Only You

Only You

Arwin Arowana


Prolog

Aku bersiap-siap dengan matang. Aku ingin semua ini sempurna. Jantungku berdetak begitu kencang. Mood-ku dipenuhi energi senang, khawatir, takut, juga penuh harap. Hari ini, hari dimana aku akan memberanikan diri untuk menyatakan cintaku pada Arjun.
Arjun adalah salah satu sahabat terdekatku. Kami sudah saling mengenal lebih dari sepuluh tahun lamanya. Arjun, meski ia tak setampan cowok-cowok populer di sekolah. Arjun memikatku dengan cara lain. Ada sesuatu dari dalam dirinya Arjun yang membuatku begitu menyukainya.
Ia setia kawan, Arjun juga sangat sayang keluarganya. Arjun juga penyayang bintang. Aku sering melihat Arjun menolong kucing-kucing jalanan yang membutuhkan bantuan.
"Bagaimana?" Tanyaku pada Brian, kakakku. Aku meminta Brian menilai outfit-ku yang kupakai untuk kencan makan siang dengan Arjun.
Aku berharap Arjun suka. Rambut panjang ku tak kugelung, kubiarkan terurai bebas. Dress panjang dibawah lutut berwarna biru tua, dengan sepatu ber-hak pendek. Lipstik pink dibungkus lip glos, dengan make up tipis tak berlebihan. Hanya bulu mata palsuku yang terlihat berlebihan.
"Bagus. Cocok untukmu," komentar Brian, datar. Brian kedengarannya seperti orang sedang kena bad mood saja.
Tak ku pedulikan pendapat Brian yang datar-datar saja. Aku yakin Arjun bakalan suka.
Arjun dan aku sebentar lagi lulus kuliah, aku belum yakin Arjun mau lanjut kuliah atau tidak. Arjun kesulitan soal ekonomi keluarganya untuk lanjut kuliah. Sementara aku, aku akan mengambil jurusan ekonomi. Ayah bilang dimasa depan, kita butuh orang-orang yang ahli dalam mengelola perekonomian negara, demi masyarakat yang makmur.
Meski sebenarnya aku ingin jadi ilmuan yang belajar di laboratorium. Aku turuti saja keinginan Ayah dulu. Toh, nanti S2 aku bisa memilih jurusan yang lain.
"Kau sungguh mau melakukan ini?" Brian nampak kecewa, aku tak tahu kenapa.
"Ya, tentu saja. Kukira kau akan mendukung adikmu ini? Kami sebentar lagi kami akan lulus. Aku tak tahu masa depan membawa kami kemana, tapi aku yakin soal perasaanku. Setidaknya, jika Arjun menolak. Aku sudah mengutarakan isi hatiku. Aku tak ingin membawa perasaan ini seorang diri," jelasku pada Brian.
Aku tahu jika ia khawatir, tapi ia tak perlu mengkhawatirkannya. Semuanya akan baik-baik saja meski Arjun menolakku. Aku tetap ingin berteman dengannya. Mataku masih melirik Brian yang gelisah, seolah ia ingin mengatakan sesuatu.
"Ada yang ingin kau katakan?" Aku ikut tak tenang melihat Brian gusar seperti itu.
"Tak ada. Jika itu memang keputusanmu, aku mendukung mu. Biar ku antar," usulnya.
Brian keluar dari kamarku. Paling Brian mau menyiapkan motornya. Brian sangat suka motor-motor dan mobil klasik. Ia suka barang antik.
Arjun dan aku sudah membuat janji temu, kami akan bertemu disalah satu kafe dengan pemandangan terbaik di Kediri. Salah satu kafe dengan rooftop diatasnya. Dengan pemandangan langsung ke sungai Brantas. Aku jadi tak sabar bertemu dengannya.
Arjun memiliki mata coklat kehitaman. Rambutnya sangat tebal berwarna hitam. Tingginya sepuluh sentimeter dibandingkan tinggiku yang hanya 155cm. Arjun sangat suka dunia literasi. Terutama literatur Barat dan Jepang. Arjun juga suka karya-karya klasik sastrawan Indonesia.
Arjun pernah meminjamkan ku novel 'Pada Sebuah Kapal' karya N.H Dini. Karna tulisannya bergaya kuno aku tak sanggup menyelesaikannya. Tapi aku jadi suka baca buku berkat Arjun. Kami sering nongkrong di perpustakaan bersama. Nongkrong, melihat buku-buku di Gramedia. Arjun hanya berani beli buku di Gramedia kalo ada diskon saja. Arjun pasti membawaku ke toko loak di salah satu jalan di kota Kediri kalo ingin beli buku bekas karna kecewa buku di Gramedia harganya tidak sesuai isi kantongnya.
"Sel? Sudah siap belum?" Panggil Brian.
"Satu menit lagi!" Seruku.
"Lama kali sih," omel Brian.
"Ye! Cewek perlu dandan kali. Emang cowok? Ga dandan?!" Balasku.
Brian pun membawaku melesat dengan motornya menuju ke tempat yang sudah Arjun dan aku janjikan.
Arjun sosok yang hangat, aku sangat suka berada di dekatnya. Ia asik diajak ngobrol. Kepalanya penuh ide-ide brilian. Arjun juga penuh mimpi. Ia memiliki segudang cita-cita yang ingin ia capai semuanya.
"Oke, sudah sampai," ucap Brian. Setelah kami berkendara kurang lebih lima belas menit.
Aku melepas helm, menggoyangkan rambutku agar rapi kembali. "Makasih banget dah mau nganter," kataku pada Brian. Brian memang kakak terbaik yang pernah aku miliki meski kadang ia sangat menyebalkan.
"Hati-hati. Telpon aku jika kau butuh," pesan Brian padaku.
"Siap kapten!" Tanganku membentuk hormat pada Brian. "Bye! Jangan ngebut!" Pesanku balik padanya. Brian melambaikan tangan kirinya sambil tangan kanannya tancap gas, berlalu dengan motornya.
Aku menarik nafas dalam-dalam. Ku hembuskan kuat-kuat. Ini dia waktunya. Aku harus berani. Atau aku akan menyesal selamanya jika tak mengungkapkannya.
Arjun sudah ada di dalam kafe. Wajahnya nampak tegang. "Hai, disini!" Tunjuk Arjun, saat ia melihatku.
Kupegang tas selempang ku kuat-kuat. Aku pun berjalan melewati beberapa meja kosong sebelum sampai di meja yang telah Arjun pesan.
"Sorry, sedikit telat. Kamu sudah nunggu lama ya?" Kenapa aku malah grogi begini? Padahal setiap hari aku bersama Arjun di sekolah maupun sepulang sekolah.
"Santai saja. Aku juga baru sampai kok. Mau pesan apa?" Tanya Arjun.
"Kamu sudah pesan?" Kugeser kursiku agar lebih dekat dengan meja. Kami berdua sama-sama nampak gugup. Apakah Arjun tahu jika aku akan....
Kami memesan makanan, ngobrol ringan soal ujian dan hari kelulusan yang sebentar lagi tiba. Makanan tiba, dan kami makan dalam diam. Setelah kenyang, aku jadi bingung. Aku bingung untuk bicara apa lagi. Apakah sekarang waktu yang tepat? Apa yang harus kukatakan?
"Jun," panggilku.
"Ya?" Arjun mendelik, mencari mataku.
Aku menunduk mencoba mengumpulkan keberanian. "Ada yang mau aku omongin," lanjutku.
"Aku juga Sel, ada yang mau aku katakan padamu," kata Arjun.
"Kamu duluan aja kalo begitu?" Hatiku penuh harap jika Arjun akan bilang jika ia juga menyukaiku.
"Tidak. Kamu duluan. Soalnya ini bisa dibilang sesuatu yang sangat rahasia."
Jantungku lagi-lagi berdebar-debar. Semoga saja rahasia milik Arjun sama dengan rahasia soal perasaan ku selama ini terhadap dirinya. "Oke kalo begitu. Aku duluan." Aku menarik nafas dalam-dalam, kututup kedua mataku. "Jun, Arjun. Sebenarnya aku suka padamu." Kata-kata itu meluncur begitu saja. Sudah terlambat untuk kutarik kembali. Mataku terpejam lagi, belum berani menatap Arjun dan responnya.
Mataku kubuka pelan-pelan. Aku kecewa dengan apa yang kulihat. Kenapa Arjun malah diam saja dan nampak kecewa? Apa rahasianya tidak sama denganku? Kenapa? Otakku bertanya-tanya.
"Sel," ucap Arjun lirih.
"Ya?"
"Aku, a, ak, aku." Arjun tergagap.
"Apa kamu tidak suka sama aku? Apa kamu tidak mencintaiku? Kamu cuma menganggap ku sebagai teman biasa? Tidak apa-apa Arjun. Tidak apa-apa kok. Kamu jangan khawatir. Aku beneran tidak apa-apa. Jika kamu tidak suka aku, tidak apa-apa, aku harap kamu tetap mau jadi temanku," cerocos-ku.
"Sel...."
"Kenapa Jun? Ada apa sebenarnya?" Arjun membuatku bingung.
"Aku tidak bisa menyukai perempuan," kata Arjun dengan sangat cepat.
"Apa?" Aku kurang menangkap maksud perkataan Arjun.
"Sel. Aku ingin berkata jujur. Dan aku mohon, jangan katakan pada siapapun, oke? Sel, aku tidak bisa berpacaran dengan perempuan. Aku tidak bisa," imbuh Arjun.
"Maksudmu?" Aku ketakutan setengah mati dengan ucapan Arjun berikutnya.
"Aku tak suka perempuan. Aku tak bisa."
Kerongkongan-ku seperti sedang tersedak batu. Mataku seperti kena tinju Mike Tyson. Hatiku sakit, seolah ada anak panah bersarang disana. Arjun tak suka perempuan? Apa maksudnya itu? Sial! Sial! Sial! Batinku terguncang gara-gara pengakuan Arjun.
Entah apa yang terjadi dengan otot-otot di dalam ragaku. Otakku juga bekerja diluar kendaliku. Aku berdiri, berlari kuat dari kafe. Suara Arjun terngiang-ngiang di telingaku saat ia mencoba memanggil-manggil namaku, tapi tak kugubris. Aku berlari sekencang-kencangnya. Aku ingin segera pergi dari sini. Pergi sejauh-jauhnya dari Arjun.
Aku berlari sampai tiba di pedestrian samping sungai Brantas yang dipenuhi pengunjung. Mataku basah kucoba kutahan-tahan agar tidak lebih basah lagi. Aku tak ingin ada orang yang memperhatikan diriku menangis.
Aku mengambil ponselku, menuliskan status diberbagai macam platform media sosial.
Jadi speerti ini ya? Rasanya patah hati? Tulisku.
Aku baru tahu rasanya menyesakan seperti ini. Rasanya hati remuk dan mau mati saja.
Yang paling menyesakan! Bukan karna orang yang kau cintai sudah punya kekasih! Bukan juga karna ia lebih menyukai temanmu dibandingkan dirimu, bukan. Nyesek dan sakitnya tuh, bila orang yang kita sukai sama sekali tidak ada perasaan ke kita, karna ternyata menyukai sebangsanya sendiri, sindirku. Aku tak berpikir panjang ketika menulis ini. Langsung saja ku kirim diberbagai medsos tanpa berpikir panjang.
Saat ini aku benar-benar kecewa dengan Arjun. Tak hanya kecewa, aku merasa benci dan jijik dengan dirinya sekarang. Aku tak mau lagi menemui maupun melihat Arjun lagi. Selamanya! Bila perlu.
Mulai sekarang, aku memutuskan akan kuenyahkan Arjun dari kehidupanku.

Komentar Buku (82)

  • avatar
    AnwarSyamsul

    mantp

    09/09

      0
  • avatar
    MR.pasukan KeCe

    sangat menyenangkan

    07/08

      0
  • avatar
    Nurul Huda

    serruuu

    16/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru