“Om Rudi!” teriak Laisa sembari berlari mendekati pria yang kini tengah terkapar lemas. Gadis itu menutup mulutnya kemudian bersembunyi dibalik pelukan Anan karena tidak tahan dengan darah yang mengucur dari betisnya. Polisi mendekat untuk memastikan. Mereka akhirnya meletakkan senjata. Rudi sudah berhasil dilumpuhkan. Ia tidak mungkin bisa kabur lagi. Keadaan nya setengah sadar setengah pingsan. Dari jarak 3 meter, Laisa masih bisa melihat bagaimana Rudi berusaha menahan rasa sakit akibat peluru yang menancap di betis nya itu. “Cepat bawa pria ini ke rumah sakit sebelum kehabisan darah!” ucap Polisi yang sepertinya merupakan komandan tim. Ia meminta anak buahnya untuk bertindak cepat. Sebelum insiden itu, polisi sudah memperingatkan Rudi untuk diam di tempat. Namun, Rudi bersikukuh untuk berlari ke arah mobil. Akhirnya ia yang harus menerima imbasnya dengan keadaan betis terkena peluru. Rudi masih mengerang kesakitan. Polisi mengambil langkah sigap dengan membalut betis Rudi dengan kain, lantas dirinya dituntun menuju mobil mereka. Pria itu duduk di dekat mobilnya dengan dikerumuni para polisi. Setelah polisi berhasil membalut luka nya, polisi bermaksud untuk membawa ke mobil khas polisi yang tertutup warna hitam itu. “Jangan bawa aku! Aku tidak mau berada di penjara!” teriak Rudi. Ia menatap Reyna yang masih diam di depan rumah Rina. Reyna sedang mematung melihatnya dibawa polisi dengan keadaan yang menghawatirkan. Ada gurat kekhawatiran disana. Rudi sama sekali tidak mengalihkan pandangan nya. Meski Rudi sudah banyak menyengsarakan hidupnya, namun ia tetap pria yang baik. Pasti ada sisi baiknya. Rudi hanya terlena dan terlalu ingin memiliki sesuatu, hingga membuat dirinya seperti terbutakan, terutama oleh cintanya kepada Reyna. Kata-kata Rudi beberapa waktu sebelum itu hampir membuat Reyna terlena. Ia tidak menyangka ada orang yang mencintai nya sebesar itu, bahkan bisa melebihi cinta Husada kepadanya. Namun Reyna menepis semua itu. Ia tidak ingin hidup dalam bayang-bayang rasa bersalah karena telah membuat Rudi seperti sekarang ini. “Ma, bisa bawa aku masuk ke dalam. Aku ingin istirahat dulu di dalam.” Ucap Dema. Ia sengaja membuyarkan lamunan Mamanya karena tidak ingin ia berlama - lama menatap kepergian Rudi. Pria itu pantas mendapatkan itu semua. Apakah pria itu pernah berpikir bagaimana kerasnya hidup Reyna ketika harus berjuang menghidupi satu keluarga? Apakah ia pernah berpikir bagaimana trauma yang dimiliki Husada ketika ia tiba tiba teringat kembali dengan kehidupan masa lalu yang menurutnya sangat buruk itu? Jujur, Dema saat ini lebih menghawatirkan Reyna dan Husada. Sama sekali tidak peduli dengan nasib Rudi lagi. Toh, Rudi sama sekali juga tidak peduli dengan kebahagiaan orang-orang yang ada di sekitarnya. Ia egois. Bahkan sangat egois. Reyna masuk. Ia menatap punggung Rudi yang menghilang dibawa polisi itu. Anan juga meminta Laisa untuk tenang dengan tepukan bahu yang membuat nyaman. “Ayo masuk!” ucap Reyna mengulurkan tangan nya untuk membantu Dema berdiri. Dema menerima uluran tangan mamanya. Mereka masuk ke dalam rumah lagi. Sopir Rudi juga ikut masuk ke dalam. Setelah membantu Dema duduk di kursi, Reyna meminta Laisa dan Anan masuk. Ada hal penting yang hendak dibicarakan. “Ayo masuk! Sudah ditunggu itu sama tante Reyna!” ucap Anan. Laisa masih trauma dengan kejadian tadi. Ia mengeluarkan air mata. Anan membawanya masuk ke dalam meski dengan langkah yang berat. Laisa belum sepenuhnya merelakan Rudi, karena masih ada yang harus ia ketahui terkait perjodohan itu? Apakah benar perjodohan itu adalah sandiwara Rudi atau benar – benar berasal dari keinginan Raharjo? Aihh.. Laisa harus mencari jawaban itu. Saat ini yang berada di ruang tamu adalah Laisa, Dema, Anan, Rina, Reyna dan sopir Rudi. Semuanya duduk kecuali Laisa dan Anan. Dema dari tadi melihat mereka berdua yang lekat sekali. Ada kecemburuan tentu, namun ia berusaha bersikap biasa saja karena ini bukan waktu yang tepat untuk mendebatkan kecemburuan nya. “Kita punya bukti apa untuk menghukum Rudi?” ucap Rina. Ia membuka percakapan. Semua orang menatapnya. “Kalau tidak ada bukti kuat. Rudi akan bebas dari penjara. Apalagi dia punya uang dan bisa membayar siapapun untuk menjadi pengacaranya. Apalagi untuk kasus yang sudah sangat lama ini, tentu akan sangat sulit” Ucap Rina lagi. Napasnya masih berat, telihat sekali harapan di matanya sangat tipis. Laisa bisa melihat itu. “Ma. Don’t say like that!” ucap Laisa menenangkan hati Rina yang sedikit goyah. “Aku menyimpan beberapa berkas jika diperlukan Rin, tapi itu sudah cukup lama. Kita perlu bukti lain.” Ucap Reyna. “Orang yang terlibat langsung disana? Maksudku Papa.” Balas Dema. Anak itu sesekali masih memegang kepala yang terasa sakit. “Hmmm... Maksud kamu meminta Papa untuk pulang dan menjadi saksi, Dem?” ucap Reyna memastikan. “Iya Ma..” balas Dema cepat. “Tetap saja belum bisa kuat buktinya. Kita butuh bukti fisiknya. Pengakuan saksi atau korban bisa saja dimanipulasi.” Ucap Anan menimpali kata-kata Dema. “Benar.” Ucap Laisa. Semua orang berpikir keras untuk mengumpulkan bukti untuk kasus yang sudah lama itu. “Saya ada bukti rekamana Pak Rudi ketika dia mengakui kesalahan nya tadi.” Ucap Anan dengan cepat. Ia lantas mengeluarkan ponsel dan mencari file rekaman itu. Anan kemudian menghadapkan ponselnya di depan orang orang yang ada di ruang tamu. Suara khas Rudi muncul darisana, tepatnya ketika pertengkaran tadi dan ia tidak sengaja mengaku sebagai pelakunya. Anan sudah berpikir bahwa ini akan sangat penting untuk proses persidangan nanti. Semua orang tersenyum dengan suka cita. Mereka berterimakasih kepada Anan yang sudah membantunya. “Terimakasih Nak.” Ucap Rina. “Tunggu. Semua belum selesai.” Ucap Reyna. Perempuan itu mengingat sesuatu yang terlupakan. “Apalagi Reyna?” balas Rina. Semua orang terdiam menunggu ucapan dari Reyna. “Kita belum mengeluarkan chip itu dari tubuh kamu Rin.” Balas Reyna. Semua orang terkejut dan menatap Rina. “Chip? Apa maksud dari chip Tante?” Laisa penasaran. Dema, Anan juga menunjukkan ekspresi sama. Hanya sopir Rudi yang bersikap tenang. Ternyata ia sudah tahu tentang chip itu. Ia terlihat menyembunyikan sesuatu kepada mereka. Rina mengambil alih pembicaraan dan berusaha menjelaskan kepada Laisa. “Sebenarnya, Rudi memasukkan chip ke dalam kepalaku Laisa. Dan hingga sekarang chip itu masih terpatri disini.” Rina menunjuka bagian samping kepala nya yang terpasang chip kecil. Laisa tidak menyangka teknologi itu benar-benar ada dan sudah diterapkan kepada manusia. Chip yang bisa mengontrol semua aktivitas manusia. Namun pertanyaan nya, mengapa Rudi memasang chip di tubuh Rina? Apa gunanya? Laisa mempertanyakan itu kepada ibu nya. “Dia ingin mengontrol semua yang kulakukan dan dimana diriku Laisa. Bukan! Namun kita! Dia mengontrol semua aktivitas ibumu ini. Sebenarnya kemarin, dia pernah datang dan mempertanyakan tentang perjodohan, namun aku hanya meminta anaknya untuk mendekati kamu tanpa ada paksaan.” Ucap Rina. Laisa kini paham, mengapa Rina sering meradang kesakitan di bagian kepala. Itu bukan karena penyakitnya, namun karena pengaruh chip yang sengaja dipasang Rudi ke tubuhnya. “Ibu kenapa tidak pernah cerita ke Laisa?” balas gadis berusia 16 tahun itu. “Karena ini terlalu berat bagi itu. Ibu tidak mau Laisa merasa terbebani dan menyimpan rasa dendam yang begitu besar kepada orang lain.” Ucap Laisa. “Tetapi dia salah ibu, dan orang yang salah pasti akan dapat hukuman nya.” Balas Laisa. Dalam pikiran nya kini semakin membenci keberadaan Rudi karena sudah membuat orang terdekatnya menderita sangat banyak. “Aku akan bicara kepadanya agar mengeluarkan chip itu!” tegas Laisa. Ia kemudian bergerak ke arah pintu, bermaksud untuk mengejar Rudi ke kantor polisi. “Nona! Tunggu!” ** Hai para author dan readers. Kalau suka boleh dong minta follow, and reviewnya ya kakak-kakak. Plus hadiahnya juga boleh yah kaa. Thank you so much :) Semoga selalu diberi kesehatan ya kak. Finding me I Instagram: @kismun.th ***
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
ini sangat bagus kalau bisa top op
25/09/2024
0mantap
20/08/2024
0god
23/06/2024
0Lihat Semua