logo text

Bab 26 Malam Pertama di Pagi Hari

Di pagi hari, Elyana terbangun di atas tempat tidur yang sangat empuk. Ia mulai membuka mata, merasakan ada sesuatu yang berat melingkar di perutnya. Ketika menoleh ke samping, ternyata, itu adalah David.
Semalam, pria itu masih membantu dirinya pergi ke kamar mandi, lalu ... membaringkan Elyana di tempat tidur. Lalu ... mereka ... tidur di tempat tidur yang sama.
Ini pertama kalinya mereka tidur bersama setelah resmi menikah. Biasanya, kalau tidak David yang tidur di sofa, berarti Elyana.
'Sekarang ....'
Elyana menyibakkan selimut, bergeser sedikit untuk bangun, lalu ... tubuhnya tidak bisa bergerak. Pria itu mempererat ikatan tangannya di tubuh Elyana.
"David, lepas, aku mau bangun!" bisiknya pelan, tubuhnya berbaring lagi di tempat tidur.
Elyana menatap pria yang masih tertidur di sampingnya, begitu lelap dan tenang, sama sekali tidak mendengar ucapannya barusan. Ia melihat lagi setiap sudut di wajah itu, matanya ... alisnya ... hidungnya, begitu sempurna bagaikan pahatan patung yang dibuat secara detail oleh sang seniman. Mahakarya yang sangat sempurna.
Tiba-tiba, Elyana mengangkat jari telunjuknya, ingin menyentuh sesuatu yang indah itu dengan tangannya sendiri. Dimulai dari alis, jari telunjuknya menyentuh alis tebal namun sangat rapi itu dengan lembut. Turun ke hidung, jarinya menyusuri tulang hidung yang mancung—bagaikan perosotan anak TK—dengan pelan, hingga turun ke bibirnya.
Ketika akan menyentuh bibirnya, tiba-tiba mulut pria itu terbuka, detik berikutnya jari Elyana digigit cukup keras olehnya.
"Aaaaaaa, David! Sakit!" teriak Elyana diakhiri dengan ringisan. Ia menarik jarinya kembali.
"Aaawh, jariku! Aaahh!" Elyana melihat jari kecilnya yang sudah merah karena di gigit. "Kau kanibal juga, ya? Suka memakan daging manusia."
"Hem?" David membulatkan bola matanya. "Kanibal? Aku suka memakan daging manusia?" Ia berpikir sejenak.
"Ya, mungkin itu benar!" Tiba-tiba David berbalik badan, menekan tubuh Elyana. Jarak yang sangat dekat. "Aku memang kanibal, ingin memakan seluruh tubuhmu, sekarang!"
"Eh, David!" Elyana memalingkan muka ketika wajah pria itu semakin mendekat. Jantungnya kembali berdetak kencang, otaknya sebentar lagi akan menjadi kosong.
"Tadi, kau sendiri yang menggodaku!" David masih tersenyum penuh godaan. Wanita di bawahnya hanya terdiam dengan wajah yang sudah memerah. "Apa kau ingin tahu, seberapa jantan suamimu di pagi hari, hah? Baiklah, aku akan membuktikannya sekarang!"
Ia melepas piyama tidurnya, melemparnya ke lantai.
"A-aku ... ti-tidak!" Elyana tergagap. Semakin gugup melihat David sudah membuka pakaiannya. Tubuh polos dan kekar pria itu, kini ada di hadapannya.
David kembali menunduk. Dengan serius berkata, "Kita adalah suami istri yang sah di mata hukum. Walau katamu 'kita menikah tidak didasari rasa cinta', tapi, aku berjanji, akan belajar untuk selalu mencintaimu, aku akan menjagamu seumur hidup."
"Apakah ini cukup untuk memberi jaminan pada hatimu?" tanyanya pelan.
"Da-David!" Elyana tidak tahu harus berkata apa. Sekarang otaknya sudah benar-benar tidak ada isinya. Tidak bisa berpikir dengan baik.
Ia bengong sesaat, menatap David dengan kosong.
'Pria ini ... berkata manis lagi kepadaku." Elyana melayang seketika, terhanyut ke dalam janji manisnya. Merasa bahwa, hatinya sangat tersentuh.
David mulai membuka kancing piama Elyana, membukanya perlahan. Tidak ada penolakan dari wanita itu, ia mulai membuka penutup yang lain.
Pertarungan pun dimulai.
Hawa panas mulai memenuhi setiap sudut ruangan itu. Desahan demi desahan mulai terdengar penuh gairah. Suara jeritan kesakitan pun sudah terdengar, diiringi suara isak tangis.
"Sakit!"
"Mana yang sakit? Apa kakimu?" Padahal David sudah sangat hati-hati melakukannya, tidak menyentuh kaki Elyana yang terluka. Hanya membuka satu kaki yang tidak terluka untuk memasukan juniornya.
"Bukan kaki!" Elyana menggelengkan kepala. "Tapi itu ...." Ia menunjuk area sensitifnya yang terasa sakit saat pria itu menggeseknya.
"Oh, maaf!" David menghentikan gerakan pinggulnya. Melepaskan genggaman pada dada wanita itu. "Apa ingin menyudahinya sekarang? Kapan-kapan, kita bisa lanjutkan jika sudah tidak sakit."
"...." Elyana terdiam. Mungkin, lain kali pun masih akan terasa sakit, karena ini pertama kali bagi dirinya.
"Baiklah, aku akan melakukannya pelan, oke?" Melihat Elyana terdiam, David mengartikan itu sebagai kata setuju untuk melanjutkan permainan.
"Ya!" Elyana mengangguk. Kembali memeluk pinggang David dengan membuka lebar satu kakinya.
David memulainya lagi, memberi kenikmatan pada wanita itu walau dengan sedikit rasa sakit.
***
Siang hari, cuaca di kota itu sangat panas. Di rumah David, terdengar suara ketukan pintu diiringi suara teriakan, "Eli! Buka pintunya!"
Dor! Dor! Dor!
"Eli! Aku tahu, kau sudah kembali. Sekarang, cepat buka pintunya!" Nosy masih berteriak memanggil nama pelayannya. Ia sudah tahu kepulangan Elyana dari Asisten Edwin tadi malam.
Padahal, sebelumnya, Elyana mengatakan ingin bercerai dari David dan akan membayar tiga juta dolar pada Alex sebagai uang kompensasi karena membatalkan kesepakatan.
Tiga juta dolar itu bukanlah uang yang sedikit. Nosy sangat senang jika gadis jelek itu akan mengembalikan uang sebanyak itu. Jadi, kemarin, Nosy segera menghubungi Isabel dan memintanya untuk kembali.
Dan hari ini, Nosy datang menemui Elyana sambil membawa Isabel yang baru kembali ke dalam negeri untuk menggantikan posisinya sebagai istri David.
"Ma, apa Pelayan Eli benar ada di rumah?" tanya Isabel pada Nosy. "Sebaiknya kita pulang saja. Cuaca sangat panas, kulitku bisa gosong."
"Sabarlah sayang! Kata Asisten Edwin, Eli sudah pulang, kemarin dijemput oleh David."
"Aku penasaran ... pria yang bernama David itu seperti apa. Apa bertubuh tinggi dan gemuk, dengan kacamata bingkai emas di matanya?" ejek Isabel. Masih tidak suka dengan pria yang bernama David—yang akan dijodohkan dengan dirinya.
"Hus, jaga ucapanmu! Kalau hanya pria tua seperti itu, mana mungkin Mama terus memintamu untuk kembali. Selain kaya dan sangat tampan, David juga sangat memanjakan Eli—si pelayan jelek itu. Mama tidak rela, menantu kesayangan Mama harus menjadi milik Eli."
Isabel hanya mengerutkan kening, merasa aneh dengan ucapan ibunya, juga merasa kepanasan karena cuaca di luar.
"Terserah Mama sajalah!" Ia tidak peduli.
Tiba-tiba pintu rumah dibuka. Nosy awalnya terkejut, tapi detik kemudian emosinya kembali naik.
"Di mana Eli? Aku ingin bertemu dengannya!"
"Oh, Nona Elyana ada di kamarnya Mungkin masih tidur!" ucap pelayan itu dengan sopan.
"Nona Elyana? Hah, dia itu Eli, wanita kampungan!" ucap Nosy dengan emosi. Membuat pelayan itu kebingungan. "Baiklah, aku akan langsung ke kamarnya saja."
Nosy segera masuk ke dalam rumah tanpa permisi, berjalan menuju tangga serasa rumah ini miliknya sendiri.
"Tunggu, Nyonya!" Pelayan menghentikan langkah Nosy. "Di kamar ada Tuan David juga."
"Apa?" Nosy terkejut mendengarnya. "Jam dua belas siang, mereka berdua masih ada di dalam kamar? Apa tuanmu tidak pergi bekerja?"
"Saya kurang tahu tentang hal itu, Nyonya!" Lalu pelayan itu pergi ke belakang.
Nosy tidak habis pikir, pria sibuk seperti David ... bersantai di dalam kamar hingga tengah hari bersama dengan Eli.
'Apa yang mereka lakukan?'
Terdengar suara berat dari lantai atas, "Aku bisa libur bekerja kapan pun aku mau."
David berjalan menuruni anak tangga, dengan satu tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Terlihat sangat keren.
"Eh, Menantuku! Aku kira kau pergi bekerja. Ternyata, ada di rumah. Tahu begitu, aku bawakan sesuatu dari luar," ucap Nosy dengan manis.
"Mengapa sekarang tidak? Putrimu kan ada di rumah?" tanya David sedikit heran.
Nosy tersenyum canggung, segera memalingkan muka ke arah Isabel.

Komentar Buku (214)

  • avatar
    PucukTeh

    bagus sekali

    02/12

      0
  • avatar
    Nurul Hidayah Binti Azha

    Jalan cerita yang menarik

    06/11

      0
  • avatar
    Cidut Cidut

    bagusss

    10/08/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru