Seminggu berlalu, keadaan di Min Castle mulai kembali seperti semula. Jieun juga sudah berangsur melupakan kejadian tempo hari, bahkan ia sudah kembali ke Kerajaan Kang 2 hari yang lalu. Namun ada yang berbeda dari sikap dan perilaku Jieun semenjak pulang dari Min Castle. Seperti, ia tak mau didekati oleh Haru atau siapapun. Ia hanya berdiam diri di kamar. Bahkan Cein pun tak ia urus, ia bilang ia tak suka bau mereka. Ditambah Jieun akan mual-mual saat pagi hari dan akan membaik dengan sendirinya menjelang siang. Haru selalu berusaha untuk masuk kedalam kamar namun Jieun mengunci pintu kamarnya. Kini ia sudah hilang sabar sampai akhirnya... BBRRAAKKKK....!!! Haru menendang pintu hingga rusak membuat Jieun yang berada di dalam terjingkat kaget. Haru mendekat ke arah Jieun yang sedang duduk di atas ranjang. Haru semakin mendekat lalu Jieun segera menutup hidung dan mulutnya dengan kedua telapak tangannya, kepalanya menggeleng meminta Haru untuk berhenti mendekat. "ADA APA DENGANMU JEON JIEUN!!!" bentak Haru "PERGI KAU SERIGALA BAU... KAU BAU.. KALIAN SEMUA BAU... AKU TAK SUKA!!!" jawab Jieun dengan teriakan Haru menghela nafas dalam, ia tak boleh emosi. Ia yakin pasti ada yang tidak beres dengan istrinya. Tangannya terulur untuk menjauhkan tangan Jieun yang menutup mulut dan hidungnya sendiri. "Sebenarnya kau ini kenapa sayang hhmm? Apa kau sakit? Atau kau ingin sesuatu? Jangan begini sayang, aku khawatir. Kau juga mengabaikan putra kita," ucap Haru lembut sambil mengusap rambut Jieun "Aku mau pulang ke tempat Appa!" jawab Jieun Tak mau memperpanjang masalah, Haru segera menyiapkan prajurit untuk mengantar istrinya pulang. Namun tanpa di duga Jieun justru menolak, ia malah minta seseorang dari sana yang menjemputnya. Tak lama kemudian Seoltang datang dengan seorang dokter karena sebelumnya Haru sudah menceritakan keadaan Jieun padanya. Tanpa menunggu lama dokter itu langsung memeriksa keadaan Jieun. Sampai akhirnya.... "APA!!!" Seoltang dan Haru kompak berteriak, mereka kaget kala dokter mengatakan bahwa Jieun hamil. Dokter segera berlalu pergi saat melihat suasana disana mulai menegang. Di ranjang, Jieun terlihat biasa saja malah terkesan cuek dan tidak perduli. Haru mundur 5 langkah, menjauh dari Jieun. Mengontrol emosinya, ini bukan saat yang tepat untuk mengamuk. Seoltang menghela nafas lalu berjalan mendekat kemudian duduk di sisi ranjang adiknya. "Dongsaeng!" panggil Seoltang lembut sambil tersenyum manis "Nee," jawab Jieun "Kau hamil? Anak dari Raja Kang iya kan?" tanya Seoltang sambil menggenggam erat telapak tangan adiknya Jieun menatap wajah Kakaknya dengan mata sayu nya lalu menggeleng pelan. "Haru Oppa belum mengunjungiku sejak Cein lahir," sahut Jieun "Ja.. jadi... maksudnya..." Seoltang tak sanggup melanjutkan ucapannya. Jieun tak menjawab, ia hanya mengangguk pelan. Seoltang bangkit dari duduknya lalu menghampiri Haru yang sudah mengepalkan tangannya sejak tadi menahan gejolak amarah di dadanya. "Jangan bicara apapun, aku tak ingin mendengar apapun saat ini!" ucap Haru sebelum Seoltang membuka suara "Mohon mengerti Raja Kang, ini bukan sepenuhnya salah Jieun juga bukan salah janin yang ada di kandungannya," ucap Seoltang mencoba memberi pengertian pada Haru agar tidak menghakimi Jieun "BRENGSEK! BAHKAN SETELAH WUJUDNYA BERUBAH JADI ABU PUN IA MASIH SAJA MEMBUAT MASALAH!" geram Haru "Sabarlah!" ucap Seoltang "Hyung kau mau membantuku?" pinta Haru "Tentu, apapun itu selagi aku mampu pasti akan aku lakukan!" jawab Seoltang "Aku ingin kau membawa Jieun sementara ke Min Castle. Biarkan dia tinggal disana sampai melahirkan. Bukan aku membencinya, hanya saja aku takut tiba-tiba emosiku tidak stabil yang akan berakibat fatal baginya. Sekarang saja aku hampir tidak bisa mengendalikan emosiku. Kau bisa kan hyung?" ucap Haru "Baiklah aku mengerti!" sahut Seoltang Setelah mendapat jawaban dari kakak iparnya, Haru lantas berubah menjadi wujud serigala lalu melompat keluar jendela kemudian pergi ke tengah hutan. Melihat itu, Seoltang hanya bisa menghela nafas gusar. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Seoltang segera membawa Jieun pergi menuju Min Castle, tak lupa ia juga membawa Cein. Hwan yang sejak tadi menyaksikan segala yang terjadi hanya bisa diam tanpa bisa melakukan apapun. Padahal ia sudah sangat senang dan bersyukur akhirnya Haru bisa kembali berkumpul dengan pujaan hatinya. Namun ternyata semesta mempunyai kehendaknya sendiri. Rupanya semesta tak menghendaki Haru dan Jieun berbahagia lebih lama lagi. "Mengapa kisah cinta mereka begitu rumit," gumam Hwan "Ku harap mereka akan bisa bersama kembali!" lanjutnya . . . "APPA... NABI EONNI... AKU PULANG!" teriak Jieun sambil melangkahkan kakinya masuk kedalam Castle diikuti oleh Seoltang yang mengekor di belakangnya dengan menggendong Cein. Seketika Nabi dan Daniel berlari berhamburan menuruni tangga dari lantai 2, mereka langsung menghampiri Jieun. "Sayang Appa sangat khawatir saat mengetahui kau sakit, lalu mana suamimu?" tanya Daniel Jieun tidak menjawab, ia hanya menggedikan bahunya acuh membuat Daniel menghela nafas gusar. "Appa... sudahlah biarkan Jieun istirahat dulu," ucap Seoltang yang kemudian diangguki setuju Daniel. Seoltang hendak memberikan Cein pada Jieun namun dengan seenaknya Jieun justru malah melenggang pergi menuju kamarnya, seakan tak perduli pada anaknya. "Kau berhutang penjelasan pada Appa. Kau pasti tahu sesuatu kan Pangeran? Tak mungkin Jieun bersikap acuh seperti itu pada anaknya sendiri, ia juga tidak menjawab pertanyaan Appa!" desak Daniel Seoltang menghela nafas dalam, kemudian ia mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Jieun. Ia ceritakan semuanya, tidak ada yang terlewat juga tidak dilebih-lebihkan. Daniel terdiam untuk beberapa saat, ia sedang berfikir apa yang harus ia lakukan sekarang. Padahal baru saja keadaan di Castle membaik, tapi kini malah datang masalah baru lagi bahkan lebih besar. Ia bimbang apakah akan membiarkan janin itu tumbuh lalu membesarkannya sebagai bagian dari Clain Min atau melenyapkannya sebelum janin itu lahir. Tapi yang pasti ia tidak akan memberi tahu Raja Ahn Seokjin perihal masalah ini,sungguh ia sudah tak ingin lagi berurusan dengan Clain itu lagi, mohon maaf tapi Min Daniel Alexander kini sudah sangat muak dengan mereka dan ditambah dengan masalah ini maka bertambahlah pula rasa muaknya pada Clain itu. Sampai pada akhirnya ia memilih untuk membicarakan ini dengan Jieun terlebih dahulu karena bagaimanapun Jieun merupakan pemegang keputusan mutlak untuk masalah ini.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Ceritanya Menarik
21/04/2022
0pante
16/02
0habisi uang
07/11
0Lihat Semua