logo text

RAHASIA YANG TERBONGKAR

Only You #5
Kau tahu Arjun? Kau kejam.
Kau sangatlah kejam.
Kau bisa pergi ke ujung dunia dan kembali lagi setelah sepuluh atau dua puluh tahun kemudian dan aku masih akan tetap mencintaimu.
Kau bisa menikah dengan orang lain, mencampakan cintaku padamu dan aku tak apa, sungguh! Aku akan jadi tante baik hati buat anakmu kelak. Dan kau tak usah khawatir soal jika nanti aku bakal jadi pelakor demi merebutmu dari istrimu, sebab aku tak sehina itu.
Atau bahkan…. (Itu) pun tak apa.
Aku tak sanggup mengatakannya. Ini alasan utama kenapa Arjun mengakhiri hidupnya sendiri. Arjun sangat membenci dirinya sendiri karna alasan ini. Rahasia yang sebenarnya sudah menjadi rahasia umum, namun Arjun masih menyakini hanya dirinyalah yang tahu. Rahasia yang memorak-porandakan kehidupannya.
Yang kubutuhkan hanyalah sedikit cinta darimu, Arjun. Dan hari esok, sekali lagi agar aku bisa merasakan kasih sayangmu, meskipun itu palsu. Aku tak apa. Kini kau berbujur kaku di liang lahat, dingin, gelap, sendirian seperti yang selalu kau pinta.
Sepanjang hari di akhir pekan aku hanya rebahan sambil membuka seluruh kenangan terakhir milik Arjun. Arjun sama sekali tak suka selfie, itu membuatku hampir tak punya sama sekali foto bersama dirinya. Hanya ada foto kami saat study tour kelas dua. Arjun sudah merencanakan hal ini dengan sangat matang. Salah satunya meminimalisir potretnya tersebar di internet.
Sudah seminggu lalu ketika aku mengirim email ke perusahan Apple di Singapure untuk meminta bantuan agar aku bisa membuka iPad milik Arjun. Hape milik Arjun juga sudah ku kirim ke salah satu ahli IT yang menawarkan bantuannya. Pria paruh baya yang suka menulis opini tentang politik di grup literasi online terbesar di dunia, KBM. Bapak-bapak itu bernama Joni, akunnya bernama Joni Remisterio yang menurutku dia penggemar berat Smackdown.
Joni memintaku mengirim ponsel Arjun ke rumahnya yang berada di Jakarta Barat. Jadi aku langsung mengeposkan smartphone yang sudah mulai butut itu pada Joni. Joni memberitahuku ia akan segera menghubungiku jika ia sudah selesai mengulik file-file sampah yang tertinggal.
“Sekalipun sudah di format. Di setting setelan pabrik-pun jika temanmu itu lupa membersihkan cookies dan cache di folder androidnya, aku masih bisa melacak sisa-sisa jejak informasi di hapenya,” ucapnya waktu kami mengbrol di telepon.
Dan sampai hari ini aku masih belum mendapatkan balasan apa pun dari keduanya, dan itu benar-benar membuatku frustasi.
Buku-buku milik Arjun berserakan di kasur, aku mencoba membukanya satu-satu, halaman demi halaman kubaca dengan sangat fokus setengah mati agar aku tak melewatkan detail penting yang mungkin akan kulewati.
Aku hampir sampai di halaman belakang ketika penglihatanku melihat sebuah tulisan Arab, entah kenapa itu membuatku sangat tertarik. Jadi aku memotret tulisan Arab itu kemudian mengirimnya lewat Line ke saudara sepupuku yang dulu pernah sekolah di pondok pesantren sepanjang hidupnya.
{bs bntu aku g? Aku mnta tolong bantuin aku menerjemahkan tulsn ini} tulisku padanya.
Beberapa menit kemudian sepupuku menjawab.
{of course sis, tnggu sbntr ya}
Aku menunggu beberapa menit namun serasa selamanya. Jantung berderu layaknya kuda yang sedang berlomba di arena pacuan kuda. Aku sangat tak sabar ingin segera tahu makna yang ditulis Arjun lewat tulisan Arab itu.
{ini doa, Sel} akhirnya Aish membalas.
{doa apa?}
{doa org putus asa}
{doa org putus asa???? tolong terjemahkan n kirim pd Q}

اللهم احينى ما كا نت الحيا ة خير الى وتو فنى اذا كا نت الو فا ة خير الى
{artny, kurang lbh bgni Sel; Ya Allah, biarkanlah aku hidup sekiranya hidup itu lebih baik bagiku dan matikanlah aku sekiranya kematian itu lebih baik bagiku}
Tak ada yang bisa menggambarkan betapa frustasinya diriku menghadapi memori-memori peninggalan Arjun. Hampir semuanya gelap, penuh hal-hal yang membuatku tak mampu untuk mempercayainya. Sebegitu parahkah kondisinya? Apakah Arjun benar-benar sangat putus asa?
Banyak orang yang mengakhiri hidupnya hanya karna alasan-alasan sepele. Aku tahu itu. Sedari dulu Arjun bukanlah orang berpikiran pendek seperti itu. Arjun seorang pejuang, aku yakin itu. Dia terlalu sayang pada keluarganya apalagi meninggalkan adik-adiknya.
{Sel? Kau baik-baik saja Sel?} Chat baru milik Sepupuku Aishana mengembalikanku pada dunia nyata kembali.
{Ya! Aku baik2 saja, Ais,. Udh dlu y! Aku msh ad tugs nih. N thank you bgt lho! Dah mau bntu Q. Trims skli lg} aku langsung melempar hapeku karna tak ingin menjawab pertanyaan Aishana lagi. Aish pasti mulai kepo tentang tulisan arab yang aku tanyakan dan ternyata doa ini.
Aku tahu ini bukan doa orang minta mati, lebih ke doa orang-orang yang sudah di ujung tanduk kehidupuannya tak berkunjung lebih baik. Lebih ke sikap egois sih—lebih melihat penderitaan yang dialami daripada menikmati hadiah Tuhan yang masih diberikan di sekelilingnya.
Tapi Arjun tidak menderita kanker, dia juga tidak lumpuh atau kondisii dimana hidup tapi serasa mati. Raganya baik-baik saja. Aku masih akan mengutuk dirinya jika keputusannya hanya karna jiwanya depresi dan frustasi. Seharusnya meski ia depresi, tetap saja Arjun tidak boleh melakukannya.
Rasanya perlahan hatiku mulai mati. Aku sudah hampir tak bisa menangis lagi, hatiku kebal dengan emosi-emosi melankolis. Tubuh ini juga seolah-olah mampu melakukan hal-hal yang orang normal tidak lakukan. Kejahatan misalnya.
Aku melirik kertas catatan itu lagi, melihat daftarnya yang masih panjang. Mungkin aku siap, sudah siap untuk menghajar orang-orang di daftar itu. Membuat mereka semua menyesal dan menerima resikonya. Menyesal seumur hidup mereka, bahwa mereka telah membunuh Arjun.
Bulan Juni terasa panas dipenuhi sinar matahari yang sangat kaya akan sengatan yang membakar kulit tiap tengah hari datang. Aku memasang earphone di telinga, memasang helm dan memakai jaket pink adidas pemberian Arjun tiga tahun lalu.
Seluruh tubuhku naik ke Honda Vario bekas ayah yang diberikan padaku ketika aku masuk kelas pertama SMA. Jari-jari tangan kananku memutar kunci lalu men-stater mesin. Sebelum aku berangkat menuju terdakwa pembunuh Arjun nomor dua, aku merogoh smartphone-ku, memencet tombol play disana.
Langsung kemudian lagu milik La Luna “Selepas Kau Pergi” mulai membanjiri telingaku;
[ Selepas kau pergi
Tinggalah disini kusendiri
Kumerasakan sesuatu
Yang tlah hilang didalam hidupku ]
Ada banyak sekali orang yang telah berlalu lalang dalam hidupku. Namun hanya beberapa orang yang berhasil terabadikan di dalam memori hidupku. Kehilangan Arjun rasanya seperti terkena Tsunami yang menghancurkan seluruh kenangan indah yang telah berhasil ku screenshot dalam ingatanku. Seolah-olah kini aku harus memulai dari nol lagi.
[ Dalam lubuk hatimu
Ku yakin kau pun sebenarnya tak
Inginkan lepas dariku
Tahukah kau kini ku terluka ]
Arjun sangat menyayangiku, aku tahu itu. Meski rasa sayangnya bukanlah cinta pria pada wanita pujaannya, tapi aku tahu itu cinta dalam bentuk yang lain. Arjun sudah berusaha kembali padaku, namun akulah yang telah memblokir jalan yang telah ia coba supaya bisa kembali padaku. Aku bodoh! Bodoh sekali terlalu terobsesi ingin memilikinya hingga lupa nilai hubungan kami yang lebih dari sekedar remaja bucin. Kau kini pergi Arjun, dan tak akan pernah kembali. Hari-hariku sesak penuh kesedihan gara-gara kau.
[ Bantu aku membencimu
Ku terlalu mencintaimu
Dirimu begitu berarti untukku ]
Angin menembus helmku, menyapa wajahku dengan keras layaknya tamparan lembut agar aku sadar aku harus tetap melanjutkan hidup tanpa Arjun lagi. Mataku yang berkaca-kaca terhubung dengan syaraf-syaraf otakku, mereka bekerja sama memutar halaman-halaman penuh kenangan yang telah aku dan Arjun tuliskan bersama.
[ Kau telah mencinta
Dan dicintai kekasihmu
Ini tak adil bagiku
Hilanglah damba tinggalah hampa ]
Semoga Tuhan menerimamu disana. Sulit rasanya mengenyahkan hujatan orang-orang bagaimana mereka begitu bangganya membully orang-orang yang telah mati disiksa di nereka. Aku tak sanggup membayangkannya. Semoga, (karna inilah yang bisa aku mampu bayangkan} Semoga Tuhan menyayangimu disana.
[ Bantu aku membencimu
Ku terlalu mencintaimu
Dirimu begitu berarti untukku ]
Orang-orang kurang menyukaimu, namun aku sangat menyukaimu.
Orang-orang membencimu, tapi aku tidak, meski aku tahu rahasia terbesarmu. Apakah itu tidak cukup bagimu untuk tetap tinggal?
[ Bantu aku membencimu
Ku terlalu mencintaimu
Dirimu begitu berarti untukku ]
Katakan padaku jika kau membenciku Arjun, katakan. Katakanlah jika kau sama sekali tidak tertarik padaku, bahwa aku ini gadis bodoh yang jelek dan cucunya penjual minuman haram!
Katakanlah Arjun, jika selama ini aku cuma cewek yang suka muncul untuk menggangu kehidupanmu. Katakanlah jika aku ini beban. Ucapkanlah dengan keras bahwa kau tidak mencintaiku sama sekali. Buat aku membencimu meski sedikit saja.
[ Lupakanku dalam hidupmu
Yang pernah mencintaimu
Kau memang tercipta bukanlah untukku ]
Kadang inginnya aku punya kemampuan untuk bisa berbicara padamu Arjun. Apa saja, bahkan jika harus pergi ke penyihir jahat untuk menghidupkan jasadmu dengan bayaran menual jiwaku akan aku lakukan, supaya aku bisa berbicara padamu. Sekali lagi.
Dan jika itu terjadi aku ingin bertanya, “kenapa kau melakukan ini semua? Apakah jika kau melakukan semua ini dengan sengaja dan terencana? Supaya kami ikut merasakan penderitaan yang kau rasa? Apakah perbuatanku mengulik kebenaran dibalik perbuatanmu ini salah? Katakan padaku Arjun….” itu membuatku sedikit merinding sebenarnya, membayangkan jasadnya yang telah robek berlubang-lubang dengan kulit hitam keunguan tiba-tiba bangkit dari kuburan.
[ Selepas kau pergi
Tinggalah disini kusendiri
Kumerasakan sesuatu
Yang tlah hilang didalam hidupku ]
Gadis cengeng itu perlahan tegar, meski ia harus mengorbankan semua emosi yang jadi inti kehidupan. Arjun, kau telah menciptakan zombie hidup, dan aku berharap kau menyesal dengan apa yang telah kau perbuat akhir-akhir ini.
Ku gas vario yang lupa ku servis berbulan—bulan ini menembus jalanan kecil yang dipenuhi sesak orang-orang yang sibuk berjibaku dengan pengharapan atas dunia. Uang, jabatan, cinta dan harapan, juga anak-anak yang sedang menunggu dirumah, lapar menunggu orang tua mereka pulang.
Motor matic seolah berubah menjadi Kavaleri menyapu jalanan yang dipenuhi penghalang untukku. Menembus lautan manusia tak bertepi, hingga akhirnya aku sampai di tempat tujuan.
Rumah Pak Sapri Supardi. Targetku berikutnya.

Komentar Buku (82)

  • avatar
    AnwarSyamsul

    mantp

    27d

      0
  • avatar
    MR.pasukan KeCe

    sangat menyenangkan

    07/08

      0
  • avatar
    Nurul Huda

    serruuu

    16/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru