logo text

Bab 36 Brownie

TBE 36
Hiruk pikuk Kota Jakarta kembali membuatku pusing. Setahun tidak terjebak kemacetan menjadikan makian berulang kali terlontar dari mulut. Meskipun jarak tempuh dari rumah menuju kantor sebetulnya tidak terlalu jauh, tetapi karena kepadatan jalan raya membuat jaraknya seakan-akan ratusan kilometer.
Setibanya di tempat parkir sebuah gedung perkantoran di kawasan Warung Buncit, Jakarta Selatan, aku turun dan menutup serta mengunci pintu Xpander putih yang sudah menemani sejak dua tahun silam, tetapi diistirahatkan ketika aku memutuskan untuk menyepi di Salabintana, Sukabumi.
Sudut bibirku terangkat membingkai senyuman, merasa senang karena Dani dan pak Idim benar-benar menunaikan janji untuk merawat kendaraanku dengan baik. Setelah beberapa saat termenung, aku memutar tumit dan jalan menuju pintu masuk gedung. Dua petugas keamanan serentak menghormat, lalu menyalami dan menyapaku dengan ramah.
Hal yang sama juga dilakukan beberapa karyawan lama yang pastinya mengenaliku, sedangkan pegawai baru hanya melongo, terutama mungkin karena melihat warna rambutku yang unik.
"Hai, Brownie," seloroh Farid yang tengah berdiri di depan meja sekretaris bersama dengan Johan.
"Welcome, Mas," sambung Johan sembari menyalami dan merangkulku, seakan-akan kami sudah lama tidak bertemu, padahal baru tiga hari lalu kami berpisah seusai dirinya mengantarkanku pulang.
"Makasih sambutannya, Bro," sahutku, sebelum berpindah ke samping kiri seorang perempuan yang sejak tadi menatapku dengan tajam. "Halo, Sayang. Aku nggak disambut dengan pelukan?" selorohku pada Yani, sahabat almarhumah istriku yang menjadi comblang kami dulu.
"Sayang? Kita udah putus dari sepuluh tahun lalu," rajuknya.
"Bagaimana bisa sepuluh tahun? Kita 'kan baru kenal lima tahun."
"Budu!" Yani berdiri, kemudian menghambur memelukku. Tak lama kemudian terdengar isakannya yang membuatku terenyuh dan spontan mengusap punggung perempuan berparas manis itu dengan pelan.
"Jangan nangis dong, aku nggak bakal pergi ke mana-mana lagi, janji deh," rayuku.
Yani mengurai pelukan dan mencubit pipiku, tak peduli aku meringis kesakitan. "Bilang mau pergi tiga bulan, taunya setahun. Kesel aku tuh!"
"Jangan marah-marah, nanti awet tua."
"Ngeledek aja terus! Mentang-mentang udah punya calon baru, yang lama dicuekin."
"Aku akan tetap bertanggung jawab memberimu dan anak-anak kita nafkah, tenang aja."
"Gajiku naikin!"
"Iya, Sayang."
"Terus aku mau cuti sebulan!"
"Waduh, lama amat? Siapa yang bakal gantiin?"
"Carilah orang baru, sekalian gantiin posisiku yang deskripsi kerjanya udah melenceng."
"Hmm, kita bicarakan nanti."
"Kapan?"
"Setelah pernikahanku dan Risty."
"Aku belum dikenalkan dengannya."
"Ini baru mau ngajak ketemuan."
"Terus aku jadi nyamuk lihat kalian pacaran, gitu?"
"Nggaklah, ini pertemuan pertama dia dengan keluarga di rumah. Kamu dan Tomi diundang juga, jangan lupa, si kembar diajak. Risty sangat suka anak-anak dan ingin ketemu mereka."
"Makan siang 'kan?"
"Yoih, sekalian nginap aja, biar anak-anak bisa bebas berenang."
"Boleh deh." Perempuan yang mengenakan blus merah dengan aksen pita di bawah leher itu mengambil buku agenda hitam dari atas meja, kemudian menarik tanganku memasuki ruang kerja sambil berkata, "Sekarang kita bahas jadwal Mas sampai hari Jum'at."
"Ya, ampun, Yan. Aku baru masuk. Tolong deh, jangan diminta langsung rapat banyak-banyak," keluhku sembari mendudukkan diri di sofa biru tua di bagian kiri ruangan, tepat berhadapan dengan meja kerja. Sementara kedua bersaudara itu duduk di sofa panjang yang berada di sisi kiri ruangan.
"Budu!" desisnya.
"Yang bos itu kamu atau aku sih?"
"Mas memang bos, tapi penguasa kantor ini aku!"
Tawa kedua bersaudara yang sejak tadi mendengarkan perdebatan kami menguar di ruangan. Sementara aku meringis karena lagi-lagi kalah omongan dengan Yani, satu-satunya orang di luar keluarga yang bisa memarahiku kapan pun dia mau.
Sepanjang hari ini Yani menyiksaku dengan memberikan tumpukan berkas yang selalu bertambah setiap jam. Tidak menghiraukan protesku, perempuan yang usianya lebih muda satu tahun itu tetap saja melanjutkan kegiatan yang membuatku lemas.
Langit terang perlahan menggelap. Gema azan magrib membuatku tersadar dan menghentikan kegiatan untuk menunaikan ibadah tiga rakaat tersebut. Aku bersimpuh di sajadah yang dulu nyaris tidak pernah digunakan. Memohon ampun pada Tuhan pemilik alam, sekaligus meminta ketenangan hidup.
Saat aku keluar beberapa menit kemudian, suasana koridor sudah sepi. Yani sudah pulang sejak pukul 5 tadi. Aku memang tidak mau dia lembur, karena kedua anaknya yang masih kecil-kecil itu sangat membutuhkan perhatian.
Gema sepatu bertemu lantai terdengar nyaring di sepanjang koridor. Hampir semua tempat kosong, dan hanya ada beberapa karyawan yang masih bertahan di kubikel masing-masing. Entah benar-benar lembur ataupun tengah berselancar di dunia maya.
Aku berdiri di depan lift sambil menoleh ke kanan. Tiba-tiba aku bergidik tanpa sebab yang jelas. Kala pintu elevator terbuka, aku segera memasuki ruangan sempit yang hanya diisi seorang penumpang pria yang wajahnya ditutupi masker dan mengenakan kacamata ungu hingga tidak terlihat wajahnya.
Sesampainya di lantai terbawah, aku dan orang itu keluar. Aku berbelok ke kiri untuk menuju toilet, sedangkan dia lurus ke pintu keluar. Suasana tempat basah ini sangat sepi. Aku bergegas menuntaskan panggilan alam, kemudian keluar dan jalan cepat menuju tempat parkir. Hanya tersisa beberapa mobil dan motor di sini. Dua petugas keamanan yang tengah duduk-duduk di pos segera berdiri dan memberi hormat saat aku melintas.
Aku memasuki mobil dan menyalakan mesin. Membiarkan pintunya terbuka lebar untuk mengeluarkan hawa panas dan pengap. Setelah udara berganti, aku menarik pintu hingga tertutup dan menguncinya terlebih dahulu sebelum menekan pedal gas hingga kendaraan melaju dengan kecepatan rendah menuju gerbang keluar.
Jalan raya masih cukup padat. Aku mengemudi sambil memperhatikan sekitar sekali-sekali. Tidak banyak perubahan berarti dari tempat ini, nyaris sama dengan tahun lalu. Setibanya di depan rumah, aku menghentikan kendaraan dan menarik tuas rem sebelum membuka pintu dan turun. Jalan menuju pagar dan membuka gemboknya, sebelum mendorong benda besi hitam itu lebar-lebar.
Saat aku hendak memasuki mobil kembali, entah kenapa pandanganku terarah ke rumah seberang yang tampak sepi. Terlihat seseorang yang tengah berdiri di balkon atas, tetapi sayangnya dia menghadap ke kanan hingga aku tidak bisa memastikan sosoknya. Akan tetapi, dari rambutnya yang panjang, aku menebak bila dia adalah seorang perempuan.
"Mas, maaf telat bukain pagar."
Suara khas Pak Idim membuatku menoleh ke belakang dan langsung menjawab, "Nggak apa-apa, Pak."
Aku meneruskan memasuki mobil dan menutup pintu, mengembalikan posisi rem tangan ke tempat semula sebelum menekan pedal gas hingga kendaraan meluncur dan berhenti di garasi, tepat di belakang mobil SUV hitam milik Nisa. Sedangkan motor besar milik Dani berada di samping kanan.
Aku turun dan menutup pintu mobil. Menunggu Pak Idim selesai mengunci pintu garasi sebelum kami melangkah bersisian menuju ruangan dalam.
"Hai," sapa seorang perempuan yang tengah berdiri di dekat sofa ruang tengah untuk menyambutku seraya tersenyum manis.
Aku membeliakkan mata, benar-benar tidak percaya bila dia sekarang ada di hadapan. Tanpa memedulikan sekitar, aku langsung menghampiri dan menariknya hingga tubuh kami menempel erat. "Aku merindukanmu," bisikku sambil menghidu wangi parfumnya yang manis. "Sangat merindukanmu," sambungku.

Komentar Buku (51)

  • avatar
    Imbusta Imbusta

    film nya sangat seruu🫠🤩

    22/11

      0
  • avatar
    FatttFilsa

    pundrama ini penghasilan uang yang cukup besar untuk memperbesar jajan makasih dan bisa di tarik

    19/07/2025

      0
  • avatar
    Lidya Mary

    bagus

    05/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru