logo text

Bab 7 Secuil Perasaan Untuk Zara

"Hu ... hu ... hu ... Bunda!"
Zara semakin mempercepat langkahnya. Berjongkok hingga menyamakan tubuh anak sambungnya.
"Ada apa, Sayang?" tanya Zara sembari mengedar mencari luka atau apapun yang menyebabkan Halfi menangis.
"Hiks, ini, Bunda." Halfi menunjuk betis sebelah kanannya yang ternyata memerah.
Melihat itu, Zara menyunggingkan senyum teduhnya. Lalu menyentuh kaki Halfi yang memerah.
"Digigit semut? Nanti Bunda kasih salep ya, biar rasa gatalnya hilang," ucapnya sembari mengusap kaki Halfi.
Halfi mengangguk. Sesaat kemudian, ia beranjak dan memeluk Zara dengan erat. Dengan sedikit susah payah, Zara menggendong tubuh gembul Halfi menuju sofa. Lalu mendudukkannya di sana.
Ia pergi untuk mengambil salep. Mengoleskan pada betis Halfi lalu meniupnya.
"Tunggu sebentar lagi, rasa gatalnya pasti berkurang." Zara tersenyum menatap wajah anak sambungnya yang masih sembab. Bocah itu mengangguk pelan.
"Makasih, Bunda," ucapnya kemudian yang mendapatkan anggukan dari Zara.
***
Makan malam baru saja selesai dihidangkan. Zara melepas celemek merahnya, kemudian menggerakkan kakinya menuju ruang kerja Alvan.
Lelaki itu padahal baru pulang bekerja. Namun seperti tidak merasa lelah sedikitpun, ia kembali berkutat dengan berkas-berkas yang menumpuk di meja.
Zara berdiri di depan pintu yang tertutup rapat. Tangannya terangkat di udara, ragu untuk mengetuk benda berbentuk persegi panjang di depannya. Bibirnya pun terkatup rapat, seolah ada lem yang merekatkannya. Rasanya sangat sulit untuk membukanya dan menyebutkan nama Alvan.
"Bunda ngapain?" Dan suara yang berasal dari bocah berkuncir dua itu membuat Zara sedikit terhenyak.
Zara tersenyum. Sebuah ide muncul begitu saja. Ia lantas menunduk hingga wajahnya sejajar dengan Halfi.
"Halfi tolong ajak papa untuk makan ya. Bilang kalau makanannya sudah siap," ujarnya.
Namun Halfi justru memasang raut bingungnya.
"Bunda?" ucapnya malah balik bertanya.
"Nggg, Bunda lupa belum menyiapkan air minum. Jadi Halfi yang panggil papa ya," jawabnya beralasan.
Dan kali ini Halfi mengangguk patuh. Membuat Zara tak bisa menahan embusan napas leganya.
Ia segera melesat pergi ketika tangan mungil Halfi meraih handle pintu. Kalau sampai Alvan menangkapnya berada di depan ruangan, pria itu pasti akan berpikiran yang macam-macam. Padahal niat Zara hanya ingin memberitahu soal makan. Tetapi pria itu menganggap tindakan Zara hanya mengganggunya saja.
Zara masih menuangkan air putih ke gelas Alvan dan Halfi. Bersamaan dengan itu, derap langkah dari ayah dan anak terdengar mendekat.
"Masak apa kamu?"
Zara terdiam. Tumben sekali lelaki itu bertanya. Biasanya dia hanya diam dan menggunakan tatapan tajamnya, seolah memperingati Zara untuk tidak melewati batasan sebagai istri yang tidak diinginkannya.
"Masak sop ayam, Mas."
Alvan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menarik kursi dan membantu putrinya duduk, kemudian barulah disusul dirinya yang duduk. Sementara Zara, masih mengambilkan nasi untuk Alvan, setelah sebelumnya mengambilkan Halfi.
"Sudah, sudah! Kamu sengaja bikin aku gemuk?" Alvan meraih piring dengan gerakan cepat.
Zara yang masih sedikit terkejut dengan sentakan Alvan, mengambil makanannya dengan perlahan. Kemudian mendudukkan dirinya di samping Halfi.
Mereka makan dalam keadaan hening. Hanya denting sendok yang saling bersahutan.
"Nggg, Mas," panggil Zara memecah keheningan di ruang makan tersebut.
Yang dipanggil pun langsung menatapnya. Tanpa menjawab sepatah katapun. Hanya tatapan dingin 'lah yang ia berikan.
"Mas Alvan ... benar membelikan ibu rumah baru?" tanya Zara dengan ragu.
Hening. Alvan terdiam untuk beberapa saat.
"Kalau sudah tahu kenapa bertanya? Aneh!" sinisnya.
Lagi dan lagi, Zara hanya menghela napasnya. Mencoba menarik kesabarannya agar tidak habis. Ia bertanya karena memastikan saja. Memangnya apa susahnya, tinggal menjawab dengan kalimat yang baik dan nada yang lembut.
"Aku hanya memastikan, karena Mas nggak bilang sama aku. Tadi ibu nelfon, pengen ngucapin terima kasih," ucap Zara setelah menormalkan emosinya.
"Iya, tidak perlu terima kasih. Aku melakukannya karena kewajibanku sebagai menantu," jawaban yang sangat mengharukan. Jika saja lelaki itu bersikap baik, maka Zara pasti akan terharu. Tetapi mengingat sikapnya yang dingin dan tak acuh, ia hanya bisa tersenyum samar. Menganggap dirinya sebagai menantu, tetapi tidak menganggap Zara sebagai istri.
Tak apa. Apa yang lelaki itu berikan memang sangat besar untuk keluarganya. Terlalu serakah bila Zara pun menginginkan cinta darinya. Ia cukup sadar diri. Sosok Citra -istri pertamanya- memang tidak bisa ditandingi oleh siapapun. Apalagi hanya seorang wanita sepertinya.
Ia sangat mengerti itu. Bagaimanapun juga, orang lama tetap susah dilupakan. Tugasnya hanya dua. Yaitu menjadi istri yang baik, sekalipun tak pernah dianggap. Dan memberikan kasih sayang selayaknya ibu kandung, untuk anak sambungnya.
Ditengah lamunan yang memenuhi kepalanya, suara Alvan membuat bayangan Zara bubar dalam sekejap.
"Kapan-kapan kalau ada waktu, saya ajak kamu ke rumah itu," ucapnya cukup mengejutkan Zara.
Meski ada pertanyaan yang mengusiknya, Zara tidak ingin kembali mendengar ucapan sinis dari mulut pedas Alvan. Ia hanya mengangguk saja, dengan senyuman lebar yang menyertainya.
***
Waktu begitu cepat berlalu. Dan hari ini, tepat satu bulan pernikahan Zara dengan Alvan.
Tidak ada kemajuan dalam hubungan mereka. Yang ada hanyalah kemajuan Alvan yang semakin memperlakukan Zara selayaknya budak. Lelaki itu sangat gemar memerintah Zara melakukan ini dan itu. Tak pernah ia rela membiarkan Zara duduk barang sejenak saja.
Seperti kali ini. Zara tengah berlari dari gerbang perumahannya. Mengambil paket dari kurir yang lelaki itu pesan. Tidak tahu apa isinya, tetapi lelaki itu memberikan waktu kepada Zara untuk tiba dalam waktu dua menit.
Hah, sangat tidak masuk akal. Padahal jarak antara rumah sampai gerbang penjaga cukup jauh. Alhasil, Zara harus rela berlarian di siang bolong begini.
"Lelet banget!" ujar Alvan ketika Zara baru sampai di depan rumah. Ia masih mengatur napasnya, tetapi lelaki itu sudah merampas benda berwarna hitam dari tangan Zara.
"Hampir saja telat!"
Lelaki itu berlalu meninggalkan Zara yang sedang menatap punggung lebarnya.
Apa-apaan ini. Maksudnya, Zara baru saja berlarian dan nyaris kehabisan napas. Lalu dia masuk ke dalam mobil dan pergi?
"Dasar suami dzolim!" Zara melemparkan sandalnya, setelah mobil Alvan tidak lagi terlihat.
"Kalau mau pergi, kenapa aku yang disuruh mengambil paket?!" sungut Zara sembari melangkah memasuki rumah.
Sedangkan di tempat lain, Alvan tampak menyeringai licik. Tatapannya fokus pada jalanan di depan sana. Namun pikirannya terbagi dengan rencana yang telah ia susun ulang untuk menyingkirkan Zara dari hidupnya.
Rencana awal sama sekali tidak berefek. Wanita itu tetap saja tidak kapok, meskipun sudah sering mendapatkan bentakan dari Alvan. Sekarang penyiksaan harus dilakukan sekejam mungkin.
Tetapi ada kekesalan tersendiri. Perasaan tak tega akan muncul ketika melihat raut Zara yang tersiksa. Tatapannya sangat polos dan sedikit menimbulkan rasa simpati dalam hati Alvan. Dan jika itu terjadi, ia akan kesulitan menjalankan rencana.
To be continued...

Komentar Buku (121)

  • avatar
    BawellDieza

    lanjutttt kK

    17/07

      0
  • avatar
    Nurhayeni 03

    Mantap

    06/03

      0
  • avatar
    SyuheHendra

    keren alur ceritanya, bikin penasaran membaca nya. good poko nya..

    01/03

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru