Waktu menunjukkan pukul 16:30 sore, Lisa masih mengajak supir pribadi papahnya itu keliling-keliling di jalanan. "Non, kita enggak pulang?" tanya supir yang selalu mengantar Lisa kemana pun ia pergi. "Enggak pak, lagi pula papah masih ada di rumah 'kan, jadi aku tidak bisa pulang sebelum dia pergi. Kalo aku datang di saat ia masih ada di rumah, bisa-bisa akan ada rasa sakit yang tidak bisa aku sembuhkan," ucap Lisa sambil terus melihat keluar jendelanya. "Luka yang dulu aja belum sembuh, masa ia aku harus menambah luka itu lagi," ucapnya lagi menahan air mata yang ingin segera mengaliri pipi chubynya. Namun nihil, air mata itu berhasil mengalir dan membuat dada Lisa kembali sesak saat mengingat hari ulang tahunnya dulu. "Kalo gitu, kita akan kemana non? Dari tadi kita hanya berkeliling saja," tanya supir yang bernama Pak Bambang itu pada Lisa. "Kita berhenti saja di sini, Bapak pulang saja. Takutnya saat Papah mau pergi kerja lagi," titah Lisa pada Pak Bambang. "Tapi ...," ucap Bambang terhenti saat Lisa melanjutkan ucapannya. "Bilang aja kalau Lisa sedang sama Epan," ucap Lisa seakan tahu apa yang dipikirkan Bambang supir pribadi Papahnya itu. "Baiklah Non, kalo gitu non Lisa jaga diri baik-baik. Saya akan kembali untuk menjemput," ucapnya lalu berhenti di sisi jalan. Lisa keluar mobil tanpa membalas ucapan Bambang. "Ya Allah, punya salah apa majikan kecil saya itu. Sehingga ia harus merasakan kehidupan pahit dari semenjak ia kecil," ucap Bambang pelan lalu melajukan mobilnya menuju ke arah rumah Lisa. Lisa berjalan-jalan di taman, setelah sampai di tempat tujuannya Lisa duduk di kursi panjang yang tersedia di sampingnya. 'Seharusnya kamu tidak perlu lahir di dunia, kamu itu adalah anak pembawa sial bagiku. Karena kelahiran dirimu, istriku harus meninggal dan pergi jauh dariku.' 'Sorry. Karena hati gue udah berpindah kelain hati.' 'Jangan datang ke rumah jika saya masih ada di rumah, datang dan keluarlah jika saya sudah tidak ada di rumah. Jujur, saya muak melihat wajah kamu di sekitar rumahku,' Ingatan itu selalu terngiang dipikiran Lisa. Jika ia harus memilih antara hidup atau mati, dia pasti akan memilih mati. "Apa kesalahan gue, apa yang gue lakuin sehingga bokap gue enggak pernah mau melihat gue. Jika memang dia enggak mau melihat gue, kenapa dia enggakbm buang atau kasih gue ke Panti Asuhan saja, kenapa dia harus merawat dan menjaga gue terlalu ketat seperti ini," ucapnya pelan dengan kepalanya yang menunduk. Air mata Lisa kembali mengalir, sekarang Lisa menangis sambil menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak. "Hari itu pun akan tiba, dimana sahabat gue akan meninggalkan gue demi cewek yang dia cintai," ucapnya lagi sambil terus menatap kosong ke arah depannya. Lisa kembali menunduk dan menutupi kepalanya dengan kedua telapak tangannya. "Ck, kenapas sih gue harus ketemu sama lo di saat lo sedang nangis terus," ucap seorang pria tampan yang duduk di samping Lisa. Lisa menatap pria itu sekilas, lalu menghapus air matanya dan mengubah mimik wajahnya dengan ekspresi dingin dan cuek. "Mau ikut gue," ajak pria tampan itu pada Lisa. "Kemana?" tanya Lisa pada pria tampan di hadapannya itu. "Ke hati gue," ucap pria itu bercanda. "Enggak lucu." Jawab Lisa cuek. Pria tampan itu menarik tangan Lisa kuat hingga Lisa jatuh ke dalam pelukannya. "Kalo lo mau nangis, nangis aja gue siap kok nungguin lo, sampe lo berhenti nangis," ucapnya tulus sambil mengukir senyumannya. Lisa menatap pria tampan itu dengan wajahnya yang sudah pucat karena menangis. Lisa pun tersentuh dan memeluk pria tampan itu erat dan menangis dengan sejadi-jadinya. "Hiks, hiks, kenapa di saat gue sedang butuh sahabat gue yang akan gue jadiin tempat untuk menopang air mata gue, justru lo yang datang dan siap untuk menunggu gue," ucap Lisa sambil terus mengeratkan pelukannya. "Karena gue jauh lebih baik dari sahabat lo," ucap pria tampan itu. Lisa berhenti menangis dan melepas pelukannya lalu ia menatap pria tampan di hadapannya lekat. "Gilang, dulu kita juga satu kelas saat SD, tapi kenapa lo baru datang dan nemuin gue beberapa minggu belakangan ini?" tanya Lisa pada pria yang ia sebut 'Gilang' itu. "Karena sahabat lo, gue tahu lo dan sahabat lo itu sangat dekat. Jadi gue enggak berani buat nikung sahabat lo itu," ucapnya sambil ditemani kekehannya sendiri. "Dih, enggak jelas." ucapnya lalu kembali duduk. Gilang kembali menarik tangan Lisa dan menggendong Lisa ala brydal Style dan membawanya ke arah sepedanya. "Naik." titahnya pada Lisa. Lisa pun menuruti keinginan Gilang. Gilang pun mulai mengayuh sepedanya saat Lisa sudah naik sepeda, dan membawa Lisa jalan-jalan. *** Saat di perjalanan, Gilang menghentikan sepedanya di sisi jalan. "Kok, berhenti?" tanya Lisa pada Gilang. "Kita makan dulu, emangnya lo enggak laper apa," ucapnya lalu pergi menuju tukang bakso. Lisa mengikuti Gilang dari arah belakang. "Duduk," titah Gilang pada Lisa, dan Lisa pun menuruti perintah Gilang. "Penurut banget sih, pantesan Revano enggak mau jauh-jauh dari lo," ucap Gilang dalam hati. Selang beberapa menit, Gilang membawa bakso yang ia pesan dari abangnya. "Nih, pesanan lo mie ayam 'kan?" tanya Gilang memastikan. "Iya, makasih." ucapnya berterima kasih. "Tapi, sahabat lo mana, kok enggak ke lihatan?" tanya Gilang pada Lisa. "Lagi cari cewek yang ia temuin kemarin, katanya sih lebih cantik dari gue," jawabnya jujur. "What? Serius terus perjanjian kalian, gimana?" tanya Gilang lagi. "Entahlah mungkin tuh cowok lupa, udahlah enggak usah bahas dia males gue," ucap Lisa lalu memakan mie ayam yang dipesan Gilang tadi. "Lisa!!" teriak Revano di sebrang jalan. Lisa dan Gilang menoleh ke asal suara secara bersamaan. "Van, kayaknya dia mau ngamuk," ucap Gilang sambil melihat Lisa. "Biarinlah, dia aja bisa jatuh sama cewek lain, masa iya gue enggak bisa." Jawab Lisa yang cuek dan tidak perduli sama perasaan Revano. Revano yang merasa kalau Lisa tidak menghiraukannya pun pergi menghampiri Lisa dengan perasaannya yang berkecamuk. "Lis, lo denger enggak sih. Tadi, gue neriakin nama lo?" tanya Revano pada Lisa. "Denger," jawabnya singkat. "Terus kenapa lo eng--," ucapnya terpotong saat Lisa mengucapkan hal yang membuat Revano diam membisu. "Gue lagi makan sama cowok yang gue cintai," ucap Lisa cepat, Revano diam dan menatap Gilang sekilas. "Hi," sapa Gilang sambil tersenyum manis. "Ayo kita pulang." Titahnya sambil menarik tangan Lisa kuat. "Iih, apaan sih lo, gue lagi makan." Ucapnya sambil mencoba melepaskan tangannya dari genggaman tangan Lisa. "Iya, nanti kita akan makan di RESTORAN TERMAHAL." Ucapnya sambil menekan kata 'Restoran Termahal'. "Tapi, gue maunya disini sama Gilang," jawab Lisa yang kembali berhasil membuat Revano sakit hati. "Lis, lo lupa sama perjanjian masa kecil kita, kalo lo enggak akan pernah ngelirik dan cinta sama cowok mana pun selain gue. Terus sekarang apa, lo mau ingkari janji lo." Ucap Revano mengingatkan perjanjian masa kecilnya. "Siapa yang mengingkari, gue cuma ngikutin arah jalan lo. Lo aja bisa mencintai cewek lain masa iya gue enggak bisa." Ucap Lisa lagi. "Pulang." Titah Gilang lagi dan membawa Lisa pergi meninggalkan Gilang sendiri. "Dasar cowok egois," ucap Gilang pelan. *** Sesampainya di rumah Revano, Revano melempaskan tangan Lisa kuat sampai terjatuh ke sofa. "Ke kamar!" Titah Revano emosi. "Apaan sih lo, enggak jelas banget." Ucapnya lalu pergi ke kamarnya. Mendengar keributan di ruang tamu, secepatnya Sarah menghampiri Revano dan Lisa yang sedang bertangkar. "Epan, Lisa, Kalian ada apa?" tanya Sarah sambil menengahi kedua sejoli itu. Lisa menatap Sarah sekilas, "Enggak ada apa-apa tante, Lisa mau pulang ke rumah," ucap Lisa pelan dan Revano terkejut saat Lisa menyebut mamahnya dengan sebutan 'Tante'. "Tante, lo bilang tante!" teriak Revano dengan emosinya yang meluap. "Iya, gue bilang tante. Emang kenapa, lo enggak suka." Jawab Lisa sambil menajamkan matanya. "Ayo, lo enggak boleh pulang. Lo akan nginep di sini sampe lo minta maaf sama gue dan bilang Mamah gue dengan sebutan Mamah mertua lagi!" ucap Revano lagi dan menarik tangan Lisa menuju ke arah kamarnya. Sesampainya di kamar Revano, secepatnya Revano mengunci Lisa di dalam kamarnya. "Epan! Buka pintunya, lo enggak bisa giniin gue, gue bukan jodoh lo!" teriak Lisa di dalam kamarnya. "Enggak, gue enggak akan bukain pintunya, gue enggak mau lo dekat sama cowok mana pun selain gue!" jawab Revano berteriak. Lisa duduk dibalik pintu, dia menundukkan kepalanya pasrah. "Lo boleh jatuh cinta sama cewek lain, tapi gue. Lo malah ngelarang gue buat deket sama cowok mana pun, lo egois banget. Pan," ucap Lisa dalam hati. "Gue tahu, gue egois. Tapi gue enggak mau lo jadi milik orang lain, kalo pun gue harus memilih. Gue pasti akan memilih menikahi lo dan dia cewek yang gue cintai, dan lo. Lo harus mau untuk gue duain, Lis." Ucap Revano dalam hati.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus banget
25/03
0bagus
07/05/2025
0bagus bangett novel nyaaa seruuuuu gaiss
30/04/2025
0Lihat Semua