logo text

5 : Hancurnya persahabatan.

4 tahun kemudian ....
Saat beberapa tahun lalu, Lisa dikurung selama beberapa jam dan tanpa membaca buku. Lisa pun mengalah dia meminta maaf dan berjanji tidak akan dekat dengan cowok mana pun.
Namun, sayang satu tahun lalu. Revano mulai cuek karena saat masuk kelas 1 SMA Negeri CAKRAWALA. Revano merasa kalau dia dan gadis yang ia temui saat di perpustakaan itu sudah menjadi takdir dan akan menjadi jodohnya.
Sehingga pada akhirnya Revano meminta bantuan Lisa agar bisa dekat dengan gadis cantik yang sudah menjadi sahabat dekat Lisa.
Lisa sudah berusaha untuk membantu Revano, tapi gadis itu bilang kalau dia tidak mencintai Revano dan tidak ingin menjadi pacarnya Revano.
Saat Revano bertemu dan sudah mengenali gadis itu, dia jadi tidak pernah perduli dengan kehadiran Lisa di dekatnya.
Revano hanya perduli bagaimana caranya ia bisa dekat dengan gadis yang dicintainya.
'Oh, jadi lo enggak mau bantuin gue lagi buat bisa deket sama dia. Ok, fine kalau gitu persahabatan kita berhenti sampai disini aja!'
"Dia putusin persahabatnya hanya karena gue enggak mau bantuin dia deket sama dia, Maudi." ucap Lisa disela-sela belajarnya ia tidak bisa fokus tentang pertengkarannya dengan Lisa satu tahun yang lalu.
Lisa juga mengingat bagaimana Revano memukuli Gilang sampai masuk rumah sakit karena selalu mendekatinya.
Dan tahun lalu meski persahabatan Revano dan Lisa sudah berhenti atau tidak ada lagi hubungan persahabatan antara Lisa dan Revano. Revano masih tetap memukuli banyak laki-laki yang berani mendekati Lisa.
'Heh, gue denger Revano mukulin Doni sampai masuk rumah sakit. Lho,'
'Oh-ya, kok bisa dia mukulin Doni sampai masuk rumah sakit sih?'
'Katanya sih, karena Doni berani duduk satu bangku sama Lisa.'
'Tapi, bukannya Revano sukanya sama Maudi ya, kok dia malah mukulin Doni yang lagi pdtk-in Lisa sih?'
'Mana gue tahu,'
Itulah gosip yang Lisa dengar satu tahun yang lalu. Dia juga tidak habis pikir, meski ia dan Revano tidak lagi bersahabat, larangan Revano untuk Lisa yang tidak boleh deketin cowok itu masih berlaku.
"Rasanya gue enggak bisa bebas, setiap kali ada cowok yang deket sama gue harus gue jauhin supaya enggak celaka karena ulah lo, Pan!" ucap Lisa lagi dan kembali fokus pada pelajarannya.
***
Pagi pun tiba, Lisa sudah bangun dari tidurnya. Ia juga sudah siap untuk berangkat sekolah.
Waktu pun masih menunjukkan pukul 05:30 pagi, Lisa harus berangkat sebelum Papanya bangun dan berangkat sekolah.
Lisa mengambil tas dan mulai menuruni anak tangga satu persatu, saat ia sudah berada di bawah ia mengambil kotak bekal yang sudah disiapkan oleh pembantu.
"Non Lisa, enggak sarapan di rumah aja?" tanya Bi Intan pada Lisa.
"Enggak bi, kalau Lisa belum pergi saat Papah udah bangun, nanti yang ada Papa marah lagi sama Lisa. Udah dulu ya, Lisa pamit berangkat sekolah dulu," ucapnya sambil mencium punggung tangan Bi Intan.
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumussalam, Ya Allah. Kapan Non Lisa bisa sarapan bersama Tuan Wijaya," ucap bi Intan pelan.
Sesampainya di kelas Lisa membuka kotak bekal dan memakan satu roti yang disiapkan Bi Intan.
Lisa tersenyum kecil, "Miris hidup gue, setiap hari makannya roti dan bakso. Kapan gue bisa makan masakan rumah." ucapnya pelan tak lupa air mata yang keluar dari kelopak matanya.
"Enggak apa-apa segini juga Alhamdulillah," ucap Lisa lagi.
Selesai sarapan Lisa membuka buku pelajarannya dan membaca bukunya untuk persiapan ulangan hariannya.
Pukul 06:30 pagi, kini kelas sudah dipenuhi oleh siswa dan siswi yang baru datang.
"Hey, lihatlah sahabat kita udah sampai di sekolah," ucap Fathia yang langsung duduk di bangkunya.
"Ya Allah, Lis. Lo rajin banget sih," ucap Maudi sambil memeluk Lisa sayang.
"Apaan sih, lo. Enggak usah peluk-peluk gue. Emang gue cewek apaan," ucap Lisa sambil bergidik ngeri.
"Yaelah gitu amat sih lo sama sahabat sendiri." ucap Maudi sambil memanyunkan bibirnya.
"Lisa, lo udah nyelesain tugas matematika belum?" tanya salah satu siswa yang bername-tag 'Indra' itu.
"Udah, kenapa mau nyontek?" ucapa Lisa kembali bertanya.
"Hehe, itu pun kalau dibolehin sama lo," ucapnya sambil terkekeh kecil.
"Boleh, nih lihat aja," ucapnya sambil memberikan buku tugas matematikanya sama Indra.
"Waaah, makasih Lis," ucap Indra berterimakasih.
Saat semua orang lihat indra dikasih contekan sama Lisa, mereka pun mulai membuka tas mereka untuk mengambil buku dan ikut menyontek, namun segera diurungkan saat Lisa melarangnya.
"Stoop!! Gue hanya memberi contekan sama satu orang, dan lo Indra! Jangan kasih contekan itu sama siapa pun, karena itu semua perlu izin gue. Ngerti!" teriaknya dan semua siswa dan siswi itu pun merutuki dirinya sendiri dan mulai menghujat Lisa sebagai siswi pelit dalam memberi contekkan.
Selang beberapa menit Lisa memberikan buku tugasnya pada Lisa dan kembali pada tempat duduknya setelah mengucapkan terima kasih.
"Permisi, saya Devi. Saya ingin kasih tahu kalau Pak Andi tidak masuk untuk mengajar, dia udah kasih tugasnya lewat Whatsapp Lisa dan katanya tugas minggu kemarin harus cepat dikumpulkan ke mejanya, kalau tidak ada yang mengumpulkan maka harus siap-siap untuk di hukum." Ungkap Devi menginformasikan tugas pada kakak kelasnya.
"Yaaah, padahal gue udah seneng karena Pak Andi enggak bisa hadir. Eh malah kasih tugas," ucap salah satu siswi yang bername-tag 'Rani' itu sambil cemberut.
"Yang sudah mengerjakan tugas matematika, kumpulin di depan." Titah Lisa tegas.
Selesai mengumpulkan tugas, Lisa pun mulai menuliskan tugas yang di kasih Pak Andi di papan tulis.
***
Teng....
Bel pulang sudah berbunyi, Lisa tidak akan langsung pulang ke rumah dia ada janji kerja kelompok sama Doni.
Sekarang Lisa sedang menunggu Panji di parkiran motor milik Doni.
"Hey, Lis. Gue lama ya?" tanya Doni pada Lisa.
"Enggak kok," jawab Lisa singkat.
"Yaudah ayo naik," titahnya pada Lisa.
"Helmnya," tanya Lisa dan Doni pun memberikan helmnya pada Lisa.
"Woy, mau pada kemana kalian?" tanya seorang pria yang tak lain adalah Revano.
Lisa menatap Revano sinis, "Bukan urusan lo." Jawab Lisa cuek lalu mulai menaiki motor Doni dan melingkarkan tangannya ke perut Doni tanpa rasa takut sama Revano.
Revano menatap Lisa dan Doni yang kegirangan karena dipeluk sama Lisa.
"Udah selesai?" tanya Doni pada Lisa.
"Udah," jawan Lisa.
Saat Doni mau melajukan motornya secepat mungkin Revano menghalangi jalan mereka.
"Van. Lo apa-apaan sih?" tanya Doni yang merasa kesal.
Lisa hanya menatap Revano malas. "Epan, minggir kita mau kerja kelompok!" ucap Lisa dengan nada tinggi.
"Oh 'ya, kerja kelompok dengan cara lo peluk-peluk Doni kayak gitu, iya." Ucapnya tidak suka melihat adegan yang menurutnya terlalu berlebihan.
"Gue takut jatuh, gue kan enggak pernah naik motor," jawab Lisa jujur.
Revano menghampiri Lisa, "Turun." Titahnya sedikit tegas.
"Enggak." Tolak Lisa tegas.
"Gue bilang turun sekarang!" teriak Revano tidak suka dibantah.
Lisa tidak mendengarkan teriakan Revano, Revano pun sudah tidak bisa menahan emosinya. Dia mulai menarik tangan Lisa hingga jatuh ke dalam pelukannya.
"Lo duluan, biar gue dan Lisa ikutin lo dari belakang." Titahnya pada Doni dengan tatapan tajamnya.
Revano pun mulai menyalakan motornya dan menyuruh Lisa naik. Setelah Lisa naik, Revano pun mulai mengikuti Doni dari arah belakang.
"Kadang gue bingung sama Revano, mulutnya bilang cinta sama Maudi, tapi gerak-geriknya bilang kalau cintanya itu hanya buat Lisa seorang." Ucap Fathia menerka-nerka.
"Baguslah, itu artinya gue enggak perlu khawatir soal bagaimana caranya ngejauh dari Revano," jawab Maudi lalu pergi menuju halte bis.
Sesampainya di cafe, Doni dan Lisa pun mulai mengerjakan tugas mereka. Sementara Revano ia setia menunggu Lisa dari jarak jauh.
"Lalisa!" Panggil seorang pria sambil mengukir senyumannya.
"Gilang, lo udah balik?" tanya Lisa lalu berjabatan tangan dengan Gilang yang membalasnya sambil mengecup punggung tangan Lisa mesra.
Revano dan Doni yang melihat adegan tadi langsung berdiri dari duduknya, berbeda dengan Revano yang langsung berlari dan menjadi penengah antara Lisa dan Gilang.
"Hay, apa kabar bro. Kayaknya lo enggak bosen-bosen ya masuk rumah sakit." Ucap Revano lalu menjabat tangan Gilang kuat.
"Iya, mau berapa kali pun gue masuk rumah sakit. Gue akan tetap memperjuangkan Lisa, meski saingan gue jauh lebih kuat dan jago dari gue," ucapnya sambil menatap Revano tajam dan membalas jabatan tangan itu lebih kuat dari Revano.
Revano menatap Lisa yang masih fokus pada bukunya.
"Kita pulang." Titahnya sambil menerik tangan Lisa.
"Apaan sih, gue enggak mau. Tugas gue belum selesai," ucap Lisa menolak perintah Revano.
"Lo berani nolak perintah gue!" teriak Revano sambil menatap Lisa tajam.
"Buat apa gue takut, toh. Lo juga bukan siapa-siapa gue lagi 'kan. Jadi buat apa lo ngurusin hidup MANTAN SAHABAT LO!" teriak Lisa sambil menekan kata 'Mantan Sahabat'.
Mendengar penuturan kata Lisa, Revano bungkam dan merutuki dirinya sendiri yang udah berani mutusin persahabatannya karena emosi.
"Kalau aja waktu itu bisa terulang, gue akan menarik kata-kata gue yang udah ngebuat Lisa jadi jauh dan enggak ada disisi gue lagi," ucap Revano membatin.

Komentar Buku (86)

  • avatar
    Riska

    bagus banget

    25/03

      0
  • avatar
    mlniiniha

    bagus

    07/05/2025

      0
  • avatar
    nazwasiti

    bagus bangett novel nyaaa seruuuuu gaiss

    30/04/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru