logo text

Bab 46 Pergi ke Luar Negeri

Pukul 01:00 dini hari, David dan Edwin baru tiba di kota Lyon, mereka segera menghentikan taksi, masuk ke dalamnya dan segera pergi ke rumah keluarga Louis.
Di dalam mobil, Edwin masih belum mengerti, mengapa majikanya ini malah bertamu ke rumah orang lain jam satu pagi. Padahal, mereka berdua bisa tidur di hotel dulu, dan besok pagi, baru datang ke rumah keluarga Louis untuk mencari Elyana.
Bukankah sekarang semua orang sudah tidur? Tidak mungkin pemilik rumah menerima tamu jam satu pagi. Itu sama saja dengan tidak sopan.
"Maaf, Tuan! Bukankah lebih baik kita mencari hotel dulu untuk menginap? Besok pagi, baru kita ke rumah keluarga Louis untuk mencari Nona," ucap Edwin pada majikannya, yang saat ini sedang duduk di sampingnya. "Saya khawatir, kita akan sia-sia saja datang ke rumah Tuan Louis sekarang."
Edwin sudah tahu semuanya dari David, bahwa, Elyana sebenarnya adalah adik dari wanita yang bernama Rosyana, cucu dari Tuan Yuan Louis. Bahkan, nama mereka pun seperti kembar.
Ternyata, Elyana bukanlah seorang pelayan miskin yang datang dari kota Lyon, seperti yang sering diucapkan oleh Isabel dan keluarganya. Edwin tidak menyangka akan hal itu.
Mendengar ucapan Edwin, David sama sekali tidak menjawab. Ia hanya duduk sambil melipat tangan di perut. Tatapannya tajam melihat jalan raya menuju rumah Yuan Louis.
"Tu-tuan!" ucap Edwin dengan ragu. "Apa Anda yakin, Nona Elyana sudah berbohong menyembunyikan identitasnya? Mungkin saja, ucapan Nona Arani itu tidak benar." Edwin mencoba berbicara pada David, agar pria itu tidak terus memikirkan istrinya.
Karena sejak berangkat, David tidak banyak berbicara, hanya duduk sambil melamun saja. Edwin khawatir dengan tuannya ini.
"Seharusnya, kau yang lebih tahu semua hal tentang Elyana," balas David dengan tajam. "Bukankah sudah aku perintahkan kau untuk mencari informasi tentang keluarganya? Bahkan, aku sudah memintamu untuk mencari tahu tentang Elyana dari sahabatnya—Daniel? Sekarang mana? Kau belum memberikan informasi apapun kepadaku!"
"Maaf, Tuan! Bukankah Tuan sendiri yang melarang saya untuk melanjutkan mencari informasi tentang Nona?" jawab Edwin dengan percaya diri. Karena, hal itu memang benar, David melarang Edwin untuk mencari tahu semua hal tentang Elyana lagi.
"Aish, sial!" maki David dengan kesal. "Sekarang, kau sudah pintar menjawab ucapanku, ya!"
"Ma-maaf, Tuan!" Edwin tidak berbicara lagi, takut tuannya akan semakin marah jika dirinya terus berbicara.
Taksi melaju dengan kencang menuju alamat yang diminta oleh David. Setelah dua puluh menit perjalanan dari bandara ke alamat yang ditujukan, kini mereka sudah sampai di depan rumah keluarga Louis.
David dan Edwin segera turun dari dalam taksi setelah membayar ongkosnya terlebih dahulu. Lalu berjalan sampai gerbang yang sangat tinggi dan besar rumah itu.
Pukul 01:25, suasana di sana sangat sepi, semua orang sudah tidur nyenyak termasuk dua orang penjaga rumah itu. Dengan berani David menekan bel rumah itu dengan cepat, penuh ketidak sabaran. Ia menekan bel lagi, dan lagi hingga menimbulkan suara berisik di sana.
Kedua penjaga itu segera membuka pintu gerbang sedikit dan berbicara pada David dan Edwin.
"Maaf, kami tidak menerima tamu di bawah pukul enam pagi," ucap salah satu penjaga, dengan mata yang masih mengantuk.
Biasanya, mereka selalu berjaga silih berganti, tidak ada yang tidur demi menjaga rumah ini. Tapi malam ini, entah mengapa mereka berdua sangat ngantuk dan lelah. Jadi keduanya tertidur cukup pulas.
"Kalian bisa kembali lagi nanti, ketika matahari sudah terbit," ucap penjaga yang satunya lagi.
Tapi, ketika penjaga itu melihat wajah David, dia seolah mengingat sesuatu.
"Bukankah Anda teman Eli?" tanyanya sedikit ragu. Karena saat itu, Elyana meminta penjaga itu untuk memanggilnya dengan panggilan Eli ketika di depan David. Jadi, sekarang dia melakukannya.
"Ya!" David mengangguk. "Bisakah kami masuk ke dalam rumah, sekarang?"
"Maaf, Tuan! Kami tidak menerima tamu di bawah pukul enam pagi." Penjaga yang pertama mengulangi ucapannya. "Sebaiknya, sekarang, Anda mencari hotel untuk menginap. Besok siang, bisa kembali lagi kemari."
"Tidak! Kami tidak akan pergi ke manapun. Kami akan tetap di sini menunggu majikan kalian bangun," balas David tidak mau kalah. Ia sama sekali tidak berniat untuk pergi.
"Aishhh!" Penjaga itu menarik napas panjang. Berkata pada David, "Baiklah! Karena Anda adalah teman Eli, kami izinkan kalian berdua masuk."
"Terima kasih!" balas Edwin dengan cepat. Merasa bahagia bisa diizinkan masuk ke dalam rumah untuk menunggu Elyana bangun.
"Tapi ...." Ucapan penjaga selanjutnya menghancurkan semua harapan Edwin, "Kalian hanya diperbolehkan menunggu di pos keamanan. Tidak diizinkan masuk ke dalam rumah."
"Apa?" Edwin terkejut mendengarnya. "Ka-kami hanya diizinkan menunggu di pos keamanan? Apa kalian tidak tahu, bos saya ini siapa? Dia adalah suam—" 'Suami Nona Elyana.'
Ucapan selanjutnya hanya bisa diucapkan di dalam hati, karena, David segera menutup mulut Edwin.
"Baik! Kami akan menunggu di pos keamanan," ucap David dengan pasrah.
Saat ini, masih untung dirinya dipersilahkan masuk oleh para penjaga itu, walau hanya di pos keamanan, tidak dibiarkan menunggu di luar gerbang. David tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Ayo, masuk!" Penjaga itu segera membuka lebar pintu gerbang, mempersilahkan David dan Edwin untuk masuk.
Di pos keamanan berukuran 2x3 meter persegi ini, mereka berempat harus berdesak-desakan untuk tidur. Hanya ada dua selimut dan dua bantal, mereka harus berbagi, satu bantal dan selimut untuk dua orang.
"Nih, Tuan!" Edwin memberikan selimut pada David. "Pakai saja, saya bisa memakai jas ini sebagai selimut." Lalu Edwin membuka jas di tubuhnya, berbaring di samping David sambil menyelimuti badannya dengan jas.
David tidak banyak berbicara. Ia hanya berbaring sambil memegang selimut itu dengan linglung. Hingga ketika waktu sudah menunjukkan pukul 05:00, David baru bisa tertidur pulas, dan melupakan semua beban di kepalanya.
*
Cahaya sinar mentari pagi begitu menyilaukan mata, masuk ke dalam pos keamanan itu melalui kaca jendela, dan menganggu tidur kedua orang di sana.
Ketika Edwin membuka mata, alangkah terkejutnya ia ketika melihat jam di dinding sudah menunjukan pukul 07:00. Ia segera bangun dan mengguncang tubuh David.
"Tuan ... Tuan ... bangun! Kita kesiangan."
Edwin segera bangkit, berdiri dan pergi ke toilet. Setelah itu, ia mencari kedua penjaga.
David pun segera bangun dengan kepala yang terasa sakit. Mengikuti langkah Edwin keluar dari pos keamanan.
Setelah keduanya cuci muka dan merapikan setelan jas yang sudah kusut dan sedikit bau karena dipakai tidur, salah satu penjaga itu meminta David dan Edwin untuk masuk ke dalam rumah.
"Tuan Besar sedang menunggu kalian di rumah makan. Masuklah!" ucap penjaga itu ketika mereka sudah ada di depan pintu rumah. Penjaga itu tidak bisa mengantar mereka sampai ke dalam, hanya mengantar sampai ke teras saja.
"Ya, terima kasih!" ucap David. Lalu mereka berdua masuk ke dalam rumah menuju ruang makan.
David sudah pernah masuk ke dalam rumah mewah ini, jadi, ia tahu di mana letak ruang makannya.
Ketika merek sudah sampai di ruang makan yang sangat besar, David disambut cukup baik oleh Rosyana.
"David, Asisten Edwin, ayo duduk, kita makan bersama!" Rosyana mempersilahkan mereka untuk duduk bersama di meja makan. "Kami dengar, dari semalam kalian datang. Mengapa tidak mengetuk pintu saja, pasti aku buka. Tidak perlu kalian tidur di pos keamanan."
"Tidak apa-apa. Kami yang tidak sopan, bertamu malam-malam ke rumah ini! Kami minta maaf!" balas David. Tanpa sungkan, ia segera bejalan mendekat, menarik kursi dan duduk di depan Tuan Louis. Diikuti Edwin, dan dia duduk di samping David.
Tuan Louis tidak berkata apapun, hanya menatap David yang berpakaian kusut, namun masih terlihat sangat tampan. Tuan Louis lanjut menyantap makanannya.
Melihat di meja makan itu hanya ada Tuan Louis dan juga Rosyana, dengan berani David bertanya, "Di mana Elyana?"
'Jangan-jangan, Elyana tidak pulang ke rumah ini?' tebak David dalam hati.
Tapi, jawaban dari Yuan Louis selanjutnya, membuat David kecewa.
"Elyana sudah berangkat ke luar negeri, tadi jam enam pagi."
"Apa? Be-berangkat? Berangkat ke mana?"

Komentar Buku (214)

  • avatar
    PucukTeh

    bagus sekali

    02/12

      0
  • avatar
    Nurul Hidayah Binti Azha

    Jalan cerita yang menarik

    06/11

      0
  • avatar
    Cidut Cidut

    bagusss

    10/08/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru