TBE 25 "Jangan lakukan itu lagi, Vi!" tegasku saat Viana baru selesai memarkirkan kendaraan tepat di depan garasi. "Kenapa?" tanyanya seraya tersenyum tipis. "Kamu bikin jantungku berguncang. Kalau kamu kenapa-kenapa, gimana?" "Santai, Mas. Aku bisa nyetir kok. Beberapa kali dalam seminggu aku dan teh Nining akan jalan-jalan seputar wilayah kami pakai mobil Vader. Tetapi, tetap dalam pengawasan ketat kang Yayan," jelasnya sembari membuka pintu dan turun. "Di sana dan di sini itu beda, Vi." "Apa Mas takut mobilnya rusak?" Aku menggeleng, lalu berujar, "Aku mengkhawatirkanmu, bukan mobil." Gadis bergincu merah itu mengulaskan senyuman tipis yang menambah keelokan parasnya. Sepersekian detik aku kembali terpukau dan desiran dalam hati kian mengencang. Ketika Viana hendak berbalik, aku melakukan tindakan impulsif dengan menarik tangannya dan mendekap tubuh gadis itu dengan erat. "Jangan lakukan itu lagi, ya," lirihku. "Aku ... benar-benar takut sesuatu yang buruk terjadi padamu," lanjutku sambil mengusap rambut panjangnya yang halus. Sepanjang ingatanku, ini kali kedua tubuh kami menempel erat, setelah yang pertama itu saat di motor. Aku perlahan mengurai pelukan dan memundurkan badan. Viana menengadah dan menatapku dengan sorot mata sendu, hal yang membuat sisi maskulinku muncul dan sangat ingin melindunginya. Aku merangkum wajah mungilnya dengan tangan kanan, sementara tangan kiri tetap memeluk pinggangnya yang seolah-olah sangat pas dalam dekapan. Perlahan aku memajukan wajah dan mendaratkan kecupan di dahinya. Kemudian mundur kembali dan mengamati pipi ranum itu bersemu merah muda yang membuatku menyunggingkan senyuman. "Kamu kalau lagi malu-malu gitu makin cantik," pujiku. Viana melengos, kemudian menggeleng perlahan. "Mas memang pintar memperdaya perempuan," ungkapnya. "Seperti kata teman Mas tadi," sambungnya yang membuat senyumanku hilang. "Jadi, kamu lebih percaya dia daripada aku?" "Entahlah, aku juga nggak tahu harus percaya pada siapa." "Kita sudah dua minggu tinggal bersama, Vi. Apa kamu pernah lihat aku merayu perempuan lain?" "Tidak pernah, tetapi Mas beberapa kali memuji pekerja di rumah dan membuat hati mereka berbunga-bunga." Aku mengerjap-ngerjapkan mata, kemudian tertawa kecil, merasa lucu dengan penuturannya itu. Setelah tawaku lenyap, aku kembali menatapnya lekat, lalu berujar, "Aku memuji cara kerja mereka, Vi, bukan tampilan fisik. Aku tidak berani untuk menebar kata-kata pujian pada perempuan karena tahu bila hal itu akan membuat mereka salah paham." Viana kembali melengos, kali ini disertai dengan dengkusan napas dan bibir yang mengerucut. Aku tersenyum dan akhirnya melepaskan pelukan, mengunci pintu mobil dan membalikkan badan serta jalan memasuki rumah melalui garasi. Melintasi taman kecil hingga tiba di ruang tengah yang sepi. Mbok Darmi bergegas mendatangi dan menawarkan membuatkan minuman. Aku mengiakan perkataan beliau, kemudian meneruskan langkah menuju kamarku yang berada di bagian paling depan. Selama beberapa saat aku berdiri di depan jendela yang terbuka. Mengamati rintik hujan yang masih mengguyur bumi dengan kekuatan sedang. Pemandangan di depan rumah itu mengingatkanku akan suatu tempat yang pernah kusinggahi di masa modern, tetapi lupa tepatnya di mana. Sungguh, aku sangat ingin kembali ke duniaku. Ada banyak hal yang ingin kutanyakan pada warga berusia lanjut yang mungkin saja tahu akan misteri vila. Selain itu, aku juga ingin menghindari Viana karena takut aku benar-benar jatuh hati padanya dan mungkin akan sulit kembali ke tempat asal. *** Hari berganti menjadi minggu. Ayah dan Ibu telah kembali ke rumah. Viana dan Mbok Darmi juga sudah pindah ke paviliun, tetapi setiap sarapan di meja makan kami akan selalu bertemu. Hari itu, aku pulang ke rumah bersama Viana beberapa puluh menit lebih cepat karena Bu Surti mengirim orang untuk memanggilku pulang. Sepanjang perjalanan menuju rumah hatiku sangat was-was dan hal itu kian menguat saat kami tiba di tujuan. Beberapa orang berpakaian dinas kepolisian tengah duduk di ruang tamu bersama dengan Ayah dan seorang pria paruh baya bernama Joko, yang kutahu merupakan pengacara perusahaan sekaligus keluarga. Ayah memintaku dan Viana untuk duduk di sampingnya, kemudian meminta kami untuk mendengarkan penjelasan dari polisi. Aku dan Viana saling beradu pandang. Tatapan gadis itu tampak panik, demikian pula denganku. Berita tentang upaya pihak Yayan dan Peter untuk memperkarakanku ternyata masih berlanjut. Mereka bahkan telah mengirimkan perwakilan ke kantor Pak Joko untuk menyampaikan bahwa mereka tengah bersiap-siap untuk mengajukan gugatan. "Bagaimana ini, Yah?" tanyaku, saat para polisi itu sudah pergi. "Tidak ada jalan lain, Har. Kamu dan Viana harus segera menikah agar posisimu lebih kuat di mata hukum. Viana tidak akan bisa diambil paksa seperti ancaman mereka, karena dia sudah menjadi istrimu dan menantu kami. Ayah tidak akan membiarkan menantu ayah disakiti lagi dan kita berjuang bersama-sama untuk melindunginya," jawab Ayah yang seketika membuat lututku goyah. "Menikah?" ulangku. "Ya." "Kapan, Yah?" "Malam ini. Ayah sudah mengutus orang untuk memanggil penghulu. Kalian bersiap-siaplah. Setelah Isya acara akan dimulai." Ayah mengalihkan pandangan pada Viana, kemudian berkata, "Viana, Bu Surti sudah menyiapkan kebaya dan mas kawin sederhana. Mohon maaf, Nak, karena ini darurat jadi seadanya dulu." Aku menoleh pada Viana yang sejak tadi hanya diam. Ketika dia mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun, aku tahu bahwa sepertinya inilah takdir kami. Dipertemukan dengan peristiwa kecelakaan dan menikah pun dengan terburu-buru. Bu Surti muncul dan mengajak Viana ke bagian dalam rumah. Sementara aku dan Ayah serta Pak Joko membahas berbagai rencana yang bisa kami lakukan untuk membalas serangan lawan di pengadilan. Pak Joko juga mewanti-wanti agar aku selalu waspada karena mungkin saja pihak lawan akan melakukan tindakan ekstrim, sebab mereka bukan orang-orang terpelajar dan mudah diprovokasi. Bagaikan mimpi, pernikahan digelar beberapa menit seusai penghulu tiba. Pak Joko dan Paman Rasyid yang juga baru sampai, menjadi saksi nikahku dan Viana. Kendatipun dilaksanakan secara mendadak, tetapi anehnya bibirku sangat lancar mengucapkan ijab kabul dalam satu tarikan napas. Saat Viana mencium punggung tanganku sebagai bakti pada suami, hatiku menghangat dan membalas dengan usapan lembut di kepalanya yang tertutup selendang putih berenda yang senada dengan kebaya yang digunakan. Karena acara ini sangat mendadak, Bu Surti tidak sempat memasak makanan mewah dan hanya menghidangkan lauk pauk sederhana. Aku dan Viana diminta untuk menikmati makanan di paviliun, sementara yang lainnya di ruang makan. "Maaf, mas kawinnya cuma seadanya," lirihku sesaat seusai makan. "Nggak apa-apa, Mas. Segitu saja aku sudah senang," jawab Viana. "Libur nanti kita ke pusat kota. Kamu bisa beli apa pun yang kamu mau." Viana menggeleng pelan, kemudian menatapku seraya tersenyum tipis. "Aku tidak butuh apa-apa lagi, bisa menjadi istrimu itu sudah cukup. Aku berharap, pernikahan kita ini menjadi yang pertama dan terakhir buatku. Dan ... bila aku yang lebih dulu dipanggil Tuhan, semoga kita bisa kembali menjadi suami istri di masa mendatang," ungkapnya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (51)
Imbusta Imbusta
film nya sangat seruu🫠🤩
22/11
0
FatttFilsa
pundrama ini penghasilan uang yang cukup besar untuk memperbesar jajan makasih dan bisa di tarik
film nya sangat seruu🫠🤩
22/11
0pundrama ini penghasilan uang yang cukup besar untuk memperbesar jajan makasih dan bisa di tarik
19/07/2025
0bagus
05/06/2025
0Lihat Semua