Beranda/Kusembunyikan Identitas Asliku dari Suami dan Keluarganya/
BAB 12
"Maya jagain Sarah dan suapi Sesil. Lalu mandikan mereka. Aku mau makan." perintah mbak Reta. "Maaf mbak, aku tidak bisa. Aku mau pergi. Itu kan anak mbak, Harusnya sebelum mbak keluar kamar mandikan dahulu anak anaknya lalu suapi Sesil baru mbak makan. Itu yang bener." ucap Maya lalu berlalu meninggalkan kakak iparnya itu. "MAYA !!!!" teriak mbak Reta =========================================== Pov Reta Aku heran dengan adikku Angga selalu membela istrinya. Jelas jelas istrinya gak ada gunanya. Anak tidak punya, pekerjaan tidak ada, apa lagi keluarga yang gak jelas. Hanya bermodalkan rumah ini saja gayanya sok selangit. Mana sekarang sudah tak mau aku suruh-suruh lagi, jadilah aku yang harus mengurus kedua anakku sendirian. Mas Dodi juga pergi pagi pulang malam terus yang alasannya ngojek cari uang, tapi apa setiap aku minta uang padanya selalu saja tidak ada, orderan sepi, habis buat beli bensin, ada saja alasannya. Seandainya aku masih kaya seperti dahulu pasti aku tak akan repot mengurus anak-anakku tinggal cari babysitter buat mengurusi mereka semua. Gara gara mas Dodi gak main cantik akhirnya hidup kami menderita seperti ini. Untung ibu bisa aku bujuk dan membelaku agar aku bisa tinggal di rumah Maya ini, rumah yang lumayan besar dan mewah hampir mirip dengan rumahku dahulu, ada Ac di setiap kamarnya membuatku tidur dengan nyaman, berbeda dengan rumah kontrakan dahulu, yang setiap tidur harus kepanasan. Walau awalnya Maya menolak aku tinggal di sini tapi dengan bantuan ibu aku akhirnya bisa tinggal di rumah ini. ========================================= "Reta, Sesil belum kamu suapi ?" tanya ibu "Belum bu, aku lapar. Tau sendiri kan semalam aku hanya makan mie instan saja mana kenyang aku, Bu. Tadi aku suruh Maya suapi Sesil tapi ia tak mau ,malah katanya mau pergi pagi ini." gerutu Reta. "Ya sudah sini ibu suapi anak kamu, siapin makannya. Kamu gak kerja Dodi ?" "Habis sarapan ini juga mau berangkat kerja bu, Ngojek kan waktunya bebas gak kaya kantoran. Bu, bujuk Angga supaya memasukan aku di kantornya dong bu. Bosen ngojek kepanasan terus." Kata mas Dodi. "Ya sudah nanti ibu bicarakan sama Angga, biar ibu bujuk." "Ibu memang ibu mertua yang top dech." puji mas dodi. "Bu, ibu ada duit gak. Aku minta dong buat belanja, susu anak anak habis." "Hubungi adikmu saja ,nanti biar di belikan susunya." "Ya sudah bu, Nanti aku hubungi Angga. Nanti sekalian mandiin Saras dan Sesil ya bu." Setelah kepergian ibu, Aku lanjutkan sarapanku bersama suami tercinta. Biarlah ibu yang mengurusi cucu-cucunya. ======================================== "May kamu mau pergi kemana hari ini?" tanya Mas Angga. "Aku ingin berbelanja mas, isi kulkas juga sudah habis, sekalian aku ingin ke salon sudah lama aku tak pergi kesana." "Ya sudah kamu hati hati di jalan. Owh iya nanti belikan susu buat Sarah dan Sesil ya, May. Aku kasian melihat mereka." "Iya, Mas nanti aku belikan." "Ya sudah ayo berangkat, mau bareng atau berangkat sendiri ?" "Anterin mau gak mas ?" "Ya sudah ayo. Apa sih yang gak buat istriku ini." Sebenarnya tak ada niatan untuk pergi pagi pagi tapi mendengar mbak Reta menyuruh nyuruh aku seenaknya, Aku jadi ogah di rumah, lebih baik aku pergi berbelanja saja. Yang jelas aku tak memberi tahu kemana aku perginya. "Mas, antar aku sampai salon langganan aku saja, aku mau perawatan dahulu baru ke supermarket." "Oke sayang." Sesampainya aku di salon langganan aku segera reservasi ulang. Semalam memang aku sempat mendaftarkan diriku untuk perawatan di sini. "Selamat pagi mbak Maya, sudah lama tak berkunjung ?" "Iya, mbak. Baru sibuk di rumah." jawabku singkat. "Mbak mau perawatan seperti biasanya?" "Iya, mbak. Seperti biasannya pokoknya yang spesial di salon ini." "Baik, mbak. Silahkan ikut saya." Terlintas di pikiranku untuk menjahili mbak Reta. Pasti ia jika tau aku sedang perawatan di salon ia akan mendidih. "Mbak, tolong fotoin saya bisa?" tanyaku pada salah satu karyawan salon ini. Setelah aku di foto oleh karyawan salon ini, aku lihat hasilnya, owh menakjubkan ini foto bisa membuat mbak Reta kepanasan. Segera aku mengunggah foto ku yang sedang perawatan ini di status Wa ku. Kulihat ponselku bergetar terus menerus, tapi aku abaikan. Itu juga pasti mbak Reta yang sudah terpancing olehku. Selesai aku perawatan di salon aku segera memesan taksi online untuk pergi berbelanja. Sesampainya aku di swalayan segera aku memilih berbagai sayuran, buah, daging, ayam, ikan, camilan untuk keponakan aku dan tak lupa aku belikan susu untuk mereka berdua. Kubelikan juga kebutuhan ibu mertuaku seperti biasannya. Karena aku sudah hafal akan kebutuhan ibu mertuaku selama ini. "Maya. Kamu Maya Andini kan ?" tanya seseorang itu. "Iya, Siapa ya ?" tanyaku bingung. Karena aku merasa tak mengenal orang ini. "Ya ampun kamu lupa sama aku, aku Andre, May. Teman kamu waktu SMP dahulu. Kamu ingat tidak. Andre anak kacamata." penjelasannya lagi. "Owh iya aku ingat. Kamu yang dahulu pake kacamata bulat kan ?" "Bener sekali kamu, May. Kamu masih ingat hal itu ternyata." Kami pun tertawa bersama mengingat masa lalu. "Kamu sendirian ?" tanya Andre "Iya, suami aku sedang bekerja. Jadi aku pergi sendirian. Kamu sejak kapan balik ke indonesia, bukannya kamu setelah lulus SMP pindah ke Berlin ya?" tanyaku lagi. Karena seingat ku dahulu ia memang pindah ke Berlin untuk sekolah disana. "Sekitar Satu bulanan lha, May. Sekarang kamu tinggal dimana?" "Semenjak aku menikah, aku tinggal di desa dekat dengan perkebunan. Kamu sedang apa di daerah sini ?" "Aku sedang berlibur di rumah nenek, kamu lupa nenekku kan juga tinggal di daerah sini, May." "Ech maaf, Andre. Aku sepertinya harus segera pergi. Lain waktu aku hubungi kamu lagi ya." Ucapku terhadap Andre. "May ..." "Maaf, aku buru buru Ndre. Bye ." ucapaku memotong perkataan Andre tadi. Entah penglihatan aku salah atau tidak, yang pasti aku melihat orang yang mirip dengan mas Dodi. Tapi siapa perempuan yang bersama mas Dodi itu. Aku mencoba mencarinya di supermarket ini, tapi tak ku temukan lagi. "kemana perginya mas Dodi ? Cepat sekali hilangnya. Ach sudahlah mungkin juga bukan mas Dodi cuma mirip saja kali. Lebih baik aku segera membayar dan pulang." ucapku dalam hati. Setelah semuanya aku bayar, aku segera memesan taksi untuk segera pulang. Dalam perjalanan aku membuka ponselku ternyata banyak sekali panggilan dari mbak Reta dan juga Ibu. Ku baca satu per satu pesan yang masuk. Benar dugaan aku, mbak Reta marah marah melihat aku perawatan seperti tadi. Pasti setelah aku sampai rumah ia akan mencaci makiku. Perjalan yang memakan waktu kurang lebih 45 menit lagi pun akhirnya taksi yang aku tumpangi sudah memasuki halaman rumahku. Kulihat mbak Reta sudah menungguku di teras rumah. Aku segera membayar ongkos taksi itu dan keluar membawa belanjaan yang begitu banyak. "Maya.. Habis darimana saja kamu ?" tanya ibu yang sedang mengendong Sarah. Bersambung ……… Maaf ya aku potong dahulu 😊😊
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (250)
LatipeTifah
cepat update lagi ya kaaaa, aku suka banget geregetannn
cepat update lagi ya kaaaa, aku suka banget geregetannn
13/08
0yaaaa iyaaaa
11/08
0bikin gemes ceritanya👍👍🫰♥️
07/07
0Lihat Semua