logo text

50 : Dipaksa menikahi Revano

" Ayo makan dulu," ucapnya sambil menyodorkan sendok kepada Lisa.
" Enggak mau,"
Pria itu menghembuskan nafasnya pasrah.
" Terserah lo, pokoknya setelah ini lo siap-siap. Karena pernikahan kita akan segera dimulai," ucapnya lalu meninggalkan Lisa yang masih duduk di sofa.
Lisa menoleh ke arah pria yang sudah rapih dengan jas putihnya.
" Pan! Gue enggak mau nikah sama lo!" teriaknya saat Revano kembali mengunci pintu kamarnya.
" Mau, enggak mau. Pernikahan kita akan tetap terlaksanakan!" serunya di balik pintu kamarnya.
"Brengs*k lo, Pan!" teriak Lisa lagi sambil membanting pas bunga yang terpajang di sampingnya.
Ya, Revano Mahendra. Dialah yang menculik Lisa dan memaksanya untuk menikah dengannya.
Dan lebih parahnya lagi, Om Lisa juga ikut dalam rencana Revano. Mungkin yang lebih tepatnya lagi, Om Lisa lah yang menjadikan Lisa jaminan saat dia mau meminjam uang kepada ayah Revano.
Karena terlilit hutang di bank, Om Lisa atak adik dari Kusuma Wijaya itu terpaksa menjadikan Lisa sebagai jaminan untuk meminjam uang pada ayah Revano.
Bodoh, padahal dia juga punya Vina, tapi kenapa dia harus menjual Lisa pada Revano.
" Handphone, gue baru inget kalau gue pernah menyimpan handphone gue di sini." ucap Lisa pelan sambil mencari handphone bekasnya.
Lisa terus mencari handphonenya tak peduli dengan kamar yang berankatakan karena ulahnya.
" Nah, ini dia." Lisa tersenyum kecil saat menemukan handphonnya.
Beruntunglah dia masih ingat nomor Bimo, jadi dia bisa menelpon Bimo secepatnya.
" Hallo Bim,"
"...."
" Aku ada di rumah lama Revano, dia maksa aku untuk nikah sama dia, aku mohon datang secepatnya, Bim. Aku enggak bisa kabur dari sini karena penjagaannya sangat ketat." ucap Lisa lirih tak lupa air matanya yang mengaliri pipi chubynya.
Telepon pun mati, Lisa kembali duduk dalam keadaan takut, ia sangat takut pernikahanya dengan Revano benar-benar terjadi dan Bimo terlambat datang untuk membatalkan pernikahannya dengan Revano.
***
Di sinilah sekarang, Bimo berlari secepatnya untuk menghampiri Nean meminta bantuan agar mengumpulkan semua anggota Black Wolf.
Tak lupa anak buah dari Wijaya yang juga ikut dengan membawa senjata andalan mereka.
Mungkin ini sangat berlebihan, tapi bagaimana lagi. Wijaya sangat yakin kalau Revano pasti akan menyiksa dan bersikap kasar pada putrinya.
" Cepat! Kita harus membatalkan pernikahan Lisa!" teriak Bimo sambil menaiki motornya dan melajukannya cepat menuju ke arah rumah Revano.
" Revano Mahendra! Bersiap-siaplah lo mati ditangan gue!" teriak Nean sambil mengepalkan tangannya.
Nean sangat marah saat tahu Lisa di culik dan di paksa menikah oleh Revano, ia benar-benar tidak bisa memaafkan pria egois dan kasar itu.
Brum, brum.
Suara deruman motor itu mengundang banyak perhatian dari semua orang yang juga sedang mengendari kendaraan mereka masing-masing.
Tak lupa beberapa anggota polisi yang juga membantu Nean dan Bimo yang akan pergi ke rumah lama Lisa yang meminta semua pengendara agar memberikan jalan pada segerombolan anggota Black Wolf dan anak buah dari Wijaya.
Tunggu, di mana Wijaya?
Saat ini ia sedang berada di ruang bawah tanahnya, ia sangat yakin kalau Mahendra ayah Revano itu akan membuat penjagaan yang sangat ketat agar putrinya tidak bisa kabur dari tempatnya mengurung Lisa.
" Mahendra. Jika terjadi sesuatu pada putriku, aku tidak akan pernah mengampunimu!" tegasnya sambil melangkahkan kakinya menuju ke parkiran di mana motornya itu terpakir.
***
Lisa yang masih setia terduduk itu pun menajamkan matanya, lalu berdiri dengan tangannya yang terkepal kuat.
" Gue enggak bisa diam seperti ini, air mata enggak bisa membatu gue. Gue harus bisa menghadapi semua anak buah Om Hadi dan anak buah Om Mahendra." Lisa melangkahkan kakinya cepat.
Dengan segara Lisa melompat dan menendang pintu yang terkunci itu kuat hingga rusak dan terbuka.
Pertama Lisa berhadapan dengan empat orang yang berbadan kekar. Lisa menatap ke empat pria berotot itu tajam.
' Jangan takut saat kamu sedang berhadapan dengan orang yang jauh lebih kuat dan berotot dari kamu, tapi takutlah saat kamu berhadapan dengan orang yang jauh lebih cerdas dari kamu.'
Ucapan ayahnya Wijaya terngiang diingatan Lisa, ia tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.
Lisa menatap keempatnya dengan seksama untuk mencari titik lemah mereka.
Pertama, pria yang beruban, Lisa melihat pria tua itu yang hanya bisa melihat dengan satu matanya.
Kedua, adalah pria gendut yang selalu mengusapi lehernya dan bahunya.
Ketiga, pria pendek yang berjalan dengan kaki pincangnya, dan keempat adalah pria botak yang memiliki bekas luka di kepalanya itu, mungkin ia baru selesai berobat, terbukti dari kepalanya yang di perban.
Lisa tersenyum devil, " kalian yakin mau lawan gue!" serunya sambil menatap ke empat pria tua itu tajam.
Lisa mengambil sebuah pulpen yang ada di atas sebuah meja kosong lalu menyodongkannya pada pria yang mau ia lawan terlebih dahulu.
" Hahaha... Kamu mau melawan kami pake sebuah pulpen, apa kamu serius?" pria tua itu tertawa receh sereceh-recehnya dan menular kepada tiga pria lainnya yang juga ikut menertawainya.
" Emm, tapi sayangnya ini bukan hanya sekedar pulpen, lo mau tahu apa untung dari sebuah pulpen ini di tangan gue?" lisa bertanya pada seorang pria botak.

Komentar Buku (86)

  • avatar
    Riska

    bagus banget

    25/03

      0
  • avatar
    mlniiniha

    bagus

    07/05/2025

      0
  • avatar
    nazwasiti

    bagus bangett novel nyaaa seruuuuu gaiss

    30/04/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru