Beranda/Kusembunyikan Identitas Asliku dari Suami dan Keluarganya/
BAB 16
"500 ribu !" "APA ! Kok bisa sampai segitu mbak. Mbak jangan ngaco dong !" ucapku seketika, saking kagetnya. Bisa bisanya naik taksi sampai 500ribu memangnya pada kemana mereka. "Ya sudah, aku ambil uangnya dahulu." ucap mas Angga sambil berlalu memasuki kamarnya untuk mengambil uang guna membayar ongkos taksinya. "MAS !" teriakku, sambil ku berlari mengejar mas Angga. ============================================ Aku mengejar mas Angga ke dalam kamar, ku dapati mas Angga mengeluarkan, uang dari dalam dompetnya. "Mas, mas meu membayar ongkos taksi itu, itu gak kira kira lho ongkosnya mas." ucapku kepada mas Angga "Sudahlah May, ini sudah malam tak enak jika di dengar tetangga ribut terus, kalau bukan kita yang membayarnya siapa lagi, pasti ibu dan mbak Reta akan teriak teriak terus May. Sudah ya ,jangan di permasalahkan lagi." ucap mas Angga, lalu berjalan keluar untuk menyerahkan uang itu kepada mbak Reta. Aku tak menyusul mas Angga, aku sungguh sungguh kesal kali ini. Aku merebahkan diri ku di atas ranjang dan menutupi keseluruhan diriku menggunakan selimut. Masih ku dengar bahwa mbak Reta menyuruhku untuk keluar dan membawakan belanjaannya. Tapi mendengar penjelasan mas Angga akhirnya mbak Reta pergi keluar untuk mengambil belanjaannya yang masih di tahan oleh supir taksi. Aku pura pura tertidur saat mas Angga mencoba mengajakku berbicara, sungguh malam ini mood ku tak baik. "May,, kamu marah. Mbak Reta juga kakakku, aku tak mungkin membiarkannya kesusahan, May. Aku tau kelakuan mbak Reta kelewatan ,tapi kita harus sabar menghadapi mbak Reta, Mbak Reta mungkin belum terbiasa dengan kehidupannya sekarang. Jadi kamu harus sabar ya." Tak ku hiraukan perkataan mas Angga, Harus sabar bagaimana coba, ini sudah terlalu lama bagi mbak Reta, masa iya gak bisa berubah. "Ya sudah kamu istirahatlah May. Selamat malam istriku." Itulah ucapan mas Angga lalu ia merebahkan tubuhnya di sampingku. ========================================= Pov Mbak Reta Akhirnya Angga mau membayar ongkos taksi tadi, jika tidak bisa gawat bukan. Mana mungkin Angga tega melihat aku dan ibu kesusahan. Aku memang sengaja bilang kepada ibu agar Maya saja yang membayarnya, toh tadi ia hanya memberiku uang 500ribu padahal aku memintanya 2 juta. Masa iya, Maya bisa perawatan aku tidak. Aku sudah lama sekali tidak pergi ke salon untuk perawatan. Aku membujuk ibu untuk ikut serta pergi bersama ku, mana mungkin aku bisa pergi dengan membawa uang 500 ribu. "Ibu, ibu-kan tadi dapat uang thu dari Maya, ayo kita ke salon bu, aku sudah lama tak ke salon dan refreshing ke kota. Ibu tak bosen diam di rumah saja.?" tanyaku kepada ibu yang tengah menghitung uangnya. "Boleh juga sih, tapi mana cukup uang segini buat perawatan ,kamu saja tak di beri uang lebih dari Maya." "Pake uang ibu dahulu, nanti baru minta ganti sama Angga, pasti sama Angga di ganti bu. Nanti kita taksinya suruh tunggu saja biar kita gak gonta ganti taksi bu, baru ongkosnya biar di tanggung Maya setelah kita pulang." Aku masi saja terus membujuk ibu, agar ibu mau ikut denganku untuk ke salon. Setelah sekian lama aku membujuk ibu, akhirnya ibu mau dan setuju. Aku dan ibu bersiap siap untuk pergi, sebelum pergi aku mengetuk kamar Maya, agar Maya menjaga Sarah dan Sesil. Ku ketuk berulang kali tak ada jawaban dari Maya, Ibu juga mencoba mengetuk dan membuka kamar Maya ,tapi kamar Maya terkunci. Ini pasti di sengaja oleh Maya pikirku. "Ibu bagaimana ini ,tak di buka oleh Maya ?" "Hmm sudahlah anak anakmu tinggal saja ,nanti kalau mereka menangis pasti Maya keluar juga." Benar juga kata ibu, Maya pasti akan keluar jika mendengar anak anakku menangis. Daripada aku tak jadi ke salon, Biarkanlah saja pikirku ini. "Anak anak bunda, kalian di rumah ya, nanti kalau ada apa apa ketuk kamar tante Maya. Bunda sama oma mau pergi dahulu ke salon. Sesil jagain adiknya oke. Nanti bunda bawakan es krim kesukaan Sesil." "Oke bunda." itulah jawaban dari Sesil. Sesil memang sudah sering aku tinggal sejak dahulu, jadi hanya perlu di bujuk dan di bawakan es krim kesukaannya pasti ia tak akan rewel. Aku dan ibu akhirnya pergi dengan naik ojek sampai jalan besar, lalu kami menaiki taksi ,kalau pesan taksi online pasti tak bisa di sewa maka dari itu aku mencari taksi yang tidak menggunakan sistem online. agar aku dan ibu bisa menyewa taksi itu seharian. =========================================== Pagi harinya aku terbangun lebih pagi dari biasanya, aku segera membersihkan diri dan membawa pakaian kotorku untuk ku cuci. Saat sampai di belakang betapa terkejutnya aku, ketika melihat mesin cuci tak ada di tempat. "MAS ,,,, MAS ANGGA !!!" teriakku dari dapur dan berlari menuju kamar kami. "Mas mesin cuci kita hilang ,, !" Seketika mas Angga langsung terbangun dan bergegas ke belakang guna mengecek kebenarannya. "Astaga,,, kenapa bisa hilang Maya ?" "Ya mana aku tahu mas, kalau aku tahu, tak mungkin aku mencarinya ?" "Ada apa sih ribut di pagi buta, ganggu orang lagi tidur aja !" ibu yang langsung mengomel "Rumah kita kemalingan bu, mesin cuci nya hilang. Padahal itu baru beli belum lama." kata mas Angga "Iya bu, terus kita nyucinya harus bagaimana coba ?" "Owh mesin cuci, iya kemarin di jual sama Dodi buat tebus motornya yang di sita. Ibu gak ada duit jadi ya ibu suruh saja jual mesin cuci sama microwave itu. Kamu kan bisa beli lagi nanti. Kasian Dodi gak bisa ngojek kalau motornya gak ada." Aku dan mas Angga di buat kaget oleh penjelasan ibu barusan. kok bisa bisanya ibu menyuruh mas Dodi menjual barang barang rumah ini. " Astaga ibu, mengapa ibu menyuruh menjual perabotan rumah ini bu ?" "Ibu kan bisa bicara atau telepon Maya atau aku tanpa harus menjual barang di rumah ini ?" kata mas Angga menimpali ucapku. Ibu diam tak menjawab pertanyaan dariku maupun mas Angga, Ibu langsung pergi meninggalkan kami yang masih shock atas ucapannya barusan. Aku terduduk lemas di kursi meja makan sambil memijit kepalaku yang pening, kulihat mas Angga juga duduk di sampingku dalam diam. "Maafkan keluargaku ya, May. " ucap mas Angga memecah keheningan di antara kami. Ku hembuskan nafas ini dengan kasar " nasi sudah menjadi bubur mas." begitulah jawabanku lalu alu pergi meninggalkan mas Angga yang masih terduduk di kursi meja makan. Kecewa iya, aku sangat kecewa atas sikap ibu dan sikap mas Dodi yang kelewat batas. Aku tak mempersalahkan jika ia berbicara langsung tidak dengan menjual barang barang yang ada di rumah ini juga. "Maya ........ " Bersambung ………… Bagaimana kelanjutannya ? siapa yang memanggil Maya ?
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (250)
LatipeTifah
cepat update lagi ya kaaaa, aku suka banget geregetannn
cepat update lagi ya kaaaa, aku suka banget geregetannn
13/08
0yaaaa iyaaaa
11/08
0bikin gemes ceritanya👍👍🫰♥️
07/07
0Lihat Semua