' Bimo!' Triing.....!!! Lisa terbangun dari tidurnya, ia melihat jam yang menunjukkan pukul 04.35 pagi. " Apa tadi gue mimpi nikah sama dia, tapi kenapa bisa gitu?" ucap Lisa pelan bertanya pada dirinya sendiri. Lisa menggelengkan kepalanya lalu berjalan menuju kamar mandi untuk siap-siap berangkat sekolah. Setelah selesai mandi, melaksanakan sholat subuh, dan memakai baju seragam Lisa kembali teringat dengan mimpi aneh yang ia alami. " Wah, bisa-bisa gue gila kalau mikirin dia. Tapi, kenapa gue malah mimpi nikah sama dia bukan sama Kavin?" " Aarrgh, Bimo lo ngapain sih, datang ke mimpi gue!" teriak Lisa sambil mengacak rambutnya stress. Lisa menarik nafasnya panjang saat melihat rambutnya kembali berantakan karena ulahnya sendiri. " Ini semua salah si Bemo. Awas aja kalau ketemu, gue bakal minta pertanggung jawaban sama dia!" ketusnya sambil kembali menyisir rambutnya. Setelah selesai mempersiapkan diri, Lisa melangkahkan kakinya menuju ke luar dan meminta pak Kemal untuk berangkat ke sekolah saat itu juga. Sesampainya di sekolah Lisa pergi ke kelas XI-IPS 4 untuk menemui Bimo. " Bimo!" teriak Lisa saat sudah sampai di kelas XI-IPS 4. Bimo yang merasa namanya di panggil itu pun menghampiri Lisa dengan langkah kaki yang sangat santai. Plakk!! Bimo terkejut saat tiba-tiba saja Lisa menamparnya. Bimo menatap Lisa bingung, " Kenapa lo nampar gue?" tanyanya pada Lisa. " Salah sendiri, ngapain lo datang bertamu ke mimpi gue, dan ngucapin ijab qobul buat gue?" ucap Lisa kembali bertanya pada Bimo. " What! Lo seriusan mimpi nikah sama gue, Lis?" Bukannya menjawab pertanyaan, Bimo malah balik bertanya lagi sama Lisa. Lisa menarik tangan Bimo untuk masuk ke kelasnya lagi. " Gue juga bingung kenapa gue bisa mimpi kayak gitu." ucap Lisa sambil terus mengenggam tangan Bimo tanpa disadari olehnya. " Mungkin itu pertanda dari Allah." Lisa menoleh ke arah Bimo bingung. " Maksudnya?" tanyanya. " Iya, mungkin itu pertanda dari Allah kalau sebenarnya lo itu jodoh gue, bukan jodohnya Kavin." ucap Bimo. Deg... Bukan merasa sakit atau merasa risih dengan perkataan Bimo. Lisa malah menatap Bimo tak percaya. " Aamiin.." ucap Lisa megamini ucapan Bimo. Bimo membulatkan matanya kaget saat mendengar kata ' Amiin' dari Lisa. " Lo enggak marah?" tanya Bimo pada Lisa. " Kalau emang itu yang di tulis sama Allah untuk jadi takdir gue, buat apa gue marah." Lisa menatap Bimo yang juga menatapnya dengan tatapan tak percaya. " Udahlah gue mau ke kelas dulu, titip salam buat calon suami gue, ya." ucap Lisa berjalan meninggalkan Bimo. Deg.. Bimo kembali menundukkan kepalanya saat lagi dan lagi Lisa mengingatkannya dengan statu Lisa saat ini. ' Dia mudah banget membuat gue terbang dan juga membuat gue jatuh saat itu juga.' ucap Bimo membatin lalu menatap ke pergian Lisa. *** " Kavin!" teriak Lisa memanggil nama Kavin. Kavin yang mendengar teriakan Lisa itu pun langsung mengukir senyuman samar. " Apa?" tanya Kavin singkat. " Maksud lo apa, maksud lo apa ngajak Maudi pacaran. Hah?!" tanya Lisa sambil menatap Kavin tajam. " Lo tau dari mana kalau gue ngajak Maudi pacaran?" tanya Kavin balik. " Maudi yang telpon gue, dia bilang kalau lo tembak dia." ucap Lisa menjawab pertanyaan Kavin. " Vin, lo mau macarin orang padahal lo tahu kalau dua hari lagi kita akan nikah." Lisa menatap Kavin tajam ia menahan rasa amarahnya. Kavin tersenyum receh, lalu menghampiri Lisa pelan. " Karena dia jauh lebih baik dari lo. Dia juga perhatian dan yang jelas gue cinta sama dia, soal pernikahan lo lupain aja, lagi pula gue udah enggak tertarik lagi kok sama lo!" serunya sambil tersenyum devil. " Lo pikir gue cewek apaan sehingga lo bisa mempermainkan perasaan gue kayak gini, heh!" teriaknya sambil menarik kerah bajunya. Kavin mendorong bahu Lisa, " Gue salah karena udah nunggu cewek kayak lo. Yang seharusnya gue tunggu dan yang jadi cinta pertama gue itu Maudi, bukan lo." Nean yang mendengar penuturan kata dari Kavin itu pun sudah tidak bisa menahan emosinya. Segera Nean menghampiri Kavin, tapi Lisa segera menahan Nean. " Gue enggak apa-apa kok, Nean. Lagi pula gue bersyukur karena kedok cowok pengkhianat ini sudah terbongkar saat gue dan dia belum melaksanakan pernikahan." ujar Lisa lalu menatap Kavin dengan tatapan kecewanya, " Dengerin gue, Vin. Gue yakini lo akan menyesal saat tahu kebenaran tentang Maudi, dan juga memilih untuk memutuskan hubungan sama gue." lanjut Lisa lalu pergi meninggalkan Kavin yang tersenyum devil. " Bukan gue yang akan menyesal, Lis. Tapi, lo lah yang akan menyesal." Kavin menatap Nean dan anggota Black Wolf yang menatapnya tajam. " Gue tau lo kecewa, gue juga tau kalau lo akan keluarin gue dari anggota lo. Tapi, sebelum itu terjadi, gue lah yang akan mengundurkan diri dari anggota Black Wolf karna gue tau siapa yang gue cinta sekarang." ucap Kavin lalu pergi meninggalkan Nean yang masih terpaku dengan yang lainnya. Setelah kejadian di kantin tadi, Bimo berlarian kecil mencari Lisa. Ia tidak mau apa yang Lisa ucapkan saat memainkan tanya-jawab itu benar-benar terjadi. Bimo menghembuskan nafasnya kasar saat ia masih belum bisa menemukan Lisa di halaman belakang. " Kenapa lo, kangen." Bimo membalikkan badannya saat mendengar suara Lisa. Bimo menghampiri Lisa khawatir, " Lo enggak apa-apa 'kan?" tanya Bimo pada Lisa. " Tanggung jawab lo!" ketus Lisa pada Bimo. Bimo menatap Lisa kebingungan, ia tidak mengerti dengan ucapan Lisa sama sekali. " Tanggung jawab apa?" tanya Bimo. " Buat mimpi gue jadi nyata. Lo harus nikahin gue dua hari lagi." ucap Lisa yang berhasil membuat Bimo membulatkan matanya kaget.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus banget
25/03
0bagus
07/05/2025
0bagus bangett novel nyaaa seruuuuu gaiss
30/04/2025
0Lihat Semua