logo text

Bab 33 Jangan Geer Makanya!

"Percaya diri sekali kamu." Alvan berdesis dengan sinis. Tidak terima dengan Zara yang seenaknya sendiri menyimpulkan.
"Mana mungkin aku cemburu!"
Namun wanita itu justru semakin kurang ajar. Ia malah menatap Alvan semakin intens, membuat lelaki tersebut seketika gugup. Walaupun begitu sekuat mungkin Alvan berupaya agar kegugupannya tidak terlihat dimata Zara. Bisa-bisa tambah besar kepala.
"Yakin nggak mau ngaku?"
"Orang udah keliatan dari gelagatnya, percuma mau ngelak juga," ujar Zara ketika lelaki yang ia ajak bicara tidak juga merespon.
Dan kali ini Alvan langsung menghunuskan tatapan tajamnya pada wanita di sebelah, tanpa mengatakan sepatah kata pun. Seketika menciutkan nyali Zara yang baru saja menggoda sang suami.
"Turun!"
"Apa?" Zara langsung cengo mendengar titah suaminya.
Turun katanya? Zara segera mengedarkan pandangannya, dan baru menyadari bahwa mereka telah tiba di rumah. Wanita itu pun mengembuskan napas lega. Mengira bahwa suaminya menyuruhnya keluar di tengah jalan hanya karena ulahnya tadi. Untung lah Alvan tidak sejahat itu.
Lamunan Zara membuyar ketika ponselnya berdering menandakan adanya panggilan masuk. Dan saat wanita itu mengarahkan pada layar ponselnya, tertera nama Vano di sana.
"Angkat saja, aku juga mau keluar."
Suara Alvan yang tiba-tiba berhasil membuat Zara berjingkat. Pandangannya beralih pada Alvan yang membuka pintu mobil dan keluar begitu saja.
Lalu wanita itu beralih pada ponselnya yang masih menyala dan berdering. Bukan untuk menjawab panggilan Vano, melainkan justru mendiamkannya supaya suara dering panggilan itu tidak terdengar lagi. Setelah itu Zara mengikuti suaminya yang sudah masuk ke dalam rumah.
Karena anak sambungnya tidak ada di rumah, suasananya menjadi amat sunyi.
"Dimana Halfi?"
Zara menghentikan langkahnya ketika hendak masuk ke dalam kamar tamu yang ia gunakan untuk tidur. Suara Alvan lah penyebabnya. Begitu menoleh ke sumber suara, dapat ia lihat wajah datar Alvan berdiri jarak beberapa meter darinya.
"Halfi ikut ke rumah mama, Mas," jawab Zara jujur.
Mendengar itu, Alvan tidak lagi merespon dan langsung pergi begitu saja menuju dapur. Dengusan kecil pun seketika lolos dari bibir Zara yang teramat sebal akibat sikap sang suami yang tidak pernah berubah sejak mereka menikah. Kapan gunung es yang menyelimuti hatinya itu akan mencair? Seringkali hal itu mengganggu pikiran Zara.
***
Menu makan malam hari ini adalah paha ayam goreng dengan sambal terasi dan tumis kangkung, tak lupa juga untuk menyediakan lalapan sebagai pelengkap.
Karena suaminya itu tak suka makanan pedas, Zara hanya menyambal sedikit saja. Lagi pula hanya dia saja yang memakannya, jika kebanyakan pasti akan mubadzir dan yang pasti auto diomeli oleh tuan suami.
Setelah ritual makan malam selesai, Alvan langsung bergegas menuju kamarnya. Meninggalkan Zara yang tentu saja masih harus membereskan meja makan dan mencuci barang-barang kotor yang mereka gunakan. Jangankan membantu meringankan beban Zara dengan mencuci piring, inisiatif membawakan piring kotor ke wastafel saja tidak pernah. Sungguh suami yang sangat tidak peka. Padahal Zara ingin sekali diperlakukan seperti video-video yang ia temukan di sosmed, tapi kenyataan yang terjadi padanya sangat bertolak belakang.
Mustahil bagi suaminya untuk memperlakukan Zara semanis itu.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Zara pun bergegas menaiki tangga. Ada satu hal yang belum sempat ia lakukan tadi.
Langkah wanita itu terhenti di depan pintu yang tertutup rapat. Kemudian tangannya bergerak mengetuk benda berbentuk persegi panjang tersebut.
Tiga kali ketukan barulah pintu itu dibuka. Dan muncullah penampakan Alvan dengan handuk yang menempel di rambutnya yang basah. Sepertinya lelaki itu baru saja mandi.
"Ada apa?" tanya Alvan memecah lamunan Zara.
Wanita itu langsung gugup. Tujuannya datang ke kamar Alvan mendadak hilang dari ingatannya. Hanya dengan melihat pesona lelaki yang baru saja mandi itu saja sudah membuatnya melupakan tujuan utama, apalagi kalau sampai melihat hal lain dari lelaki tersebut. Bisa-bisa Zara melupakan segalanya.
"Ada apa?" ulang Alvan.
"I-itu, ngggg ...."
Sial! Kenapa Zara jadi cengo begini? Sungguh bodoh. Ia menggantung kalimatnya sambil berusaha mengingat tujuannya kemari. Dan yang lebih sialnya, otaknya itu tidak bisa diajak kerja sama.
Zara harus menjawab apa sekarang, sedangkan di depan sana Alvan terus saja menunggu jawaban darinya lewat raut wajahnya itu. Alis yang saling menyatu dan sorot mata yang mulai jengah karena Zara tidak kunjung meneruskan perkataannya.
Satu detik, dua detik, tiga detik, pintu tertutup seketika. Membuat Zara tersentak kaget akibat suara pintu yang cukup keras itu.
Ia mengacak hijabnya, merutuki kebodohannya sendiri. Ia akui, memang teramat lemah jika sudah melihat pesona Alvan. Seakan-akan karismanya itu mengandung magic yang mampu menghipnotis Zara menjadi gadis bodoh yang lupa akan segalanya.
Ia ingat kata temannya dulu, jika tiba-tiba lupa dengan sesuatu hal yang hendak kita kerjakan, maka harus kembali ke tempat asal supaya ingatan itu dapat kembali. Itu lah sebabnya Zara saat ini menuruni tangga dan berhenti di dapur, tetapi ia belum juga ingat. Bolak-balik dari meja makan ke dapur pun belum memulihkan ingatannya yang menghilang. Akhirnya Zara menyerah.
Karena lelah dan kantuk yang menyerang cukup kuat, Zara pun beregas ke kamarnya. Ketika masuk dan membuka lemari hendak berganti baju, Zara teringat sesuatu.
"Astaghfirullah, tadi 'kan aku ke kamar mas Alvan mau ngambil barang-barangku," cetus Zara sembari menepuk jidatnya.
Ia meringis dan sedikit terkikik sebelum akhirnya pergi ke kamar suaminya lagi. Mengetuk pintu kembali dengan ragu.
"Ada apa sih?!" tanya Alvan sesaat setelah pintu terbuka.
Air mukanya terlihat kesal dengan kedatangan Zara.
"Mau apa? Nggak ada kerjaan lain selain ganggu orang mau tidur?" lontarnya lagi sedikit ketus.
"Enggak, Mas, aku nggak mau ganggu kok. Aku mau ngambil barang-barangku yang ada di kamar, Mas," jawab Zara pada akhirnya.
Mendengar itu, satu alis Alvan terangkat. "Untuk apa?"
"Hah?" Zara malah cengo.
"Untuk apa kamu ambil barang-barangmu?" ucap lelaki yang berdiri di ambang pintu itu lagi, memperjelas kalimat sebelumnya.
"Kan semua orang udah pergi, apa aku nggak perlu lagi tidur di kamar tamu?"
Kali ini Alvan tertawa meremehkan. "Berharap banget ya? Siapa yang minta kamu tidur disini lagi, hmm? Makin hari makin halu aja ya."
"Kamu tetap tidur di kamar tamu, tapi barang-barang kamu biar di sini aja. Nggak usah dipindah kemana-mana, biar nanti kalau mama tiba-tiba datang nginap, nggak perlu repot-repot pindahin lagi. Paham?" Zara mengerjap-ngerjapkan matanya lalu disusul dengan anggukan kepala di beberapa detik selanjutnya.
"Jangan geer makanya," cetus Alvan lagi sambil memperlihatkan wajahnya yang menjengkelkan.
Setelah itu, lelaki itu langsung menutup pintu tanpa aba-aba. Tapi kali ini tidak keras seperti tadi, sehingga Zara tidak lagi berjingkat kaget.
Ia langsung mengetuk pintu di depannya lagi begitu Alvan menutupnya.
"Mas Alvan, Mas!" serunya diiringi dengan ketukan.
Dan tak lama, pintu kembali terbuka.
"Apa lagi sih, Ra?!"
"Aku mau ambil baju tidur," jawab Zara sambil mengedarkan pandangannya ke dalam ruangan.
Raut jutek Alvan seketika berubah. Lelaki itu pun mempersilahkan istrinya masuk kamar. Ingat, hanya sebatas mengambil pakaian untuk tidur saja.

Komentar Buku (121)

  • avatar
    BawellDieza

    lanjutttt kK

    17/07

      0
  • avatar
    Nurhayeni 03

    Mantap

    06/03

      0
  • avatar
    SyuheHendra

    keren alur ceritanya, bikin penasaran membaca nya. good poko nya..

    01/03

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru