Bab 12 Alergi Seafood

Di dalam kamar Isabel, Elyana melihat koper berwarna merah muda miliknya sudah ada di atas tempat tidur. Di dalam koper itu sudah ada pakaian milik Isabel, juga sepatu dan tas yang sangat bagus. Semua itu Nosy siapkan untuk Elyana demi menjaga citra baik keluarga Danu.
"Dasar orang kaya tidak tahu diri. Hanya pakaian seperti ini saja, aku tidak buruh!" ucap Elyana dengan kesal.
Elyana segera membalikkan kopernya, menumpahkan semua barang-barang itu ke lantai. Ia tidak menyisakan barang sedikitpun di dalam kopernya.
Elyana merupakan nona kedua di keluarga Louis, sudah terbiasa hidup mewah sejak kecil, dan hidupnya tidak pernah kekurangan. Ia sama sekali tidak membutuhkan barang-barang bekas seperti ini. Jika mau, kapanpun, ia bisa membeli semua barang mewah yang lebih bagus dari ini. Bukan karena ada uang satu juta dolar di rekeningnya—pemberian dari Alex, tapi karena uang di rekeningnya sangatlah banyak.
Setelah kopernya kosong, Elyana segera menutupnya kembali. Dengan perlahan ia menarik kopernya dan berjalan keluar dari kamar Isabel.
Di lantai bawah, David segera berdiri ketika melihat Elyana datang dan menghampirinya. Lalu berpamitan pada Alex dan Nosy.
"Bu, Pak, kami permisi dulu! Ada banyak pekerjaan di kantor yang harus segera diselesaikan, jadi kami tidak bisa tinggal terlalu lama di sini." Lalu David menggenggam tangan Elyana, bersiap untuk pergi keluar.
"Ya! Pergilah! Sampaikan salamku pada ayahmu. Kapan-kapan, aku akan datang mengunjunginya!" balas Alex dengan ramah. Ia pun berdiri dari duduknya.
Alex melirik Elyana yang sudah membawa kopernya, lalu berkata, pada pelayannya itu, "Belajarlah menjadi istri yang baik, patuhlah terhadap suami dan jangan boleh membuat suamimu kesal!"
"Baik!" Elyan hanya mengangguk, tidak melihat ke arah Alex maupun Nosy.
"Kami pergi dulu!" pamit David seraya menarik tangan Elyana.
Setelah itu, David dan Elyana keluar dari rumah tersebut.
Di dalam rumah, Nosy melipat kedua tangannya di depan, menatap punggung Elyana dengan tatapan tajam.
"Lihatlah pelayan itu! Sekarang, dia semakin berani terhadap kita. Seenaknya memanggil Ibu dan Bapak pada kita. Apa dia pikir, kita ini adalah ibu dan bapaknya di kampung? Enak saja," sergah Nosy tidak terima.
"Begitu enak hidupnya sekarang, kan. Punya banyak uang dari kita, punya suami kaya dan tampan pula, bahkan, tidak perlu lagi mengeluarkan uang untuk membeli pakaian, tas dan sepatu. Pakaian dan barang-barang milik Isabel sudah dibawanya. Huh, dasar wanita miskin tidak tahu diri," cibir Nosy lagi semakin tidak rela melihat pelayannya hidup enak.
"Sudahlah! Jika tidak ada Eli, keluarga kita sudah tamat!" jawab Alex singkat. Lalu pergi meninggalkan istrinya.
Alex tidak ingin lagi mendengar keluh-kesah tidak berguna dari mulut istrinya. Walau bagaimana pun, pelayannya itu sudah sangat membantu perekonomian keluarga Danu yang sudah diambang kehancuran.
***
Di dalam mobil, Elyana terlihat gelisah dengan tatapan mata yang tidak fokus. Jemari tangannya terus meremas ujung pakaian seolah sedang menahan sesuatu.
Dengan susah paya Elyana berkata pada David sambil menunjuk ke depan, "To-tolong, turunkan aku di sana!"
Setelah mengatakannya, Elyana segera memalingkan muka ke samping kiri, merasakan perasaan tidak nyaman di seluruh tubuhnya.
"Untuk apa?" tanya David dengan acuh. Kakinya masih menginjak pedal gas, tidak ada niatan untuk mengikuti keinginan Elyana.
"Cepat, turunkan aku di depan!" pinta Elyana lagi sedikit menaikkan nada suaranya. Ia tidak tahan dengan reaksi yang muncul dari makanan yang tadi dimakan. Tubuhnya sekarang terasa panas dan gatal, di leher dan dadanya sudah mulai timbul bintik merah yang sangat banyak.
"Kau mau pergi ke mana? Mengapa ingin turun di pinggir jalan?" David masih bertanya sambil melajukan mobilnya. Sama sekali tidak mengikuti keinginan Elyana.
Akhirnya Elyana pun tidak tahan.
"Cepat turunkan aku, sekarang! Apa kau tidak bisa mendengarku? Tuan David, apa begitu sulit bagimu mendengar permintaan orang lain? Hanya menghentikan mobilmu di depan, apa susahnya?"
"Elyana ... kau berani berteriak di depanku!" sergah David tidak terima. "Apa seperti ini sifat aslimu, hah? Kasar dan pemarah! Pantas saja, tadi, ayahmu—"
"Kau pria cerewet! Tidak bisakah kau diam dan injak saja pedal rem-mu?" potong Elyana tanpa rasa segan lagi. Ia sungguh tidak tahan dengan tubuhnya yang sudah mulai bergetar hebat.
Akhirnya, kesabarannya pun sudah habis. Tanpa berbicara lagi, David segera membanting setir ke kiri, lalu menginjak pedal rem dengan kuat sesuai keinginan Elyana.
Setelah mobil berhenti, Elyana benar-benar membuka sabuk pengamannya dan turun. Baru saja kakinya menyentuh ke tanah dan pintu baru ditutup, tiba-tiba mobil itu melaju dengan kencang meninggalkan Elyana di pinggir jalan.
"Ah, sudahlah!" Elyana tidak peduli pria itu marah ataupun tidak. Ia hanya tidak ingin David tahu bahwa dirinya memiliki alergi yang cukup parah dengan makanan laut.
Jika sampai David tahu bahwa Nosy sengaja ingin membuat alergi Elyana kambuh, bagaimana? Apa yang akan David pikirkan tentang keharmonisan keluarga Danu? Seorang ibu tega membuat anaknya sakit. Apakah David akan curiga dengan status ibu dan anak itu?
Tidak ingin terus memikirkan hal itu, Elyana segera menghentikan taksi. Ia masuk ke dalam mobil, dan menyebut nama rumah sakit swasta pada sopir itu.
***
Di kantor perusahaan Demino, dua puluh orang sedang duduk di ruang rapat dengan suasana tegang. Pasalnya, David—sang pemimpin rapat—mengeluarkan aura kemarahan yang cukup kuat selama berada di sana. Tatapannya begitu dingin dan suaranya sangat menakutkan.
"Maaf, Tuan! Beri saya kesempatan satu kali lagi untuk merevisi isi proposal ini. Saya berjanji, kali ini tidak akan mengecewakan Anda!" ucap pria berusia empat puluh tahun itu dengan tubuh bergetar. Ia melihat David dengan perasaan takut.
Brak!
Terdengar suara berkas yang dilempar ke atas meja diiringi suara tegas dari mulut David, "Mundurlah! Kau sudah tiga kali memperbaiki isi proposal ini. Namun tetap saja hasilnya buruk!"
"Jika di antara kalian ada yang mempunyai ide lebih baik, silahkan katakan pada Asisten Edwin!" tambahnya lagi seraya bangkit berdiri. David menyatukan kancing jasnya, lalu pergi meninggalkan ruang rapat dengan ekspresi yang sangat dingin.
Edwin yang dari tadi duduk di samping David, segera mengambil alih untuk memimpin rapat. Ia berpindah dan duduk di kuris kebesaran milik tuannya sambil menatap layar monitor yang ada di depannya.
***
Ketika David masuk ke dalam ruangan kerjanya, tiba-tiba ia melihat koper merah muda milik Elyana ada di ruangan itu. Padahal, koper itu sudah di buangnya ke bak sampah yang ada di belakang gedung ketika turun dari mobil karena kesal pada wanita itu.
"Aishh! Siapa yang membawanya kemari?" maki David sambil berjalan masuk ke dalam, lalu ia duduk di meja kerjanya. Matanya masih memperhatikan koper itu dengan perasaan aneh.
Teringat kembali tentang Elyana yang tadi turun dari dalam mobil setelah marah pada dirinya, emosi David pun kembali naik.
"Sungguh sial! Mengapa aku bertemu dengan wanita seperti dia? Awalnya terlihat sangat manis, baik dan lugu. Tapi nyatanya, dia seperti monster!" maki David sambil bangkit berdiri.
David berjalan ke depan kaca besar sambil berkacak pinggang. Matanya memandang luas ke seluruh kota yang nampak sangat indah.
Tiba-tiba terlihat senyum jahat dari bibir pria itu sambil melihat bayangan dirinya di balik pantulan kaca di depannya.
David berkata dengan penuh ancaman, "Enak saja pergi begitu saja setelah menjual dirimu pada keluarga kami. Aku pun belum sempat mencicipimu, namun kau sudah mau pergi! Hehe! Lihat saja nanti, setelah kutemukan, kau tidak bisa menghindar lagi."
David melangkah dengan cepat keluar dari ruangan itu. Sebelum pergi, ia memberi perintah pada OB untuk membuang kopernya lagi ke bak sampah yang ada dibelakang gedung. Setelah itu, ia pergi mengendarai mobilnya meninggalkan gedung kantor menuju tempat di mana Elyana tadi diturunkan.
Waktu berlalu cukup lama, sudah berkeliling lebih dari dua jam, namun David belum juga menemukan wanita itu.
"Arrghh! Ke mana kau berlari?" David memukul roda kemudi sambil mengeratkan gigi. Matanya menyapu ke setiap sudut jalan yang dilalui dengan penuh waspada.
"Awas saja, jika sampai kutemukan, aku akan menyiksamu sepanjang malam, hingga kau tidak bisa bangun di pagi," ancam David masih dengan kesal.
Setelah mengatakannya, entah mengapa David merasakan adik kecilnya bereaksi ketika membayangkan tentang malam panjang bersama Elyana. Padahal selama ini, David merupakan seorang pria yang bisa mengendalikan hawa nafsunya, tidak mudah terpancing hanya dengan membayangkan hal seperti.
Namun sekarang ....
"Sungguh sial!"
Hingga malam hari, David tidak kunjung menemukan wanita itu. Ia memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Ia ingin segera berendam air dingin untuk menghilangkan hawa panas pada dirinya.
Ketika David baru selesai mandi, terdengar suara ketukan pintu diiringi suara panggilan, "Tuan! Tuan! Apa Anda ada di dalam?"
David mendengarnya, itu adalah suara asistennya, Edwin.
Dengan kesal David segera membuka pintu kamar.
Ia membentak ketika melihat Edwin berdiri di depan pintu, "Ada hal penting apa hingga kau datang ke kamarku semalam ini?"
"Tuan! Dari tadi, Tuan Felix terus menghubungi ponsel Anda, tapi Anda tidak mengangkatnya."
"Aku sedang mandi!"
"Tuan Felix barusan menghubungi saya, katanya ada informasi penting yang—"
"Diam!" potong David dengan cepat. Ia tidak ingin mendengar ucapan Edwin tentang sahabatnya yang selalu membuat masalah dengannya. "Besok siang saja lanjut katakan! Sekarang aku lelah, ingin istirahat. Tidak ingin mendengar curhatan dari Felix."
Pintu kamar pun ditutup oleh David.
"Tunggu Tuan!" Tiba-tiba Edwin menahan pintunya dengan satu kaki. "Kata Tuan Felix, Nona Elyana dirawat di rumah sakit!"

Komentar Buku (214)

  • avatar
    PucukTeh

    bagus sekali

    02/12

      0
  • avatar
    Nurul Hidayah Binti Azha

    Jalan cerita yang menarik

    06/11

      0
  • avatar
    Cidut Cidut

    bagusss

    10/08/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru