logo text

Bab 25 Gadis Preman

"Eh, lo tahu dimana arah Laisa pergi tadi?" tanya Dion. Napas mereka tersengal. Dalam perkara apapun, mendapatkan Laisa memang bukan perkara yang mudah. Pantas saja Dema sering mengeluh kesal dan marah! Namun Dema memang pria tangguh. Ia selalu mencari berbagai cara untuk menemukan Laisa dan memantik hatinya.
"Perasaan tadi dia di ruang ganti kan, kok sekarang cepat sekali perginya!" Mereka sudah sampai di dekat tangga. Samping tangga itu terdapat ruang ganti. Laisa seharusnya berada disana, jika tidak jaraknya masih dekat dari tangga itu. Tetapi mengapa dia berjalan begitu cepat. Dion dan Riyan sampai tidak bisa melihat punggungnya.
"Coba kita cari di sekitar sini! Gue yakin dia nggak jauh jauh!" ucap Dion. Ia mencari Laisa di ruangan dekat kamar ganti. Bertanya kesana kemari dengan siswa yang berada disitu. Namun tetap saja. Mereka menggeleng tidak tahu. Apakah karena mereka tidak mengenali Laisa? Tetapi ia mengenakan gaun yang menarik, tentu itu akan menjadi pusat perhatian. Atau mereka yang terlalu sibuk dengan urusan diri sendiri sampai tidak melihat Laisa? Ahh.. Kenapa juga Dion marah dengan keadaan!
Sedang Riyan, ia sudah tidak sabar dan memberanikan diri untuk langsung masuk ke kamar ganti perempuan. Siapa tahu gadis itu masih berada di dalam dan sibuk mengurus gaunnya yang entah selalu dipegangi itu. Riyan tidak peduli dengan serangan apapun yang nanti ia dapatkan. Tujuannya satu, Laisa harus segera mengikuti lomba duta Semesta.
"AAAA..!" para gadis terdengar berteriak keras. Jumlah mereka mungkin lima orang bahkan lebih. Riyan tidak terlalu memperhatikan. Ia sibuk dilempari gadis gadis itu karena berani - beraninya masuk di area perempuan.
"Dasar laki laki brengsek! Lo pasti mau ngintip yaaa!" ucap seseorang gadis. Dari bet lengannya menunjukkan bahwa ia masih kelas sepuluh. Gadis itu berkali kali memukul Riyan dengan tasnya. Ia mendorong-dorong dengan gagang sapu agar Riyan keluar dari ruang ganti perempuan.
"Eh eh ehh.. Sorry! Gue nggak ada maksud buat ngintip orang! Gue cuma mau nyari seseorang!" Riyan membela diri. Seluruh badannya lebam lebam. Pukulan gadis itu bisa dibilang benar benar mengujam. Ia memang berniat sekali untuk berperang, batin Riyan. Pria itu juga tidak melawan. Ia tahu bahwa perbuatannya salah. Melawan sama saja tidak mengakui keburukannya itu.
"Gue nggak peduli lo mau nyari siapa, tapi lihat situasi dong! Ini kamar ganti perempuan! Lo nggak lihat di papan peringatan itu? LAKI - LAKI DILARANG MASUK!" ucap gadis itu sembari memberi penekanan ke setiap kata. Ia juga masih memukuli Riyan dengan tas nya. Riyan kini bersedekap di dekat pintu. Ia jongkok dan tidak berdaya karena pukulan gadis itu. Anehnya! Riyan sama sekali tidak melawan. Lagian buat apa dia melawan perempuan. Mungkin akan merusak image jika berani memukul balik perempuan, atau tidak integritasnya sebagai laki-laki yang harusnya melindungi akan dipertanyakan.
"Naura, stop deh! Kayaknya gue kenal sama ni cowok!" ucap teman gadis yang memukul Riyan itu. Ternyata nama gadis itu Naura. Ia berambut lurus sepinggang. Poninya menutup dahi bagian depan. Naura saat itu mengenakan outer berwarna abu-abu - abu.
"Oh, lo anggota F3 kan? Wait.. Nama lo Riyan bukan?" tanya siswi itu. Ia lantas menunjukkan senyum sumringah dan tertarik dengan Riyan. Riyan mengangguk, membenarkan pertanyaan dari teman gadis itu tanpa berpikir panjang.
"Nau, kita kayaknya harus stop ini. Biarkan dia keluar. Dia anggota F3 lo. F3 Itu sangat dihormati di sekolah ini!" ucap gadis yang cukup mengetahui tentang eksistensi geng Dema dan kawan - kawan itu. Riyan tersenyum sarkas. Kali ini ia akan menang dan gadis bernama Naura itu akan bertekuk lutut karena ketakutan. Siapa di sekolah ini yang berani melawan F3. Mereka akan mendapat balasan jika berani beraninya mengancam, menyakiti atau memojokkan F3.
Naura diam. Ia berhenti memukul Riyan dengan tasnya.
"Oke kali ini lo gue maafin. Tapi gue nggak peduli dia dari geng mana di sekolah. Semua orang sama di sekolah ini. Hanya karena lo kaya atau lo dari kasta tertinggi pun nggak lantas bikin lo semena mena di sekolah. Aturan tetap aturan. Yang ngelanggar pasti dapat hukuman!" tegas Naura.
Ia berlalu meninggalkan ruang ganti itu. Riyan tercengang mendengar jawaban itu. Apa tadi? Gadis itu mengacuhkannya? Oh my God! Siapa yang berani mengacuhkan si tampan Riyan dari F3. So clear! Dia tampan, berwibawa, tajir! Siapa gadis yang akan menolaknya? Tapi tadi... Baru saja ia ditolak.
Perihal tadi... Jawaban yang 'dewasa', maybe. Ah siapa tadi namanya? Naura? Oke.. Dia akan mencarinya nanti.
"Riyan lo nggak papa?" tanya dua orang gadis yang meminta Naura untuk melepaskannya.
"Nggak papa, aman aman!" Riyan bersyukur dirinya tidak sampai dibunuh oleh gadis galak itu.
Hmm.. Riyan serasa tidak punya wajah di depan para siswa. Maka ia berpura pura merasa kesakitan untuk mengalihkan perhatian mereka. Riyan bukannya merasa sakit atas pukulan tadi. Tetapi pria itu sakit karena ditolak. Rasa penolakan memang mengerikan. Pantas saja Dema tidak hanya sekali dua kali mencoba lagi untuk menaklukan Laisa. Mungkin itu bagian dari balas dendam akan penolakan yang ia dapatkan!
"AHH.." Riyan tiba tiba mengerang kesakitan. Para siswi itu berusaha membantunya. Mereka juga menggerutu perihal sikap Naura yang kasar kepada Riyan.
Dion tiba tiba datang setelah menyadari bahwa Riyan sedari tadi tidak ada di belakangnya.
"Eh bro! Lo ngapain ditempat cewek! Ayo keluar sekarang!" ucap Dion. Ia menarik lengan baju Riyan dan memintanya keluar.
"Ya sorry, Dion. Gue kira Laisa ada di dalem, jadi langsung aja gue masuk. Eh ternyata gue diserang sama preman itu!" ucap Riyan menjelaskan semuanya kepada Dion. Dion tidak mudah percaya dengan sahabat 'genit' nya itu. Pasti ada maksud tersendiri, pikirnya.
"Preman siapa maksud lo!" Dion membalas jawaban Riyan.
"Ahh.. Gadis itu tadi lo yang namanya Naura atau siapa. Dia galak banget woii! Gue sampe dipukul hingga babak belur gini!" teriak Riyan
"Makanya, otak lo yang waras. Udah tahu kamar ganti perempuan masih aja lo masuk!" Dion menjitak dahu Riyan. Terkadang sahahatnya itu memang harus ke tempat service otak agar bisa diasah lagi. Atau mungkin karena kelamaan menjomblo, jadi pikiran Riyan kalang kabut begitu? Memang ya..!!
"Eh lo mau kemana Dion!" teriak Riyan. Ia masih memegang kepalanya yang terasa sakit akibat pukulan tas gadis tadi. Kira kira apa isi tasnya? Mungkin batu bata yang sengaja di masukkan, atau baran elektronik dengan ukuran besar? Ah... Intinya barang itu terasa keras di kepalanya.
'Awas saja nanti! Kalau sudah beres ia akan segera mencari preman yang bernama Naura!' Gerutu Riyan.
"Ikut gue!" balas Dion. Ia berjalan menyusuri lorong sekolah untuk kembali lagi mencari Laisa.
Selang beberapa lama. Dion berhenti di depan ruangan. Ia mendapati sesuatu yang ganjal disana. Riyan penasaran. Ia berusaha melihat dari balik kaca pintu. Benar! Seperti dugaan. Dion memang tidak salah melihat situasi!
**

Komentar Buku (27)

  • avatar
    Agus

    ini sangat bagus kalau bisa top op

    25/09/2024

      0
  • avatar
    FahriMuhammad

    mantap

    20/08/2024

      0
  • avatar
    Mohamad YusufRendi

    god

    23/06/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru