EXTRA PART 2

Pagi hari yang cerah seperti biasa aktivitas Angga maupun ibunya kembali berjalan seperti biasa. Sejak pagi semuanya sudah berkutat dengan masak memasak. Membuat pesanan catering dan juga membuat dagangan di warungnya. Soto, nasi uduk, nasi kuning dan nasi rames sudah tersedia di warung kecil depan rumahnya. Pembeli sudah mengantri untuk membeli sarapan untuk keluarga masing- masing.
Mbak Reta mengantarkan kedua putrinya terlebih dahulu ke sekolah kemudian ia akan langsung berbelanja kebutuhan dagangannya. Seperti itulah aktivitas setiap harinya. Sedangkan Angga bertugas meracik dan mengantarkan pesanan catering untuk karyawan perkebunan milik Maya dan pesanan catering- catering milik pelanggan lainnya. Kini bu Ratmi tak sendirian mengurus warung dan segalanya. Ia di bantu oleh istri baru Angga.
"Kirana, Riski belum bangun?"
"Belum, Mas. Mungkin ia kecapaian. Lagi pula semalam juga tidur ya larut kan."
"Ya sudah, Mas, mau antarkan pesanan ini dahulu. Jaga Ibu dan Riski."
Setelah Angga pergi kini, Kirana bergantian membantu sang ibu Mertua. Pelanggan banyak yang mengantri pagi ini. Ia sudah terbiasa melayani pelanggan seperti ini,
"Kok lama sekali belanjanya, Ta? Kamu kemana saja?" Tanya Bu Ratmi pada putrinya
"Maaf Bu. Tadi bannya bocor jadinya lama. Tau sendiri di kampung tukang tambal ban jarang. Ini tadi aku dorong dahulu baru dapat tukang tambal."
"Ya udah, mbak makan dahulu. Itu masih ada di meja. Mau aku buatkan teh atau kopi, Mbak?"
Melihat Kirana seperti melihat Maya, dahulu ia selalu menawarkan Teh Jahe. Rasa teh jahenya sangat nikmat. Bahkan Mas Dodi juga menyukainya. Semua masakannya sungguh menggugah selera. Jika aku mengingat kembali rasanya sungguh menyesal mensia-siakan Maya. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Aku hanya bisa menerima keadaan ini.
"Mbak kok malah melamun? Ada yang salah sama aku?"
"Enggak kok, Karina. Hmm kamu bisa buat Teh Jahe?"
"Haa .. Mm maaf mbak, aku belum pernah buat, tapi aku akan coba."
"Reta !" Tegur Bu Ratmi
"Maaf, Bu." Ucap Reta sambil menunduk.
"Kirana tak usah. Teh hangat biasa saja." Ujar Bu Ratmi kepada Kirana menantunya.
Demgan segera Kirana kembali masuk ke dapur dan membuatkan teh hangat untuk kakak iparnya.
"Apa yang kamu lakukan, Reta!" Hardik Bu Ratmi
"Maaf, Bu. Aku ke ingat Maya. Aku gak ada maksud apa- apa. Tadi aku sempat bertemu dengan Maya, makanya aku ke inget sama Teh Jahe buatannya."
"Astaga,Reta. Sudahlah. Jangan aneh- aneh. Sekarang masuklah dan makan." Titah Bu Ratmi dan segera di angguki oleh Reta.
"Ibu... Mbak Reta .. Riski gak ada di kamarnya? Aku sudah cari kemana- mana gak ketemu." Ujar Kirana sambil menangis
"Astaga kok bisa. Ayo cari dahulu ke tetangga sekitar. Barang kali ia main ke rumah temennya " ucap Mbak Reta. Ia tak kalah paniknya dengan Kirana.
"Kalian carilah, ibu hubungi Angga sambil tutup warung."
Karina dan Reta akhirnya berpencar mencari keberadaan,Riski. Mereka pergi ke tetangga bahkan ke perkebunan siapa tau ada yang melihat, Riski. Ada rasa bersalah di hati Karina. Jika ia tak meninggalkan anak tirinya, pasti Riski, masih bermain bersama.
"Ya Tuhan, kemana perginya kamu, Nak. Maafkan ibu yang tak menjaga mu. Apa kata, Mas Angga nantinya? Aku ibu yang tak becus menjaga anaknya." Gumam Kirana sambil menangis mencari keberadaan, Riski.
"Kirana .... Bagaimana bisa, Riski menghilang? Kenapa kamu berada saat itu?"
"Maafkan aku, Mas. Setelah kepergian, Mas tadi. Aku membantu Ibu di warung, aku lihat warung ramai sekali dan mbak Reta juga belum pulang- pulang. Aku kasihan dengan ibu melayani sendiri. Riski, jiga masih tertidur di kamarnya. Maafkan kelalaian aku, Mas."
Angga mengusap kasar wajahnya. Kemana putranya pergi. Putranya masih sangat kecil untuk pergi menjauh darinya. Bahkan jika ia ingin bermain di rumah tetangga, ia akan berpamitan terlebih dahulu.
"Apa kamu dan ibu tak melihat ada seseorang yang datang?"
"Enggak, Mas. Aku dan Ibu gak melihat ada yang datang selain pembeli seperti biasanya. Ada apa,Mas?"
Angga segera masuk ke dalam kamar putranya, kembali mengecek apa ia bersembunyi atau tidak. Betapa terkejutnya bahwa ia mendapati lemari putranya sebagian pakaiannya kosong, Angga kembali mengecek mainan putranya dan ada juga yang hilang.
"Bagaimana bisa? Siapa yang menculik,Riski? Ini semaunya sudah di atur." Gumam Angga.
Aku gak bisa membiarkan semua ini. Hanya ada satu di pikiranku saat ini. AMEL. Ya pasti dia yang mengambil, Riski secara diam- diam. Amel begitu kukuh bahwa ia tak mengijinkan, Riski di asuh oleh ibu tiri. Bahkan, Amel mintanya untuk kembali bersama.
"Mas, ada apa?"
"Riski di bawa, Amel." Ucap Angga. Ia mengusap kasar wajahnya. Tampak frustasi akan kekacauan hidupnya.
"Apa? Bagaimana bisa?" Pekik mbak Reta
"Lihat semua pakaian Riski tak ada di lemari. Sebagain dari mainannya juga di bawa olehnya."
"Angga cepat cari Riski. Ibu khawatir akan keadaannya, Amel belum tentu bisa mengurus, Riski. Cepat cari, Ngga!" Titah Bu Ratmi.
"Pasti, Bu. Akan Angga cari segera. Ibu jangan khawatirkan hal itu." Ucap Angga meyakinkan Bu Ratmi.
"Kirana kamu jaga ibu di rumah. Aku akan pergi mencari Riski sekarang." Sambungnya kembali pada istrinya.
"Angga mbak ikut. Orang seperti Amel harus dapat pelajaran, main culik anak sembarangan." Geram Mbak Reta.
"Ayo, Mbak."
Angga dan Mbak Reta segera pergi kerumah orang tua Amel. Angga akan mencoba mencarinya di sana sebelum ke kota tempat tinggal Amel dahulu. 1 jam perjalanan menuju rumah orangtua Amel. Angga dan Mbak Reta tiba di rumah kediaman orangtua Amel.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Amel." Teriak Mbak Reta. Ia tak sabar ingin memberi pelajaran bagi mantan adik iparnya.
"Maaf, Bu, apa Amel ada di rumah?" Tanya Angga pada mantan ibu mertuanya.
"Buat apa kamu mencari Amel,setelah apa yang kamu perbuat pada anak saya!"
"Ibu,saya kemari datang baik- baik. Saya ingin bertemu dan bicara demgan Amel."
"Bu,asal ibu tahu bahwa putri ibu telah menculik, Riski dari kami. Maka beritahu dimana ia berada bersama Riski." Ucap Mbak Reta terus terang.
"Heh kalai bicara yang sopan sama orangtua. Kalau Amel bawa Riski itu wajar, kan Amel ibunya. Apa salahnya,ia membawa, Riski. Selama ini kalian yang membatasi untuk Amel bertemu demgan Riski, bukan?"
"Amel yang selama ini meninggalkan,Riski sejak bayi. Ia tak berhak membawa pergi,Riski begitu saja. Ia juga mengambil, Riski secara diam- diam, seandainya,Amel bicara dengan kami baik- baik, tentu kami akan mengijinkannya."
"Sudah kalian pergi saja dari rumah saya. Amel tak ada di rumah ini!" Ucap ibu Amel.
"Ibu katakan di mana Amel berada bersama demgan Riski. Kalau tidak kami akan melaporkannya pada pihak berwajib." Teriak mbak Reta. Ia begitu geram akan sikap dari ibu Amel.
Tok ... Tok ... Tok ..
"Ibu..... Ibu,aku mohon. Dimana Amel dam Riski berada. Aku hanya ingin mengambil,Riski demgan baik- baik. Kasihan, Riski masih kecil, Bu. Dia belum paham apa- apa. Biarkan aku yang mengasuhnya,aku pastikan Amel akan tetap bisa bertemu dengan,Riski."
Tak ada jawaban apapun dari dalam rumah,demgan terpaksa Angga dan kakaknya pergi dari rumah orangtua Amel. Angga berencana akan langsung ke kota dimana kontrakan Amel dahulu berada. Berharap,Amel masih tinggal di sana.
"Angga ... Angga stop. Bukankah itu Amel dan Riski."
"Astaga, Riski, Mbak."
Angga segera menepikan mobilnya dan segera keluar mengejar Amel yang menggendong,Riski.
"Amel. Amel berhenti." Teriak Angga dari sebrang jalan.
Langkah kaki Amel terhenti. Ia membalikan badannya dan ternya ia menemukan mantan suaminya di sebrang jalan. Dengan cepat ia berlari menjauh dari Angga. Menggendong Riski, membuatnya kesulitan untuk berlari dengan cepat.
"Sial,mengapa mereka lewat sini." Gerutu Amel dari dalam hati. Ia terus mempercepat langkahnya. Jalan terjal dan curam ia lewati dengan cepat. Berkali- kali ia dan Riski terjatuh, tetapi tak menyurutkan langkahnya untuk menjauh dari mantan suaminya.
"Amel, berikan Riski padaku. Ini berbahaya buatnya."
"Enggak,Mas. Riski milikku. Aku akan berikan ,Riski jika kamu menikah denganku kembali."
"Amel! Kamu ibu gil*. Mana ada seorang ibu yang membahayakan anaknya. Riski masih kecil, dia belum tau apa- apa."
"Kamu, gak usah ikut campur urusanku, Mbak." Ucap Amel.
Amel kembali berlari menjauh dari Angga. Angga dan Mbak Reta tak kalah mengejar Amel kembali.
Riski,menangis dalam gendongan Amel. Riski selalu memanggil Angga. Berteriak dalam gendongan Amel.
"Amel. Kasihan Riski. Riski masih kecil. Berhentilah, Mel. Kota bicara baik- baik."
"Amel ...."
"Aaaaaaaaaaaa....."
"Riski."
Angga dan Reta mempercepat laju larinya. Mengetahui bahwa Amel tergelincir dari atas bukit, membuatnya tak tenang. Apalagi Riski juga ikut tergelincir bersama sang ibu.
"Riski."
"Angga,stop. Ini curam sekali, Ngga. Kita cari bantuan."
"Riski ... Riski, Mbak. Anakku" ucap Angga sambil menangis. Meratapi kejadian yang memilukan di depan matanya.
Angga tetap berusaha untuk turun dan memberi pertolongan putranya. Dengan langkah pelan ia merayap turun apa adanya. Rasa cemas akan keadaan putra semata wayangnya membuatnya meninggalkan rasa takut yang hinggap di dalam dirinya.
Mbak Reta mencari bantuan untuk menolong keponakannya dan juga mantan adik iparnya.
Riski dan Amel kini sedang di dalam ruang operasi. Riski mengalami cedera pada tangan dan kepalanya. Ia harus di operasi demi kesembuhannya. Sedangkan Amel mengalami cedera cukup parah. Dokter juga memutuskan mengoperasinya.
Hampir 5 jam berlalu,operasi Riski dan Amel belum selesai. Rasa takut kehilangan, Riski, membuatnya begitu cemas. Jika saja,Amel, tak memaksakan kehendaknya kemungkinan tak ada kejadian seperti ini. Jika ia mencoba membiarkan sementara waktu agar Amel bersama putranya tentu kejadian memprihatinkan ini tak akan terjadi.
"Ya Tuhan, selamatkan putraku dan juga Amel." Batin Angga, ia masih shock melihat kejadian barusan.
"Angga sebaiknya kita laporkan kasus ini pada pihak berwajib. Biar Amel jera dan tak menganggu kehidupan kamu."
"Enggak, Mbak. Kita juga bekum tahu keadaan, Amel seperti apa sekarang. Kita tahu bahwa tadi luka Amel cukup serius. Biar ini menjadi hukuman baginya. Kita masih bisa bicarakan secara pelan- pelan. Aku yang salah. Jika aku tak egois dan tetap membiarkan Amel bersama,Riski,tentu kejadian ini tak akan terjadi. Amel hanya ingin bersama, Riski, tetapi kita menghalanginya. Dua tahun lumayan Amel, tak mengenal, Riski."
"Benar, Mbak Reta. Mungkin Mbak Amel hanya ingin bersama putranya. Mungkin setelah kejadian ini kita bisa adil terhadap, Mbak Reta. Ia ibu kandung, Riski. Kita tak berhak menghalangi seorang ibu untuk sekat demgan darah dagingnya." Ucap Kirana istri Angga.
Kini lampu ruang operasi telah mati, salah satu suster keluar dari ruangan dan menemui kelurga pasien. Angga, Kirana dan juga Mbak Reta mendekat kepada suster ingin mengetahui keadaan putranya
"Suster bagaimana keadaan anak saya, Riski?" Tanya Angga seketika.
"Suster bagaimana keadaan putri saya?"
"Operasi telah selesai. Untuk adik Riski,operasinya berjalan lancar. Sebentar lagi akan di pindahkan keruang rawat dan menunggu pemulihan."
"Dan........ Untuk Ibu Amelia Putri mengalami cedera yang cukup parah, kami sudah semaksimal mungkin memberi pertolongan padanya. Namun... Allah berkehendak lain. Ibu Amel dinyatakan meninggal dunia." Terang Suster tersebut.
Bagai tersambar petir bahwa kini Amel telah meninggal. Meninggalkan putranya yang sangat ia harapkan di akhir hayatnya. Sungguh hari ini adalah hari yang menyedihkan dalam hidupku. Walau Amel bukan wanita yang aku cintai tetapi, ia adalah ibu dari putraku. Ibu yang rela mengandung dan menahan sakit saat melahirkan.
"Maafkan aku, Mel." Lirihku dalam tangis ku.
"Kamu pembubuh, Angga. Ibu menyesal pernah merestui pernikahan kamu. Puas kamu telah membuat putriku meninggal. Ia hanya ingin bersama putranya, apa salahnya kalau kamu membiarkan,Riski hidup dan di asuh oleh Amel. Kamu ayah yang egois."
"Maaf, Bu. Maafkan aku, aku tak tahu jika akan seperti ini. Aku sudah mengatakan pada Amel bahwa kita akan bicarakan baik- baik untuk mengasuh, Riski. Tetapi,Amel tetap tak mau."
Rasa sedih menghantui lubuh hati Angga, melihat putranya yang masih berbaring lemah membuatnya sangat menyesal.
Suasana haru melingkupi pemakaman Amel. Tangis pecah kala, Amel akan di semayamkan. Sang ibu berkali- kali jatuh pingsan melihat jasad putrinya. Angga, Mbak Reta dan Bu Ratmi datang sebagai penghormatan terakhirnya. Mereka juga mengantarkan jasad Amel hingga ke tempat peristirahatannya terakhir. Tak memungkiri Bu Ratmi juga merasa sedih dan terpuruk atas berita duka dari Amel. Ia tak menyangka bahwa mantan menantunya akan meninggal dengan cara seperti ini.
"Beristirahatlah demgan tenang, Mel. Ibu akan menjaga putra mu. Ibu sudah memaafkan semua kesalahan kamu." Ujar Bu Ratmi di atas pusara makan Amel.
"Mel, maafkan aku. Aku janji setelah, Riski sembuh, aku akan membawanya kemari. Aku juga akan menceritakan siapa kamu. Maafkan aku yang menutupi siapa kamu sebenarnya. Pikiranku ternyata salah dan tak sejalan dengan pikiran kamu. Maafkan aku, Mel. Beristirahatlah dengan tenang." Ucap Angga sembari menaburkan bunga.
Mbak Reta tak dapat berkata apa- apa, ia sangat shock atas berita meninggalnya Amel. Ia hanya diam dan menangis dalam kesedihannya.
"Selamat jalan, Mel. Tenang di alam mu." Lirih Angga sebelum meninggalkan makam mantan istrinya.
Rezeki, Jodoh, maut semua ada di tangga sang Pencipta. Tak ada yang dapat merubah apa yang sudah di gariskan oleh Sang Pencipta.
🥀🥀🥀🥀🥀🥀

Komentar Buku (250)

  • avatar
    LatipeTifah

    cepat update lagi ya kaaaa, aku suka banget geregetannn

    13/08

      0
  • avatar
    Dimas putra Pratama

    yaaaa iyaaaa

    11/08

      0
  • avatar
    lailanur

    bikin gemes ceritanya👍👍🫰♥️

    07/07

      0
  • Lihat Semua

Selesai

Rekomendasi untuk Anda