logo text

51 : Kemarahan Wijaya

" Hahaha, kamu mau lawan saya pake pulpen. Apa kamu serius." pria tua itu tertawa receh lalu diikuti ketiga pria di belakangnya yang juga ikut tertawa.
" Emm, tapi sayangnya ini bukan hanya sekedar pulpen. Lo mau tahu apa untung pulpen ini buat lo?" tanya Lisa pada pria tua beruban itu.
" Coba perlihatkan apa untungnya pulpen itu untuk saya." katanya sambil bersedekap dada.
Dengan cepat Lisa mencolok mata kanan pria itu dalam.
" Aaaah! mataku!" teriaknya saat pulpen itu berada di dalam mata kanannya.
Ketiga pria tua itu kaget saat melihat keberanian Lisa.
Lisa mengambil tongkat bola kasti lalu kembali berhadapan dengan dua pria, pria botak dan pria gendut.
" Apa sekarang kamu ingin melawan kita berdua?" tanyanya sambil melangkahkan kakinya menghampiri Lisa.
Lisa kembali mengukir senyuman devilnya. Dengan cepat Lisa memukul leher dan pundak pria gendut itu tanpa ampun.
Lalu beralih memukul si pria kepala botak yang diperban itu hingga mengeluarkan darah.
Si pria gendut masih belum menyerah, ia kembali bangun dan memegang Lisa yang hendak melawan si pria pendek.
" Cepat! Pukuli gadis ini!" teriaknya menyuruh pria pendek itu untuk memukuli Lisa.
" Tunggu! Lo pilih di pukuli sama gue atau sama ayah gue, Kusuma Wijaya!" ucapnya menekan nama ' Kusuma Wijaya'.
Pria pendek itu kembali mundur, Lisa yang mendapatkan kesempatan itu pun langsung menginjak kaki si pria gendut lalu memukul pria itu pakai tongkat kasti dengan kuat dan beberapa kali ia memukulinya tanpa ampun.
Lisa kembali berbalik untuk menghadap pria pendek itu.
" Saya tidak percaya kalau kamu itu adalah putri dari Kusuma Wijaya." ucapnya hendak ingin meninju Lisa, namun dengan sigap Lisa menghindari pukulan itu dengan menari-nari kecil untuk mengambil pisau yang ada di atas nakas dekat dengan pria pendek itu.
Saat Lisa sudah berada di dekat nakas, segera Lisa ambil pisau itu lalu kembali menghadap pria pendek itu.
Saat pria pendek itu ingin nendendang Lisa, lalu dengan cepat Lisa membungkuk dan memberikan tusukan pada kaki kiri si pria pendek.
" Aaah!" teriak pria itu memegangi kaki kirinya yang mendapatkan tusukan pisau.
" Emm, jadi lo udah berbuat kekerasa sama semua anak buah gue!" seru Revano yang berada di ambang pintu.
Lisa menyeringai kecil, " Lo pikir gue takut sama mereka?" tanya Lisa yang sudah siap untuk melawan Revano.
Revano menatap Lisa tajam.
" Lo mau lawan gue, Lis?" tanya Revano pada Lisa.
" Lisa, apa lo gue takut." Revano menghampiri Lisa lalu mendorong Lisa yang sampai terpojokan ke tembok.
Lisa tidak mau kalah sama Revano, dengan sigap ia menendang Revano hingga tersungkur ke lantai.
Saat Revano tersungkur lemas di lantai. Lisa berlari untuk pergi ke luar, namun Revano segera mendorong Lisa pelan.
Lisa tidak tahu harus berbuat apa, yang ada di pikirannya adalah melompat dari atas ke bawah.
' Lompat Lisa, lompat!' batinnya.
Lisa memejamkan matanya saat ia merasa kalau badannya melayang di atas udara dan akan terjatuh ke lantai bawah.
Bugh... .
Lisa membuka matanya saat ada seseorang yang berhasil menangkapnya.
" Bimo," ucapnya pelan.
" Lo mau mati?!" tanya Nean yang berada di samping Bimo.
Revano menatap tajam ke arah sampingnya saat melihat Bimo
Dor!
Suara tembakan itu berasal dari Wijaya yang berada di ambang pintu melihat lawan mainnya tajam.
" Kak Wijaya, dia juga ada di sini?" tanya Hadi adik Wijaya dan ayah dari Vina menatap Wijaya takut.
" Sial! Siapa yang panggil Wijaya ke sini!" umpat Mahendra saat melihat tatapan maut dari Wijaya.
Lisa yang melihat Wijaya itu pun tersenyum kecil. Ia melihat Bimo dan Nean bergantian.
Nean yang mengerti apa yang dimaksud Lisa pun mulai berdiri di hadapan Bimo dan Lisa.
" Biar Revano jadi urusan gue." ucapnya sambil menatap Revano tajam.
Bimo tersenyum kecil saat Nean menghentikannya untuk tidak berurusan dengan Revano.
" Ya udah, kalau gitu gue akan bantu lo saat lo butuh batuan gue." ucap Bimo lalu mengajak Lisa duduk di sofa.
Dor!
Lisa terkejut saat Wijaya kembali menembakkan pelurunya, Lisa menatap ayahnya yang menatap Hadi tajam.
Wijaya menghampiri adiknya Hadi Wijaya yang sudah terbaring lemas karna tembakannya wijaya yang mengenai tepat ulu hatinya.
Wijaya menarik kasar rambut hadi lalu menatap Mahendra yang akan menjadi sasaran selanjutnya.
" Beraninya kamu menjual putri saya, Heh!" sentaknya dengan tatapan maut.
" M-- Maaf.." ucap Hadi pelan setelah itu jatuh pingsan.
Wijaya kembali berdiri lalu menatap Mahendra yang akan menjadi sasaran amarahnya selanjutnya.
Mahendra menelan salivanya susah payah, " Kenapa di saat seperti ini saya malah baru ingat kalau Lisa itu adalah putri dari seorang detektif ." ucapnya pelan lalu memundurkan langkahnya ke belakang.
Wijaya yang melihat langkah mundur dari Mahendra itu pun mulai mengangkat tangannya kembali untuk menembakkan satu peluru pada Mahendra.
Dan!!
Dorr..
Dorr...
Dua tembakan itu berhasil mengenai dua bagian kaki Mahendra. Di lain tempat Nean yang terus memberikan tinjuan demi tinjuan pada Revano yang berani menculik adik angkatnya. Bimo dia hanya duduk santai memperhatikannya. .

Komentar Buku (86)

  • avatar
    Riska

    bagus banget

    25/03

      0
  • avatar
    mlniiniha

    bagus

    07/05/2025

      0
  • avatar
    nazwasiti

    bagus bangett novel nyaaa seruuuuu gaiss

    30/04/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru