jauh dari apartemen."]
"Hah???" David tersenyum penuh cibiran. "Makan seafood?"
Ia sama sekali tidak percaya dengan hal itu. Karena, yang ia tahu, Elyana mual dan muntah ketika makan seafood di rumahnya. Sekarang pun sama, Elyana pasti tidak sanggup memakan makanan itu, atau makanan lain. Bukan karena alerginya kambuh lagi, tapi karena ....
'Hal lain!'
David segera keluar dari dalam lift, setengah berlari menuju tempat parkir. Ia masuk ke dalam mobil dan segera pergi.
***
Pukul 12:59, Elyana dan Arvan masih duduk di kursi tunggu. Tidak lama, terdengar suara panggilan untuk penumpang penerbangan tujuan kota Lyon.
"Eh, ayo!" Tiba-tiba Elyana bangkit berdiri. "Aku tidak sabar ingin segera duduk di kursi pesawat dan tidur," ucapnya pada Arvan.
Membuat pria itu tersenyum dan segera mengikuti langkah Elyana.
Arvan merangkul bahu wanita itu sambil bertanya, "Kau berbohong, ya? Semalam tidak tidur dengan nyenyak, makanya masih ngantuk."
"Hem!" Elyana segera menoleh ke samping, mendongak menatap pria tinggi itu.
"Tidak, semalam tidurku nyenyak, kok! Hanya saja ... aku—" Belum sempat Elyana menyelesaikan ucapannya, terdengar suara seseorang memanggil namanya dari belakang.
"Elyana!"
Wanita itu segera menoleh ke belakang, melihat siapa yang memanggil namanya.
Di sana, terlihat seorang pria membungkuk dengan napas terengah karena lelah, kedua tangan bertumpu pada lututnya. Terlihat bahwa pria itu berlari dengan sangat kencang untuk mengejar Elyana.
"David??? Sedang apa kau di sini?" tanyanya dengan heran. Elyana memperhatikan pria itu ... sungguh ada di depannya.
Tidak mungkin Daniel memberitahu pria ini bahwa dirinya sekarang ada di bandara, kan?
Setelah napasnya kembali teratur, David menegakkan badannya, berkata pada Elyana, "Jangan dulu pergi, beri aku waktu lima menit saja!"

Komentar Buku (214)

  • avatar
    PucukTeh

    bagus sekali

    02/12

      0
  • avatar
    Nurul Hidayah Binti Azha

    Jalan cerita yang menarik

    06/11

      0
  • avatar
    Cidut Cidut

    bagusss

    10/08/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru