Malam hari, suasana di Champ de Mars di tepi Sungai Seine—Paris—sangat ramai. Banyak orang yang datang hanya untuk melihat indahnya menara Eiffel di malam hari. Begitu juga dengan Arvan, Arani dan Daniel. Mereka bertiga datang untuk menikmati malam sambil melihat menara yang menjadi ikon global Prancis dan salah satu struktur terkenal di duna. "Bagaimana dengan El? Apa dia sudah pulang?" tanya Arvan tiba-tiba. Ia duduk di meja restoran sambil menatap layar ponselnya, melihat dirinya sudah tidak bisa menghubungi Elyana karena diblokir. Arani dan Daniel yang sedang duduk di depannya, hanya menatap Arvan dengan heran. "Mengapa malah bertanya pada kami?" tanya Arani sambil memasukkan sendok berisi makanan ke dalam mulut. Tidak terlalu perduli dengan ucapan pria itu. "Telepon saja Elyana, tanyakan, dia sudah pulang atau belum?" "Tidak bisa!" jawab Arvan terlihat bingung. "El memblokir nomorku." Uhuk! Uhuk! Uhuk! Tiba-tiba Arani tersedak oleh makanannya sendiri. "Apa kau bilang? Elyana memblokir nomormu?" Arani mendongak, menatap pria itu dengan tidak yakin. "Itu tidak mungkin! Elyana bukan orang semenyebalkan itu hingga memblokir nomor teman sendiri tanpa alasan." "Sungguh!" Arvan menunjukkan ponselnya pada Arani. "Lihatlah ini, El telah memblokir nomorku dari sore." "Hah?" Arani dan Daniel saling tatap dengan ekspresi bingung. Tidak mengerti mengapa Elyana sampai memblokir nomor Arvan. "Baiklah! Coba, aku yang menelepon El. Sudah pulang apa belum?" Daniel segera mengambil ponselnya, lalu mencari kontrak Elyana. Ia segera meneleponnya. Setelah beberapa saat tidak ada jawaban, barulah terdengar Elyana menyapa dari seberang telepon. "Halo! El, apa kau sudah pulang?" tanya Daniel setelah mendengan sapaan Elyana. "...." "Syukulah, kalau sudah! O, iya, kami sedang melihat menara Eiffel. Apa kau mau menyusul?" "...." "Oh, baiklah! Istirahatlah jika kau lelah. Sebentar lagi, kami akan pulang. Sekarang kami sedang makan dulu. Mau dibawakan makanan, tidak?" "...." "Eemmm, baiklah! Sampai jumpa di rumah." Klik! Sambungan telepon ditutup oleh Elyana. Daniel melihat layar ponsel yang sudah gelap, lalu memasukkan ponselnya kembali ke dalam kantong celana. "Ayo, makanlah!" ucap Daniel ada Arvan yang masih diam sambil memegang ponsel. "Elyana sudah ada di rumah. Kau 'tak perlu khawatir lagi." Arvan hanya tersenyum sedikit, mulai menyantap makanannya. *** Pagi hari, Elyana terbangun karena suara nada dering dari ponselnya. Ia segera mengambil ponsel dari bawah bantal, lalu melihatnya. "David??? Untuk apa dia menghubungiku sepagi ini?" Walau merasa heran, tapi Elyana segera menekan tombol hijau. "Halo!" sapanya dengan mata yang setengah terpejam. "Datanglah nanti siang ke kantorku! Ada sesuatu hal yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap David dari seberang telepon. Itu membuat Elyana terkejut. "Untuk apa aku harus datang ke kantormu? Jika ada sesuatu yang ingin kau bicarakan, katakan saja sekarang!" "Tidak bisa!" tolak David dengan cepat. "Sekarang, aku harus segera berangkat ke kantor, ada rapat penting yang tidak bisa ditunda." "Emh, ya sudah kalau begitu! Sana pergi ke kantor, tidak usah berbicara denganku. Nanti siang, aku pun tidak bersedia datang ke kantormu, karena harus kembali ke kota Lyon," balas Elyana dengan sedikit emosi. Entah mengapa, akhir-akhir ini, emosinya sulit untuk dikendalikan. Ia mudah marah dan mudah tersinggung. "Sebelum pergi, datang dulu ke kantorku. Aku tunggu!" Klik! Sambungan terputus. Elyana menatap layar ponselnya yang mulai menggelap. Merasa kesal dengan tindakan David yang menutup teleponnya tiba-tiba. "Aissshhh, sial!" maki Elyana sambil melempar ponselnya ke kasur. "Siapa juga yang mau datang ke kantormu? Jika dia yang butuh, mengapa tidak dia saja yang datang kemari?" Elyana segera bangun, menyibak selimut, lalu turun dari atas tempat tidur. Ia beranjak pergi keluar dari kamar dan ingin mengambil air minum di dapur. Di ruang televisi, sudah ada Arvan dengan duduk sofa dengan pakaian yang sudah rapi. "Kak Arvan? Kau sudah bangun?" tanya Elyana ketika melihat sosok Arvan duduk di sofa. Ia berjalan menghampirinya. "Hemh!" Arvan mengangguk. "Bagaimana semalam, apa tidurmu nyenyak?" tanya Arvan. "Yah, lumayan nyenyak!" jawab Elyana dengan ragu. Pasalnya, semalam ia tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan banyak hal, termasuk memikirkan David dan Felix yang menguji air keran dicampur urinnya. 'Bagaimana dengan hasilnya?' "Eh, ya! Maaf, semalam aku ketiduran, jadi tidak menunggu kalian pulang," ucap Elyana mengalihkan pembicaraan. "Bagaimana semalam? Apa menyenangkan?" "Tidak!" jawab Arvan dengan cepat. "Sama sekali tidak menyenangkan." "Hah??? Kenapa?" "Karena ... aku ingin melihat indahnya menara Eiffel berdua denganmu. Bukan dengan Daniel, ataupun Arani!" "...." Elyana seketika terdiam. Tidak lagi menjawab ucapan Arvan. Dirinya merasa canggung mendengar ucapan manis dan lembut pria itu. Ia tidak ingin memberikan harapan apapun pada Arvan, karena ... kondisi dulu dan sekarang sudah berbeda. Dulu, dirinya masih anak gadis yang menjalin hubungan spesial dengan Arvan. Tapi sekarang ... Elyana seorang janda yang sedang mengandung seorang anak. Sangat tidak pantas jika harus kembali melanjutkan hubungannya dengan Ervan. Elyana segera membenarkan emosinya. "Maaf, aku sedikit haus." Ia bangkit berdiri. "Aku tinggal dulu, ya!" Lalu ia beranjak pergi ke dapur, meninggalkan Arvan sendirian di sana. Tapi, baru empat langkah Elyana berjalan, tiba-tiba Arvan mengikutinya. Ia meraih tangan Elyana dari belakang, dan menghentikan langkah wanita itu. "Mengapa kau memblokir nomorku?" Tiba-tiba Arvan mengatakannya. "Apa karena tidak ingin diganggu olehku, sehingga kau memasukkan aku ke dalam daftar blokiran?" "Hah? Siapa yang memblokir nomormu?" Tiba-tiba Elyana menghentikan langkahnya, berbalik badan dan berdiri di depan Arvan. "Aku sama sekali tidak memblokir nomor siapapun." Arvan menunduk, menatap mata Elyana dengan berbagai perasaan. "Kau sudah memblokir nomorku!" "Tidak! Aku tidak memblokir nomormu!" kilah Elyana dengan sangat yakin. "Aku tidak pernah memblokir nomor siapapun." Tanpa melepaskan tangan Elyana, Arvan mengambil ponselnya dari saku celana. Ia menunjukkan kontak Elyana yang sudah tidak bisa lagi ia panggil dan chat. "Ini!" Arvan menunjukkannya pada Elyana. "Kau sudah memblokir nomorku!" "Hah??? Ba-bagaimana bisa? A-aku ... tidak!" Elyana menggelengkan kepala. Sama sekali tidak melakukan hal itu. 'Ulah siapa ini?' Elyana segera melepaskan diri dari genggaman tangan Arvan. "Baiklah, aku ambil ponselku dulu. Akan aku keluarkan dari daftar blokiran." Lalu ia kembali ke dalam kamar sambil menundukkan kepala, mulai menebak-nebak, siap yang membuka ponselnya dan memblokir nomor Arvan. *** Jam dua belas siang, Elyana dan Arvan bersiap untuk pergi ke bandara. Mereka akan pulang dengan penerbangan jam satu siang. Di dalam kamar, Elyana terkejut ketika melihat benda pipih berwarna hitam yang ada di dalam laci nakas samping tempat tidurnya. Itu adalah kartu bank milik David yang waktu itu ia cari. "Ternyata kau ada di sini?" Elyana segera mengambil kartu kredit tanpa batas pemakaian itu. Ia mengangkatnya dan menatapnya dengan tajam. "Gara-gara kau, aku harus terlibat lagi dengan pemilikmu! Aku harus mengikuti David lagi ke kota Paris dan ...." Tiba-tiba ucapannya terhenti, Elyana mengelus perutnya dengan lembut. Jika waktu itu kartu ini ada di tangannya dan segera dikembalikan pada David, mungkin ... bayi kecil di dalam perutnya ini tidak akan ada.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus sekali
02/12
0Jalan cerita yang menarik
06/11
0bagusss
10/08/2025
0Lihat Semua