Gue benci lo, gue benci keluarga lo, gue benci kalian semua!" Lisa memukuli dada bidang pria tua itu pelan, rasa sesaknya masih ia rasakan. " Huuus, maaf. Aku kira dia akan membuat kamu bahagia, kalau aku tahu jadinya seperti ini, maka aku akan memilih berjuang dan menjauhkan kamu dari dia," ucapnya pelan sambil terus mengelus-elus punggung Lisa sayang. " Pergi, pergi dari sini. Dasar pria tua enggak tahu diri!" Lisa terus saja memarahi pria tua yang masih setia memeluknya erat. Aneh, memang aneh Lisa itu. Dia mengusir pria itu, tapi dia malah masih merasakan kenyamanan dengan pelukan dari pria tua itu. Lisa masih mengingat jelas, bagaimana pria tua ini menghibur dirinya saat ia baru putus bersama Kavin dulu. Bagaimana dia marayunya, membuat dirinya kesal, dan semua tingkah lakunya yang memang tidak bisa ia tolerin lagi. ' Tuh, lihat. Jari manis kamu itu mau di lingkari sama benda bundar,' ' Menikah, yuk.' ' Makan mulu, nanti gendut baru tahu rasa!' ' Sayang, lihat deh. Aku sudah memilih dekorasi pernikahan untuk kita,' ' Aku yakin kalau Bimo itu pasti bisa buat kamu bahagia, jadi kamu baik-baik, ya. Sama dia,' ' Gimana, udah bisa kasih aku keponakan, belum. Kalau masih belum bisa, lebih baik kamu siap-siap untuk buat anak sama aku,' Lisa melepaskan pelukannya dari pria tua itu. Pria yang selalu melamarnya berkali-kali saat ia masih berada di luar negeri, pria yang selalu membuatnya senang sekaligus kesal dengan semua tingkahnya. " Pak Gentala," panggil Lisa pelan sambil terus menatap pria itu lekat. Ya, dia Gentala, dia adalah prianya. Pria yang membuat Lisa kesal plus terhibur saat berada di luar negeri. Bahkan dia juga yang membantu dirinya untuk bisa melupakan Kavin. "Iya, ada apa?" tanyanya tanpa mau melepaskan pelukannya dari Lisa. " Pergi, pergi dari hadapan gue, sekarang juga!" usirnya dengan air mata yang kembali mengalir. Seakan tuli, Gentala malah menggendong Lisa dan menidurkannya di ranjang. " Kamu lagi capek, lebih baik kamu istirahat," ucapnya sambil mengecup puncak kepala Aku sayang. " Aku keluar dulu, ya. Aku janji, aku bakal balik lagi," ucapnya lalu pergi meninggalkan Lisa seorang diri. Lisa memejamkan matanya untuk kembali ke alam mimpinya. Ada sebuah senyuman manis yang terukir indah di wajah Lisa sebelum ia benar-benar terlelap tidur. *** " Sayang, bangun. Ini aku, suami kamu," bisik Bimo pelan, ia mencoba membangunkan Lisa dari tidurnya. Bimo sudah bangun dari pingsannya, bahkan dia berhasil lolos dari polisi. Jujur, ia ingin membawa Lisa pergi, ia ingin hidup bersama Lisa, tanpa hadirnya orang-orang yang berniat memisahkan dirinya dari Lisa. Perlahan Lisa membuka matanya, ia melihat Bimo dengan tatapan bergairah. Kenapa ia merasa kalau Bimo berbeda, yang ada di hadapannya itu, bukanlah Bimo yang ia kenali. " Sayang, kamu sudah bangung. Ayo bersiaplah. Aku akan mengajak kamu pergi dari sini, kita harus pergi dan hidup bersama-sama terus sayang," ucapnya posessive. " Enggak mau. Aku mau pisah sama ...," PLAK! Bimo menampar Lisa kuat, saat istrinya hendak mengatakan perpisahan padanya. Bimo mencekal tangan Lisa kuat, ia benar-benar tidak mau kehilangan cintanya. " Aku tidak akan pernah mau pisah sama kamu, aku akan selalu ada buat kamu. Aku akan selalu jadi suami kamu, selalu!" Cekalan itu semakin kuat, hingga membuat bekas luka dipergelangan tangan Lisa. " Lepas!" tegasnya sambil menahan rasa sakit di pergelangan tangannya. " Jangan harap aku akan melepaskan kamu, kamu itu hanya milik aku, hanya milik aku seorang Lisa." ucapnya sambil mengusap rambut Lisa lembut. Lisa membulatkan matanya, ia benar-benar tidak habis pikir dengan sikap Bimo yang mulai berubah-ubah. " Dasar gila!" teriak Lisa sambil mendorong Bimo sampai terbentur tembok. Bimo yang mendapatkan perlakuan dari Lisa itu pun, manajamkan sorotan matanya. Ia menghampiri Lisa dengan tangan yang terkepal. Krek! Suara tulang dari pergelangan tangan Lisa itu terdengar sempurna di telinga Bimo. " Aaah!" teriak Lisa kesakitan, air matanya menetes merasakan rasa sakit di pergelangan tangannya. Ceklek. Pintu terbuka, Lisa menoleh ke arah pintu dan ia melihat Gentala yang sedang berdiri di ambang pintu. " Pak Gentala, sakit." Lisa memejamkan matanya. Gentala mengepalkan tangannya, lalu menendang Bimo hingga tersungkur di lantai. Krek! " Aaah!" teriak Bimo saat meresakan sakit di kedua tangannya yang diakibatkan oleh Gentala yang memelintir kedua tangannya ke arah belakang. Bugh. Bugh. Bugh. Gentala terus memukul Bimo tanpa ampun, kepalanya sudah memiliki banyak lebam. Bahkan hidungnya juga sudah mengeluarkan darah segar. Seakan belum puas saat melihat Bimo masih bisa membuka matanya. Gentala kembali memberi tinjuan tanpa henti sampai Bimo benar-benar tidak sadarkan diri. Gentala berdiri tegap, lalu menggendong Lisa untuk membawanya pergi dari ruangannya. " Om, om Wijaya yakin kalau Lisa bakal menerima Gentala?" tanya Nean yang mewakili pertanyaan dari semua teman-temannya termasuk Gilang. " Dia adalah pilihan saya, dari dulu saya sangat berharap kalau Lisa dan Gentala bisa bersatu dan menjalin hubungan." ucapnya sambil melihat kepergian Gentala yang membawa Lisa dari rumah sakit itu. " Pak, tolong tahan dia." titahnya pada beberapa polisi yang juga ada di sana. *** Gentala mengusap rambut Lisa lembut, ia terus memegangi tangan Lisa agar gadisnya itu bisa tenang. Perlahan Lisa membuka matanya, lalu tatapannya tertuju pada Gentala yang sedang sibuk menyetir. " Lo mau bawa gue, ke mana?" tanyanya dengan nada yang lemah. Gentala tidak menjawab pertanyaan Lisa, ia masih terus melajukan mobilnya ke suatu tempat yang dibilang oleh ayahnya. " Lo mau bawa gue ke mana?" tanyanya lagi. Gentala menghentikan mobilnya, lalu menatap Lisa lekat. " Aku akan bawa kamu pergi jauh dari sini, di mana di tempat itu, hanya ada aku dan kamu," ucapnya sambil tersenyum kecil. Lisa membulatkan matanya tak percaya. Lalu ia memegang tangan Gentala yang hendak melajukan mobilnya kembali. " Lo mau culik gue?" tanya Lisa lagi. Gentala tersenyum kecil, lalu mengusap rambut Lisa sayang. " Anggap saja seperti itu," ucapnya lalu kembali melajukan mobilnya. " Gue mau pulang! Gue enggak mau ikut sama lo!" ketusnya. " Jangan harap kalau aku akan melepaskan kamu begitu saja, sayang." Lisa membulatkan matanya, ia jadi takut. Bagaimana kalau nanti Gentala berbuat jahat padanya? " Jangan takut, aku hanya mau hidup bersama kamu dan membuat sebuah keluarga kecil di istana yang sangat indah." ucapnya seolah tahu apa yang ada di pikiran Lisa. " Gue enggak mau hidup sama-sama lo," tolaknya dengan membuang wajahnya ke arah lain. " Tapi, aku mau. Dan mau, tidak mau. Kamu harus mau hidup bahagia sama aku," ucapnya lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus banget
25/03
0bagus
07/05/2025
0bagus bangett novel nyaaa seruuuuu gaiss
30/04/2025
0Lihat Semua