Bab 16 Rumah Anan

"Ke arah rumah Anan ya Pak!" Clara mengintruksikan kepada sopir pribadinya itu. Ia seperti sudah paham dimana arah rumah Anan. Maklum, ia sudah lama bekerja dengan keluarga Clara. Bahkan berkat loyalitas nya, sang sopir diajak ke Prancis. Dibiayai seluruh akomodasi dan keperluan selama disana. Sungguh beruntung sopir itu bisa merasakan aroma Prancis. Untuk mencapai tingkat itu tentu harus banyak mengabdi kepada keluarga Clara. Bahkan di sopir rela meninggalkan keluarga hanya untuk melakukan pekerjaan menjadi sopir itu.
"Baik Nona!"
Lalu dimana William, si manager yang berisik itu? Ia tentu sudah dipulangkan ke rumahya disekitar situ. Kini tinggal Clara dan Pak sopir saja. Clara meletakkan kepalanya di jok. Ia bersender layaknya orang yang sedang memusingkan sesuatu. Iya benar. Ia memang sedang dibuat bingung oleh perilaku Thyme tadi. Jujur itu meruntuhkan semua dunia yang sudah ia bangun. Seakan akan semuanya jatuh ditangan Thyme. Sialan!
Hanya bersama Thyme Clara merasa detak jantungnya tidak normal, hanya bersamanya nafas jadi tidak teratur. Seluruh aliran darah seakan akan berhenti beredar. Dunia dan seisinya, matahari, bulan, Bintang, planet dan perangkat lain diangkasa seakan akan juga berhenti. Clara tidak tahu apa makna itu semua. Yang pasti ia takut. Sangat takut. Jika nanti memang Thyme yang meruntuhkan dunianya bagaimana? Maksudnya, bagaimana jika benar bahwa Thyme yang membuat dirinya jatuh Cinta sekaligus merusaknya? Clara masih takut jatuh Cinta. Namun ia juga ingin merasakan kenyamanan dan kebahagiaan melalui perasaan itu.
Orang tua belakangan ini juga hanya sibuk bekerja. Mereka mana tahu apa yang sekarang sedang dilakukan oleh Clara, dimana dia, sedang apa, apakah sudah makan atau belum, apakah tidurnya nyenyak atau tidak? Noo! Mereka tidak akan peduli sedetail itu. Meski sekarang Clara sudah menjadi Bintang terkenal, itu tidak akan mengubah pendirian Mama dan Papanya. Bahwa ia adalah anak yang tidak diinginkan lahir di dunia ini. Rossa tetaplah Rossa bagi mereka, tidak akan berubah menjadi Clara. Mereka tetap dianggap sebagai anak perempuan dan itu tidak sesuai dengan harapan orang tua untuk memiliki anak laki-laki. Namun saat ini ia menyukai dirinya sebagai Clara yang cantik dan menawan.
Maka boleh kah misal, melalui Thyme ia bisa merasakan hal hal semacam kasih sayang, cinta, bahagia, perasaan yang berdesir setiap melihat dan bersamanya? Bolehkah ia memiliki hati yang penuh setelah sebelumnya sama sekali tidak memilikinya? Bolehkan ia mencari kebahagiaannya sendiri tanpa berpusat kepada orang tua? Clara sangat ingin. Tetapi harus darimana ia memulai itu semua. Apakah Thyme juga mencintainya ataukah itu hanya perasaaan sekilas dan bertepuk sebelah tangan?
Ahh..!! Dia benci memikirkan perasaannya yang seringkali sepihak saja.
“Pak, jangan lupa mampir ke toko roti ya. Saya mau beli sesuatu untuk oleh-oleh.” Pinta Clara. Ia memang suka membawakan sesuatu sebagai hadiah kecil untuk keluaga Anan. Rasanya ada yang kurang jika berkunjung tetapi tidak membawa sesuatu.
“Siap Nona.”
“Oh ya, nanti bapak juga saya belikan buat keluarga di rumah.”
“Wah.. nggak usah repot-repot Non. Ini juga sudah malam. Anak anak kalau saya pulang sudah pada tidur.”
“Tidak apa apa pak, nanti disimpan buat sarapan besok. Oke.”
“Baik Non, terimakasih.”
Mobil mendarat dengan cepat. Mereka mampir ke toko roti untuk membeli oleh-oleh. Begitu pula Pak Sopir. Setelah dari toko,Clara segera menghubungi Anan untuk menanyakan posisi dimana.
Anan dengan cepat menjawab telepon dari Clara. Anan berada di rumah. Mereka diperbolehkan berkunjung.
**
“Ibu... Hallo. Good evening!” ucap Clara.
Senyumnya merekah dan manis sekali. Clara sudah tumbuh dewasa saat ini. Dulunya ia berbadan gempal berkulit hitam, namun sekarang berubah drastis. Ibu Anan sampai terkejut melihat perubahan yang ada pada dirinya.
Memang, seiring berkembangnya teknologi, semua mampu dirubah. Asal orang tersebut memiliki uang. Maka ia bisa memiliki segalanya. Ini dipraktekkan sendiri oleh Clara. Ia memang tidak terlahir dengan sempurna, namun ia bisa merubah dirinya menjadi seseorang yang nyaris sempurna. Bahkan tidak hanya ibu, namun juga ayahnya sempat terkejut dengan perubahan yang terjadi.
Bagi Clara, mengambil keputusan seberat itu adalah langkah yang berani. Ia berkali-kali memikirkan apakah ia harus benar benar merubah diri sendiri atau menerimanya saja? Namun hidup dengan keadaan itu adalah hal yang sulit. Cukup masa kecilnya yang dianggap buruk rupa saja! Jangan ketika ia dewasa namun masih mengalami perundungan itu. Atas dasar ia ingin hidup lebih baik lagi, Clara melakukan operasi plastik. Ia meyakinkan kedua orang tua untuk melakukannya. Masalah biaya dipikirkan belakangan.
Tetapi tidak apa apa. Setiap orang memiliki siklus dan fasenya masing-masing. Ketika Tuhan mengatakan itu bukan fasenya, maka sebaiknya ia bersabar. Mungkin hanya dalam hitungan detik, atau mungkin menit, jam, atau bahkan tahun? Semoga disiklus itu manusia benar-benar menemukan jati dirinya. Ya! Menjadi Clara sudahlah menjadi keputusan terbesar dalam hidupnya.
“Good evening Dear, oooo.. You look so pretty girls. I really missed you!” Ibu Anan memeluknya erat. Seperti lama tidak jumpa dengan anaknya. Ayah Anan juga muncul. Clara bersalaman dan memintanya duduk.
“Aku ada sesuatu untuk ibu, Ayah dan Anan. Semoga suka ya!” kata Clara. Ia membawakan dua bungkus kue roti kesukaan mereka di rumah. Clara sampai hafal karena ia sering bermain disana ketika SD. Ibu Anan malah sering memberinya olahan –oalah makanan yang juga tak kalah enaknya.
Ibunya duduk, terkadang menceritakan masa kecil Clara yang menurut mereka unik.
“Rossa kecil waktu itu agak nakal. Sejak ia mendengar suara pisau yang diasah untuk digunakan ayah pergi ke ladang, maka Rossa akan ikut berburu untuk mendapatkan banyak pisang, atau hasil olahan yang dipanen waktu itu.” Ucap Ibu membuka percakapan.
“Iya kah Bu, apakah dulunya aku suka pergi berladang?” tanya Clara antusias. Ia agak lupa dengan kejadian masa lalunya.
“Ohh.. iya jelas Clara. Kamu lebih bersemangat ke ladang dibanding Anan! Ya kan, Anan?” tanya Ibu. Anan hanya tersipu. Benar apa yang dikatakan oleh ibunya itu.
“Wah.. Anan memang dari kecil nggak suka berada di tempat panas ibu! Hahah..”
Semua terkekeh, termasuk Pak Lurah. Ibu tidak lupa menyiapkan minuman hangat kepada tamunya. Keluarga mereka bisa dibilang harmonis, meski Anan merupakan anak satu-satunya di kelaurga itu. Meski begitu, mereka sedang memiliki masalah dalam hal finansial. Clara sendiri belum mengetahui permasalahan itu. Anan masih menutupinya rapat-rapat sampai semua bisa diatasi sendiri. Clara hanya beberapa kali terheran dengan penampilan rumah yang semakin sederhana, tidak seperti beberapa tahun lalu saat ia berkunjung. Rumah di desain dengan sangat apik dan terawat. Bahkan Anan memiliki pembantu rumah tangga yang ikut membereskan rumah.
“Ayo diminum teh hangatnya. Sangat cocok buat musim hujan begini. Kamu pasti tadi kedinginan ya.” ucap Ibu Anan. Ia sangat perhatian kepada dirinya. Membuyarkan pemikiran Clara yang sempat mengarah kemana-mana.
“Hehe.. Iya betul! Tadi sedikit kena air hujan sih Bu, but everything is okay.”
“Hmm.. lain kali kalau kesini jangan terlalu malam ya, nanti tidak ibu izinin lagi. Paham?” tegas Ibu Anan. Namun berisi nada bercandaan.
“Ibu... “ Anan berusaha menjelaskan agar tidak terjadi salah paham antara keduanya.
“Tadi Clara habis kerja dari studio. Ia baru saja pulang. Langsung kesini. Jadi memang larut pulangnya. Maklumi saja bu, kan dia akhir akhir ini sedang banyak job!”
“Heyy, Anan. Jangan buka kartu disini!” teriak Clara. Ia malu jika hal kecil itu ditunjukkan kepada Ayah dan Ibunya.
“Tidak apa apa Nak, ibu bisa maklumi. Biar kali-kali ibumu tahu. Apa yang sudah dilakukan selama delapan tahun itu. Ternyata kamu menjadi model yang terkenal itu ya. Selamatt!” Clara malu dibuatnya. Ia lantas meminum teh hangat yang sudah ibu buatkan, khawatir jika dingin dan berusaha mengalihkan perhatian.
“Ibu, aku boleh nanti menginap disini?” tanya Clara. Clara tersenyum. Ia sebetulnya sungkan, namun karena sudah larut apa boleh buat?
Ibu diam, ia menoleh ke arah ayah dan Anan. Mereka mengagguk.
“Boleh dong sayang, ada kamar tamu. Nanti kamu tidur disitu ya.” Ucap Ibu Anan.
“Kalau Clara tidur dengan Ibu, apakah diperbolehkan?”
Anan terhentak mendengar permintaan Clara. Ia tidak menyangka bahwa Clara yang sudah berusia 16 tahun masih ingin ditemani tidur. Anan semu mengejek Clara, namun perempuan itu tidak tinggal diam. Ia langsung menendang kaki Anan yang berada di sampingnya. Dasar! Rasain!!
“Ohh.. Boleh sekali. Nanti tidur dengan ibu ya..”
Untung saja ibu Anan sangat baik dan mengerti bahwa dirinya sedang rindu berat!
“Hmm.. Terimakasih ibu. Oh ya, aku ada cerita bagus!nnanti kita dengarkan ketika akan tidur ya Bu..”
Anan masih terkekeh ringan.Clara beberapa kali melotot ke arahnya – sebuah intruksi untuk berhenti meledeknya.
**

Komentar Buku (27)

  • avatar
    Agus

    ini sangat bagus kalau bisa top op

    25/09/2024

      0
  • avatar
    FahriMuhammad

    mantap

    20/08/2024

      0
  • avatar
    Mohamad YusufRendi

    god

    23/06/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru