“Kalau kamu benar-benar mengingin kan itu, aku ada tawaran bagus yang bisa menjadi pertimbangan kamu. Bagaimana?” ucap Rudi berusaha menego Reyna dengan taktik nya sendiri. Nampaknya Rudi tidak tegiur dengan sejumlah uang yang sempat Reyna tawarkan kepadanya. Perihal uang, Rudi sudah banyak memiliki tabungan dan saham yang melimpah. Track record nya tidak bisa dibilang biasa saja. Ia menjadi salah satu donatur SMA Semesta bersama yang derajatnya sama dengan Reyna. Bahkan harta nya itu sudah bisa dijadikan bekal usia tua untuk tiga turunan. Ia benar-benar tidak terpikat untuk hal menukar chip yang ada di tubuh Rina dengan uang. “Apa?” balas Reyna dengan sinis. Ia tidak tahu lagi harus membujuk Rudi dengan cara apa. Pria itu benar-benar keras kepala dan sulit mengubah keputusan nya sendiri. Dalam dunia bisnis pun sama. Rudi dikenal sebagai pengusaha yang sulit untuk ditaklukan. Bahkan dengan metode negosiasi mana pun. Ia akan tetap kokoh pada pendapatnya sendiri. Oleh karena itu, Reyna malas ketika berbisnis namun ada hubungan nya dengan perusahaan Rudi. Mereka tentu akan sering bertengkar jika menjadi partner kerja. “Kamu menikah denganku atau membiarkan candra menikah dengan Laisa? Aku dengar, anakmu juga mendekati putrinya Rina” balas Rudi. Reyna terkejut, mulut yang terbuka cukup menandakan ekspresi itu. Begitu pula Rina dan sopir pribadi Rudi. Sementara Rudi hanya meringis bak tidak tahu malu dan tidak merasa melakukan kesalahan. Reyna sendiri sudah cukup tahu tentang Candra ketika kemarin ia diajak Laisa ke rumah sakit menjenguk Rina. Pria itu juga sama seperti Papanya, tergila-gila oleh cinta. Shhhtttt! Gila! Benar-benar gila pria yang ada di depan Reyna itu. Ia bahkan sama sekali tidak meragukan apa yang baru sata terlontar dari mulut itu. Permintaan itu ebnar benar membuat Reyna tidak habis pikir dengan sosok Rudi yang dulunya ia kenal sebagai pria yang baik dan bersedia melindungi siapa pun tanpa pandang bulu. Tetapi mengapa saat ini, Rudi yang seharusnya masih mengayomi malah tampil sebagai monster dengan segala ambisinya? Aihh.. Reyna tetap saja membencinya. Ia tidak akan melakukan apa yang Rudi inginkan. Terperangkap dalam kendali nya sama dengan bunuh diri. Cukup Husada saja yang dibuat seperti sekarang. Reyna tidak akan membiarkan ada korban lagi diantara keluarganya dan keluarga Rina. “Sialan kamu ya! Kamu nggak tahu saat dirimu hanya orang miskin tidak punya apa-apa dan suamiku yang membantumu? Ingat Rudi! Tidakkah bisa kamu membalas meski pun sedikit saja!” balas Rina yang mulai sadar jika perkataan Rudi sudah tidak waras lagi. “DIAMMM!! Aku sudah mengirim kamu cek, tetapi apa. Kamu hanya menolak dan belagak tidak mau. Aku belikan rumah dan sikapmu sama saja! Apa kamu kira itu tidak bagian dari balas budi?” ucap Rudi membalas penyataan Rina. Rina diam. Memang benar yang dikatakan Rudi, tetapi Rina tidak ingin itu. Ia tidak bahagia hanya dengan uang. “it’s okey. Aku ingat Raharjo yang membantuku dulu. Akan selalu kuingat, tetapi aku menyesal. Sangat menyesal! Dia yang juga menyebabkan kebahagiaan ku satu satunya sirna!” teriak Rudi sembari menatap Reyna. Tentu Reyna adalah sumber kebahagiaan bagi nya. Karena Reyna menikah dengan Husada lantaran Raharjo, Rudi harus mengalah. Reyna hanya menggelengkan kepala, begitu pula Rina. Ia tidak menyangka jika Rudi adalah rubah yang sebenarnya. Ia benar benar tampil sempurna di mata orang –orang, namun menjadi monster saat ini. Tepat di depan orang yang sangat dia cintai. “Raharjo memang memberikan ku uang, tetapi ia sama sekali tidak memberikan ku kebahagiaan. Apa itu persahabatan, apa esensi nya jika hanya bisa menyakiti?” ucap Rudi lagi. ia kini menahan air mata yang sudah hendak terjatuh. Naluri sebagai laki-laki membuatnya urung untuk terlihat lemah di hadapan orang lain, apalagi Reyna. Rudi selalu berusaha tampil sempurna di depan Reyna, tetapi saat ini ia tidak bisa melakukan nya lagi. Ia bahkan menangis dan menunduk di samping meja. Reyna mulai berlinang air mata. Rina sudah dari tadi, ketika memarahi Rudi yang berhati sekeras batu. Sementara sopir masih terus menunduk. Tidak berani melakukan apa-apa kecuali yang diperintahkan oleh majikan. “Bagaimana Reyna, kamu mau memilih yang mana?” tanya Rudi lagi. Pertanyaan nya diulangi lagi. Ia tetap kokoh meski sebenarnya sudah rapuh. Sekali lagi, pria itu berusaha tetap tegar di depan Reyna. Menurut Reyna, Rudi sudah kalah. Ia tidak akan mendapatkan apa apa darinya. Namun pria itu masih memiliki secercah harapan. Dari matanya sangat terlihat. Reyna akan memberi kesempatan jika itu benar – benar terjadi. Rudi yang sekarang – mungkin saja bisa kembali menjadi Rudi yang bersikap seperti dulu. “Aku tidak akan memilih manapun Rudi.” Balas Reyna dengan tegas. Ia menatap tajam Rudi. Pria itu masih mendongak dari atas lantai dan memandang Reyna yang duduk diatas kursi. “Kamu tidak peduli dengan Rina? Sahabatmu?” balas Rudi kepada Reyna. Reyna meneteskan air mata. Membayangkan rasa sakit Rina tentu itu menjadi luka baginya. Ia bukan tidak peduli. Tetapi pilihan itu cukup berat. Ia akan menghancurkan banyak pihak jika memilih salah satu diantaranya. Hati yang akan paling terluka adalah Husada dan Dema. Mereka sama sama mencintai dirinya dan Laisa. Tidak mungkin Reyna dengan egoisnya melakukan hal itu. Rina memandang Reyna dan memberi isyarat dengan gelengan kepada, tanda jika ia memang setuju dengan apa yang Reyna lakukan. Biar dirinya saja yang terluka, jangan orang lain apalagi putrinya. “Rudi, kamu tahu kenapa aku tidak menyukaimu?” tanya Reyna kepada Rudi. Rasa penasaran itu membuat Rudi segera memperhatikan dengan antusias. “Sebenarnya aku sudah tahu jika kamu menyukaiku. Sikapmu sangat terlihat. Aku pernah menyukaimu dulu Rudi, tetapi rasa suka itu tiba-tiba sirna begitu saja. Kamu tahu itu kenapa?” balas Reyna. “Katakan kenapa!” teriak Rudi yang penuh penyesalan. Mengapa dulu ia tidak berjuang dengan keras. “Karena sikap kamu yang seperti ini, Rud! Itu sangat menyedihkan bagiku. Aku harus mengubur rasa itu untuk kehidupanku yang lebih baik.” Ucap Rina. Rudi melangkah maju dengan cepat. Ia menggenggam kedua tungkai atas Reyna dengan kedua tangannya. “Kenapa kamu tidak mengatakan hal itu kepadaku? Kenapa?” balas Rudi. “Aku butuh pria dan suami yang bisa menjadi surga buat diriku dan anak-anakku Rud, aku tidak butuh cinta. Saat itu aku melihat dirimu. Cintamu hanya kepadaku, bukan kepada anak-anakku kelak. Dan aku tidak mau itu terjadi.” Ucap Reyna lagi. Kata-kata itu membuat Rudi terjatuh di depan lulut Reyna. Rudi lemah tak berdaya. Ia menyesal, sungguh menyesal dengan sikapnya yang berubah layaknya monster ini. Andaikan dulu ia tidak terlalu berambisi dan menginginkan Reyna, pasti tidak akan seperti ini. Andaikan dulu ia masih menganggap Raharjo sebagai sahabat yang berjasa kepadanya dan sama sekali tidak menyalahkan atas apa ia lakukan. Andaikan ia tidak menyebabkan kematian Raharjo dan sakitnya Rudi. Andaikan itu semua bisa terulang kembali. Rudi sangat menginginkan hal itu terjadi. ** Hai para author dan readers. Kalau suka boleh dong minta follow, and reviewnya ya kakak-kakak. Plus hadiahnya juga boleh yah kaa. Thank you so much :) Semoga selalu diberi kesehatan ya kak. Finding me I Instagram: @kismun.th ***
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
ini sangat bagus kalau bisa top op
25/09/2024
0mantap
20/08/2024
0god
23/06/2024
0Lihat Semua