logo text

Bab 52 Pria Itu Selalu Ada

Di bandara kota Paris, Elyana dan Arvan berjalan menuju pintu keluar. Di sana, sudah ada Daniel membawa mobil untuk menjemput mereka berdua.
"Elyana ... Arvan! Aku di sini," panggil Daniel dari kejauhan ketika melihat kedua temannya berjalan bersama sambil menatap kiri dan kanan seolah mencari sesuatu.
Daniel segera berlari, menghampiri mereka berdua.
"Daniel!" Elyana melihat pria itu mendekat. Lalu mereka saling menyapa.
"Arvan, kau sudah kembali?" tanya Daniel, basa-basi. "Lebih dari tiga tahun kau tidak pulang. Aku kira, selamanya kau tidak akan kembali, dan akan menetap di luar negeri."
"Ah, tidak! Aku ingin memiliki rumah dan hidup bersama anak dan istri di negara ini," jawab Arvan sambil tersenyum. Matanya menatap Elyana dengan lembut. Seolah sedang menatap masa depannya.
Melihat jawaban dan tatapan Arvan, Daniel segera mengalihkan pembicaraan.
"Baiklah! Sekarang ayo, kita berangkat. Arani sudah menunggu kita di restoran," ucap Daniel sambil menarik tangan Elyana, berjalan menuju mobilnya.
Arvan mengikutinya dari belakang.
Sambil berjalan, satu tangan Daniel membuka ponsel, terlihat ia mengetik sesuatu, lalu mengirim sebuah pesan pada seseorang. Tangan satunya masih memegang tangan Elyana, seolah tidak ingin Arvan terlalu dekat dengan Elyana.
"Kau mengirim pesan pada siapa?" Elyana memiringkan badan, ingin melihat Daniel mengirim pesan pada seseorang.
'Apa sekarang dia sudah memiliki kekasih?'
Dengan cepat Daniel memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Tertawa bodoh untuk menutupi kebohongannya.
"Hehe, aku mengirim pesan pada seseorang!"
"Oh!" Elyana percaya dengan hal itu. Ia tidak bertanya lagi, terus berjalan mengikuti tarikan dari Daniel.
Setelah ketiganya masuk ke dalam mobil, Daniel membawa Elyana dan Arvan ke sebuah restoran yang ada di pusat kota.
Setelah tiba di sana, Daniel memimpin berjalan di depan, masuk ke dalam restoran menuju sebuah meja yang sudah dia pesan sebelumnya. Bahkan, sekarang sudah ada Arani duduk di sana.
Ketika Elyana berjalan menghampiri meja Arani, tiba-tiba langkanya terhenti, matanya menatap tajam pada salah satu meja yang tidak jauh dari meja mereka.
Di meja yang tidak jauh dari meja Arani, ada dua sosok pria yang Elyana kenal. Walau salah satu pria itu memunggungi dirinya, namun Elyana masih sangat jelas mengenali punggung yang memakai setelan jas itu. Leher panjang dan putihnya, dengan potongan rambut yang terlihat sangat rapi, Elyana jelas sangat mengenalnya.
Tiba-tiba ia merasakan jantungnya berdetak kencang, tangannya terkepal erat, dengan mata yang masih melihat sosok itu.
Ia bersiap berbalik badan.
Sebelum Elyana berbalik dan berjalan kembali menuju pintu keluar, terdengar Arani berteriak sambil memanggilnya, "Elyana! Aku di sini!"
Ia melambaikan tangan pada Elyana, mengisyaratkan dia agar segera kemari.
Melihat perubahan sikap Elyana yang tiba-tiba, Arvan segera menahan tangannya.
"Mau pergi ke mana?" tanya Arvan dengan lembut. Tangannya masih menggenggam pergelangan tangan Elyana.
"Arani sudah menunggu kita. Ayo!" ajaknya. Lalu ia menarik Elyana agar berjalan menuju meja Arani.
Dengan enggak, Elyana segera mengikuti arah tarikan Arvan, berjalan menuju meja mereka.
Dari meja dua orang itu, salah satunya menoleh ke belakang dan melihat Elyana bersama Arvan saling berpegangan. Tiba-tiba pandangan matanya menggelap, menatap wanita itu dengan tajam.
Terdengar Arani menyapa Elyana dengan bahagia, "Hai, El, aku sangat merindukanmu! Bagaimana kabarmu sekarang?"
Arani memeluk Elyana, menepuk punggungnya dengan sedikit kesal.
"Aku baik!"
"Dua bulan berada di Swiss, aku kira selamanya kau tidak akan kembali. Sungguh tega!"
"Mana mungkin? Aku pasti kembali, tapi nanti ... bersama anak dan cucu! Haha!" jawab Elyana dengan sedikit bercanda.
Lalu mereka duduk.
"Aissshh, dasar wanita kejam!"
"O, iya! Kak Arvan, apa kabar?" Tiba-tiba pandangan Arani beralih pada pria itu. "Sudah lama kita tidak bertemu. Aku kira, kau juga selamanya akan tinggal di Itali, dan tidak akan menemui kami lagi di sini."
Itu membuat Arvan tersenyum kecil.
"Mana mungkin! Aku pasti kembali, apalagi ada El di negeri ini. Aku tidak tahan jika tidak bertemu dengan El lagi," jawab Arvan dengan sedikit bercanda.
Itu membuat seseorang yang sedang duduk di meja samping segera menoleh ke arah mereka dan menatap Arvan dengan penuh permushan.
"Sudah-sudah!" Daniel segera memotong pembicaraan mereka. "Cepat, pesan makanan. Elyana pasti sangat lapar," candanya tiba-tiba.
"Lihatlah, dua bulan berada di luar negeri, badannya semakin kurus dan kering. Mungkin sebentar lagi dia akan kekurangan gizi," canda Daniel sambil menatap Elyana dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Arvan menatap Elyana. Merasa tidak tega dengan kondisi Elyana sekarang. "Apa kau sakit?"
"Hem, tidak!" jawab Elyana. "Aku tidak sakit, hanya sedang diet saja. Hehe!"
"Di Swiss, wanita kurus itu cantik!" tambah Elyana dengan asal. Tidak ingin dikira sakit karena tubuhnya kini semakin kurus.
"Oh, jadi ... demi mendapatkan hati pria di Swiss, kau rela diet dan terlihat cantik di depan mereka, ya?" canda Arani dengan mata memicing dan senyum penuh godaan. Membuat Elyana membulatkan mata untuk memperingatkannya.
Arvan terlihat kecewa dengan hal itu.
"El, apakah aku harus pindah ke Swiss agar kita—"
"Pelayan!" teriak Daniel membuat ucapan Arvan tertelan kembali ke dalam perut. "Kami pesan ini, ini, dan ini. Masing-masing empat, ya!"
Pelayan restoran segera mencatat pesanan Daniel, lalu pamit dan pergi ke belakang. Itu membuat Arvan terdiam, tidak berkata apa-apa lagi.
Sambil menunggu makanan disajikan, Daniel terus berbicara pada Arvan, tidak membiarkan pria itu berbincang dengan Elyana. Hingga semua makanan sudah tersaji di atas meja barulah Daniel berhenti.
"Ayo, makan! Semua ini, Elyana yang traktir! Jika tidak segera dihabiskan, El pasti kecewa," canda Daniel sambil menarik piring berisi hidangan makanan. Tanpa rasa malu, ia segera menyantapnya. Menghiraukan tatapan tajam dari Elyana pada dirinya.
"Ayo, El! Makan yang banyak. Tidak usah diet-diet. Kau lebih cantik jika berisi," ucap Arvan sambil memberikan piring makanan pada Elyana.
"Terima kasih!" Elyana mengambilnya. "Kau juga, makanlah!" ucapnya pada Arvan.
"Heemm!" Arvan mengangguk.
Mereka segera makan.
Dari meja samping, tersebar hawa dingin yang menusuk. Matanya menatap tajam pada meja Elyana dan Arvan. Setelah beberapa saat, tiba-tiba pria itu bangkit berdiri.
Berkata pada temannya, "Aku pergi ke toilet dulu!"
Lalu pria itu pergi. Teman yang masih duduk di meja, terus memperhatikan setiap gerak-gerik Elyana.
"Kau harus makan yang banyak. Tidak usah diet-diet, nanti malah sakit," ucap Arvan ketika melihat Elyana terus mengaduk makanannya.
"Iya, Kak!" Elyana mulai memasukkan satu suapan makanan ke dalam mulut, mengunyahnya dengan pelan lalu menelannya.
Baru tiga suap, Elyana segera bangkit berdiri. Ia pamit untuk pergi ke belakang.
"Kenapa, El?" tanya Arani dengan heran. Ia melihat Elyana tidak sabar ingin segera pergi ke toilet.
Sebelum Elyana benar-benar pergi, terdengar ia menjawab, "Aku sakit perut, mau buah air dulu, ya!"
Lalu ia berlari pergi ke belakang sambil menutup mulut dengan tangan, dan memegang perutnya.
Gerakan itu membuat pria yang duduk di meja samping terus menebak-nebak apa yang terjadi pada Elyana.
Di dalam toilet wanita, Elyana memuntahkan semua makanan yang baru masuk ke dalam perut. Keringat sangat banyak di keningnya. Kakinya lemas dan tidak ada tenaga untuk berdiri tegak.
Bisa dibilang, sudah hampir satu minggu ini dirinya tidak makan, hanya minum air putih dan susu yang terkadang kembali ia muntahkan. Sekarang, tubuhnya lemas dan rasanya ingin pingsan.
Elyana mencuci tangan di wastafel, menyeka mulutnya, lalu merapikan pakaian. Setelah selesai, ia berjalan menuju pintu keluar.
Langkah demi langkah ia berjalan rasanya sangat berat. Kepalanya terasa pusing, dan hampir hilang keseimbangan.
Ketika tubuhnya terhuyung dan hampir membentur tembok, tiba-tiba dari belakang ada seseorang yang menahannya.
"Bisa jalan yang benar, tidak?" Suara itu terdengar dingin dan tajam. Namun sangat tidak asing di telinganya.
Elyana segera menoleh dan melihat. Pandangan mereka saling beradu dari jarak yang sangat dekat. Tiba-tiba jantungnya kembali berdetak kencang.
"Da-David?"
Kenapa, setiap kali dirinya berada di toilet umum, pria itu selalu ada? Di mana Elyana berada, seolah pria itu tahu, dan mengikutinya.
'Siapa yang selalu memberitahu keberadaanku pada David?' Tidak mungkin ini hanya kebetulan.
Kebetulan yang terlalu sering, ini menjadi janggal.
"Lepaskan!" lirih Elyana ketika dirinya sudah ada di dalam pelukan pria itu.
"Aku bisa jalan sendiri." Ia menghempaskan tangan David dari bahunya.
Bergeser dua langkah untuk menajuh.

Komentar Buku (214)

  • avatar
    PucukTeh

    bagus sekali

    02/12

      0
  • avatar
    Nurul Hidayah Binti Azha

    Jalan cerita yang menarik

    06/11

      0
  • avatar
    Cidut Cidut

    bagusss

    10/08/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru