"Tuan Alex?" gumamnya ketika melihat nama yang tertera di layar ponsel. 'Mau apa dia menghubungiku?' Dengan enggan, ia menekan tombol hijau pada layar ponsel. "Halo, Tuan!" sapanya dengan pelan, khas para pelayan yang sedang menyapa tuannya. "Tuan, Tuan! Ini aku, Nosy!" sergahnya, membuat Elyana kaget. "Oh, Nyonya! Ada apa, Nya?" "Hey, pelayan jelek .... Untuk apa kabur dari rumah, hah? David bilang, sudah dua minggu kau kabur dari rumah. Apa kau ingin mencoreng nama baik keluarga Danu? Seorang istri kabur dari rumah, jika orang lain tahu, apa pandangan mereka pada keluargaku," sergahnya lagi dengan marah. Nosy sangat marah dan kesal, ketika menerima telepon dari David—tadi pagi, mengatakan bahwa putri mereka kabur dari rumah. Jika sampai David ingin menceraikan anak dari keluarga Danu, habislah Alex dan Nosy. "Sakarang, cepat kembali! Jangan mempermalukan keluargaku!" perintah Nosy. "Maaf, Nyonya .... Saya tidak kabur dari rumah. Dua minggu yang lalu, saya kembali ke kampung halaman saya untuk menjenguk kerabat yang sakit. Tuan David pun ada di sini, tapi, dia mengabaikan saya, dan pergi begitu saja. Apa sekarang, saya tidak pulang, itu karena kesalahan saya? Saya kabur dari rumah?" jelas Elyana, menahan emosinya. Masih berkata dengan pelan, walau sebenarnya ingin berteriak. "Dan sekarang, saya sedang sakit. Baru saja keluar dari rumah sakit. Belum bisa pergi ke mana-mana. Sepertinya, penyembuhan luka saya juga akan memakan waktu lama. Jika Tuan David masih marah, saya akan segera menghubungi dia, dan menjelaskan semuanya," tambahnya lagi dengan jujur. Jika kakinya sudah tidak sakit lagi, mungkin sekarang ia akan terbang ke kota Paris dan menemui David untuk menyelesaikan ini semua. Terdengar Nosy berkata dengan puas, "Baguslah! Sebaiknya, segera selesaikan kesalahpahaman kalian berdua. Jangan membuat David marah. Itu akan berimbas pada keluarga Danu." Jawaban dari Elyana selanjutnya, membuat Nosy hampir terkena serangan jantung, "Baik saya akan menyelesaikan semuanya. Saya akan melayangkan gugatan perceraian ke pengadilan. Dan sebagai uang ganti rugi, tiga kali lipat ... saya akan segera mentransfer ke rekening Anda, Nyonya!" Klik! Sambungan ditutup, tida peduli dengan teriakan dan amarah dari seberang telepon. Elyana mengeratkan gigi, mengepalkan tinju sambil berdiri di depan rumah sakit. Kekacauan yang sudah ia buat sendiri, harus segera diselesaikan. "Toh, sekarang, Dimitri, si pria tua itu sudah bertunangan dengan Ros. Tidak mungkin Kakek akan menjodohkan kami lagi. Aku pun tidak perlu kabur dari rumah lagi, tidak perlu berpura-pura menjadi pelayan lagi. Tinggal bercerai dari David dan membayar uang dari Alex tiga kali lipat. Sudah, selesai!" Kartu Bank-nya pun sekarang sudah tidak diblokir lagi. Sudah bisa dipakai untuk mentransfer uang pada Nosy. Memikirkan kebebasannya, Elyana sangat senang. Ia segera berjalan menuju mobil. "Ayo, berangkat sekarang!" perintahnya pada bodyguard yang ada di depannya. Lalu ia masuk ke dalam mobil. Lita segera mengambil tongkat Elyana, memasukkannya ke dalam bagasi. Selama dalam perjalanan pulang ke rumah, nomor Alex masih terus menghubunginya. Elyana tahu itu adalah Nosy yang belum puas memaki-maki dirinya. Ia segera memblokir tanpa berpikir panjang lagi. "Atas dasar apa, kau terus menggangguku? Huh, menyebalkan!" makinya dengan pelan. Sopir dan Lita segera menoleh ke arahnya. Namun, ia hiraukan. Ketika masih memegang ponselnya, yana mencari nomor David, lalu menekan tombol panggil. Beberapa detik kemudian, terdengar suara merdu dari seberang telepon, "Halo!" Suara itu begitu lembut, dan menenangkan. Baru kali ini Elyana mendengar suara lembut David. Tidak ingin terus terbuai dalam kemerduan suaranya, Elyana berkata dengan tegas, "Kita bercerai! Aku akan mendaftarkan gugatan perceraian sesegera mungkin!" Hening sesaat, lalu David menjawab, masih dengan tenang, "Bercerai? Itu tidak akan terjadi, kecuali aku mati!" 'Apa? Hah, dasar pria gila! Siapa yang ingin terus terjebak dalam pernikahan ini?' "Terserah!" ucap Elyana dengan acuh. "Dua minggu lagi, aku akan mendaftarkan gugatan perceraian." "Heh, mengapa harus menunggu selama dua minggu?" ejeknya, merasa lucu. "Kenapa tidak tunggu saja sampai aku mati. Baru, kau bisa bebas." "Kau!" Elyana mengepalkan tinjunya. "Sekarang aku baru keluar dari rumah sakit! Dua minggu lagi, mungkin luka bekas operasiku sudah sembuh. Sudah bisa pergi ke pengadilan." "...." Tidak ada jawaban dari David hingga beberapa saat. "Halo! Apa kau masih mendengarku?" "Aish, sial!" Elyana melihat layar ponselnya. Tapi sambungan masih terhubung. Ia segera berkata lagi, "Baiklah! Aku mau istirahat dulu. Bersiap-siaplah untuk proses perceraian kita." Ketika Elyana akan menutup sambungan telepon, terdengar lagi suara lembut dari pria itu, "Kau sakit apa? Mengapa tidak memberitahuku?" Padahal sudah dua minggu waktu berlalu, tapi, mereka tidak tahu apa yang terjadi pada pasangan mereka masing-masing. Elyana terluka dan dirawat di rumah sakit, dan David ... setiap malam tidak bisa tidur karena menunggu kepulangan istrinya. "Untuk apa aku memberitahumu? Terakhir kita bertemu, kau bersikap acuh, kan? Aku meminta maf, kau tidak peduli, aku memanggilmu, kau pun tidak mendengar. Untuk apa aku terus merendahkan diri di hadapanmu?" "Kau masih marah karena hal itu, ya? Baiklah, sekarang, aku yang minta maaf!" Dari awal, David bisa menebak, Elyana masih marah karena hal itu. Itulah alasan, mengapa dirinya berbicara dengan lembur dari awal hingga akhir. David ingin membuat wanita itu nyaman lagi. "Besok, aku akan menjemputmu. Kita pulang!" "Tidak!" tolak Elyana. "Kata dokter, aku masih harus banyak istirahat. Tidak boleh pergi ke mana pun." "Memangnya, kau sakit apa?" tanya David, dengan sabar. Ia belum mendengar jawaban Elyana tentang sakit yang dideritanya selama dua minggu. "Kakiku patah karena loncat dari lantai dua. Dua minggu yang lalu baru menjalani operasi. Sebelum genap satu bulan, aku harus istirahat," jelas Elyana dengan enggan. Walau enggan, tapi, ia masih tetap menjelaskannya. "Untuk apa kau loncat dari lantai dua? Apa di sana tidak ada tangga?" canda David. Masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada istrinya. "Asih, kau!" Elyana kesal mendengarnya. "Aku hampir saja dilecehkan oleh beberapa orang pria. Mana bisa, melarikan diri melalui tangga? Ya ... aku loncat saja dari jendela lantai dua." "Sudahlah, jangan ganggu aku. Aku mau istirahat!" Klik! Lagi-lagi, Elyana menutup teleponnya secara sepihak. Ia menonaktifkan ponselnya. Bersandar di kursi belakang sambil memejamkan mata. Kekacauan yang sudah ia buat, sepertinya tidak akan selesai dengan mudah. 'Aku harus bagaimana?' *** Keesokan harinya, Elyana mendapati beberapa panggilan tidak terjawab di ponselnya. Ia yang baru keluar dari kamar mandi sambil memakai tongkat, berjalan ke depan jendela dengan ponsel di tangannya. Tiba-tiba, ponselnya berdering kembali. Elyana melihat itu panggilan dari David. Semalam, ia masih menonaktifkan ponselnya, baru tadi pagi dinyalakan. Sekarang, David menghubunginya lagi. "Untuk apa?" Ia segera mengangkatnya. Tanpa menunggu Elyana menyapa terlebih dulu, suara David segera terdengar, "Temui aku di atap gedung rumah sakit. Sekarang!" "Hah, a-atap gedung rumah sakit?" tanya Elyana, terkejut. "Untuk apa aku di sana? Tidak adakah tempat lain yang bisa kau kunjungi, selain atap gedung? Misalnya kafe, restoran, atau apa, kek!" 'Mengapa harus di atap gedung?' "Ya, nanti setelah tiba, aku akan membawamu ke restoran atau kafe. Sekarang, cepatlah kemari! Rumah sakit yang terakhir kali kita bertemu," ucap David tidak sabar. Selain itu, terdengar juga suara bising dari belakangnya. Elyana terdiam. Masih bingung, apa yang sedang pria itu lakukan di atap gedung rumah sakit. "Jika tidak ingin datang kemari, aku yang akan datang ke tempatmu. Bersiaplah!" ucapnya lagi, ketika tidak mendengar jawaban dari Elyana. Mendengar David akan datang ke tempatnya, Elyana sangat panik. Jika sampai David tahu dirinya sekarang tinggal di rumah mewah milik keluarga Louis, apa yang akan pria itu pikirkan? Ia segera menjawab, "Baiklah, baiklah! Aku akan segera datang. Kau tunggu saja di sana. Jangan ke mana-mana!" "Oke!" balasnya dengan puas.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus sekali
02/12
0Jalan cerita yang menarik
06/11
0bagusss
10/08/2025
0Lihat Semua