logo text

63 : Pernikahan kedua

Seminggu kemudian:
" Wah, lo gila kali, ya! Masa gue pake daster sih." ketus Lisa pada Hendrik yang memilihkannya daster untuk bisa menghadiri pernikahan Bimo dan Angel.
Sudah empat bulan berlalu, kini usia kandungan Lisa sudah tiga bulan. Dan sekarang, Lisa sedang mempersiapkan dirinya untuk datang ke acara akad suaminya bersama Angel.
Hendrik, ia sudah berada di rumah Lisa dari lima belas menit yang lalu. Semua itu atas permintaan Maureen yang ingin menemui kakak angkatnya terlebih dulu.
" Lo lihat, Mau. Laki lo pilihin gue daster buat datang ke acara pernikahan suami gue sendiri!" seru Lisa dengan rasa kesalnya pada Hendrik.
Maureen yang melihat perdebatan antara Lisa dan suaminya itu hanya mampu tertawa kecil. Jujur, ia sangat senang saat melihat kakaknya itu bisa berdebat hebat dengan suaminya.
Maureen tahu, kalau dirinya dan Hendrik tidak datang ke rumah Lisa. Mungkin Lisa akan menangis tersedu saat tahu kalau suaminya akan menikah di hadapannya.
Istri mana yang tidak sakit, saat melihat suaminya akan menikah lagi. Dan itu tepat di hadapan istri pertamanya.
" Yaelah, Lis. Terus lo mau pake apa? Gaun, lo enggak lihat, badan lo itu udah gendut!" ketus Hendrik sambil bersedekap dada di hadapan Lisa.
Lisa yang mendengar penuturan kata dari Hendrik itu membulatkan matanya tak sempurna.
" Wah, gue enggak terima. Lo sudah menghina gue," ucap Lisa sambil melemparkan baju daster itu ke wajah Hendrik.
" Lah, emang itu kenyataannya kali!" seru Hendrik sambil melempar pakaian Lisa asal.
Baru saja Lisa mau melawan, tapi Maureen segera menengahi mereka dan memberikan pakaian yang ia pilih untuk kakaknya.
" Sudah, nih. Kak Lisa pake baju ini aja," ucapnya sambil memberikan gaun berwarna biru pada Lisa.
Lisa tersenyum kecil saat melihat gaun indah yang di pilih adik angkatnya itu.
" Nah, ini baru bagus. Enggak kayak pilihan suami lo, jelek." Lisa melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Setelah di rasa Lisa sudah masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian, Hendrik segera mengepalkan tangannya menahan segala rasa kesal dan amarahnya terhadap Bimo.
" Gue harap ada seseorang yang bisa memisahkan Lisa dari Bimo." ucapnya lalu mengusap wajahnya kasar.
Maureen yang melihat raut wajah kesal dari suaminya itu hanya mampu mengelus punggung suaminya agar bisa menahan dirinya dari rasa amarahnya.
***
" Selamat, ya. Bim, semoga pernikahan kedua lo langgeng dan semoga kedua istri lo bisa akur sampai tua nanti," ucap salah seorang pria memberikan selamat pada Bimo yang sudah sah menjadi suami Angel.
" Makasih." Bimo menatap pria di hadapannya datar, ia juga tidak pernah memperdulikan ucapan Angel.
Sedari tadi, Bimo hanya fokus memperhatikan istri pertamanya yang sedang menyibukkan dirinya dengan memakan makanan yang tersedia untuk para tamu undangan.
" Heh, lihat deh. Gue enggak habis pikir, kok Bimo bisa sih, berpikiran untuk ngeduain Lisa? Padahalkan menurut gue, Lisa jauh lebih cantik ketimbang istri keduanya." ucap salah seorang pria yang tidak henti-hentinya menatap Lisa dari jauh.
Bimo yang melihat itu merasa tidak suka kalau istri tercintanya di pandang nafsu oleh para pengunjung laki-laki yang hadir dipernikahannya.
' Sial, Lisa. Kenapa kamu harus pake gaun itu!' batin Bimo sambil menatap Lisa yang memang terlihat cantik dengan gaun berwarna biru dan rambutnya yang tergerai hingga ke punggung.
Lisa, dengan rasa kesal dan sesak di dadanya itu mencoba acuh pada sekitar dan mencoba untuk tidak melihat suaminya yang sedang menyambut para tamu undangan dengan istri keduanya.
" Bosen banget gue." ucap Lisa sambil menghembuskan nafasnya pelan.
Lisa melihat ke sekelilingnya yang menatapnya tanpa berkedip sama sekali. Lisa mencoba tidak perduli dengan pembicaraan semua orang tentang dirinya yang mau saja diduakan sama Bimo.
" Lisa, kamu di sini!" seru seorang pria sambil menepuk pundak Lisa pelan.
Lisa yang merasa pundaknya ditepuk dari arah belakang itu berbalik, untuk mencari sang pelaku.
Seketika senyuman terukir indah di wajahnya.
" Gilang, lo kapan pulangnya?" tanya Lisa semangat sambil memeluk sahabatnya itu.
" Dua hari yang lalu, Sania dapat undangan pernikahan dari sahabatnya Angel." ucapnya memberi tahu Lisa.
" Oh, gimana kuliah lo?" tanya Lisa lagi.
" Alhamdulillah gue lulus dengan nilai yang bagus. Dan sekarang gue udah resmi jadi pengacara ternama di luar negeri," ucapnya sambil merangkul Lisa sayang.
Bimo yang melihat keakraban Lisa dengan laki-laki yang tidak ia ketahui itu mengepalkan tangannya kuat. Ia benar-benar tidak suka melihat Lisa dekat dengan laki-laki lain.
" Sania mana?" tanya Lisa pada Gilang.
" Dia lagi ngobrol bareng teman-temannya, makanya gue kagak di anggap," ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya.
Gilang yang melihat wajah sahabatnya yang semakin chubby itu pun mulai memberanikan diri untuk mencubit pipinya.
" Lo makin gendutan aja, Lis. Jadi makin gemes gue sama lo," ucapnya sambil terus mencubit pipi Lisa.
" Ya iyalah, gue kan lagi hamil. Makanya gendut." ujarnya sambil mengusap perutnya yang belum terlihat.
" Apa? Lo hamil? Kok gue baru tahu, sih. Lo udah enggak anggap gue, sahabat dan kakak lo, lagi?!" tanya Gilang tidak terima.
" Siapa suruh lo ganti nomor, kan jadi susah buat kasih kabarnya." ketusnya sambil memutar bola matanya malas.
Gilang tertawa kecil saat sahabatnya itu marah padanya, ia pun mulai melihat kesekelilingnya untuk mencari keberadaan suami Lisa.
" Sayang, ternyata kamu ada di sini!" seru seorang gadis yang tak lain adalah Sania.
" Sania, apa kabar?" tanya Lisa dengan senyuman sumringahnya.
" Lisa, Alhamdulillah aku baik. Kamu sendiri?" tanyanya balik.
" Alhamdulillah aku juga baik," jawabnya sambil berpelukan untuk melepas rindu bersama Sania sahabatnya.
" Lis, suami lo mana?" tanya Gilang pada akhirnya.
Lisa diam, saat Gilang pria yang tak pernah bisa mengontrol emosinya itu menanyakan kebaradaan Bimo suaminya.
Sania melirik Lisa yang tidak menjawab pertanyaan Gilang.
" Kamu udah nikah, Lis?" tanya Sania.
Lisa tersenyum kecil sebagai jawaban pertanyaan dari Sania.
" Iya, dan sekarang sahabat aku ini lagi mengandung," ucap Gilang memberitahu Sania kalau Lisa lagi hamil.
" Oh 'ya, itu artinya aku bakalan punya keponakan dong." ucap Sania semangat, lalu memegangi perut Lisa.
Gilang merasa kesal karena pertanyaannya masih belum dijawab juga oleh sahabat yang sudah ia anggap sebagai adiknya itu.
" Lis, gue tanya? Suami lo mana?" tanya Gilang lagi, dengan nada kesalnya.
Lisa menundukkan kepalanya, ia bingung harus jawab apa pada Gilang. Dia takut, kalau dia bilang. Suaminya itu sedang menyambut para undangan bersama Angel, Gilang malah marah dan membuat masalah di acara pernikahan Bimo yang kedua.
" Lo mau tahu, di mana suami Lisa." ucap Hendrik sambil berdiri di samping Lisa.
Lisa membulatkan matanya, lalu menggelengkan kepalanya kepada Hendrik agar ia tidak memberitahu Gilang kalau Bimo sudah menikah lagi.
Namun, Hendrik tidak mau menuruti apa yang Lisa isyaratkan padanya. Hendrik merangkul Gilang agar mau berbalik dan mau menatap Bimo yang sedang makan bersama Angel.
" Tuh, yang jadi pengantin pria itu. Dia adalah suaminya, Lisa." ucap Hendrik jujur.
Lisa menutup kedua matanya, ia tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya. Tapi, untuk saat ini ia hanya mampu diam dan merutuki dirinya sendiri.
Gilang menatap Bimo sekilas, lalu kembali menatap Lisa yang sedang menundukkan kepalanya.
Gilang mengepalkan tangannya, lalu menghampiri Lisa dan menggenggam tangannya kuat.
Gilang menarik tangan Lisa menuju ke arah Bimo dan Angel yang sedang makan bersama itu.
Bimo yang merasakan ke hadiran dari dua orang itu segera mendongakkan kepalanya, yang pertama ia lihat adalah pergelangan tangan Lisa yang digenggam kuat oleh pria yang tidak ia ketahui.
Lalu ia beralih pada Gilang yang menatap dirinya dengan sorotan tajam.
Hendrik yang melihat interaksi itu pun tersenyum kecil, lalu bersedekap dada sambil melihat adegan alur selanjutnya.
" Lisa, gue minta lo ceraikan suami lo. Sekarang!" tegas Gilang pada Lisa.
Lisa menatap Gilang tak percaya, bagaimana bisa ia menceraikan Bimo. Apa lagi saat ini ia sedang mengandung anaknya Bimo.
" Maaf, anda siapa? Sehingga berani menyuruh istri pertama saya untuk menceraikan saya?" tanya Bimo sambil menggenggam tangan Lisa agar beralih ke sampingnya.
Gilang tidak mau kalah, ia kembali menarik tangan Lisa agar bisa berada di belakangnya.
" Saya tidak akan pernah menyetujui, kalau Lisa menjalin hubungan dengan sosok pria yang tidak bisa setia dengan satu orang gadis," ucap Gilang terus terang.
" Lang, jangan cari keributan di sini. Nanti gue bisa jelasin semuanya." ucap Lisa mencoba untuk menenangkan sahabatnya.
Gilang menatap Lisa lekat, ia tidak habis pikir. Kenapa sahabatnya itu bisa kuat dan menerima semuanya, ia benar-benar tidak bisa menerima ini semua.
" Gue akan laporkan semua ini sama pak Wijaya, gue yakin dia pasti belum tahu soal pernikahan ini." Gilang menarik tangan Lisa agar mau ikut bersamanya.
Yudistira yang mendengar penuturan kata dari Gilang itu pun segera menghentikan langkah kaki Gilang agar ia tidak bisa melaporkan semuanya pada Wijaya ayah Lisa.
Prank!
"Gilang!" teriak Lisa saat Yudistira hendak menusuk Gilang dengan pecahan gelas.
Jleb!
" Lisa!"
Nean berteriak saat Lisa sudah terkulai lemas di lantai dengan perutnya yang sudah mengeluarkan darah segar.

Komentar Buku (86)

  • avatar
    Riska

    bagus banget

    25/03

      0
  • avatar
    mlniiniha

    bagus

    07/05/2025

      0
  • avatar
    nazwasiti

    bagus bangett novel nyaaa seruuuuu gaiss

    30/04/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru