logo text

Bab 17 Dema yang Menawan

Hari ini adalah hari Senin. Seperti biasa, para siswa mengikuti upacara bendera. Gerbang di tutup lebih cepat. 06.45 WIB satpam sekolah sudah meneriaki siswa-siswa untuk cepat masuk. Dua satpam dibantu oleh para pengurus OSIS. Mereka nantinya juga akan melaporkan perkembangan event festival lomba SMA Semesta yang sudah berjalan hampir dua minggu. Minggu ini adalah minggu terakhir yang akan ditutup dengan lomba duta Semesta dan pesta dansa di malam hari. Para siswa tentu lebih antusias dengan pesta dansa. Mereka akan mengenakan gaun terbaik dan berdansa dengan teman pria mereka. Beberapa yang sudah memiliki pasangan juga diperbolehkan membawa pasangannya. Pasti akan sangat romantis ditemani alunan musik khas eropa.
Laisa sudah dari jam 06.30 sampai di sekolah. Hari ini ia bangun lebih cepat karena ia sadar bahwa hari Senin. Sementara Dema bangun kesiangan. Semalam ia berpesta dengan geng F3 untuk merayakan hari ulang tahun Mamanya Dion. Jam 3 pagi ia baru pulang. Untung Pak Komang waktu itu masih terjaga, jika tidak maka Dema hanya akan terlantar di depan rumah karena tidak ada yang membukakan pintu rumah. Sementara Reyna? Ia awalnya juga mengikuti pesta ulang tahun, namun karena ada urusan mendadak di kantor maka Reyna pamit terlebih dahulu. Sekitar jam 1 wanita itu baru pulang lantas langsung tidur tanpa mencari Dema di kamarnya.
Dion dan Riyan aman. Meski semalam sampai larut, mereka masih bisa bangun tepat waktu. Namun Dema? Entahlah.. Semalam ia tidak bisa tidur karena memikirkan banyak hal. Pertama tentang lomba duta itu, kedua tentang karantina yang akan langsung dilaksanakan dua minggu lagi setelah UTS. Pasti sangat melelahkan jika harus mempelajari banyak hal, batinnya. Tetapi no problem! Seorang Dema yang terkenal multitalenta dan banyak kegiatan pasti bisa melaluinya. Apalagi ditemani oleh si 'crush', tentu akan lebih mudah dihadapi. Siapa lagi orangnya kalau bukan Laisa. Ya, gadis itu sampai detik ini masih menjadi pusat perhatian Dema.
"Dema!! WOY! Segera turun! Sudah mau jam 7. Nanti kita kena hukum!" Teriak Riyan. Ia sudah menunggu dari lima belas menit yang lalu. Namun Dema masih belum terlihat batang hidungnya. Pria itu harus memoles rambut, wajah dan bibirnya agar terlihat cool. Hari ini mungkin akan sangat padat, jadi Dema bersolek agak tebal. Biasanya ia hanya memakai deodorant. Tidak ada tambahan lain lain lagi. Sebenarnya ada maksud lain dari tampilan baru Dema itu. Namun ia enggan bercerita.
Entah mengapa akhir-akhir ini Dema benar benar menjaga penampilannya. Dia seperti hendak tampil di suatu acara yang penting. Atau kah... Untuk seorang gadis bernama Laisa? Riyan dan Dion sendiri juga tak mengerti. Dema terlihat sangat tampan dan berwibawa. Tentu para gadis akan beramai ramai meneriakinya jika itu terus dilakukan. Ditunggu saja, apakah Dema akan tetap bersikap dingin dan tidak peduli dengan mereka atau bagaimana.
"Iya sabaar!" teriaknya dari jendela.
Rumah itu sangat besar dengan latar halaman di dominasi warna hijau rumput. Di depan rumah Dema terdapat air mancur yang berdiri gagah dengan patung kuda. Di depan rumah Dema terdapat tiga macam mobil yang berjejer rapi dengan keluaran terbaru. Ada pula motor yang sesekali ia gunakan untuk bepergian santai. Riyan dan Dion duduk diatas mobil, mengangkat kakinya dengan santai karena mungkin terlalu lama menunggu Dema.
"Mah, Dema berangkat dulu. Udah telat nih. Nanti aku kabari kalau sudah sampai rumah. Cupp!"
Dema turun dari tangga dengan tergesa gesa. Tasnya hanya diselempangkan sisi kiri. Ia mendaratkan kecupan singkat di pipi Mama Reyna. Reyna hanya menggeleng -geleng melihat tingkah Dema yang.. Bisa dibilang kekanakkan. Maklum, usianya sudah mau remaja ke dewasa. Dema sudah diminta membawa bekal, namun ia menolak dan memilih membeli makanan di kantin.
"Uyy! Ayo kita berangkat!" ucap Dema. Ia sudah siap menghadapi hari senin yang akan sangat panjang itu.
"Kali ini siapa yang nyetir? Tanya Dema.
"Kali ini gue Dem, jangan ada yang melarang !" Dion maju. Ia kali ini menghadap dengan tekad penuh. Dema menepuk pundak sebagai tanda persetujuan. Mereka bertiga masuk mobil dan mulai melakukan gerakan cepat untuk sampai ke sekolah.
Mobil melaju cepat, meninggalkan bangunan megah nan luas itu.
"Bro, lo hari ini kelihatan ganteng banget mau ngapain emangnya?" tanya Riyan penasaran. Ia yang duduk dibelakang lantas maju ke depan diantara Dema dan Dion. Hanya tangannya saja yang berada di jok mobil.
"Buat Laisa lah, siapa lagi kalau bukan dia! " Dema terkekeh. Dari guratan wajahnya, ia hanya berpura pura saja. Padahal ada maksud lain yang Riyan dan Dion belum sadari.
"Ehhh... Sekarang bener bener bucin lo Bro. Sampai pake skin care tingkat platinum hanya untuk menarik perhatian Laisa!" Dion menimpali. Setelah beberapa hari lalu ia berlatih mobil lagi, kemampuan menyetirnya bisa dibilang meningkat. Dion tidak takut lagi dengan jalan perkotaan yang ramai. Ia mulai lihai membelokkan mobil tanpa harus melihat jalan.
"AH... Kalian seperti nggak tahu Laisa aja. Dia mana mungkin terpikat dengan muka gue. Mau setampan apa yang dipandang Laisa itu hati, Bro!" Dema menggedor bilah mobil bagian depan. Itu hanya bentuk penegasan bagaimana karakter Laisa yang sebenarnya.
Dion dan Riyan juga terkekeh. Mereka baru menyadari hal itu. Laisa adalah gadis polos dan apa adanya. Tetapi entah mengapa Dema malah menyukai gadis yang seperti itu.
"Ini demi menarik perhatian anak anak aja. Sebentar lagi bakal ada pemilihan duta. Gue jelas butuh dukungan mereka. Eh.. Nanti kalian harus gencar mempromosikan diri gue. Pasang banner, brosur, flyer atau apalah itu dimana mana. Gue harus jadi boy ambassadornya. Jangan yang lain!". Ucapan Dema itu memiliki makna tersirat. Ia tahu suatu hal. Lomba duta ini tidak hanya diikuti oleh kelas X saja, namun juga kelas 11 dan 12. Sebagai penyelenggara, OSIS tetap diperbolehkan untuk ikut dalam lomba itu. Seharusnya mereka tidak diperbolehkan ikut, namun karena kebijakan setiap tahun berbeda maka mereka tetap diperbolehkan. Dengan adanya aturan itu membuat Dema agak khawatir. Ada maksud tersembunyi dari aturan itu.
Posisi menjadi duta adalah posisi yang diinginkan oleh kebanyakan orang. Awal awal kemarin sudah sangat terlihat perpolitikannya. Candra dengan sengaja meminta ketua kelas untuk mencalonkan Laisa. Apakah wajar ia melalukan hal itu? Tentu Candra akan ikut dalam seleksi, menjadikan dirinya sendiri sebagai Duta pria yang nanti berdiri di samping duta Putri. Ah.. Permainan macam apa ini! Gerutu Dema.
"Tenang Bro, kita akan mengerahkan semua tenaga demi lo. Masalah anak anak itu gampang! Kelas 10 masih bisa dipegang sama kita. Tapi yang agak menghawatirkan itu kelas XI dan kelas XII. Kita harus pakai strategi yang jitu untuk menarik mereka. Jangan sampai ada orang lain yang mereka dukung!" Dion berusaha menyakinkan. Ia sepertinya sudah mulai menyadari arah pembicaraan Dema. Riyan juga manggut manggut paham. Mereka mulai mengubungi beberapa orang ahli untuk dibuatkan brosur dan flyer. Kampanye harus dimulai dari sekarang, melalui media manapun yang ada. Dema harus menjadi duta putra mendampingi Laisa.
Sementara Laisa bagaimana? Ia kemungkinan besar akan menjadi juaranya. Ada informasi bocor bahwa lawannya hanya dari kelas X saja. Kelas XI dan XII tidak ada yang mendaftarkan diri. Dema berspekulasi itu juga bagian dari rencana Candra. Waww.. Apik sekali rencana itu!!
Tidak disangka mobil mereka sudah mendarat di halaman SMA Semesta. Mereka hendak masuk gerbang. Para siswa yang mengantri masuk terpaksa harus menyingkir karena mobil F3 hendak masuk. Mereka seperti penguasa di sekolah itu. Yang kehadirannya dihormati dan dipuji puji. Dema dan Dion membuka kaca mobilnya. Seperti yang diduga. Para siswa berteriak kagum dengan penampilan mereka bertiga, terutama Dema. Ia sangat menawan dengan kaca mata hitam itu.
'Ya ampun, ada pangeran turun dari langit! '
'Dia malaikat atau manusia, Tuhan kendalikan jantungku!'
'Dema.. I love you!'
Begitulah para siswa merespon ketika Dema tepat melintas di depan mereka. Beberapa ada yang mengambil gambar dan memposting di twitter dengan captionnya masing masing.
Dema berhasil menarik perhatian para siswa.
Di seberang sana, ada empat mata yang menatap tajam. Satu Candra dan satunya lagi Pak Arya.
**

Komentar Buku (27)

  • avatar
    Agus

    ini sangat bagus kalau bisa top op

    25/09/2024

      0
  • avatar
    FahriMuhammad

    mantap

    20/08/2024

      0
  • avatar
    Mohamad YusufRendi

    god

    23/06/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru