logo text

11 : Pelampiasan rasa.

Pukul 18.30 malam...
Lisa sedang di perjalanan menuju rumah sakit, hari ini adalah hari terakhir Reza dirawat. Dan besok Reza sudah bisa pulang ke rumahnya. Dari saat ia mau baru keluar dari pekarangan rumahnya, Lisa tidak pernah berhenti tersenyum, ia terus mengingat wajah Reza yang sangat Tampan.
Sesampainya di rumah sakit, Lisa menyuruh supirnya untuk pulang ke rumah karena seperti biasa ia akan tinggal di rumah sakit untuk menemani Reza. Setelah ke pergian supirnya, Lisa pun masuk ke dalam dan melangkahkan kakinya menuju ruangan VIP di mana tempat Reza di rawat.
"Za, aku kembali lagi sama kamu." Lisa mendengar suara perempuan di ruangan Reza. Lisa penasaran sama suara perempuan yang ada di dalam ruangan VIP.
Lisa pun membuka sedikit pintu untuk melihat siapa perempuan yang menjenguk Reza.
"Ngapain kamu ke sini, bukannya kamu udah tunangan sama laki-laki itu?" tanya Revano pada gadis yang berada di sampingnya. Lisa melihat Reza menatap perempuan itu dengan tatapan sinisnya.
"Daddy batalin pertunangan aku sama Leo, aku udah kasih bukti sama daddy kalau Leo itu bukan laki-laki baik dan dia juga suka bermain wanita," ucap gadis itu dengan air matanya yang sudah menetes melewati pipinya.
Dan Lisa masih setia mendengarkan perbincangan Reza dan perempuan itu.
"Tapi, teranyata aku datang terlambat. Saat aku datang dan menemui Gilang, aku tahu saat Gilang bilang kalau kamu itu udah punya pengganti aku, Za. Jujur aku udah berusaha untuk menolak perjodohan aku dan Leo, tapi daddy tetap bersikeras menjodohkan aku sama Leo. Sampai pada akhirnya aku mencari bukti untuk bisa membatalkan pertunangan aku sama Leo. Dan aku berhasil, daddy batalin pertunangan aku dan Leo, dia juga suruh aku untuk jemput kamu untuk kembali lagi," ucap gadis itu lagi menjelaskan tentang batalnya pertunangannya dengan laki-laki yang pernah dijodohkan ayahnya.
Reza hanya menatap gadis itu sendu. "Aku tahu, aku salah Za. Aku juga datang terlambat. Aku enggak mungkin paksa kamu untuk kembali lagi sama aku, aku pamit ya, Za. Besok aku harus balik lagi ke London." Gadis itu berpamitan pada Reza.
"Kamu enggak terlambat kok, Bell." Reza menggenggam tangan gadis yang ia sebut 'Bell' itu.
"Aku masih ada rasa sama kamu. Bell," ucap Reza mengungkapkan perasaannya pada gadis yang mungkin saja kalau dia itu adalah mantan kekasihnya saat ia masih berada di London.
"Terus wanita itu, bagaimana?" tanya gadis itu pada Reza tentang Lisa.
"Maksud kamu Lisa?" tanya Reza balik bertanya.
Gadis itu mengangguk, "Jujur, sebenarnya aku enggak suka sama dia. Dia hanyalah pelampisanku saja, agar aku bisa melupakan kamu. Tapi, ternyata aku enggak bisa, Bell. Nyatanya adalah aku masih benar-benar mencintai kamu." Reza mengatakan semuanya tepat saat Lisa memang sudah mendengarkan pembicaraan mereka dari awal.
Deg...
Lisa menutup pintu ruangan tersebut. Ia sangat kaget dengan ucapan yang baru saja Reza ungkapkan pada gadis yang dicintainya.
Lisa pergi meninggalkan ruangan itu, ia berlari sangat kencang tanpa berniat berhenti. Ia berhenti di taman yang sangat gelap, tidak ada siapa pun di tempat itu.
Lisa berjongkok, air mata yang ia bendung sedari tadi kini mengalir deras melewati pipinya yang cubby.
"Dunia itu jahat banget ya, sama gue. Pertama dia ambil mamah, kedua dia ambil kasih sayang ayah gue, ketiga dia buat sahabat gue mencintai cewek lain dan pergi ninggalin gue. Dan sekarang dia buat gue jadi pelampiasan sosok cowok yang bisa membuat gue tersenyum, tertawa dan merasakan kenyamanan. Apa salah gue sehingga semua orang mempermainkan perasaan gue?" ucap Lisa bertanya pada dirinya sendiri.
Tik...
Tik...
Tik...
Air hujan menetes secara perlahan lalu setelah itu mengalir deras sehingga membuat Lisa basah kuyup saat itu juga. Lisa masih setia menangis, ia menahan rasa sakit dihatinya mencoba kuat menghadapi masalahnya.
"Ya Allah, kalau saja kau ambil nyawaku saat ini dan membebaskan aku dari rasa sakit yang aku rasakan saat ini, maka aku akan sangat-sangat berterima kasih kepadamu. Aku mohon kuatkan aku bila memang kau masih ingin aku hidup, kuatkan aku bila memang kau ingin melihat aku bertahan dan melawan rasa sakit dihatiku ini, kuatkanlah aku Ya Allah." Lisa menangis sejadi-jadinya mengeluarkan semua beban yang memang sangat berat untuk ia tampung.
***
Pagi pun tiba, Lisa sudah siap untuk berangkat sekolah. Lisa melihat Reza sedang bergandengan tangan dengan gadis yang dicintainya. Reza tersenyum menatap Lisa yang baru keluar dari rumahnya.
"Kak Zaza," panggilnya sambil tersenyum tipis.
"Hi, Lis. Kenalin ini Bella pacar sekaligus calon istri kak Reza." Reza memperkenalkan calon istrinya Bella pada Lisa.
Bella mengulurkan tangannya dan Lisa menjabat tangan Bella sambil tersenyum ramah.
"Hi, aku Lisa." ucap Lisa memperkenalkan dirinya pada Bella.
"Maafin kakak ya," ucap Reza minta maaf pada Lisa.
"Iya, enggak apa-apa kok Kak." Lisa memaafkan Reza lalu tersenyum kecil.
"Kamu enggak kecewa sama Kakak?" tanya Reza pada Lisa.
"Kecewa pasti ada, dan aku juga ingin membenci juga membalas dendam. Hanya saja hati ini terlalu baik, sehingga aku enggak bisa membenci dan membalaskan dendam kepada kak Reza." Lisa mengucapkan rasa kecewanya pada Reza.
"Makasih ya, Lis. Kamu udah ngertiin aku," ucap Bella berterima kasih pada Lisa.
"Hmm, sama-sama. Jangan lupa undangannya aja ya," ucap Lisa berusaha terlihat kuat di hadapannya Reza dan Bella.
"Kenapa lama, pak?" tanya Lisa saat supirnya sudah tiba untuk mengantarkannya ke sekolah.
"Maaf, tadi macet Non." ucap supir itu meminta maaf pada Lisa.
"Iya, enggak apa-apa," ucap Lisa memaafkan supirnya. Lalu hendak masuk ke dalam mobilnya.
Namun segera Reza tahan dengan menggenggam tangan Lisa kuat, "Kalau kamu mau, saya akan menikahi kamu setelah menikahi Bella." Reza mengucapkan sesuatu hal yang sangat Lisa benci.
Lisa menatap Reza tajam, "Lagi pula kamu udah janji untuk tidak akan meninggalkan aku 'kan," ucap Reza kembali menlajutkan ucapannya.
Lisa melepaskan genggaman tangannya dari Reza kuat.
Plak...
Lisa menampar pipi Reza sampai memerah, Bella kaget atas apa yang Lisa lakukan pada Reza. "Maksud kakak, aku jadi orang ketiga diantara kalian begitu?" tanyanya pada Reza dengan tatapan tajamnya.
"Heh. Kakak pikir aku ini cewek apaan, cewek yang mau nyakitin perasaan sesama cewek. Kak, kakak itu udah dewasa, tapi kenapa pikiran kakak masih kayak anak kecil. Kakak mengucapkan hal itu di hadapan calon istri kakak sendiri, apa kakak udah gila." Lisa menatap Reza tak percaya.
"Jujur, aku benci bahkan sangat benci sama cowok yang bisanya mepermainkan perasaan cewek. Soal janji, kakak lupain aja. Aku enggak akan menepati janji aku untuk cowok yang suka mempermainkan perasaan cewek." Liaa terus mengungkapkan rasa kekesalannya sama Reza yang tidak memiliki urat malu itu.
Dia sudah tahu kalau dia tidak mencintai Lisa dan akan menikah sama orang yang dicintainya. Tapi, tanpa rasa takut dan malu ia mengucapkan kalau ia akan menikahi Lisa setelah menikahi Bella.
"Pak, ayo kita berangkat sekolah sekarang. Saya tidak mau terlambat masuk sekolah hanya karena harus meladeni laki-laki tidak tahu malu ini." Lisa menatap Reza sinis.
"Oh 'ya, satu lagi. Kakak itu enggak ada bedanya sama Revano. Sama-sama SERAKAH dan sama-sama ingin menang sendiri, aku berharap banget agar aku tidak akan pernah ketemu sama laki-laki berengsek kayak kakak." Lisa kembali mengata-ngatai Reza.
Saat sudah selesai melampiaskan rasa benci dan kekesalannya pada Reza. Lisa masuk ke dalam mobil. Reza dan Bella melihat ke pergian Lisa dari pekarangan rumahnya.
Tring...
Reza mendapatkan telepon dari seseorang ia mengambil Handphonenya. Ia tersenyum devil saat tahu kalau Lisa yang menelponnya.
"Hallo," ucapnya menjawab telepon Lisa.
'Maaf aku lupa sesuatu, jangan pernah datang lagi ke aku kalau suatu saat hubungan kakak dan kak Bella kembali hancur. Karena jujur, aku tidak mau menjadi pelampiasan rasa untuk kakak bisa melupakan seseorang.' Lisa mengucapkan semua kata-katanya penuh dengan penekanan.
Di perjalanan, Lisa menatap ke arah depan kosong. Setelah menelpon Reza, ia kembali memakan makanan yang sudah disiapkan bi Intan untuknya.
Supir pribadi Lisa yang bernama pak Bambang itu menatap Lisa yang menatap ke arah depannya dengan tatapan kosong. Lalu ia melihat ke arah makanan Lisa yang masih belum habis, tapi seketika itu Bambang kaget saat melihat tangan kanan Lisa berdarah karena ia mengepalkan tangannya saat sedang memegang pisau tajam.
"Astaghfirullah, non lepasin. Lihat tangan Non berdarah!" Bambang menghentikan mobilnya lalu mengambil alih pisaunya dari tangan kanan Lisa.
Bambang mengobati luka ditangan kanan Lisa, "Luka ini enggak sebanding dengan luka di dalam hati aku, semua orang itu sama aja. Mereka datang disaat butuhnya aja, tapi setelah mereka udah enggak butuh aku lagi, mereka pergi dan menyakiti aku lagi." Lisa menangis lagi.
Bambanh juga ikut sedih dengan masalah yang Lisa alami, pertama ibunya, kedua kasih sayang ayahnya, ketiga Revano sahabatnya, dan sekarang laki-laki bernama Reza laki-laki pertama yang bisa membuat Lisa tersenyum dan tertawa.
"Allah itu maha adil, aku tahu itu. Tapi, yang ingin aku tanyakan kapan keadilan itu datang padaku? Kapan kebahagiaan aku datang, dan kapan seseorang yang memiliki hati yang tulus datang kepada aku?" ucap Lisa masih terus meneteskan air matanya sambil mengingat masa lalunya yang sangat-sangat menyedihkan dan menyakitkan.
"Aku benar-benar sudah capek menjalani kehidupan ini, kalau aku enggak bisa merasakan semua itu. Kenapa Allah enggak panggil aku aja, kenapa dia harus membuat aku merasakan rasa sakit ini terus." Lisa memegangi dadanya yang terasa sesak dan sakit.
"K--kita berangkat se--sekarang pak, takutnya aku terlambat masuk sekolah," titah Lisa pada supir pribadinya itu.
"Enggak Lisa, kamu jangan lemah kamu harus kuat menghadapi semua masalah ini sendiri," ucap Lisa pelan sangat pelan sampai pak Bambang tidak bisa mendengarkan ucapannya.
Lisa menetralkan detak jantungnya, lalu memejamkan matanya agar rasa sakitnya menghilang.
***
Sesampainya di sekolah, tatapan Lisa sangat datar dan dingin. Semua orang yang melihat itu bergidik ngeri karena ketakutan.
Di sinilah awal mula Lisa mulai tidak percaya lagi sama pria, dan mulai menjauhi dan juga berusaha untuk tidak memiliki perasaan apa pun sama laki-laki lain. Saat di mana Reza membuktikkan kalau semua laki-laki itu ingin menang sendiri dan serakah terhadap ingin memiliki sosok kekasih.
Sesampainya di kelas, Lisa langsung duduk dan mengeluarkan buku catatannya untuk ia baca. Selama pelajaran berlangsung Lisa tidak pernah menghiraukan siswa dan siswi lainnya yang mulai menggosipi dirinya.
"Lis, ke kantin yuk." Ajak Fathia pada Lisa yang sedang fokus membaca buku catatannya.
"Enggak, gue enggak lapar." Lisa menjawab ucapan Fathia sambil terus membaca bukunya tanpa memiliki niat untuk menatap Fathia, Aluna, dan Maudi.
"Yaudah, kalau gitu kita ke kantin ya. Lo enggak apa-apa 'kan kita tinggalin," ucap Fathia lalu pergi meninggalkan Lisa saat sudah mendapat jawaban anggukan singkat dari Lisa.
Setelah ke pergian Maudi, Fathia, dan Aluna. Lisa segera meminum air putih dan memakan bekal yang sudah disiapkan bi Intan untuk Lisa tadi pagi.
"Permisi," ucap seorang pria yang masuk ke kelas Lisa. Lisa menoleh lalu menyimpan kembali bekal dan minumnya juga keresek hitam ke dalam tasnya.
"Iya, ada apa?" tanya Lisa dingin. Pria itu adalah Revano, pria yang sudah bukan siapa-siapanya lagi.
"Gue cari Maudi, dia ada di mana?" tanya balik Revano.
"Kantin." Lisa menjawab singkat pertanyaan Revano tanpa melihat Revano. Dan Revano pergi meninggalkan kelas XI-IPS 2.
Setelah ke pergian Revano, Lisa menghembuskan napasnya lega, "Alhamdulillah enggak ketahuan," ucap Lisa bersyukur.
"Apanya yang enggak ketahuan?" Lisa kaget saat Revano tiba-tiba berada di sampingnya.
Lisa menatap Revano tajam, "Bukan apa-apa," jawabnya lalu memalingkan wajahnya.
Revano menggenggam tangan Lisa erat, " Ikut gue." Ajaknya sambil menarik tangannya menuju halaman belakang.
Sesampainya di halaman belakang, Revano memeluk Lisa erat.
"Gue kangen sama lo, Lis." ucap Revano tambah mempererat pelukannya. Lisa kaget dengan perlakuan Revano yang sangat lembut padanya itu.
Lisa meneteskan air matanya lalu membalas pelukan Revano. Lisa sudah tidak bisa membendung air matanya lalu Lisa menangis dipelukan Revano sambil terus mempererat pelukannya pada Revano.
"Gue tahu, lo ada masalah. Itulah sebabnya kenapa gue bawa lo ke sini." Revano melepaskan pelukannya pelan lalu menatap Lisa dengan penuh kasih sayang.
"Maaf, maafin gue, Lis. Gue benar-benar minta maaf." Revano meminta maaf pada Lisa. Lalu ia kembali memeluk Lisa.
Kali ini Lisa yang melepaskan pelukannya, "Lo bukan siapa-siapa gue, lo bukan siapa-siapa gue, Pan." ucap Lisa sambil menggelengkan kepalanya lalu memundurkan langkah kakinya agar menjauh dari Revano.
Namun Revano tidak ingin menyerah, dia kembali menarik tanga Lisa dan Lisa kembali jatuh kepelukannya lagi.
"Terserah lo mau ngomong apa, tapi gue enggak mau berada jauh dari lo. Gue mau lo terus ada di dekat gue, selalu ada di samping dan di dekat gue," ucap Revano mempererat pelukannya meski Lisa mencoba untuk melepaskan pelukan itu pun hanya sebuah kesia-siaan Lisa saja.
"Kenapa lo selalu begini, Pan. Lo bahkan ngalahin bunglon yang selalu berubah-rubah warna tiap saatnya," ucap Lisa yang menangis di pelukan Revano.
"Gue emang bunglon, tapi hati gue masih sama seperti dulu. Hanya ingin lo dan hanya mencintai lo," ucap Revano sambil tersenyum kecil saat ia mengucapkan perasaannya pada Lisa.
Saat ia ingin melepaskan pelukannya ia sangat kaget saat merasakan badan Lisa yang panas, "Lis, lo sakit?" tanya Revano sambil melepaskan pelukannya, namun saat itu Revano langsung menahan badan Lisa yang jatuh pingsan.
"Lisa lo kenapa?" tanya Revano lalu menggendong dan membawanya ke arah UKS.
'Kenapa disaat gue mau mengungkapkan perasaan gue yang sebenarnya, Lisa malah sakit dan jatuh pingsan,' ucap Revano membatin dan kesal dengan keadaan yang selalu menundanya untuk bisa mengungkapkan perasaanya.

Komentar Buku (86)

  • avatar
    Riska

    bagus banget

    25/03

      0
  • avatar
    mlniiniha

    bagus

    07/05/2025

      0
  • avatar
    nazwasiti

    bagus bangett novel nyaaa seruuuuu gaiss

    30/04/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru