logo text

Bab 32 Kita Suami Istri

Tatapan Alvan beralih pada dua tangan di hadapannya yang saling bertautan. Tidak. Lebih tepatnya lelaki muda yang bersama istrinya itu memegangi lengan sang istri.
Rahangnya seketika mengeras dengan gigi yang saling gemertak. Alvan menarik paksa tangan istrinya itu sehingga cekalan Vano pun terlepas begitu saja.
"Aku nggak menyangka, ternyata begini ya kelakuan kamu di belakangku selama ini!" Alvan menekan kata-katanya dengan mata yang memerah, membuat sorot itu terlihat semakin menakutkan. Sampai-sampai Zara langsung menundukkan kepala, menyembunyikan wajahnya akibat ketakutan melihat raut suaminya.
"Dasar nggak tau malu!"
Apa yang sudah dituduhkan oleh lelaki itu tidaklah benar. Memangnya ia perempuan seperti apa yang berselingkuh sementara sudah berstatus sebagai istri. Meskipun tidak pernah masuk pesantren ia juga tahu apa hukumnya seorang istri yang mengkhianati suaminya.
Detik berikutnya mata Zara dibuat terbelalak akibat suara menantang dari temannya.
"Tunggu, kamu itu siapa? Ada hak apa kamu bentak-bentak dia? Kalau emang kamu cowok sejati, jangan pakai kekerasan!" Rupanya Vano tidak terima melihat perlakuan Alvan terhadap Zara. Vano merasa sikap Alvan sangatlah berlebihan, tidak sepantasnya bicara dengan nada tinggi kepada seorang wanita. Ia melepas paksa tangan Alvan yang mencengkeram pergelangan Zara.
Jika tidak ingat dengan situasi, rasanya ingin sekali Vano melayangkan tinjunya pada sosok lelaki kejam itu. Walaupun tidak dapat menyelesaikan masalah yang ada, setidaknya dengan melakukan itu hatinya merasa terpuaskan. Bahkan itu saja menurutnya belum setimpal dengan apa yang Alvan lakukan terhadap Zara -temannya.
Alih-alih melakukan kekerasan, Vano hanya menatap lelaki di depannya itu dengan tatapan tajam. Kedua tangannya sudah mengepal menahan gejolak emosi yang hampir menguasai dirinya.
Namun tentu saja itu tidak memperngaruhi Alvan. Lelaki itu justru balik menatap Vano tidak kalah tajam. Dan kini ia malah melangkahkan kakinya mendekat, meraih baju bagian atas yang Vano kenakan.
"Emang kamu siapanya sampai berhak membela dia?" Alvan melirik Zara sekilas, lalu kembali menatap Vano yang bagaikan mangsa.
"Pacarnya?"
"Sok jagoan!" Alvan menahan tangannya yang bergerak hendak meninju wajah Vano.
Bukan karena ditahan oleh Zara, melainkan atas kesadarannya sendiri. Tidak penting juga ia berkelahi dengan lelaki ingusan itu. Bukan lawan yang selevel. Dan jangan sampai Zara besar kepala, merasa diperebutkan oleh dua orang lelaki sekaligus. Itu tidak bisa dibiarkan.
Alvan melepaskan cengkeraman tangannya di baju Vano dan melengos. Lalu meraih tangan Zara dan menyeretnya pergi.
"Zara!"
Vano yang melihat kepergian Zara pun tidak tinggal diam. Ia terus berteriak memanggil nama wanita itu sambil mengikutinya. Khawatir terjadi sesuatu padanya. Bagaimana jika lelaki yang membawanya keluar kafe itu memiliki niat jahat?
Itu mungkin saja terjadi, bukan? Terlihat dari sikap serta nada bicaranya yang arogan. Mencerminkan bahwa ia adalah lelaki yang kasar.
Langkah Vano terhenti karena dua insan berbeda jenis kelamin itu juga menghentikan langkahnya. Mereka berhenti di parkiran kafe, tepatnya di samping mobil berwarna hitam yang Vano yakini milik lelaki kasar tersebut.
"Zara, jangan ikut dia. Daripada sama cowok seperti dia, ayo aku antar aja sampai ke rumah," ujar Vano menawarkan.
Namun Zara hanya diam, tidak berani menjawab sepatah kata pun. Tetapi lewat tatapan matanya, ia memberi Vano untuk segera pergi saja sebelum hal buruk terjadi.
Entah sengaja atau memang tidak peka, Vano tetap berdiri di posisinya. Ia malah mengulurkan tangannya dan terus membujuk Zara untuk pergi bersamanya.
"Ayo, Ra, pulang sama aku aja."
"Kenapa diam? Mau pulang sama aku atau sama cowok ingusan itu?" Alvan yang sedari tadi memperhatikan pun langsung menyahut karena sudah tidak tahan lagi dengan tingkah lelaki muda itu.
Merasakan aura menakutkan dari suara Alvan, membuat Zara hanya memiliki satu pilihan.
"Aku pulang sama Mas Alvan aja. Kamu sebaiknya juga segera pulang, No." Sambil mengatakan itu, Zara bergeser mendekati suaminya. Tidak berani mengangkat wajah menatap temannya yang pasti sedang bingung memahami situasi yang terjadi.
"Emang kamu nggak takut pulang sama dia? Kalau dia macem-macem sama kamu gimana?" tanya Vano ragu.
"Justru dia takut kalau pulang sama kamu!" Bukannya Zara yang menjawab, justru Alvan yang menyahut dengan bersungut-sungut.
"Sebenarnya dia siapa kamu sih, Ra? Posesif banget."
"Dia itu ...." Zara menggigit bibir bawahnya gugup. Bingung apakah harus mengatakan yang sebenarnya atau tetap merahasiakannya?
"Dia--"
"Kita suami istri. Mau apa kamu?"
Zara seketika melotot lebar-lebar ketika mendengar pengakuan Alvan yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
Tidak hanya Zara, tetapi Vano juga berekspresi sama sepertinya.
"Apa? Nggak mungkin bener 'kan, Ra?" tanya Vano yang masih belum percaya. Lebih tepatnya ia menolak untuk percaya. Tidak mungkin 'kan temannya itu sudah menikah?
Di sisi lain, Zara terpaku di tempatnya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain diam mengunci mulutnya rapat-rapat. Sampai beberapa saat kemudian suara Alvan mengalihkan atensinya.
"Mau pulang sekarang atau nanti diantar cowok itu?"
Saat Zara menoleh pada sumber suara, ia sedikit terkejut melihat suaminya yang sudah duduk di dalam mobil. Sejak kapan lelaki itu berpindah tempat, bahkan Zara sampai tidak menyadari pergerakannya.
Tanpa berlama-lama lagi Zara langsung berlari setelah berpamitan dengan Vano.
"Ra, tunggu dulu, kamu belum jawab pertanyaanku," cegah Vano yang masih butuh penjelasan.
Namun Zara seolah tidak mendengarnya. Ia tidak berhenti dan kini sudah duduk di sebelah Alvan yang berada di balik kemudi.
"Ra, kamu belum nikah, 'kan?"
"Zara, kamu punya hutang penjelasan sama aku!" Vano berteriak sekuat tenaga ketika kendaraan roda empat yang ditumpangi Zara bersama Alvan bergerak semakin jauh.
Dan tinggallah Vano yang menatap kepergian kedua orang tadi dengan tanda tanya besar yang terselip di hatinya. Mungkinkah yang dikatakan oleh lelaki tadi benar adanya, mereka adalah sepasang suami istri?
***
"Berani sekali ya kamu main belakang," cetus Alvan di tengah perjalanan menuju pulang.
Zara yang sedari tadi menatap ke arah jendela itu pun langsung menoleh dan memberikan respon tak setuju.
"Aku nggak main belakang. Dia itu teman sekolahku dulu, Mas," sangkal Zara.
"Nggak usah ngelak, udah jelas di depan mata masih mau bohong." Alvan berdecak sambil bergeleng-geleng tak habis pikir.
"Loh, siapa yang bohong?" tanya Zara tak terima.
"Aku nggak bohong dan nggak menyangkal. Cowok tadi emang teman sekolahku dulu. Mas pikirannya kenapa negatif gitu sih?"
Hening. Alvan tidak menanggapi penuturan Zara lagi. Fokus menatap lurus ke depan seolah sebelumnya tidak terjadi perdebatan.
Namun perasaan mengganjal yang masih ada di benak Zara itu pun membuatnya tidak bisa diam dan melupakan tuduhan Alvan tadi.
Ia justru merasa curiga dengan lelaki di sampingnya ini. Menatap Alvan sambil mengulum senyuman menggoda. "Mas cemburu ya?"
"Apa?!"

Komentar Buku (121)

  • avatar
    BawellDieza

    lanjutttt kK

    17/07

      0
  • avatar
    Nurhayeni 03

    Mantap

    06/03

      0
  • avatar
    SyuheHendra

    keren alur ceritanya, bikin penasaran membaca nya. good poko nya..

    01/03

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru